Jangan Menyerah! Akulah Sang Pejuang

Hidup saya bak drama akhir-akhir ini. Drama sedrama-dramanya. Saya juga menjelma bak drama queen. Tapi beneran deh, kehilangan anak membuat hidup itu menjadi penuh drama, suram, lemah, putus asa, selalu meratapi nasib, hingga dihinggapi trauma. Lebay? Yah mungkin bagi banyak orang dibilang lebay tapi percayalah bahwa kehilangan anak yang sudah dinantikan itu bagai kehilangan semangat hidup.

Sejak kehilangan Azka dan mencoba untuk menghilangkan drama mellow dalam diri saya. Saya perlahan mulai menata diri untuk bangkit. Yah walau kadang rapuh lagi. Di kala senggang, saya mulai lagi membaca, menulis, atau sekedar blogwalking. Sekedar mencari tahu tentang apa itu penyebab IUFD (yang sampai saat ini bahkan tak saya ketahui pasti apa penyebab meninggalnya Azka) dan mencari ‘teman’. Teman di sini yang senasib sama saya. Saya cuma ingin memastikan bahwa saya tidak sendiri. Saya cuma ingin tahu bahwa bukan sayalah yang paling menderita karena kehilangan Azka. Saya cuma ingin cari pembenaran bahwa di luar sana masih banyak pejuang momongan yang berjuang keras dan bahkan jauuuhh belum lebih beruntung dibandingkan saya. Saya cuma ingin memastikan bahwa saya tidak sedih dan trauma sendiri. Dan ternyata memang banyak. Banyak sekali.

Akhirnya saya menemukan buku ini, sebuah buku yang menunjukkan bahwa saya tidak sendiri sebagai pejuang momongan. Buku yang secara tidak sengaja saya lihat dari postingan salah seorang selebgram di instagram. Penasaran, lalu saya googling judul bukunya dan ternyata bikin lebih penasaran lagi. Saya pun akhirnya menemukan related link terkait buku ini yaitu blog salah satu penulisnya. Setelah saya baca, lagi-lagi saya berpikir, saya tidak sendiri sebagai pejuang momongan. Saya tidak sendiri. Saya bersama ratusan bahkan ribuan perempuan di luar sana yang sedang berjuang.

Membaca buku ini saya bisa merasakan betapa lelahnya penulis dalam perjuangannya hanya untuk mendapatkan momongan. Dari pertama datang ke dokter untuk program hamil, tes lab, diatermi, hidrotubasi, HSG, minum puluhan obat, sampai inseminasi. Gagal lagi gagal lagi dalam program hamil sampai drama dalam testpack seolah sudah menjadi hal yang sangaaatt biasa. Uang sudah dihambur berapa banyak. Jangan main-main dengan program hamil kalau belum menabung yang cukup karena obat dan tindakannya relatif mahal. Dan mereka kuat. Ada yang sampai lima tahun perkawinan bahkan ada penulis yang hampir sembilan tahun perkawinan sudah program hamil tapi masih belum dipercaya untuk memiliki momongan.

image

Kalau dilihat dan dibandingkan dengan saya mungkin tak ada apa-apanya. Saya hanya tiga bulan program sudah hamil. Hanya melalui tes lab sama minum obat hormon. Hanya dilalui dengan drama hormon prolaktin tinggi, sel telur kecil dan ngga pernah matang yang membuat tidak haid sampai berbulan-bulan. Walaupun hanya bisa merasakan hamil sampai usia kandungan 24 minggu dan terpaksa harus merelakan my Azka kembali pada Sang Pemilik. Mungkin saya bisa dibilang lebih beruntung masih bisa mengandung. Dulu dokter yang pernah memeriksa saya bilang saya harus bersyukur bahwa saya bisa mengandung. Ini berarti sel telur saya bagus dan saluran reproduksi saya tak ada masalah. Bayangkan, banyak perempuan yang sering saya baca kisahnya dalam berbagai forum, yang sudah lebih dari 10 tahun usia perkawinan belum juga dipercaya, bahkan untuk mengandung sekali saja. Mungkin bagi mereka ah masalah saya mah cetek.

Saya suka penulis dengan bahasa yang jujur dan legowo menuliskan semua kisah perjuangannya dalam buku ini. Berat lho menuliskan perjuangan mendapatkan momongan apalagi kalau tak jua terkabul. Dikemas dalam bahasa yang enak dibaca. Tapi sayangnya hampir semua (atau malah semua ya?) tulisan yang di buku ini adalah tulisan dalam blog para penulis. Artinya seperti memindahkan blog saja, lalu apa bedanya saya dengan membaca blog mereka . Padahal saya berharap lebih ada tulisan tambahan lagi. Tapi saya salut dengan kegigihan para penulis yang membuat saya jadi merasa tak sendiri dan paling tidak beruntung di dunia. Semoga setelah ini masih ada karya-karya berikutnya yang bagus, menginspirasi, dan menemani para pejuang momongan agar tak kenal lelah.

Everything happens for a reason. Termasuk kehilangan Azka. Mungkin saya belum menemukan apa reason dari Allah mengambil Azka kembali. Hmm mungkin biar saya kuat, saya lebih kuat. Iya saya pejuang momongan, dan seorang pejuang tak boleh menyerah sebelum titik darah penghabisan bukan?

Jadi berbahagialah kalian yang begitu menikah langsung hamil. Tak perlu keluar biaya, tenaga, hingga waktu yang lama. Jagalah dengan sebaik-baiknya. Jangan sia-siakan apa yang telah Allah titipkan karena di luar sana banyaaakk sekali perempuan yang rela menghabiskan banyak uang, waktu, tenaga, dan menguras emosi hanya untuk seorang bayi, sebuah garis keturunan, seorang anak. Jadi, Jangan Menyerah Bunda…

-jawzq-

0 Comments
Previous Post
Next Post