Mengenal Cantengan, Penyakit Sepele yang Mengganggu Kegiatan Blogging

Cantengan, duh dengar namanya aja udah bikin ngakak. Kok ya nggak elit banget gitu lho penyakitnya, cantengan. Tapi alhamdulillah sih kalo masih diuji sama penyakit cantengan, asal jangan penyakit berat lainnya. Tapi nyatanya namanya penyakit, sekecil apa pun pasti tetap saja bikin nggak nyaman dan mengganggu aktivitas termasuk blogging.

Bulan Maret lalu aktivitas blogging saya nyaris lumpuh karena cantengan. Cantengannya sih sepele hanya di jempol tangan sebelah kiri. Tetapi sembari cantengan, jari-jari saya di sebelah kanan bengkak karena gatal berair dan sangat perih. Alhasil, selama hampir seminggu tangan saya kaku karena jari-jarinya bengkak. Jangankan buat mengetik atau buka laptop, buat bergerak saja sakit. Alhasil Alexa Rank saya yang udah mati-matian diet sampai di angka 190 ribuan, menggendut lagi ke angka 200 ribuan. Nasib.

Ngomong-ngomong soal cantengan, saya sih sebenarnya sudah biasa dengan penyakit ini. Tapi kebanyakan diderita di tangan karena hobi saya yang suka iseng cabut-cabutin kutikula kuku. Iseng aja gitu, nggak suka melihat kutikula yang suka menyembul-nyembul dan kering di pinggiran kuku. Saya nggak suka memotongnya dengan gunting kuku. Bagi saya dicabut itu rasanya lebih enak dan memuaskan, haha. Ngeri banget ya hobinya. Bahkan saat saya grogi pun, kebiasaan buruk ini mampu meredakan sedikit rasa grogi saya.

Nggak jarang, setelah dicabut tepian kuku saya berdarah lalu beberapa hari kemudian sakit dan bengkak. Karena sudah biasa jadi saya suka abaikan rasa sakitnya. Paling mengaduh-aduh sebentar kalau kena air tapi nggak lama kemudian kembali lagi ke kebiasaan buruk itu. Pernah juga sampai bernanah sedikit, tetap saja saya abaikan dan besoknya saya balik lagi dengan kebiasaan mencabuti kutikula ini. Tapi cantengan yang terakhir ini beda, merontokan pertahanan saya, haha.

Dari www.mediskus.com, cantengan disebut juga paronychia adalah infeksi kulit yang biasa terjadi di dasar kuku jari tangan atau jari kaki. Infeksi ini bisa terjadi karena gigitan serangga, kebiasaan buruk menggigit kuku, mencabut kutikula secara paksa, atau menggunting kuku terlalu pendek sehingga terjadi infeksi oleh jamur, bakteri, dan lain sebagainya.

Saya lalu mengingat-ingat lagi kenapa kebiasaan buruk saya yang suka cabutin kutikula yang terakhir itu berdampak cantengan parah. Yang diingat hanya waktu itu saya memang mencabut kutikula jempol tangan, tidak berdarah tapi sakit. Dan setelah itu setiap hari saya memeras jeruk nipis. Setiap terkena air jeruk nipis cantengan ini semakin perih, menjadi-jadi, dan malah bengkak. Nah loh.

Setelah beberapa hari, bukannya semakin membaik cantengan ini malah semakin bengkak. Apalagi jempol bagian telapak juga gatal berair. Pas saya beri salep gatal di bagian jempol yang gatal, cantengannya malah terasa panas dan seperti terbakar, aw..aw… Sumpah beberapa hari itu pekerjaan saya cuma mengaduh-aduh. Jempol tidak bisa digerakkan. Pekerjaan rumah semua dikerjakan suami saya. Jangankan masak atau mencuci piring, buat tidur aja rasanya senut-senut. Makanya kalo tidur tangan saya angkat ke atas biar tidak begitu terasa sakitnya.

jempol jadi gendut karena cantengan
jempol jadi gendut karena cantengan
lihat jari-jari saya, penuh dengan perban
lihat jari-jari saya, penuh dengan perban

Cantengan ini mengganggu sekali aktivitas saya. Selain sakit, jempol saya pun jadi nggak enak dipandang. Makanya saya membatalkan beberapa acara karena penyakit ini. Kalau pun sudah berkomitmen datang, tangan saya biasanya saya perban. Selain biar nggak geleuh pas dilihat orang, perban juga mengurangi sakit dan membantu agar si cantengan tidak tersenggol sesuatu atau kena bakteri.

Singkat cerita, si cantengan ini sakitnya datang dan pergi. Pas bengkak parah-parahnya, sakitnya banget banget. Lalu nggak berapa lama hilang. Nah, fase ini saya kira udah mau sembuh, eh ternyata oh ternyata malah abses alias ada nanah di dalamnya jadi sakit lagi deh. Fase ini cukup lama karena bingung kok nanahnya nggak hilang-hilang. Bahkan sampai mau dibawa ke rumah sakit tapi nggak jadi karena saya dan suami bingung mencari dokter spesialis apa yang menangani cantengan. Selain itu juga malu bok, masa ke rumah sakit karena cantengan. Setelah hampir sembuh, tangan pun jadi sakit lagi karena semua kulit mengelupas dan otomatis jadi tipis.

bengkaknya sudah kempes karena rajin dikompres
bengkaknya sudah kempes karena rajin dikompres, tinggal kulit yang mengelupas

Nah, saya ada beberapa tips nih untuk meredakan cantengan. Mudah-mudahan sih pembaca blog saya jangan ada yang terkena penyakit ini ya. Tapi kalo yang sudah terlanjur kena, bisa dipraktikan beberapa cara ini:

  • Rendam di air hangat dicampur garam

    Cara ini adalah acara yang paling mudah dan alami. Jika kuku sudah terasa sakit, lekas rendam dengan air hangat dicampur garam sehari dua kali selama lebih kurang 15 menit. Garam adalah zat yang bisa membunuh kuman. Karena nggak ada garam khusus, saya pakainya garam dapur. Sama-sama asin ini, haha.

  • Kompres dengan rivanol

    Caranya gampang sekali, basahi kain kasa steril dengan rivanol dan kompres di bagian yang bengkak. Biarkan selama 30-60 menit. Lakukan 2-3 kali sehari.

  • Oleskan salep antibiotik

    Salep antibiotik dioleskan untuk mencegah infeksi. Salep antibiotik ini bisa diperoleh di apotek-apotek. Pas cantengan kemarin saya sih tidak memakai salep antibiotik ini karena masih setia dengan kompres rivanol.

  • Lindungi bagian cantengan dari hal-hal yang bisa memperburuk luka

    Selain menghindari sakit jika disentuh atau tersenggol, melindungi bagian yang cantengan membantu menjauhkan dari hal-hal yang menyebabkan luka cantengan semakin parah. Saya mengantisipasinya dengan memakai perban jika bepergian, selalu bawa/sedia sarung tangan plastik, menghindari luka terlalu lama terkena air, dan memakai sarung tangan plastik saat mencuci/terkena bahan kimia tertentu seperti sabun.

  • Saat tidur, angkat kaki atau tangan yang cantengan untuk mengurangi sakit

    Cantengan apalagi yang sudah parah akan terasa sakit dan senut-senut saat bengkak. Rasa sakit ini semakin menjadi ketika dibawa tidur/rebahan. Solusinya adalah mengangkat bagian yang cantengan (kaki/tangan) lebih tinggi dari tubuh. Hal ini dilakukan agar bagian yang sakit lebih tinggi dari jantung. Walaupun tidak menghilangkan sakit, tapi cara ini cukup efektif untuk mengurangi sakit.

  • Pergi ke dokter atau rumah sakit jika sudah semakin parah

    Jika cantengan sudah parah, biasanya ditandai dengan bengkak tak kunjung sembuh dan timbul nanah maka sudah waktunya dibawa ke dokter atau rumah sakit. Dari artikel-artikel yang saya baca, biasanya akan dilakukan tindakan medis untuk mengeluarkan nanah, dari menyayat bagian yang bernanah atau bahkan mencabut kuku di bagian yang cantengan.

Nah, cantengan yang saya alami sesungguhnya sudah bernanah. Tapi berhubung saya ngeri sendiri membayangkan kuku jempol saya dicabut atau disayat jadi saya urungkan dan ditahan aja sakitnya, huhuhu. Walau kalau malam terkadang nangis karena cantengannya kesenggol suami pas lagi tidur. Akhirnya saya rutinkan kompres air hangat dan rivanol. Alhamdulillah, meski agak lama akhirnya bengkak dan nanahnya lambat laun mengempes dan hilang. Hanya saja, kulit di bagian bekas bengkak akan mengelupas semua dan itu agak perih jika terkena air.

Sudah tahu kan efek buruk cantengan bisa sesakit itu? Yang belum pernah cantengan jangan sampai cantengan. Yang sudah pernah cantengan jangan sampai cantengan kembali. Dan yang masih punya kebiasaan buruk yang membuat kuku luka, yuk ah mulai dikurangi dan dihilangkan. Buat menghindari cantengan, ada beberapa tips dari saya nih:

  1. Hindari mencabut kutikula baik di kuku kaki maupun tangan. Singkirkan kulit mati/kaku di sekitar kuku dengan alat khusus atau kikir kuku.
  2. Potonglah kuku secara lurus, jangan melengkung mengikuti lengkungan ujung jari apalagi terlalu pendek.
  3. Gunakan sepatu yang nyaman, tidak terlalu sempit, dan gunakan kaus kaki untuk melindungi kuku kaki.
  4. Jagalah kebersihan kuku kaki dan tangan salah satunya dengan menggunakan pelembab.

Jadi, sudah siap #2016menujubebascantengan?

 

ratna dewi

23 Comments
Previous Post
Next Post