Selamat Bermain di Surga, Adik

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Hari untuk kuret. Hari untuk ‘melepas’ Adik. Hari untuk merelakan Adik. Segala persiapan telah kami lakukan, termasuk persiapan yang paling penting, mental.

Hari-hari menjelang kuret aku isi dengan menenangkan diri. Menulis, beristirahat, dan membaca. Menikmati ‘me time’ bersama Adik. Mempersiapkan mental. Melepas kesedihan. Mengikhlaskan segala sesuatunya.

Continue Reading
0 Comments

Sabar Ya, Wi…

Tak ada yang tahu usaha kami bolak-balik ke dokter demi Adik, bahkan orang tua dan kerabat kami terdekat pun tidak tahu. Hanya aku, suami, dan dokter yang tahu tentang bagaimana keadaan Adik. Kami berusaha dalam diam. Kami berdoa dalam ketegaran. Kami terus membangun harapan dalam keputusasaan dan bergelut lagi-lagi dengan rasa kehilangan.

Keesokan harinya, kami datang kembali ke dr Stefani dengan membawa hasil dari Klinik Anggrek. Seharusnya begitu hasil keluar, kami langsung bertemu dr Stefani agar bisa mendiskusikan langkah selanjutnya. Tapi hari itu kami tidak sanggup, lelah badan dan juga batin. Kami sudah tahu akhirnya akan seperti apa dan jalan apa yang akan diambil.

Continue Reading
0 Comments

We Lost You, Adik…

Keesokan harinya, akhirnya tibalah kami ke RSCM. Setelah melalui proses daftar dan tanya sana-sini, kami sampai juga di Klinik Anggrek. Klinik Anggrek ini adalah tempat khusus pemeriksaan kebidanan dan kandungan di RSCM yang salah satunya terdapat pemeriksaan fetomaternal. Pemeriksaan fetomaternal ini biasanya dikhususkan buat ibu-ibu hamil dengan kasus yang tidak biasa atau istimewa atau bisa juga buat ibu hamil dengan kehamilan beresiko tinggi.

Continue Reading
2 Comments

We Love You, Adik… (Part 2)

Semenjak kehadiran Adik, kami pun tidak lantas mengabarkannya kepada semua orang. Kami gembira, sangat gembira, tapi kegembiraan kami diliputi ketakutan. Kegembiraan kami bercampur stres. Kami takut terjadi apa-apa dengan Adik sebelum waktunya lahir.

Aku sengaja tidak memberitahukan hal ini pada siapapun, termasuk pada teman-teman terdekatku. Padahal mulut ini sudah gatal ingin berbagi kebahagiaan. Tapi suamiku melarangnya.

Continue Reading
0 Comments

We Love You, Adik… (Part 1)

Kami memanggilnya Adik. Dia hadiah yang diberikan Tuhan untuk ulang tahun pernikahan kami yang kedua. Dia hanya titik yang sangat keciiil dalam perutku yang ditandai oleh dua garis positif dalam testpack. Iya, ini adalah adik Azka. Makanya kami menyebutnya Adik.

Aku tak pernah membayangkan secepat ini bertemu Adik. Adik memang direncanakan kehadirannya, tapi kami tak menyangka kalau kemunculannya akan sama dengan Kakak Azka, sebelum bulan puasa. Aku sempat tak percaya karena di tengah terapi hormon prolaktin yang masih tinggi, aku tak merasakan gejala kehamilan apapun selain mual muntah. Tapi mual muntah toh hal yang biasa ketika terapi prolaktin karena efek obat caberlin memang seperti itu. Tapi kata suamiku ini beda.

Continue Reading
0 Comments