Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah Dulu dan Sekarang

pendidikan-budi-pekerti

Rasanya masih ingat betul di kepala saya beberapa minggu yang lalu ada kasus guru dipukuli orang tua murid hingga berdarah-darah karena masalah sepele. Ini bukan kejadian perseteruan antara guru dan murid yang pertama. Sebelumnya, banyak kasus perseteruan yang melibatkan guru dan murid juga yang terkespose oleh media massa. Sungguh ironis memang.

Sejenak ingatan saya pun melayang saat jadi wartawan dulu. Banyak kasus-kasus yang melibatkan siswa-siswa di sekolah yang tidak baik dan sayangnya jadi viral. Dari kasus bullying hingga video adegan tak senonoh yang dilakukan oleh anak-anak sekolah. Miris memang rasanya apalagi perbuatan-perbuatan itu dilakukan di lingkungan sekolah.

Sejurus kemudian saya bertanya dalam hati, apa yang salah dari anak-anak sekolah zaman sekarang? Atau apa yang salah dengan sistem pendidikan sekarang sehingga banyak kasus yang memprihatinkan menimpa generasi muda. Bagaimana dengan pendidikan budi pekerti yang diajarkan pada mereka?

Bicara soal pendidikan budi pekerti, menurut saya orang tua dan lingkungan sekitar adalah pihak yang paling punya peranan penting untuk membangun, menumbuhkan, dan menjaga budi pekerti anak sejak dini. Namun, saya tak bisa menutup mata bahwa pihak sekolah dan guru juga punya peranan untuk menjaga pendidikan budi pekerti ini. Semuanya harus saling membangun dan bersinergi. Jangan saling menuduh atau menyalahkan jika ada perbuatan tidak baik yang dilakukan oleh anak karena bisa jadi kesalahan ada pada semua pihak. Ada kegagalan dari semua pihak.

Pendidikan Budi Pekerti Melalui Mata Pelajaran

Saya langsung flashback, mengingat-ingat lagi bagaimana pendidikan budi pekerti yang saya terima di sekolah. Selain nilai-nilai yang disampaikan secara tersirat, pelajaran budi pekerti pun dimasukan dalam mata pelajaran. Dua mata pelajaran yang saya ingat menitikberatkan pada pelajaran budi pekerti adalah Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan Tata Krama.

Mungkin ada saja orang yang mencibir bahwa pelajaran PMP itu pelajaran yang normatif dan sifatnya formalitas. Bisa saja di kelas belajar PMP tapi begitu di luar kelas tidak ada nilai moral baik yang dipraktikan sama sekali. Tapi saya berpikiran positif saja. Dikasih pelajaran PMP saja masih ada orang yang tidak bermoral, apalagi tidak?

Jujur, saya lebih suka pelajaran PMP sebelum akhirnya berubah jadi PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan). Pasalnya, walaupun pendidikan moral seperti toleransi dan gotong royong masih ada di pelajaran PPKn tapi pelajaran tersebut menitikberatkan masalah kewarganegaraan. Jadi, banyak materi ketatanegaraan yang disampaikan ketimbang pelajaran budi pekerti.

Selain pelajaran PMP, pendidikan budi pekerti juga disampaikan lewat pelajaran Tata Krama. Pelajaran Tata Krama didapat saat SMP dan memang pelajaran ini sifatnya hanya muatan lokal. Kayaknya sih hanya Kabupaten Purworejo yang ambil pelajaran Tata Krama sebagai muatan lokal untuk SMP. Meskipun begitu, banyak sisipan soal tata krama, sopan santun dan budi pekerti dalam pelajaran Tata Krama. Banyak adab yang disampaikan melalui pelajaran ini mulai adab berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, bertamu, bersikap dengan guru, makan, mandi, hingga menerima telepon. Sepele memang, tapi pelajaran ini sangat membantu saya untuk tahu ‘unggah-ungguh’ dengan orang lain dalam pergaulan.

Selain pelajaran PMP dan Tata Krama, ada juga pelajaran lain yang mengajarkan pendidikan budi pekerti yaitu Pendidikan Agama dan Bahasa Jawa. Sudah pasti pelajaran Pendidikan Agama mengajarkan budi pekerti yang tujuannya menghasilkan output siswa dengan akhlak yang baik. Sementara pelajaran Bahasa Jawa, walaupun terlihat sepele juga mengajarkan budi pekerti dan ‘unggah-ungguh’ dalam budaya Jawa. Contohnya antara lain cara berbicara dengan orang yang lebih tua harus menggunakan bahasa krama inggil atau bahasa krama alus.

Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah Saat Ini

Saat ini, ada satu hal yang amat disayangkan dari dunia pendidikan yaitu dihapuskannya beberapa mata pelajaran yang memang secara eksplisit mengajarkan tentang pendidikan budi pekerti. Memang, budi pekerti yang disampaikan lewat pelajaran tidak lantas menjadikan seorang anak jadi baik kala tua dan dewasa. Banyak juga kok bapak-bapak koruptor yang sekarang mendekam di sel penjara dulu belajar PMP. Tapi paling tidak, adanya pelajaran budi pekerti yang disampaikan secara eksplisit melalui pelajaran menandakan adanya itikad baik dari dunia pendidikan untuk turut membentuk anak didik memiliki budi pekerti yang baik.

Zaman sekarang, pelajaran muatan lokal seperti Tata Krama sudah terhapus dan digantikan dengan pelajaran muatan lokal lain seperti bahasa asing (Jepang, Jerman, atau Perancis) atau IT (information and technology). Agak disayangkan sih karena pelajaran bermuatan lokal selain memberikan wawasan kedaerahan juga menyelipkan nilai-nilai budi pekerti.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat dengar di berita sempat diwacanakan materi antikorupsi di tingkat sekolah. Materi ini diselipkan dalam pelajaran PKn (Pendidikan Kewarganegaraan). Hal ini dilakukan karena banyaknya perilaku koruptif pada pejabat negeri ini sehingga memberikan materi antikorupsi di sekolah dianggap sesuatu yang penting. Nah, saya sih setuju kalau untuk yang satu ini meskipun mempelajari materi antikorupsi tidak berarti nantinya dijamin tidak korupsi. Tetapi paling tidak, dunia pendidikan ada itikad baik untuk mengembalikan pelajaran bernilai budi pekerti di sekolah.

Pada akhirnya, masalah budi pekerti memang balik lagi pada pribadi masing-masing orang. Walaupun keluarga dan lingkungan merupakan ‘ring 1‘ pembentuk dan penjaga budi pekerti seorang anak tetapi sekolah dan guru juga bertanggung jawab menjaga nilai-nilai budi pekerti. Dunia pendidikan memang seharusnya tak boleh menghilangkan nilai budi pekerti dalam setiap ajarannya, baik itu eksplisit maupun implisit.

 

ratna dewi

7 Comments
Previous Post
boneka-doraemon
Next Post
inspirasi-kado-untuk-istri