Posts Written By ratnadewi

Lomba Agustusan, Dulu dan Kini…

Kalo ditanya apa sih yang paling diingat dari perayaan 17 Agustus? Pasti banyak orang yang akan menjawab tentang perlombaan. Iya, perayaan kemerdekaan itu selalu identik sama lomba-lomba. Saya juga belum tahu benar sejarah lomba-lomba ini bisa identik dengan perayaan 17 Agustus. Kalo kaitannya sama upacara sih masih oke ada hubungannya. Kalo dengan perlombaan? Rasa-rasanya dulu pas pejuang mau mengumumkan proklamasi ngga ada deh yang sambil balap karung atau panjat pinang. Atau saya belum pernah dengar sejarah Bung Karno cs lomba panjat pinang dalam rangka memeriahkan 17 Agustus. Hmm, harus ditelusuri lebih lanjut nih siapa pencetus ide perlombaan kalo pas 17 Agustusan.

Continue Reading
0 Comments

Living with Uterus Bicornis

Dalam beberapa postingan saya sebelumnya, saya pernah menulis kalo dokter memvonis saya memiliki rahim kembar atau rahim dua rumah atau uterus bicornis. Sebenarnya vonis ini bukan baru saja dinyatakan karena hamil Adik kemarin, tapi sejak pascamelahirkan Azka, dokter menemukan bahwa rahim saya ternyata dua rumah atau ada dua.

Pas hamil Azka, dokter mungkin belum ngeh kalo saya memiliki uterus bicornis, tapi pas hamil Adik, dari awal dokter udah bilang kalo saya punya uterus bicornis dan memang agak worry. Makanya sejak awal hamil Adik, di data rekam medis saya sudah digambar dengan jelas bentuk rahim saya seperti hati. Dokter juga sudah wanti-wanti sama saya buat periksa ke spesialis fetomaternal (untuk kehamilan berisiko tinggi) nantinya pada saat usia kehamilan empat dan tujuh bulan. Tetapi ternyata takdir berkata lain, belum sapai umur delapan minggu ternyata Adik harus kembali ke Sang Maha Pencipta karena ternyata kehamilan saya blighted ovum.

Continue Reading
0 Comments

Mudik

Ini bukan mudik pertama di hidup saya. Tapi mudik kali ini terasa berbeda. Ini mudik pertama setelah saya menikah, mudik setelah hampir empat tahun tidak merasakan hangatnya berlebaran bersama keluarga. Ini mudik pertama saya sebagai seorang istri, mudik pertama bersama suami. Ini mudik pertama juga dimana waktu mudik dibagi untuk dua keluarga.

Mudik ini sebenarnya sudah direncanakan dari jauh-jauh hari karena tiket sudah niat dipesan dari H-90. Kami memang sengaja mau naik kereta, karena kemudahan akses ke rumah yang tinggal turun udah sampai rumah (karena rumah belakang stasiun). Selain itu ngga pernah kepikiran mudik via jalur darat (naik bus atau bawa mobil) mengingat pengalaman orang-orang yang butuh sampai berpuluh-puluh jam di dalam mobil. Trus ngga kepikiran juga naik pesawat karena buat sampai ke rumah harus nyambung lagi naik kereta, capek.

Continue Reading
3 Comments

Selamat Bermain di Surga, Adik

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Hari untuk kuret. Hari untuk ‘melepas’ Adik. Hari untuk merelakan Adik. Segala persiapan telah kami lakukan, termasuk persiapan yang paling penting, mental.

Hari-hari menjelang kuret aku isi dengan menenangkan diri. Menulis, beristirahat, dan membaca. Menikmati ‘me time’ bersama Adik. Mempersiapkan mental. Melepas kesedihan. Mengikhlaskan segala sesuatunya.

Continue Reading
0 Comments

Sabar Ya, Wi…

Tak ada yang tahu usaha kami bolak-balik ke dokter demi Adik, bahkan orang tua dan kerabat kami terdekat pun tidak tahu. Hanya aku, suami, dan dokter yang tahu tentang bagaimana keadaan Adik. Kami berusaha dalam diam. Kami berdoa dalam ketegaran. Kami terus membangun harapan dalam keputusasaan dan bergelut lagi-lagi dengan rasa kehilangan.

Keesokan harinya, kami datang kembali ke dr Stefani dengan membawa hasil dari Klinik Anggrek. Seharusnya begitu hasil keluar, kami langsung bertemu dr Stefani agar bisa mendiskusikan langkah selanjutnya. Tapi hari itu kami tidak sanggup, lelah badan dan juga batin. Kami sudah tahu akhirnya akan seperti apa dan jalan apa yang akan diambil.

Continue Reading
0 Comments