Book Review: Rudy, Mengungkap Sisi Lain Sang Visioner

Apa yang membuat B.J. Habibie tumbuh menjadi pribadi yang tak hanya cerdas tapi juga lurus? Salah satu faktornya adalah pendidikan keluarga yang diterapkan semenjak kecil. B.J. Habibie tinggal di lingkungan keluarga dengan Mami yang disiplin dan mengutamakan pendidikan dan Papi yang selalu menjadi jawaban pertanyaan-pertanyaan rasa ingin tahunya yang besar.

B.J. Habibie atau yang mempunyai panggilan Rudy sedari kecil memang sudah cerdas dan penuh rasa ingin tahu. Kecintaannya terhadap buku dan sains membuat dirinya rajin membaca. Tak heran, Rudy kecil adalah siswa yang menonjol di sekolah khususnya di bidang sains. Ditambah keluarga yang mampu di masanya, yang membuat Rudy terfasilitasi khususnya dalam hal pendidikan.

Rudy ingat betul pesan Papinya bahwa ia harus menjadi mata air. Mata air yang bukan sekedar mata air, tetapi mata air yang bersih dan jernih. Dan dengan keinginan kuat serta ditunjang dengan kecerdasan otak yang mumpuni, Rudy Habibie akhirnya bertekad dan berangkat ke Jerman untuk melanjutkan sekolah demi cita-citanya menjadi pembuat pesawat. Dan di masa kini, kita bisa melihat bahwa Rudy telah menjadi mata air bagi dunia dirgantara di Indonesia.

Sisi Lain B.J. Habibie

Saya selalu suka cerita-cerita B.J. Habibie dan di buku ini sisi lain B.J Habibie dikupas lebih mendalam. Bagaimana masa kecil Rudy, bagaimana silsilah dan cara didik keluarganya, bagaimana ia bergaul dengan saudara-saudara dan teman-temannya, bagaimana ia ‘nekat’ pergi ke Jerman untuk mewujudkan cita-citanya, dan bagaimana Maminya terus ‘meracuni’ pikiran Rudy dengan sosok Ainun.

Dikisahkan dengan sudut pandang yang menarik, maka saya ngga mau kecolongan buat melewatkan buku ini. Takut-takut nanti seperti Habibie & Ainun, saya belum sempat baca eh filmnya sudah keluar. Makanya begitu teman saya bikin status program acaranya akan mewawancarai B.J. Habibie seputar buku barunya, langsung saya browsing deh. Tapi sayangnya baru sedikit info tentang buku “Rudy” ini, jadilah saya sering mantengin toko buku online dan akhirnya dapet juga.

Selain kisah B.J. Habibie yang selalu menarik untuk diikuti, gaya penyampaian dalam bukunya pun enak untuk dinikmati. Nggak salah kalau milih Mbak Gina S. Noer yang biasanya saya kenal sebagai penulis skenario film sebagai penulis di buku ini. FYI, saya selalu suka film-film Mbak Gina S Noer, dari Hari untuk Amanda yang saya tonton berulang-ulang sampai Habibie & Ainun. Selain cerita tentang B.J. Habibie, buku ini juga menceritakan tentang sejarah, kaitan keluarga Habibie dan teman-teman Rudy dengan sejarah.

Rudy dan Pesan Toleransi

Pesan tersirat yang paling saya suka dari buku ini adalah tentang toleransi. Rudy adalah seorang anak yang tumbuh di lingkungan sekolah Kristen dan bergaul dengan teman tak hanya dari Indonesia tetapi juga Belanda. Hal itu tidak lantas membuat Rudy jadi fanatik, hilang arah dalam hal agama, atau memandang rendah teman-temannya yang berbeda. Itu semua karena Rudy dididik penuh dengan nuansa Islami dan nasionalisme tinggi dalam keluarganya. Tumbuh di lingkungan yang heterogen sejak kecil justru membuat Rudy menjadi orang yang toleran.

Pun ketika ia berada di Jerman, Rudy selalu solat di gereja. Hal ini semata-mata karena jarang sekali bahkan hampir tidak ada masjid dan tempat yang dinilai bersih di Aachen zaman itu. Rudy selalu berpikiran bahwa Tuhan ada di manapun, jika imanmu memang kuat beribadah dimanapun tak akan menggoyahkan keimanan. Gereja dan solat di barisan paling belakang di dalamnya selalu membawa kedamaian bagi Rudy. Tak lupa kata-kata yang selalu diucapkannya.

“Allah swt, gedung ini dibuat oleh orang yang percaya kepada-Mu, seperti saya yakin kepada-Mu, Namun, saya yakin bahwa orang itu , sebagaimana saya menyadari hanya ada satu Tuhan. Bolehkah saya, dengan cara saya masuk ke ruangan ini tanpa mengganggu yang lain? Memanjatkan doa untuk orang tua saya, saudara saya, dan banyak hal yang saya perlukan. Bolehkah?”

Kata-kata itu membuat saya tersentuh. Sungguh toleransi memang kita sendiri yang harus membangunnya, dari dalam diri kita. Kebayang kalo masa itu sudah ada Instagram atau media sosial yang lain dan B.J. Habibie mengunggah kegiatannya, pastilah akan dinyinyirin haters atau akun anonim yang suka merasa paling bener, hehe. Dan toleransi itulah yang membuat B.J. Habibie jadi orang yang open minded, ngga suka merendahkan orang lain, dan membawanya menjadi mata air kebaikan.

Setiap orang bisa menjadi mata air yang jernih bagi lingkungannya. Hanya tinggal membekali diri dengan segala sesuatu yang positif. Jadi, sudah siap untuk jadi mata air jernih seperti Rudy?

 

http---signatures.mylivesignature.com-54493-339-B5346D20DFEFF9FB42A5A2CB2EF53696

 

8 Comments
Previous Post
Next Post