Posts Written By ratnadewi

Marriage Life: Saya Bahagia Walaupun Belum Punya Anak

Idealnya ya, kehidupan setelah menikah itu adalah: sebulan kemudian testpack trus positif, sembilan bulan bulan kemudian melahirkan, punya anak yang lucu-lucu, suami bahagia, dan happily ever after. Itu idealnya ya. Tapi hidup kan ngga selalu berjalan on the track. Ngga selalu ideal seperti rencana yang kita harapkan. Ada orang yang berbahagia karena pernikahannya lengkap, dikasih karunia anak cepat. Trus apa yang belum dikasih karunia anak ngga bahagia?

Hmmm…kita bisa kok menciptakan kebahagiaan sendiri, dengan berbagai cara tentunya. Ada banyak hal yang bisa dilakukan setelah menikah walaupun belum punya anak. Dan mungkin saja hal ini akan sangat sulit dilakukan jika sudah ada anak nanti. Puas-puaskanlah dan mungkin hal-hal di bawah ini akan menciptakan kebahagiaan.

Continue Reading
0 Comments

Keputusan Besar

Pernah mengambil sebuah keputusan besar? Atau pernah bingung menentukan keputusan? Barangkali kemarin saya mengalami ini.

Jadi per akhir September ini saya resign dari pekerjaan saya. Iya, resign setelah empat tahun jadi reporter. Walaupun keputusan saya ini mengundang pro dan kontra (kayak kebijakan pemerintah, haha) makanya banyak yang nyinyir juga, yang pernah saya tulis di sini. Lah cuma resign kok sedih? Mungkin bagi yang pernah beberapa kali resign dan pindah kerja ke tempat lain ini adalah hal biasa. Tapi buat saya, ini ibarat pindah atau keluar rumah dan meninggalkan keluarga yang ada di dalamnya.

Continue Reading
2 Comments

Nyinyir

Per akhir September ini saya akan resmi resign. Resign? Iya resign dari kantor yang sekarang. Trus mau kerja dimana? Di rumah, jadi istri rumah tangga dulu sementara. Daaann mengambil keputusan buat resign tanpa ada pekerjaan pengganti itu berat. Selain saya harus memikirkan kegiatan apa yang akan dilakukan setelah di rumah nanti buar nggak bosen, tapi juga harus tutup kuping tebal muka menghadapi orang yang nyinyir.

Orang yang nyinyir itu nyebelin ya. Iya nyebelin karena rata-rata dari mereka komentar tanpa memberi solusi. Adaaa saja yang komen tentang keputusan saya. Segala sesuatu dianggap salah. Ada juga yang tanya dengan nada nyinyir. Pokoknya nyebelin. Dan akhirnya mereka ngga pernah kasih solusi atas apa yang saya alami.

Continue Reading
0 Comments

Saya Benci Olahraga, Tapi…

Saya sangat benci olahraga dulu. Awalnya karena semasa sekolah nilai olahraga saya ngga pernah bagus, ya rata-rata lah. Saya sudah mengusahakan biar nilainya naik mulai dari semangat pas mengikuti olahraga sampai belajar teknik buat olahraga tertentu, tapi hasilnya nihil. Saya ngga pernah menonjol di olahraga. Ngga ada olahraga tertentu yang benar-benar saya kuasai.

Padahal, zaman sekolah, menguasai olahraga tertentu itu gengsinya tinggi. Apalagi kalo tiba waktunya classmeeting. Jadi cewek yang jago basket, voli, tenis, atau bahkan sekedar catur itu membanggakan. Ikut turnamen antarkelas atau malah di luar sekolah. Dielu-elukan banyak pihak (termasuk cowok-cowok yang nonton, haha saya alay banget dulu) apalagi kalo udah nenteng piala kemenanga. Wuuuiihh, kecantikannya kayanya dua kali lipat.

Continue Reading
2 Comments

Syukurku Berkahku

Semenjak November 2014 lalu hidup saya jadi drama. Sayanya juga sedikit jadi drama queen. Tapi, kehilangan berkali-kali membuat saya lupa rasanya bersyukur. Kehilangan berkali-kali membuat saya tidak bisa melihat berkah kecil yang mungkin saja hal itulah sumber kebahagiaan.

November 2014 saya kehilangan Azka, anak saya yang berusia 24 minggu dalam kandungan. Betapa tidak terguncang, karena saya, dan juga suami tengah berada di puncak kebahagiaan. Ini kehamilan pertama setelah menunggu 11 bulan pernikahan melalui program hamil. Dan kala itu saya benar-benar terguncang. Harapan saya, harapan kami hilang.

Continue Reading
0 Comments