Sepotong Rindu

“Hai, Ibu,” sapanya sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya ketika aku muncul dari balik pintu.

Sore ini, dia masih seperti tadi pagi. Tersenyum riang setiap melihatku. Wajahnya bersinar. Yang membedakan hanya bajunya. Sore ini dia tak lagi memakai seragam sekolahnya. Tapi air mukanya selalu sama, selalu bercahaya. Dia berlari menghambur ke arahku.

“Aku sayang ibu,” ucapnya sambil mencium pipiku berkali-kali.

Ini ucapan entah ke berapa kali darinya. Anak kecil laki-laki ini selalu manis padaku. Entah apa jadimya kalau sehari aku tak melihatnya, tak mendekapnya. Ia lalu membalikan badan dan sibuk kembali dengan mainan miliknya. Sore itu, wajahnya begitu riang dan teduh. Sama seperti hari-hari kemarin.

Aku menghela nafas panjang. Berharap situasi seperti ini selalu bertahan lama. Aku ingin selalu bersama anak kecil ini. Anak laki-laki yang selalu memanggil aku ibu.

***

Pagi ini aku terduduk lesu. Tenagaku telah habis rasanya. Tubuhku gemetar. Perasaanku tak sama dengan kemarin. Mataku masih sembab. Beberapa saat lalu aku tergugu menangis. Rintik hujan di luar seolah mewakili semua perasaanku. Perasaan rinduku.

“Kamu bermimpi lagi semalam?” tanya suamiku sambil memelukku dari belakang.

Aku terdiam. Hanya bulir-bulir air mata yang sanggup menjawab pertanyaannya saat ini. Anak kecil dengan senyum terkembang itu sudah tak ada seiring terbukanya mataku. Ingin rasanya aku tak mau terbangun dari mimpi. Bukan, ini bukan mimpi buruk. Mimpi-mimpi beberapa malam terakhir adalah penyambung rasa rinduku. Rasa rindu pada anak kecil yang selalu memanggilku ibu.

Rasanya aku mungkin sudah tak bisa membedakan mana dunia nyata dan alam bawah sadar. Tetapi mimpi selalu bisa menyampaikan rasa rinduku. Maka ketika mimpi mempertemukan kita, aku tak pernah ingin terbangun. Tak setiap hari aku bisa bertemu anak kecil itu. Bahkan terkadang saat rindu terlalu menusuk kalbu, ia tak sedikit pun ingin menemuiku dalam mimpi.

Aku tak pernah bisa bertemu anak kecil bermata bulat dengan senyum terukir riang di bibirnya di kehidupan nyata. AKU PEREMPUAN YANG DITINGGAL MATI ANAKKU.

***

Ini sudah malam kesepuluh sejak terakhir kali aku bertemu anak kecil bermata bulat dengan senyum riang di bibirnya. Entah mengapa anak kecil itu tak mau datang lagi dalam mimpiku. Padahal, aku sudah teramat rindu. Aku rindu melihat senyumnya dan mendengarnya memanggil “Ibu”. Bahkan saat aku tak pernah mendengar suaranya dalam dunia nyata, aku bisa mendengarnya melalui mimpi-mimpi.

Anak kecil itu memang tak pernah kudengar suaranya. Ia tak pernah menangis, bahkan saat dilahirkan. Aku melahirkannya dalam diam. Aku melahirkannya saat ia sudah tak bernyawa, bertahun-tahun lalu. Dan kini, bayangan anak kecil itu tak akan pernah hilang dari ingatanku. Persis seperti dalam mimpi. Mungkin kalau dia hidup dan bertumbuh besar, ia sudah memakai seragam sekolah pertamanya.

“Kenapa dia nggak pernah datang lagi dalam mimpiku, ya? Padahal aku rindu, rinduuu sekali. Aku ingin sekali memeluknya erat,” gumamku dalam pelukan suami.

“Jangan putus mendoakannya, maka kalian akan selalu bertemu dan berpeluk dalam doa,” ucap suamiku.

Aku tahu, mungkin dia sama rindunya terhadap anak kecil itu. Mungkin sedihnya melebihi kesedihanku yang tak pernah hilang sejak bertahun-tahun lalu. Tapi semuanya tak pernah diperlihatkan di hadapanku. Ia begitu kokoh menopangku. Ia begitu gigih menghiburku. Padahal aku tahu dalam hatinya pasti tersedu. DIA ADALAH SEORANG AYAH YANG DITINGGAL MATI ANAKNYA.

***

Hari ini entah hari keberapa sejak pertemuan terakhirku dengan anak kecil bermata bulat dan senyum riang dalam mimpi. Ia bahkan tak pernah menghampiriku lagi dalam mimpi-mimpi. Entah mengapa. Aku hanya bisa berkali-kali memeluknya lewat doa-doa.

Pagi ini, aku ingin sekali melepas rindu. Kupeluk nisannya. Aku tahu bahwa anak kecil itu pasti sedang bermain gembira di surga sana. Aku hanya rindu, itu saja. Jika memang ia tak akan hadir lagi di mimpi-mimpiku, biarlah aku selalu mendoakannya. Jika memang ia tak akan pernah memelukku lagi dalam bunga tidur, biarlah aku memeluknya dalam rapalan bacaan saat solatku. Mendengarnya memanggilku “Ibu” meski hanya lewat mimpi itu sudah lebih dari cukup. Bahkan saat anak kecil itu diam membisu saat kelahirannya, Tuhan sudah teramat baik memperdengarkan suaranya memanggilku Ibu meski hanya dalam mimpi.

Ibu akan selalu sayang kamu. IN MEMORIAM AZKA ADHYASTHA ALANA.

Anak kecil yang tak pernah kudengar suaranya. Tak pernah bisa aku peluk tubuhnya. Tak pernah bisa kucium keningnya. Ini sudah tahun kesekian. Kalau aku rindu, sesekali datanglah ke mimpi ibu.

***

ratna dewi

0 Comments
Previous Post
Next Post