Tinggal di Kota Kecil Minim Fasilitas, Apa Bisa?

Beberapa hari lalu saya habis liburan dan pulang kampung sama suami. Pulang kampung kali ini lumayan lama sekitar semingguan dengan banyak itinerary baik itu tempat wisata atau tempat makan di rumah. Makanya, ini adalah pulang kampung yang cukup berkesan buat saya dan suami. Namun, di antara pulang kampung yang mengesankan ini terselip satu hal yang sedikit miris yaitu blog yang jarang ditengok dan tak ter-update.

Akibat jarang disentuh ini, Alexa yang semula 300ribuan jadi sejutaan lebih. DA-pun turun drastis. Padahal baru semingguan nggak dilihat. Rasanya pengen nangis deh. Bukannya apa-apa, blog saya jadi jarang tersentuh selain karena jadwal liburan yang padat juga karena nggak ada sinyal di rumah, khususnya rumah suami saya. Sinyal hape nggak ada blass. Bahkan, kalau mau posting sesuatu, kirim email, atau suami mau mengerjakan kerjaannya, kami harus ke tengah sawah atau mengungsi ke rumah saya yang agak kotaan dikit biar dapat sinyal.

Suka Duka Tinggal di Kota Kecil

Kota tempat tinggal kami, Purworejo merupakan kota kecil di selatan Jawa Tengah. Nggak semua daerah di sana terjangkau sinyal dengan baik. Beruntung, daerah rumah saya masih terjangkau sinyal karena dekat dengan stasiun. Nah kalau lagi di tempat suami saya, simbah dari suami, jalan-jalan ke pantai atau desa-desa ya sudah pasrah saja dengan sinyal yang akan hilang. Memang risiko tinggal di kota kecil seperti itu.

Saya jadi menerawang jauh. Selain susah sinyal, kota saya pun masih minim fasilitas. Purworejo sekarang sudah sangat mending dibandingkan pas zaman saya SMP atau SMA. Sekarang sudah ada waterpark kecil, beberapa bank dengan ATM, supermarket, tempat perawatan wajah (skincare) yang semuanya nggak ada saat dulu saya masih tinggal menetap di sana. Meskipun begitu, tetap saja di kampung halaman saya ini belum ada fasilitas seperti bioskop, mall, franchise fastfood ternama, bahkan kantor imigrasi pun nggak ada. Sedihnya…. Maka, begitu saya sekolah di kota besar dengan banyak mall dan fasilitas yang tak ada di Purworejo maka giranglah hati ini.

Apa yang dulu saya rasakan saat masih sekolah dan tinggal di kota kecil ini dirasakan juga oleh teman blogger saya, Ayu Citraningtias. Mbak Ayu, begitu saya menyapa, tinggal di kota kecil di Kalimantan bernama Sampit. Ia tinggal disana untuk membersamai suami yang ditugaskan di kota tersebut. Dalam blognya, www.gendhiss.com, Mbak Ayu bercerita banyak tentang kehidupannya di Kota Sampit. Salah satunya dalam tulisan Sedihnya Tinggal di Sampit. Membaca tulisan tersebut, saya jadi ingat kala dulu masih sekolah dan menghabiskan waktu di kampung halaman, Purworejo. Semuanya serba terbatas dan tak semaju kota lainnya.

Mbak Ayu menggambarkan Sampit sangat berbeda jauh dengan Jakarta atau beberapa kota besar di Pulau Jawa. Bank di Kota Sampit terbatas alias tak semua ada cabangnya. Belum lagi sangat jarang mall atau fasilitas-fasilitas seperti service center handphone. Maka Mbak Ayu terpaksa harus berpisah sama bioskop atau merk beberapa restoran cepat saji. Kejadian ini pun banyak dialami teman saya yang juga ikut suami untuk bertugas ke kota-kota kecil di Indonesia.

Dengan banyaknya keterbatasan ini, saya sering angkat topi salut sama blogger yang berdomisili di kota kecil atau bahkan daerah terpencil. Tak jarang saya lihat mereka tetap aktif menulis blog, update blog dengan berbagai ide walaupun mereka jarang datang ke acara-acara blogger, atau bahkan menang lomba blog. Meski saya tahu perjuangan untuk konsisten ngeblog dengan segala keterbatasan di tempat tinggal mereka tidak mudah. Mungkin kalau saya yang berada di posisi itu tak bisa seperti Mbak Ayu atau blogger-blogger lain.

Tinggal di kota kecil tak melulu harus sedih dan tak bisa dinikmati. Bahagia atau tidaknya dimana kita berdomisili tergantung bagaimana kita menciptakannya. Nah, setelah membaca banyak tulisan Mbak Ayu ada beberapa tip untuk menikmati hidup di kota kecil khususnya bagi kita kaum perempuan:

  • Selain melakukan kegiatan rumah tangga seperti biasa misalnya memasak, menyuci baju, atau menyetrika, jangan lupa untuk mengeksplorasi hal-hal baru. Misalnya, belajar membuat menu masakan baru. Dengan belajar sesuatu yang baru, tak terasa waktu akan terus berjalan.
  • Habiskan waktu luang misalnya di sore hari dengan menekuni hobi misalnya menulis, ngeblog, berkebun, membaca, dan lain-lain.
  • Gunakan waktu malam untuk quality time dengan suami.
  • Coba eksplorasi tempat-tempat baru yang berhubungan dengan pekerjaan perempuan misalnya sering berbelanja di pasar. Melalui berbelanja di pasar, kita jadi akrab dengan orang lain baik itu warga setempat atau pendatang serta tahu lebih banyak kultur mastyarakat setempat.
  • Jangan lupa untuk pelesir dan mengeksplorasi tempat-tempat wisata terdekat dengan lokasi tempat tinggal di akhir pekan. Lumayan banget kan untuk mengurangi kejenuhan.

Daripada terus menggerutu ketika tinggal di sebuah kota kecil, lebih baik memang terus berpikiran positif dan mengambil benefitnya. Menurut Mbak Ayu, tinggal di Kota Sampit itu tenteram dan damai walaupun dulu pernah ada sejarah kelam di kota ini. Mbak Ayu menikmati Kota Sampit sebagai kota yang bersih, tenteram, minim penyandang masalah kesejahteraan sosial seperti pengemis atau anak jalanan, sedikitnya angka kejahatan, serta mudah berhemat karena jarang pusat hiburan seperti bioskop atau mall di sana.

Mengenal Ayu Citraningtyas

Ayu Citraningtias (Picture from instagram @ayuningtias)
Ayu Citraningtias (Picture from instagram @ayuningtias)

Beberapa kali dalam tulisan di atas saya ‘menyenggol’ nama Mbak Ayu karena sesungguhnya postingan suka duka tinggal di kota kecil ini terinspirasi dari postingan-postingannya. Hmmm, siapa sih Mbak Ayu ini? Ayu Citraningtias atau yang biasa dikenal sebagai Ayu Ningtias di dunia media sosial merupakan seorang blogger yang sehari-hari bermukim dan wira-wiri di Sampit – Palangkaraya.

Sebelum menjadi fulltime mom dan mengikuti suami bertugas, gadis asal Lamongan ini pernah bekerja di Samsung Electronics Indonesia sebagai Software Tester selama empat tahun di Cikarang. Setelah menikah, ia memutuskan untuk pindah mengikuti suaminya bertugas di Sampit. Mbak Ayu mulai ngeblog dari 2011 dan mengisi blognya dengan curhatan pribadi.

Ibu satu orang anak ini memang hobi menulis dan tulisan-tulisannya pun sudah dimuat di beberapa buku antologi seperti Best of Monday FlashFiction, Long Distance Relationship, Heart Ring, dan Harapku Untukmu. Ia pun sempat menjadi giveaway dan lomba blog hunter. Bahkan salah satu tulisannya berhasil ia ikutkan pada ajang menulis Samsung Global (2012) dari seluruh subsidiaris di seluruh dunia.

Ajang itulah yang berhasil mengenalkannya pada beberapa orang keren di penjuru dunia. Di tahun-tahun itulah semangat ibu dari baby Izza ini sangat menggebu-gebu untuk ngeblog, ikut giveaway, ataupun lomba blog. Bahkan ia berhasil membiayai tiga semester kuliahnya dengan uang hasil ngeblog #wow. Ia juga masih aktif dan mencari rezeki lewat job sebagai blogger untuk membantu biaya kuliah sang adik *tossss sama saya*. Semoga lancar yaaa…

Buat yang penasaran dan pengen tahu lebih dekat dengan Mbak Ayu, yuk kepoin langsung blog atau akun-akun social medianya:

Blog: www.gendhiss.com dan www.ayuningtias.com
Facebook: Ayu Ningtias
Twitter: @ayuningtias90
Instagram: @ayuningtias

ratna dewi

15 Comments
Previous Post
Next Post