Part-Us

Kami berubah pikiran. Rencananya hari Sabtu baru akan ke RS untuk melahirkan, tapi sesegera mungkin setelah second opinion itu tak ada bedanya, kami pun segera ke RS awal untuk melahirkan Azka dengan bantuan dr Arman. Kasian Azka kalo kelamaan, kata suamiku.

Aku sudah kebal. Tak ada rasa apapun hanya bisa menurut. Aku hanya terus berdoa agar diberi yang terbaik untukku dan juga Azka.

Aku langsung menuju lantai tiga RS, tempat dimana dr Arman merujukkan. Aku dan tanteku menunggu di ruang bersalin sementara suamiku mengurus administrasi persalinan normal. Ruangan ini kini begitu dingin. Dingin perih menusuk tulang. Dingin melihat mereka yang kesakitan dan berujung bahagia saat mengetahui bayinya lahir dengan selamat. Sementara aku akan melewatkan hari di RS untuk berjuang melahirkan bayiku yang sudah tak bernyawa.

Continue Reading
1 Comment

Second Opinion

“Mba maaf aku ngga bisa masuk lagi hari ini, bayiku detak jantungnya ilang. Tolong kasih tau teman produser lain via personal message aja ya, jangan di grup. Thx”

Begitu pesan via whatsapp yang aku kirimkan pada salah satu asisten produserku untuk izin tidak masuk. Aku sengaja tidak memberitahukan via grup karena masih sangat berharap pendapat dr Arman salah. Ya, masih berharap my Azka masih ada dan tidak membuat panik temanku.

Ini hari Jumat. Jumuah mubarokah seharusnya. Tapi mungkin ini menjadi seperti Jumat keramat di KPK karena aku harus menerima putusan,apapun bahkan yang terburuk sekalipun.

Continue Reading
1 Comment

Penyesalan

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Seolah penyesalan dan kata terlambat memang sudah satu paket. Kesedihanku membuncah di dalam taksi yang kami naiki malam itu menuju ke rumah. Air mata tak berhenti mengalir. Dimana bayiku? Kembalikan bayiku?

Di perjalanan hingga ke rumah, rasa sesal memenuhi benakku. Andai saja aku peka sejak beberapa hari yang lalu. Andai saja aku tak terlalu capek. Andai saja aku pergi ke doker lebih awal. Andai saja..andai saja yang lain muncul. Tak peduli kata dr Arman bahwa ini bukan salahku. Bahwa murni ini memang belum rejeki dan kalaupun sudah dari kemarin ketahuan, tak ada yang bisa diperbuat karena letak bayi di dalam perut.

Continue Reading
0 Comments

Kamis, 6 November 2014: Azka (Benar-Benar) Telah Pergi

Aku bangun penuh gemuruh rasa tidak enak hati yang menyelimuti. Sungguh perasaan tak enak membuncah memenuhi dada. Semoga tidak ada apa-apa, pikirku. Tapi rasanya bangun kali ini berbeda, aku tak merasakan apa-apa di perut. Ringan sekali. Seperti tidak hamil. Pikiranku sudah kemana-mana tapi aku masih berusaha untuk berpikiran positif, Azka sehat.

Hari ini aku masih bekerja seperti biasa. Walaupun ada sedikit rasa ngga enak tapi kupaksakan. Toh nanti sore aku ke dokter kandungan. Selain memang jadwal kontrol bulanan, sekalian memastikan kenapa malaikat kecilku tak jua bergerak.

Continue Reading
1 Comment

Rabu, 5 November 2014: Azka Pergi Tanpa Pesan

Kami sedang masuk dalam fase yang bahagia, mungkin paling bahagia dalam masa-masa pernikahan kami. Setelah sudah beberapa minggu bayi yang ada di kandunganku bergerak aktif, bahkan sangat aktif, kami punya segudang rencana bulan ini. Pengen USG 4d karena penasaran, mulai berencana belanja perlengkapan bayi, cari tahu tentang senam hamil, bahkan Senin kemarin saat saya perawatan gigi di RS kami pun sudah tour de hospital buat tahu keseluruhan tentang RS dimana aku akan melahirkan. Tapi semuanya hancur.

Pagi ini aku bangun tanpa firasat. Suamiku bilang kalo tadi pagi si dedek geraknya aktif banget. Entah saat kapan tapi sepertinya saat suamiku terbangun di malam atau menjelang subuh. Dia memang suka memegangi perutku akhir-akhir ini, bahkan tanpa aku tahu. Hanya untuk merasakan gerakan anak kami.

Continue Reading
0 Comments