Posts Written By ratnadewi

Sendiri

 

Hidup kadang disadari atau tidak penuh dengan drama. Atau terkadang seperti sinetron. Begitulah hidupku akhir-akhir ini. Ya, penuh dengan drama dan air mata.

Setelah Azka pergi, hal yang paling terasa adalah kesendirian. Iya sendiri, menyadari bahwa aku sudah tidak bersama Azka lagi itu pahit. Sendiri, hampa, sepi. Dan drama itu dimulai ketika aku mendapatkan cuti tiga bulan. Tiga bulan, mungkin waktu yang begitu sempit untuk seorang ibu cuti melahirkan. Iya, cuti melahirkan anak yang selamat. Sementara aku? Cuti melahirkan anak yang telah tak bernyawa.

Continue Reading
0 Comments

Ketika Perkara Hamil Menjadi Rumit

 

Dulu dokter kandungan saya pernah bilang, hamil itu anugerah tapi nggak ada hamil yang mudah. Yap, kalau bisa saya menambahkan, menikah dan hamil bukanlah perkara yang mudah. Jadi, buat yang sedang galau karena tak kunjung menikah, nikmatilah! Karena ketika menikah, hal itu bukanlah menjadi perkara yang mudah dan serta merta masalah menjadi selesai. Faktanya, welcome to the jungle.

Continue Reading
1 Comment

Azka dan Juz 29

 

Dearest Azka,

Hari ini akhirnya masa nifas ibu sudah selesai. Ibu sudah bisa solat lagi, ibu sudah bisa membaca Al Quran lagi. Ibu sudah bisa berkomunikasi dengan lancar lagi sama Allah. Dan yang pasti, ibu sudah bisa mendoakanmu di setiap solat ibu, Nak.

Tahukan kamu, Nak? Ada yang berbeda saat ibu membaca Al Quran kali ini. Sangat berbeda. Setelah lebih dari satu bulan ibu tidak membaca Al Quran setelah solat maghrib. Kali ini tanpa kamu Azka. Ah, sungguh hampa rasanya. Biasanya selalu ada kamu di perut ibu, tapi kali ini tidak. Saat ini tidak. Ibu sendiri.

Hari pertama ibu membaca Al Quran lagi sangat menguras emosi, Nak. Ah, ibu tidak bisa menahan linangan air mata saat kembali membaca basmallah. Ibu ingat kamu. Berat sekali rasanya ditimpa memori bersamamu. Biasanya saat ibu baru membaca Al Fatihah, kamu sudah bergerak-gerak. Saat ibu mulai membaca ayat per ayat Al Quran, kamu sangat aktif. Tapi kali ini tidak. Ibu sendiri, Nak.

Azka, terakhir kali kita membaca Al Quran sampai juz 29. Iya, juz 29 dan sebentar lagi selesai. Sedikit lagi, Nak. Tapi kamu terlalu cepat pergi. Bahkan tak mau menunggu sampai kita selesaikan 30 juz. Padahal ibu berjanji membawamu khatam 30 juz. Tapi ternyata takdir berkata lain. Ibu harus menyelesaikan ayat per ayat dan lembaran-lembaran halaman Al Quran sendiri. Tanpa kamu, Nak.

Azka, sayang ibu tak lekang oleh waktu. Setiap selesai solat ibu tak putusnya mendoakan kamu. Berdoa agar Allah selalu menjaga kamu, Nak. Dan berdoa agar ibu tetap kuat dan tegar. Kuat dan tegar yang seperti orang-orang nasihatkan, walaupun sulit. Teramat sulit. Maaf jika ibu masih terus menitikkan air mata di setiap doa. Terlalu banyak kenangan manis bersama kamu, Azka. Walaupun Allah cuma mengizinkan kamu sebentar saja bersama ibu.

Azka sayang, selamat bermain dan bersenang-senang di surga ya. Semoga doa ibu selalu menjadi penyejuk untuk kamu.

Ibu sayang Azka :*

0 Comments

Selamat Satu Bulan, Azka

Dear Azka di surga,

Tepat sebulan yang lalu, kamu ‘dilahirkan’. Bagaimana satu bulan di surga, Nak? Pasti jauh lebih menyenangkan. Pasti jauh lebih indah ya? Ah, kamu pasti bisa melihat ibu dari sana, sambil bermain sama bidadari-bidadari cantik di surga. Iya, tepat tanggal 8 ini kamu sudah satu bulan. Angka yang sama, 8, angka yang ibu suka. Angka yang selalu mengingatkan ibu ketika dulu jadian sama ayah. Tapi ketika mengingat angka 8 dan kamu, perih sekali rasanya hati ibu.

Satu bulan setelah kamu tiada, banyak yang berubah. Ibu masih terus mencoba berdamai dengan hati. Masih terus mencoba berdamai dengan situasi dan kenyataan. Masih menganga luka dan perih itu, yang tidak sebanding dengan sakitnya ketika melahirkan kamu. Ibu masih mencoba tidak menangis ketika sendiri. Tidak menangis ketika mengingat kamu. Tidak menangis ketika memandangi fotomu di hp. Tidak menangis ketika mengingat segalanya tentang kamu. Tapi susah sekali, Azka.

Continue Reading
0 Comments

Azka dan Dede Cantik di Surga

Dear Azka di surga,

Hari ini ibu dapat kabar dari saudara ayah ada yang IUFD juga. Hampir sama dengan kamu, Nak, terlilit tali pusar. Ah, ibu bisa merasakannya. Iya hancur, merasakan sedih dan hilang harapan. Apalagi ini bayi pertama yang dinantikan sejak lama. Sama seperti ibu dan ayah waktu itu. Ibu seperti dejavu. Ibu bisa merasakan apa yang orang tuanya rasakan. Hancur dan kehilangan harapan. Ibu bisa merasakan ibunya yang kesepian, melahirkan tanpa tangisan. Tak ada tebusan atas rasa sakit yang mendera.

Hari ini, Sabtu ini pasti menjadi Sabtu yang kelabu. Sama seperti ibu empat minggu yang lalu. Iya, kemudian ibu menjadi benci dengan hari Sabtu ketika mengingatnya. Merasakan kesendirian dan hampa. Mengingat lagi kamu, Azka. Mengingat ibu berjuang sendiri hanya dengan obat-obatan tanpa ditemani tangismu. Ibu merasa ada yang hilang. Selalu merasa kehilangan.

Continue Reading
0 Comments