Kamu Boleh Tidak Suka dengan Binatang, Tapi Jangan Menyiksanya

Kalau ditanya apakah saya termasuk orang penyuka binatang, jawabannya tidak. Dari kecil, saya memang tidak suka dengan binatang apapun bahkan banyak beberapa di antaranya yang bikin saya jijik, takut, atau geli. Jangankan memelihara, ada binatang di dekat saya saja buru-buru saya usir. Jadi kalau ditanya lebih milih mana antara binatang atau tanaman, saya sudah pasti lebih memilih tanaman.

Ini jelas berbeda jauh dengan adik saya. Adik saya dari kecil pecinta binatang. Banyak binatang sudah pernah dipeliharanya dari ikan, burung merpati putih, hamster, sampai kelinci. Sedangkan saya nggak berminat sama sekali buat memelihara binatang apapun. Kucing, kelinci, atau anjing yang di gambar/foto bisa saja saya kagumi karena lucu. Tapi kalau pas ketemu langsung, jangankan pegang dekat saja kadang emoh. Entah kenapa saya geli sama binatang yang berbulu-bulu.

Geli sama binatang berbulu tak lantas membuat saya menyukai binatang tanpa bulu. Ular atau reptil yang lain? Hiiii, saya udah lari duluan kalau ketemu ular. Entah kenapa kalau pegang kulit binatang saya merinding. Rasa kayak kenyal-kenyal gitu malah bikin saya sedikit geli. Belum lagi ketakutan yang lain seperti takut menggigit atau mencakar.

Kalau binatang kecil kayak serangga sih saya masih bisa selow. Asalkan binatangnya nggak agresif kayak kecoa yang suka terbang trus nemplok di baju atau kelabang yang jalannya cepet banget trus sembunyi di sembarang tempat pasti langsung saya gebuk atau semprot. Saya mikirnya sih, saya masih menang gede body daripada binatang-binatang kecil itu jadi masih bisa selow.

Saking nggak sukanya sama binatang, saya sempat mikir kalau semua binatang itu pengganggu. Sampai-sampai saya pernah bungkus kepala kucing pakai kresek gara-gara kucingnya nyamperin terus, huhu. Habis itu saya dimarahi sama teman saya karena kejam. Pas saya mikir, duh dulu saya jahat banget. Yang bagian ini jangan ditiru ya. Saya udah insyaf kok. Kalaupun ada kucing saya biarkan saja kecuali kucingnya agresif sama saya atau ganggu biasanya cuma saya usir manja.

Saya jadi sadar kalau saya boleh tidak suka dengan binatang tapi nggak boleh menyiksanya. Saya sadar kalau mereka juga makhluk ciptaan Tuhan. Apalagi pas jadi wartawan dulu saya sering meliput soal kekerasan pada binatang dan wawancara aktivis perlindungan hewan. Saya melihat mereka memiliki cinta yang tulus pada binatang. Sama halnya seperti makhluk bernyawa yang lain, orang-orang tersebut mencintai binatang layaknya mencintai ciptaan Tuhan yang lain.

Bahkan, anjing yang katanya liurnya najis pun tetap punya hak untuk disayangi dan hidup dengan layak. Makanya, saya suka agak gimana gitu kalau melihat komentar-komentar di instagram publik figur muslim yang akhirnya jadi heboh hanya karena dia foto sama anjing atau pegang anjing. Langsung deh itu komentator banyak yang menafsirkan macam-macam yang najis lah atau yang haram lah. Rasanya kok nggak adil ya. Malang banget kalau setiap orang jadi pesakitan hanya karena foto sama anjing. Padahal, kita sendiri kan nggak tahu setelah atau sebelum foto dia ngapain. Ya, kalau memang kena air liur kan siapa tahu habis itu dia bersuci cuma foto pas bersuci nggak dia post aja.

Dalam diri saya sering berfikir kalau saya benci banget sama binatang misalnya kucing, bagaimana saya nanti kalau sudah punya anak? Bagaimana saya mengajari anak saya cinta pada hewan? Tentu saya nggak mau melihat anak saya nantinya temperamen atau terbiasa memukul kucing karena saya yang dari awal memang nggak suka sama kucing. Apa saya akan membiarkan anak saya menjadi orang yang sadis pada binatang? Tentu tidak kan.

Makanya saya belajar banyak untuk satu hal ini. Remeh memang tapi bagi saya ini penting. Saya belajar banyak dari Mbak Shine Fikri. Blogger yang berasal dari Kota Depok ini dalam blognya membagi ilmu-ilmu parenting-nya. Salah satunya dalam postingan yang berjudul “Berdamai dengan Kucing” yang bercerita soal anak-anaknya, Fathan dan Nusaiba, yang diajari untuk ‘ramah’ dan berbuat baik sama kucing.

Wajar memang kalau anak-anak tidak suka dengan kucing lalu lantas ingin mengusirnya. Tapi Mbak Shine yang nggak mau anak-anaknya berubah jadi sadis dalam memperlakukan kucing berusaha memberi pengertian mereka kalau kucing juga makhluk Allah jadi nggak apa-apa kalau mereka mendekat atau bahkan ada di sekitar kita. Berikut tips yang Mbak Shine bagi agar krucil bisa berdamai dengan kucing. Eh iya, tips ini juga bisa diaplikasikan untuk berdamai dengan binatang yang lain lho.

  1. Ingatkan bahwa kucing makhluk ciptaan-Nya yang harus diperlakukan sebagaimana fitrahnya. Bahkan dari beberapa cerita, Nabi Muhammad saja sangat sayang dengan binatang yang satu ini. Kalau Rasul saja bisa sangat sayang masa kita tega untuk menyiksanya. Betapa malunya kita.
  2. Kalau melihatnya saja sudah takut usahakan jangan sampai deh ditendang-tendang, disiksa, atau melakukan kekerasan fisik pada kucing atau binatang lain. Biarkan saja kucing itu atau kalau memang tidak suka bisa diusir dengan halus. Apalagi kalau mereka cuma lewat dan nggak salah apa-apa. Masa iya kita tendang apalagi sampai disiksa. Jahat banget itu mah.
  3. Jangan membuat kucing ketakutan atau merasa dirinya terancam. Hal ini justru membuat kucing melawan karena bisa saja kita dianggap musuh dan dia refleks melindungi dirinya. Salah-salah, si kucing malah bisa menyerang kita.
  4. Nggak ada salahnya kita memberi makan apabila ada kucing yg mengeong di depan rumah. Hal seremeh itu sudah termasuk sedekah karena sedekah itu tak harus pada manusia saja toh?
  5. Kalau memang tidak suka karena takut atau geli bisa dikurangi sedikit-sedikit dengan berdekatan dengan kucing. Tak harus memegang tapi paling tidak kita merasa nyaman ketika kucing ada di sekitar kita. Hmm, kalau yang terakhir ini sih tip tambahan dari saya ya.

Mengenal Shine Fikri

Beberapa kali bertemu dengan blogger ini di acara blogger membuat saya menyimpulkan kalau Mbak Shine itu orang yang menyenangkan. Dia selalu ramah menyapa saya. Ciri khasnya, ia selalu datang bersama dua anaknya atau kadang lengkap bersama suaminya. Ya, Mbak Shine memang biasa datang ke acara-acara blogger. Hal ini salah satunya karena dia sudah memiliki jejaring yang luas. Ngeblognya saja sudah dari sebelum tahun 2009, bo!

shine-fikri
Shine Fikri (Gambar dari instagram Shine Fikri)

Shine Fikri adalah nama penanya. Nama aslinya adalah Nuraeni. Namun, ia sudah biasa membranding dirinya dengan Shine Fikri. Melalui blog www.shinefikri.com ia menulis banyak hal dari jalan-jalan, event blogger, lifestyle, dan parenting.

Tagline blog Dream Shine, Think Shine, Experience Shine bermakna hobinya yang sangat suka bermimpi dan menuliskan beribu mimpi di lembar-lembar kertas. Karena menurutnya ketika mimpi dituliskan tiba-tiba ada saja yang terwujud bahkan ketika ia sudah melupakannya. Itulah yang ia anggap keajaiban. Nah, dari blognya itu banyak tulisan-tulisan yang bisa kita baca dan ambil pelajarannya. Tema yang paling saya suka ya tulisan-tulisan hasil interaksi Mbak Shine dengan anak-anaknya.

Blog www.shinefikri.com
Blog www.shinefikri.com

Tentunya kiprah Mbak Shine dalam bidang kepenulisan ini tidak terjadi secara instan. Ia pernah memenangkan lomba menulis surat bagi Bupati Subang saat SMA. Setelah itu ia mengenal dan menjadi anggota aktif di FLP (Forum Lingkar Pena) khususnya FLP Bekasi. Dari situlah ia berkenalan dengan penulis-penulis keren. Mbak Shine pernah aktif di kepengurusan, menjabat sebagai Sekretaris, Kepala Sekolah Pramuda, dan Kepala Sekolah Muda.

Mbak Shine juga sudah mengeluarkan beberapa buku. Tercatat sudah sekitar 10 buku antologi (kolaborasi) dan 1 buku solo bertema IT ia terbitkan. Ini tentu nggak mengherankan mengingat ia juga sering menjuarai penulisan baik di internal FLP ataupun di luar itu. Tentunya semua ini adalah prestasi tersendiri. Bagi yang penasaran, temukan buku-buku Mbak Shine di menu Pena Shine di blognya.

Masih penasaran juga dengan Mbak Shine Fikri? Yuk, kepoin langsung blog dan social media-nya.

Blog: www.shinefikri.com
Facebook: Shine Fikri
Twitter: @shine_fikri
Instagram: shinefikri.fisabilillah

ratna dewi

34 Comments
Previous Post
Next Post