Menyelami Serunya Dunia Anak Kembar ala The Setyadi’s

serunya-dunia-anak-kembar

“Lucu kali ya kalo punya anak kembar.”

Pernyataan itu masih sering saya ucapkan kalau melihat ada anak kembar di hadapan saya. Mungkin juga pernyataan itu jadi doa. Sempat saya merayu suami buat “Udahlah yuk kita program bayi tabung kembar aja”. Sungguh, dari dalam lubuk hati sebenarnya kadang tersirat juga ingin punya anak kembar walaupun saya dan suami tidak memiliki keturunan kembar. Melihat anak kembar rasanya gemas, apalagi jika sudah besar dan punya profesi yang sama. Dalam pikiran saya juga terbersit kalau punya anak kembar itu sekalian sakitnya pas melahirkan, sekalian repot juga pas gedeinnya. Tapi benar nggak sih seperti itu?

Saya punya beberapa teman yang kembar. Ada Dina dan Dita Faisal yang dulu sama-sama reporter dan presenter di tempat saya bekerja. Pernah ketemu juga sama Eva dan Evi yang sama-sama blogger. Atau lihat liputan teman saya ke sekolah darurat yang didirikan ibu guru kembar Sri Rossyati dan Sri Irianingsih rasanya takjub. Senang lihat anak kembar dan berangan kalau punya saudara kembar mungkin saya bakalan kompak melakukan sesuatu. Nah, tapi bagaimana dengan orang tua yang membesarkannya?

Beruntung saya bisa menikmati kisah anak kembar dari perspektif si orang tua. Dialah Mbak Wiwid Wadmira, pemilik blog www.mykirakara.blogspot.co.idMemiliki anak kembar adalah karunia sementara membesarkannya adalah tantangan tersendiri. Mbak Wiwid memiliki anak kembar perempuan yang kini masih dalam tahap pertumbuhan. Mereka adalah Kara Kalani Setyadi dan Kira Elysia Setyadi yang lahir pada 22 Juni 2010. Kara dan Kira adalah kembar identik yang lahir hanya berbeda delapan menit dan sudah berbagi plasenta dan DNA sejak dalam kandungan.

hayo tebak yang mana Kara yang mana Kira?
hayo tebak yang mana Kara yang mana Kira?

Kara adalah sang kakak yang memiliki bentuk tubuh lebih mungil namun lebih lincah. Kara adalah gadis mungil yang menyukai semua hal berbau princess, yang berwarna pink serta bergambar bunga. Dia pun terlihat lebih ceriwis, ekspresif dan puitis. Sedangkan Kira adalah sang adik dengan sifat yang terbuka, mudah berteman, dan lembut karakternya. Kira memiliki hobi melukis dan tidak pernah kehabisan ide jahil dan kreatif. Baju kesukaannya adalah kaos hitam.

Anak kembar dilihat dari karakter saja sudah beda ya ternyata. Iya, memang tidak akan pernah ada orang yang mirip seluruhnya walaupun itu anak kembar identik. Dan, membesarkan anak kembar ternyata tidak mudah lho. Tidak segampang yang kita lihat kalau mereka lagi hang out bareng dengan baju kembar dan aksesoris lucu-lucunya yang samaan. Tetapi, di balik itu ternyata ada ibu hebat yang juga terkadang harus inhale-exhale menghadapi kelakuan anak kembar. Berikut beberapa ilmu parenting dari orangtua yang membesarkan anak kembar yang disarikan dari blog dan tulisan Mbak Wiwid:

1. Membesarkan anak kembar harus ekstrasabar karena setiap hari mereka bertengkar

Ini pula yang terjadi pada Kira dan Kara. Bahkan dulu saat Kira dan Kara berusia kurang lebih 1 tahun setiap hari Mbak Wiwid menghadapi mereka bertengkar lebih dari 10 kali. Pusing pasti ya. Bertengkarnya pun kadang disertai saling pukul, saling cakar dan saling gigit walaupun orang tuanya tidak pernah memukul mereka. Waahhh, kebayang repotnya setiap hari menghadapi anak yang berantem. Selain itu,merawat anak kembar juga harus sabar karena kemungkinan setiap hari rumah akan seperti kapal pecah. Apalagi ketika mereka sedang aktif-aktifnya. Dua jam diberesin, dua menit kemudian bisa berantakan lagi. Kalau sudah begini ya sudah ikhlaskan saja memang sedang waktunya rumah jadi seperti kapal pecah di masa pertumbuhan anak kembar.

2. Untuk menghadapi sibling rivalry, anak kembar belikan saja dua benda yang sama sekaligus. Tapi kenyataannya?

Mbak Wiwid pernah bertanya pada mereka yang memiliki anak kembar juga, untuk menghadapi sibling rivalry, berikan saja dua item kembar sekaligus. Tapi kenyataannya, tidaklah semulus yang dibayangkan. Sudah punya beberapa benda yang kembar seperti boneka yang sama tetapi terkadang mereka masih rebutan satu sama lain. Lho kenapa? Karena yang jadi rebutan adalah apa yang dipegang oleh sibling-nya walaupun ada benda yang serupa di dekatnya. Justru yang diinginkan adalah benda yang sama.

3. Si kembar tak harus dibelikan barang yang sama, tetapi ajarilah mereka bertanggung jawab pada pilihannya

Semenjak tetap sering rebutan walaupun dibelikan barang yang sama, akhirnya Mbak Wiwid dan suami memutukan untuk tidak membeli dua barang yang sama sekaligus. Walaupun mereka kembar, mereka juga berbeda karakter. Kuncinya sekarang adalah membelikan barang yang sesuai dengan pilihan mereka. Ini juga memberikan hak pada si kembar untuk berpendapat, memilih, dan konsekuen dengan apa yang menjadi pilihannya. Jika ada barang yang sama-sama diinginkan, mereka wajib memakainya bergantian.

4. Penting mengajari si kembar cara meminjam

Belajar dari sibling rivalry yang sering terjadi pada si kembar walau sudah dibelikan barang yang sama, akhirnya Mbak Wiwid mengajari mereka meminta izin dan meminjam. Dengan seperti ini, si kembar juga jadi tahu arti berbagi. Tetapkan acuan waktu dalam peminjaman misalnya boleh meminjam berapa jam dan setelah itu dikembalikan. Ini juga jadi salah satu cara mereka konsekuen dengan pilihannya. Walaupun tak jarang ada anak yang berusaha mengulur waktu peminjaman, tetapi lama kelamaan cara ini efektif untuk mengajarkan anak berbagi.

5. Ajari mereka untuk saling melengkapi

Ini yang ada di bayangan saya tentang ‘enaknya’ anak kembar. Si kakak dibelikan boneka dan si adik dibelikan rumah-rumahannya kemudian mereka akan bermain bersama. Ajari mereka tentang arti kerja sama dan melengkapi. Ini juga yang diajarkan Mbak Wiwid pada anak kembarnya. Contoh yang diberikan Mbak Wiwid adalah Kara si girly dibelikan mainan Barbie, sementara ada kalanya Kira yang tomboy ingin bermain juga dengan barbienya. Nah, biar suasana bermain tetap menyenangkan, maka Mbak Wiwid menambahkan peralatan dokter. Jadi, saat bermain Kara menjadi dokter, sementara Kira bisa meminjam boneka Barbie dan berpura-pura menjadi ibu si Barbie yang sedang sakit. Lalu terjadilah percakapan dokter dan si ibu yang seru dan menggemaskan.

6. Ibu harus pintar menyiasati menu makan si kembar yang berbeda selera

Anak kembar berbeda selera makan? Lalu gimana menyiasatinya? Ini juga terjadi pada Kira dan Kara. Kira menyukai makanan yang tidak berkuah, Kara justru sangat suka sup dan makanan berkuah hangat. Kira suka telur goreng, sementara Kara sukanya telur rebus. Lah gimana donk? Kalau setiap hari ibunya harus memasak dua menu berbeda, capeknya setengah mati. Kalau untuk urusan ini, Mbak Wiwid biasanya menyiasatinya dengan memasak menu kesukaan berganti-ganti setiap harinya. Misal, hari ini memasak menu kesukaan Kira, besoknya menu kesukaan Kara. Dengan begitu, setiap hari si kembar bisa berganti menu, tidak membatasi diri terhadap makanan, dan si ibu bisa menghemat tenaga memasak.

7. Ajari si kembar kompak bermain dan menyusun siasat

Nah, inilah yang bisa jadi potensi dan kekuatan dari anak kembar. Ajari mereka kompak dalam melakukan sesuatu sehingga bisa bahu membahu menjadi sebuah tim yang solid. Apa yang tidak bisa dilakukan si kakak, bisa di-cover oleh adik begitu juga sebaliknya. Hal seperti ini juga mengajarkan si kembar untuk kompak. Contoh yang diajarkan Mbak Wiwid adalah saat Kara kebelet pipis sementara bundanya masih sibuk di dapur, maka Kira dengan sigap akan membukakan pintu kamar mandi karena ia memiliki postur tubuh lebih tinggi dan kuat. Ketika mainan Kira tersangkut di atas lemari, Kara-lah yang dengan lincahnya menaiki step lemari buku bantu mengambilkan. Kalau sudah begini, kelihatan asyiknya ya punya saudara kembar.

seneng kan lihat anak kembar yang kompak?
seneng kan lihat anak kembar yang kompak?

Ada kalanya, merawat anak kembar memang sangat meletihkan. Beberapa kali, Mbak Wiwid rasanya pengen menghilang dan refreshing sejenak karena sering ‘keluar tanduk’ kalau si kembar lagi sering banget berantem. Kalau sudah begini, yang dilakukan Mbak Wiwid adalah merenung sejenak dan mengingat masa-masa perjuangan ketika melahirkan si kembar yang memang saat itu lahir dengan berat badan yang rendah. Mengingat lagi bahwa dua anak kembar ini adalah anugerah karena tidak semua orang bisa memiliki anak kembar dan akhirnya memeluk erat mereka. Duh so sweet sekali.

Kalau lihat yang enak-enaknya, jadi semakin pengen punya anak kembar nih, hihi.

Nah, kalau ada yang mau tahu lebih banyak tentang bagaimana mengasuh anak kembar atau tentang parenting anak bisa colek langsung Mbak Wiwid Wadmira ya di akun-akun media sosialnya atau via email.

Blog: www.mykirakara.blogspot.com
Facebook: Wiwid Wadmira
Twitter: @wiwidwadmira
Instagram: @wiwidwadmira
Linkedin: Wiwit Rahayu

ratna dewi

33 Comments
Previous Post
merayakan-cinta-dengan-glamping-di-trizara-resort-lembang
Next Post
momen-tak-terlupakan-saat-lebaran