Menjelaskan Posisi Blogger di Mata Orang Lain dan Keluarga

“Enak banget ya kamu jalan-jalan terus, dalam rangka apaan?”
“Aku diundang kok sebagai blogger barengan sama blogger lainnya.”
“Apaan tuh blogger?”

Sering dapat pertanyaan seperti ini nggak? Saya pernah beberapa kali. Setelahnya, saya jelaskan soal blog, dunia blogging, dan blogger. Tetapi sebelum menjelaskan, saya juga liat-liat dulu siapa orang yang saya hadapi. Kalau orangnya open minded akan dengan senang hati saya jelaskan. Tapi kalau orangnya kira-kira konservatif atau nggak open minded ya bilang aja ‘penulis’. Kalau kalian gimana?

Blogger di Mata Keluarga

Sejak resign kerja dan jadi full time blogger, ada beberapa orang yang mungkin saja mengira saya pengangguran terbuka. Apalagi saya secara kasat mata tiap hari di rumah, nggak punya kantor. Tahu sendiri kan stereotipe kerja bagi masyarakat kita adalah pergi ke kantor atau jadi karyawan. Jadi kalau ada orang di rumah sehari-hari siap-siap saja dicap sebagai pengangguran.

(Baca jugaMenjadi Full Time Blogger dan Hidup yang “Pas-Pasan”)

Buat saya, kadang merasa kesulitan menjelaskan soal blogging atau blogger pada orang yang sudah sepuh, konservatif, nggak update, atau close minded. Kalau sudah begitu, paling saya gunakan kata ‘freelance’, ‘penulis’, atau kalau sudah mentok ya bilang ‘nggak kerja’. Tadinya saya keukeuh banget pengen jelasin soal blogger biar banyak orang terbuka dan jadi tahu. Tapi ternyata ada orang-orang yang ngeyelan atau kurang nangkep jadi ya sudahlah biarkan mereka mengartikan apa kegiatan saya sehari-hari ala mereka. Yang penting bagi saya, keluarga inti saya tahu.

Walaupun orang tua saya nggak melek teknologi dan nggak pernah baca blog saya, tapi alhamdulillah mereka tahu kalau saya blogger. Bapak ibu saya tahu walaupun saya sudah nggak kerja di kantoran lagi tapi masih punya aktivitas dan bertanggung jawab sama kuliah adik saya. Alhamdulillah, mereka selama ini maklum dan nggak bawel.

Yang paling tahu soal saya dan blogging ya sudah pasti suami saya. Pokoknya suami saya sih man behind www.ratnadewi.me. Blog saya nggak bisa seperti sekarang ini kalau nggak ada suami saya. Pokoknya saya love banget deh sama dia. Selain sebagai programmer di balik ratnadewi.me, suami saya juga sebagai penasihat, teman bertukar pikiran, kadang fotografer, ojek pribadi ke tempat event blogger, dan masih banyak lagi. Kadang suami saya juga sampai rela menunggui saya saat ada event.

(Baca juga: Hadiah untuk Supporter Terdepan ratnadewi.me)

Suami saya juga orang yang katanya banyak belajar dari blog saya. Dia belajar banyak hal misalnya soal bikin aplikasi blog di smartphone dari blog saya. Jadi terkadang memang saya harus merelakan blog saya diutak-atik sama suami buat dijadikan kelinci percobaan. Yo wes ndak apa-apa yang penting kita berdua sama-sama memeroleh manfaat dari blog saya.

Orang lain yang cukup bersentuhan langsung dengan kegiatan blogging saya adalah adik saya. Tanpa dijelaskan ia sudah tahu kalau kakaknya seorang blogger. Bahkan kadang ia dapat limpahan-limpahan ‘berkah ngeblog’ dari saya. Selain kadang menggantikan suami jadi ojek pribadi yang mengantarkan ke acara-acara blogger, adik saya juga jadi orang yang saya tanya-tanyain kalau saya sedang utak-atik photoshop. Maklum, saya masih suka gaptek sama photoshop dan adik saya yang dulu sekolah di SMK multimedia bisa jadi orang yang ditanya-tanya kalau sedang utak-atik photoshop.

Oh iya, postingan ini sesungguhnya terinspirasi dari tulisan seorang blogger, Monda Siregar tentang Blogger di Mata Keluarga. Sama halnya dengan Mbak Monda. Pemilik blog www.mondasiregar.com ini sangat didukung keluarga dalam melakukan aktivitas ngeblognya. Meski tidak bersentuhan langsung dengan blog Mbak Monda anggota keluarga intinya yang terdiri dari suami dan dua orang anak sangat mendukungnya.

Sang anak menjadi supporter utama sekaligus pemberi saran dan kritik pada blog sang mama. Bahkan, sang anak pernah dimintai tolong jadi pengisi kolom komentar tatkala blog Mbak Monda masih sepi pengunjung. Sedangkan sang suami yang sering disebut Komandan Raun rela jadi fotografer atau pengantar Mbak Monda saat ingin menulis soal tempat-tempat wisata atau bersejarah yang pernah ia tulis.

Mengenal Monda Siregar

Monda Siregar (Picture from instagram @monda6)
Monda Siregar (Picture from instagram @monda6)

Sudah disinggung sedikit bahwa tulisan ini terinspirasi dari tulisan di blog Mbak Monda Siregar. Bicara soal Monda Siregar, blogger yang satu ini bukanlah orang baru di dunia blogging. Perkenalan Mbak Monda dengan blog dimulai sejak tahun 2009. Awalnya, ia ngeblog hanya karena iseng pengen tahu apa itu blog. Blogger dengan tagline blog “Candu Raun” ini memulai ngeblog di blogspot.

Tahun 2012 blognya menjadi TLD (top level domain). Pindahnya blog Mbak Monda menjadi TLD karena Pakde Cholik yang saat itu ingin merampingkan blognya. Alhasil, Mbak Monda jadi orang yang tercepat yang mendapat limpahan itu. Rezeki di tahun pertama menjadi TLD dapat gratis walaupun tahun-tahun berikutnya bayar sendiri. Tapi itu cukup jadi pemantik semangat ngeblog buat Mbak Monda.

Bagi ibu dua orang anak ini, ngeblog adalah sarana mencari teman yang sehobi. Makanya ia nggak terlalu ngoyo mengejar DA, PA, PV, dan angka-angka lain yang berkaitan dengan blog. Bahkan ia mengaku nggak sanggup kalau harus blogwalking dan posting terus. Tapi Mbak Monda juga senang melihat perkembangan blog yang terus berubah dari waktu ke waktu. Ia senang belajar soal perkembangan blog masa kini. Menurutnya, aktif ngeblog itu mencegah supaya nggak cepat pikun dan mudah-mudahan bisa jadi kegiatan utama saat pensiun nanti.

(Baca juga: Kunci Konsistensi Menulis ala Ira Guslina)

Dalam perjalanannya Mbak Monda juga menemui pengalaman unik saat ngeblog. Salah satunya adalah menyuruh anaknya komentar di blog saat dulu belum terkenal istilah blogwalking. Katanya, ia galau karena tulisannya nggak ada yang komen sementara blog milik blogger lain banyak komentarnya. Hihihi, ada-ada aja Mbak Monda ini.

Saat ini blog milik perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai dokter gigi PNS di Jakarta ini kebanyakan berisi cerita tentang hobinya saja. Ia menyukai hal-hal berbau sejarah dan budaya sehingga tulisannya banyak yang berisi tentang peninggalan sejarah dan kebudayaan Indonesia. Selain itu, ia juga suka menulis soal tanaman dan taman. Perempuan masih cantik yang kini berusia lewat dari setengah abad ini justru hampir tidak pernah menulis dan posting soal kesehatan padahal ia seorang dokter gigi. Ia juga sangat jarang menulis tentang keluarga apalagi dua anak gadisnya karena mereka pun enggan dijadikan objek cerita mamanya.

Mau tahu lebih banyak cerita soal Mbak Monda Siregar? Yuk kepoin langsung blog dan social medianya.

Facebook: Monda Siregar

Twitter: @monda6

Instagram: @monda6

Blog: www mondasiregar.com dan www.mondasiregar.wordpress.com

ratna dewi

 

32 Comments
Previous Post
Next Post