William Tanuwijaya: Mantan Penjaga Warnet yang Jadi CEO

Beberapa hari yang lalu, saya diminta tolong mewakili suami buat hadir di acara Year End Journalist Gathering yang diselenggarakan sebuah universitas swasta. Saya iyakan saja permintaan suami, itung-itung refreshing keluar rumah sambil ketemu temen-temen jurnalis lagi. Saya berasa jadi wartawan lagi tapi kali ini membawa bendera Trackpacking sih.

Acaranya sih kayaknya sepele kayak acara kampus tapi saya tertarik dateng karena ada sharing session sama William Tanuwijaya, itu lho CEO Tokopedia. Biar kata saya belum pernah bisa ikut event blogger sama Tokopedia, saya bisa ketemu CEO-nya di kesempatan lain.

Liat William Tanuwijaya sepintas sederhana sekali. Saya nggak nyangka kalo dia CEO sebuah perusahaan bisnis besar. FYI, William nggak begitu suka kalo Tokopedia disebut sebagai e-commerce. Ia lebih senang Tokopedia disebut perusahaan internet. Ia ingin membangun Tokopedia lebih besar, seperti layaknya sebuah kota dimana ada banyak komponen-komponennya disana. Seorang CEO walopun bisnisnya udah maju tapi tetep aja saya masih melihatnya bawa tempat minum kayak kita-kita, pun gaya berpakaiannya juga sederhana dan santun. Point plus ya buat CEO yang seperti ini.

Mantan Penjaga Warnet

Bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh engkau akan jatuh di antara bintang-bintang-Ir Soekarno

William muda datang dari pulau seberang tepatnya Pematang Siantar dan dikasih tiket dari keluarga (ayah dan pamannya) untuk melanjutkan pendidikan di tanah Jawa. Dengan menempuh perjalanan tiga hari tiga malam, akhirnya dia sampai juga di Jakarta. Awalnya saya kira dia berasal dari keluarga konglomerat karena nama belakangnya atau keluarga Tionghoa yang berada seperti layaknya Ahok. Ternyata saya salah. William berasal dari keluarga dengan latar belakang ayahnya seorang pekerja pabrik dan ibunya adalah ibu rumah tangga.

Di tengah krisis keuangan keluarganya dan ayahnya yang sudah sakit-sakitan, William mau tak mau harus bertahan hidup di Jakarta. Waktu itu tahun 1999 dan internet masih belum tersebar luas seperti sekarang. William muda akhirnya memilih pekerjaan sambilan jadi penjaga warnet yang jadwal jaganya malam hari. Saat itu, internet masih jadi barang mahal dan William bisa dengan gratis memanfaatkannya. Dari situlah ia mulai jatuh cinta sama internet.

Internet membawa William untuk punya mimpi-mimpi besar. Sejak saat itu cita-citanya adalah bekerja di perusahaan internet. Namun sayangnya, pada masa itu, perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Google belum punya kantor di Jakarta. Akhirnya, ia pun bekerja kantoran di beberapa perusahaan software dan provider. Masih ingat nggak waktu dulu sering ada iklan di koran-koran buat ketik REG(spasi)JODOH? Nah di situlah bos Tokopedia pernah bekerja. Puncak karirnya pada saat jadi karyawan adalah menjabat manager dengan satu pegawai.

Sambil bekerja, William juga punya sampingan membuat website untuk pedagang-pedagang seperti pedagang di Glodok. Mereka pengen punya website supaya bisa memasarkan dagangannya nggak cuma di Jakarta tapi juga dijangkau sama masyarakat-masyarakat lain di Indonesia. Kendala melek teknologi, jauhnya jangkauan pemasaran di Indonesia, belanja online yang rawan penipuan, sampai mahalnya membangun perusahaan jadi rintangan para produsen atau pengusaha saat itu. Dari berbagai masalah itu, William bermimpi untuk punya sebuah bisnis berbasis teknologi yang bisa mengakomodir semua kendala itu. Itu semua dimimpikan dalam idenya untuk membangun Tokopedia.

Jatuh Bangun Membangun Tokopedia

Pada tahun 2007, ia memiliki ide untuk membangun Tokopedia. Di tahun yang sama juga ayah William divonis kanker sedangkan ia adalah satu-satunya pencari nafkah keluarga. Sangat berat baginya buat meninggalkan pekerjaannya saat itu tapi dia juga punya mimpi besar tersendiri untuk memiliki bisnis berbasis teknologi. Tapi siapalah William saat itu, ia tak punya modal dan banyak orang menertawakan mimpinya. Ketika ia mengemukakan mimpinya, banyak orang yang bilang bahwa ia harus sadar diri.

William butuh pemodal untuk Tokopedia. Ia belajar banyak tentang permodalan start up dari Google. Perusahaan-perusahaan besar yang ia kagumi memulai bisnis dari ide kecil dan kerja keras yang didukung oleh pendanaan secara bertahap oleh pemodal ventura (venture capitals). Terinspirasi dari hal tersebut, ia mulai mencari pemodal. Orang berduit yang ia kenal saat itu hanya bos tempat ia bekerja. Ia menceritakan tentang Tokopedia yang akan menjadi solusi bagi para pedagang di Indonesia yang ingin memasarkan produknya tapi terbentur akses pasar, jarak, dan teknologi.

Dari situlah sang bos memperkenalkan William dengan para pemodal. Namun, tidak ada yang langsung oke dengan idenya. Inilah yang membuatnya merasa membangun sebuah bisnis di Indonesia terasa sulit karena banyak hal-hal yang jadi pertimbangan. Rata-rata pemodal menanyakan bagaimana kredibilitasnya, rekam jejaknya di dunia bisnis, dan bisnis apa saja yang sudah pernah dibangun. Bahkan orang-orang sampai bertanya latar belakang keluarganya sampai dia lulusan apa, yang jelas-jelas jauh berhubungan dengan ide bisnisnya.

Dengan kepribadian yang introvert dan Bahasa Inggris yang pas-pasan saat itu, William gagal meyakinkan pemodal dari Eropa. Mereka tidak mengerti apa yang William katakan. Akhirnya, ia bertemu dengan pemodal dari Jepang dan bisa berkomunikasi dengannya. “Bahasa Inggris kami sama-sama ancur tapi nyambung. Kami berkomunikasi dengan telepati,” selorohnya saat itu. Tapi nyatanya, ia pun berhasil mendirikan Tokopedia di tahun 2009. Dari situ, akhirnya ia memperbaiki diri, termasuk memperbaiki skill berbahasa Inggrisnya.

Butuh dua tahun untuk membangun Tokopedia. Ia juga sempat mengalami jatuh bangun. Sempat membuka booth Tokopedia di sebuah pameran kampus almamaternya selama dua hari dan dua hari itu juga dia cuma ‘nepok nyamuk’ yang artinya nggak ada satu pun orang yang mau mampir ke booth-nya. Di masa itu nggak ada orang yang tertarik dengan bisnis start up. Berbeda dengan sekarang yang bahkan banyak orang berbondong-bondong mencari Tokopedia. Bahkan, ia mengklaim berhasil membawa ‘pulang kampung’ pekerja-pekerja teknologi yang dahulu memilih bekerja di Amerika untuk bergabung di Tokopedia.

Kunci keberhasilan bagi William adalah berani dan percaya diri. Tokopedia hadir karena kegigihan, keberanian, dan harapan. Di generasi internet semua punya peluang, bahkan yang underdog sekali pun. Menurutnya, yang underdog dan berani melawan status quo justru yang berhasil di dunia internet, Mark Zuckerberg, pemilik Facebook misalnya.

Kini Tokopedia sudah tak bisa diragukan lagi nama dan kredibilitasnya. Sudah ada lebih dari 500.000 merchant di seluruh Indonesia dengan jumlah traffic lebih dari 50 juta per bulannya. Semakin kesini Tokopedia terus memberikan inovasi terbarunya. Salah satunya adalah bekerjasama dengan toko waralaba untuk memudahkan pembayaran karena masih terbatasnya pengguna kartu debit dan kartu kredit di Indonesia. Ia pun ingin mendidik masyarakat dengan tidak memberikan diskon besar yang ternyata palsu. Makanya, jarang kan kita lihat diskon besar-besaran kayak “Potongan 70% + 20% + 20 %” di Tokopedia?

Dengan Tokopedia, William bukan hanya ingin membangun sebuah e-commerce tetapi perusahaan internet. Pengagum Larry Page dan Serge Brin ini sekarang bisa mendengar kisah-kisah kesuksesan karena Tokopedia. Dari mulai ibu rumah tangga, cleaning service, mahasiswa, hingga pekerja kantoran yang sudah memulai usaha dan membangun lapangan kerja di sekitarnya. Itu kenapa tag line  Tokopedia “Ciptakan Peluangmu”.

Tokopedia mengubah hidup William. Tokopedia juga mengubah hidup orang-orang di sekitarnya. Dengan Tokopedia pula ia ingin menyampaikan bahwa “bermimpilah dengan mata terbuka karena ngga ada hal-hal besar yang sulit dicapai kalo kita bermimpi dengan mata terbuka”. Jangan takut bermimpi, seperti halnya kata-kata Bung Karno, tokoh visioner Indonesia yang William kagumi “bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh engkau akan jatuh di antara bintang-bintang”.

 

ratna dewi

17 Comments
Previous Post
Next Post