Bicara yang Baik-Baik, Menulis yang Baik-Baik, Berdoa yang Baik-Baik

bicara-yang-baik

Ini cerita nyata beberapa bulan lalu. Saat saya dan suami sedang mengantre membeli bensin di sebuah SPBU. Saat itu kondisi kami capek karena seharian ada acara di tempat saudara. Antrean bensin cukup panjang. Namun, beberapa antrean sebelum sepeda motor suami dapat giliran mengisi ada seorang bapak-bapak bercelana pendek yang menyelak kami. Suami dan beberapa motor di depannya biasa saja tak ada reaksi walaupun sudah lama mengantre. Saya? Kesal tapi cuma bisa ngedumel dalam hati “Gue doain lo celaka jatoh ngejengkang”.

Nggak lama setelah si bapak penyelak itu selesai mengisi bensin dan menjalankan motornya, operator mesin bilang sambil menunjuk ke satu arah “Itu yang barusan isi bensin di sini tuh”. Sejurus kemudian pandangan beberapa orang yang sedang mengantre tertuju pada yang ia tunjukan. Ternyata si bapak penyelak jatuh dengan motornya di tengah jalan. Entah saat itu ia mau menyeberang atau putar balik. Tak ada yang menolongnya. Dan jantung saya hampir copot dibuatnya.

Cerita lain kali ini datang dari beberapa tahun lalu saat saya DLK ke Yogyakarta. Saat di dalam mobil menuju liputan, saya bercanda dengan kameraman saya.

“Kang, jangan-jangan nanti kita di-extend gara-gara Merapi meletus lagi, hahaha”.

Esoknya, ketika saya mampir ke Biro Jogja untuk silaturahmi ternyata kantor biro sepi. Hanya ada dua orang yang jaga disana dan bilang kalau anak-anak biro sedang live karena Merapi pagi itu mengeluarkan asap.

Hmmm, mungkin ada yang sudah menangkap maksud cerita saya. Bagi orang yang sangat mengedepankan logika mungkin saja akan bilang kalau Merapi mengeluarkan asap bisa dijelaskan secara ilmiah karena ada penyebabnya. Pun dengan bapak-bapak yang jatuh tersungkur di tengah jalan. Mungkin saja jalanan licin, motornya oleng, ia tidak sigap saat menyeberang, atau penyebab lain yang bisa dijelaskan dengan logika. Mungkin juga kata-kata saya semua hanya kebetulan. Tapi saya percaya bahwa ada di antara penyebab itu karena omongan, doa, atau sumpah serapah saya. Mungkin saja prosentasenya kecil bahkan sangat kecil.

Sejak itulah saya jadi semakin berhati-hati. Berhati-hati dalam berkata maupun bertindak. Karena saya takut ada orang yang tersakiti. Karena saya takut ada doa dan kata-kata saya yang kejadian dengannya.

Itulah kenapa sekarang saya sangat berhati-hati berkata karena kata bisa jadi doa. Karena doa bisa dikabulkan kapan saja bahkan dalam hitungan detik ke depan.

Sejak itu pula saya mulai berhati-hati bertindak. Karena bisa saja saya menyakiti orang lain. Karena bisa saja orang lain emosi, menyumpahserapahi saya, dan beberapa waktu kemudian sumpah serapah itu akan benar-benar terjadi pada saya. Termasuk berkata-kata di media sosial.

Jadi, berbuat baik dan santun itu nggak ada salahnya. Dimana pun, termasuk santun di sosial media. Karena saya takut menyakiti hati orang lain dengan tulisan saya. Karena saya takut menyinggung orang lain karena tulisan saya. Maka saya memilih bicara yang baik-baik, menulis yang baik-baik, dan berdoa yang baik-baik. Lidah memang tak bertulang, sedangkan jejari bisa lebih tajam dari pedang.

Semoga postingan ini bisa menjadi pengingat untuk saya, kalian, dan kita semua untuk selalu bicara yang baik-baik, menulis yang baik-baik, dan berdoa yang baik-baik. Sudah tahun 2017, mari kita lakukan yang baik-baik.

Oh ya satu lagi, jangan lupa share yang baik-baik juga.

Salam.

ratna dewi

 

13 Comments
Previous Post
profil-blogger-monda-siregar
Next Post
review-redwin-sorbolene