#TigaHariDiBatam: Fakta-Fakta Seputar HIV/AIDS di Kota Batam

tulisan "Welcome to Batam" jadi salah satu ikon kota Batam

Sebagai kota dengan pelabuhan yang menjadi lalu lintas perdagangan internasional, Batam memang memiliki potensi untuk menjadi kota yang maju dan modern. Berbagai fasilitas membuat Batam tumbuh layaknya kota metropolitan. Belum lagi kemudahan akses dari Batam-Singapura pulang pergi membuat banyak orang mudah untuk keluar masuk Batam. Tapi sayangnya, menjadi kota niaga dan industri juga memberikan dampak tersendiri. Salah satunya adalah munculnya berbagai masalah sosial yang tidak bisa dianggap sepele.

Maraknya prostitusi adalah salah satu masalah sosial yang tumbuh di Kota Batam. Ketika Batam tumbuh menjadi kota bisnis yang disinggahi banyak orang, banyak pusat hiburan dari pub, tempat karaoke, hingga tempat pijat berdiri di pusat kota Batam. Pengunjungnya pun bermacam-macam, di antaranya adalah mereka para pekerja, pendatang, atau pun ekspatriat, yang sekadar singgah atau menetap di Batam.

Prostitusi dan seks bebas di Batam bukanlah lagi sebuah rahasia. Kalau yang belum pernah ke Batam pasti tidak akan begitu percaya. Ini juga yang saya alami ketika belum menginjakan kaki di Batam. Memang gambaran soal kawasan hiburan malam sudah diberitahukan sebelumnya tetapi saya nggak menyangka akan sebanyak itu. Saya memang cuma tiga hari di Batam tapi sudah cukup tahu bagaimana kehidupan malam disana. Kendati saya tidak menyelami sampai jauh dan selanjutnya hanya dapat info dari hasil googling.

Tak usah jauh-jauh ke tempat prostitusi yang terkenal. Di kawasan belakang hotel tempat saya menginap pun banyak berjajar ruko pub, karaoke, dan tempat pijat. Sekali waktu saya melewati tempat tersebut dengan beberapa teman, mata tak sulit untuk menemukan perempuan-perempuan cantik dengan dandanan menor dan pakaian minim sedang menghisap sebatang rokoknya. Mereka sedang ‘menunggu’. Atau beberapa ada yang sudah digandeng lelaki. Salah satunya adalah seorang lelaki bule yang menggandeng seorang perempuan muda dengan baju berbelahan dada rendah.

Ini adalah sebagian kecil. Penasaran, saya pun googling tentang prostitusi di Kota Batam. Ternyata tak sulit untuk menemukan berbagai tulisan tentang prostitusi atau seks bebas di kota yang terkenal dengan ikon Jembatan Barelang ini. Penjaja seks di Batam banyak yang berasal dari luar Kota Batam bahkan dari luar pulau. Banyak di antara mereka yang menjadi korban trafficking.

Tak hanya perempuan, lelaki pun ada yang menjadi penjaja seks yang juga melayani lelaki di sini. Saking maraknya dunia malam di Batam, konon setiap Hari Senin media Batam biasanya memberitakan ada saja orang meninggal setelah mereka ‘bermain’ dengan para penjaja seks.

Belum selesai soal prostitusi, seks bebas di kalangan remaja pun marak. Beberapa berita yang saya baca dari media online, seks bebas di Batam bukan cuma terjadi di kalangan pelajar SMA. Seks bebas pun telah terjadi di kalangan SMP. Ah, rasanya saya nggak tega baca satu persatu berita soal seks bebas di kalangan pelajar di Batam. Miris sekali memang. Dan dari semuanya ini, akibat yang ditimbulkan tidaklah sepele. Salah satunya adalah penyebaran HIV/AIDS. Iya, HIV/AIDS di Batam angkanya memang sangat tinggi dan penyebarannya pun bukan hanya di perkotaan.

Batam dan Angka HIV/AIDS

HIV/AIDS di Batam pertama kali ditemukan 6 September 1992. Fakta mencengangkan adalah penderita HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Pulau Babi (Pulau Amat Belanda) yang notabene adalah bekas lokalisasi. Pulau ini terletak di tengah laut, tidak besar, dan letaknya tidak jauh dari Pulau Belakang Padang. Si penderita dikenal sebagai pemakai wanita tuna susila (WTS). Hal ini bisa diartikan bahwa prostitusi di Batam bukan hanya menyebar di pusat kota tetapi juga hingga ke perbatasan, ke pulau-pulau yang saya anggap terpencil.

Sekilas info tentang Pulau Amat Belanda, pulau ini dulunya terkenal sebagai tempat prostitusi. Pulau Amat Belanda masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Belakang Padang. Pulau ini dulu sempat sangat terkenal di awal tahun 1990-an. Di sana berdiri sebuah lokalisasi yang biasa dikunjungi warga Singapura dan para pelaut. Konon, tempat ini dulunya adalah bekas peternakan babi. Di tahun 1990, Pulau Amat Belanda menjelma menjadi lokalisasi di tengah laut dan mencapai puncaknya sekitar tahun 1997-1998.

Ibu Sri Rubiati, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Batam merupakan salah seorang yang sangat concern dengan isu HIV/AIDS di Batam. Menurut Bu Nonong, panggilan akrab Sri Rubiati, pelanggan pekerja seks adalah orang yang angkanya paling tinggi yang menderita HIV/AIDS di Batam.

Ibu Sri Rubiati menjelaskan tentang HIV/AIDS di Batam
Ibu Sri Rubiati menjelaskan tentang HIV/AIDS di Batam

Sementara itu berdasarkan kelompok kerja, karyawan dan ibu rumah tangga menjadi dua kelompok dengan angka tertinggi terinfeksi HIV/AIDS. Pada tahun 2015, ada 163 karyawan/buruh pabrik dan 114 ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV/AIDS. Angka ini adalah dua peringkat tertinggi pendererita HIV/AIDS berdasarkan kelompok pekerjaan. Dilihat dari data ini, istri atau ibu rumah tangga adalah orang yang berisiko cukup tinggi terhadap HIV/AIDS. Para istri ini biasanya terinfeksi virus HIV dari suami yang suka ‘jajan’ di luar. Faktanya, di Batam memang angka tertinggi penularan HIV/AIDS karena hubungan seksual.

Sedangkan berdasarkan kelompok risiko, peringkat pertama atau tertinggi pada penderita HIV/AIDS terjadi pada pelanggan pekerja seks. Angkanya mencapai 217 orang. Setelah itu disusul oleh LSL (lelaki suka lelaki) dengan angka 114 orang, WPS (wanita penjaja seks) dengan angka 113 orang, dan pasangan berisiko tinggi dengan angka mencapai 108 orang.

Angka HIV/AIDS paling tinggi di Batam terjadi pada 2015 lalu. Ibu Nonong menyebutkan setidaknya ada 641 kasus baru HIV/AIDS yang terjadi di Batam pada tahun 2015. Sebagian besar terjadi karena transaksi seksual. Transaksi seksual di Batam umumnya terjadi di hotel, tempat karaoke, dan tempat pijat yang jumlahnya ratusan. Oleh karenanya, Dinkes Batam sangat disiplin untuk mengharuskan penggunaan kondom. Di setiap tempat-tempat hiburan tersebut, ATM kondom hukumnya wajib. Namun nampaknya penyediaan ATM kondom juga belum dilakukan oleh semua tempat hiburan tersebut.

Selain mengupayakan ATM kondom, ada beberapa langkah yang dilakukan Dinkes Batam guna menekan penyebaran dan angka kematian akibat HIV/AIDS. Di antaranya adalah:

  • Setiap ibu hamil diwajibkan periksa HIV/AIDS yang sudah tersedia di 17 puskesmas.
  • Mempercepat pemberian obat ARV (antiretroviral) bagi penderita HIV/AIDS.
  • Semua penderita TB (tuberculosis) dikonseling untuk tes HIV/AIDS karena biasanya 50 % penderita HIV/AIDS juga merupakan penderita TB.
  • Semua penderita HIV/AIDS yang terlantar dibuatkan KTP dan Jamkesda.
  • Batam secara khusus menggelontorkan dana untuk kasus HIV/AIDS baik untuk rumah sakit atau pengobatan penderita karena BPJS baru tiga bulan ini meng-cover pengobatan HIV/AIDS. Hal ini karena HIV/AIDS dianggap sebagai penyakit bunuh diri.
  • Pasien HIV/AIDS usia 0-4 tahun ditanggung menggunakan Jamkesda.
  • Penderita HIV/AIDS yang ditolak rumah sakit diminta untuk melaporkan nama rumah sakitnya dan rumah sakit terancam dicabut dana HIV/AIDS-nya.
  • Di Batam sudah tersedia berbagai klinik layanan seperti metadon treatment, konseling voluntary, infeksi menular seksual, care support, dan prevention mother to children.
  • Batam menggunakan dana dari APBD dan mendapatkan dana dari Global Fund untuk membantu penanggulangan HIV/AIDS.

Meskipun kampanye melawan HIV/AIDS sudah sangat menggaung di Batam namun masih ada saja pihak yang belum mengerti benar tentang HIV/AIDS dan cara penularannya. Bahkan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS masih saja terjadi. Ibu Nonong bahkan pernah menemui seorang istri yang dikucilkan dan disuruh tidur di halaman rumah hanya karena ketahuan terinfeksi HIV/AIDS. Ibu Nonong juga menambahkan tercatat hanya sekitar 20% pelajar mahasiswa yang mengetahui benar tentang HIV/AIDS.

Tak hanya itu, pengetahuan HIV/AIDS ini juga masih rendah di kalangan LSL (lelaki suka lelaki), WPSL (Wanita Pekerja Seks Langsung), dan WBP (Warga Binaan Pemasyarakatan). Tentunya pemerintah bersama Dinkes Batam masih punya pekerjaan rumah yang banyak. Jangan mudah berpuas diri dengan berbagai terobosan yang dilakukan karena lengah sedikit saja bisa jadi angka HIV/AIDS akan semakin meningkat. Bukan hanya menekan angka penderita dan angka kematian HIV/AIDS, tetapi juga mengedukasi banyak kalangan tentang HIV/AIDS dan penularannya juga penting untuk dilakukan.

Kepedulian HIV/AIDS dari Pihak Swasta

Tingginya angka HIV/AIDS di Batam ini rupanya menggugah beberapa pihak untuk turut serta peduli. Salah satu pihak yang peduli terhadap penanggulangan HIV/AIDS di Kota Batam adalah PT McDermott Indonesia (PTMI). PT McDermott yang berdiri sejak 19 Januari 1973 ini merupakan perusahaan yang memproduksi anjungan pengeboran minyak.

Kepedulian PTMI terhadap HIV/AIDS di Batam bukan tanpa alasan. Selain karena lebih dari 90% karyawannya laki-laki, lokasi PTMI juga berdekatan dengan ‘hotspot’ seperti Samyong, Bukit Senyum, serta Morning Bakery yang menjadi daya tarik bagi pekerja melakukan seks berisiko. Apalagi pekerja lelaki memenuhi unsur 4M dalam program HIV/AIDS ini yaitu: Men, Mobile, Money, dan Macho. Oleh karena itu, penyuluhan terhadap target (lelaki) menjadi solusi untuk mencegah penularan HIV/AIDS.

“Laki-laki keluar rumah 10 meter aja ngakunya pasti bujangan,” seloroh dr Maryati, Kepala Klinik PTMI.

Ini berarti laki-laki adalah kaum yang amat berisiko. Apalagi laki-laki di daerah industri seperti Batam. Di Batam angka pekerja laki-laki cukup tinggi. Banyak dari mereka bukan berasal dari Batam dan meninggalkan keluarganya di kampung halaman. Bahkan banyak juga di antaranya adalah ekspatriat atau pekerja asing. Oleh karena itu, ketika haus akan nafsu biologis dikhawatirkan mereka akan mencari kepuasan di tempat-tempat hiburan. Dan di tempat itulah virus HIV/AIDS sangat rawan menular, tak peduli terhadap siapa pun.

dr Maryati, kepala klinik PT McDermott
dr Maryati, kepala klinik PT McDermott

Perusahaan dengan karyawan mencapai 3336 orang ini membagi program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di lingkungan PTMI menjadi dua. Dua program itu adalah Program Pencegahan HIV/AIDS bagi pekerja perusahaan yang terintegrasi dengan unit Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dan Program Pencegahan HIV/AIDS bagi masyarakat di sekitar area perusahaan melalui dukungan dana CSR perusahaan. Kegiatan di luar PTMI biasanya melibatkan para pelajar dan mahasiswa (goes to school).

Untuk kegiatan internal/penyuluhan, PTMI melakukannya di masing-masing departemen dengan pembicara dokter, perawat, atau peer education. Biasanya penyuluhan dilakukan di sela-sela meeting tool box safety setiap hari Senin. Selain itu diadakan juga VCT (Voluntary Counselling and Testing) yang dilakukan setiap tiga bulan sekali. Seluruh pembiayaan VCT ditanggung oleh perusahaan dan kegiatan ini mengundang 20-30 peserta secara sukarela.

Dokter Maryati tidak menafikan karyawan PTMI juga ada yang merupakan ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Tercatat ada 4 (empat) orang karyawan PTMI yang juga ODHA dan masih bekerja secara normal tanpa perlakuan diskriminatif. Pengobatan mereka ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan dan dijamin kerahasiaannya. Standar penyelamatan jika ODHA tersebut mengalami kecelakaan kerja saat di lapangan pun sudah ditetapkan.

Selain itu, untuk menghindari pekerja lelaki yang tinggal sendiri di Batam dan meninggalkan keluarga di kampung halaman, PTMI membuat terobosan dalam perekrutan karyawan. Mereka yang direkrut kebanyakan adalah warga lokal. Kalau pun ada warga luar Batam yang bekerja di PTMI, pihak perusahaan menyiapkan rumah dinas dan tunjangan pindahan rumah kepada karyawan tersebut.

Beberapa hal di atas adalah contoh nyata kepedulian PTMI terhadap HIV/AIDS di Kota Batam. Atas kepeduliannya terhadap HIV/AIDS ini, PTMI berhasil memperoleh penghargaan terbaik I Kategori Lingkungan Kondusif dalam ajang Penghargaan Inovasi Penanggulangan AIDS 2015 yang diselenggarakan olej Komisi Penanggulangan AIDS bekerja sama dengan Center for Indonesia’s Strategic Developments Initiatives (CISDI).

pt-mc-dermott-indonesia
drg. Oscar Primadhi menerima kenang-kenangan dari PT McDermott Indonesia

Saya yakin apa yang dilakukan PTMI belum menyelesaikan perkara HIV/AIDS di Batam. Menekan angka HIV/AIDS di Batam adalah perkara yang tidak mudah dan harus melibatkan banyak elemen. Tapi langkah nyata dari PTMI ini patut diapresiasi. Setidaknya di saat banyak pihak mendiskriminasi penderita HIV/AIDS bahkan menutup mata terhadap penyakit ini, PTMI justru giat mengedukasi karyawannya tentang HIV/AIDS tanpa mendiskriminasi karyawan ODHA. Harapannya, perusahaan-perusahaan lain juga akan tergerak peduli terhadap masalah serupa dan mengikuti langkah PTMI dalam kepedulian terhadap HIV/AIDS.

HIV/AIDS merupakan pekerjaan rumah kita bersama. Batam mungkin hanya miniatur kecil dari kasus HIV/AIDS di Indonesia yang seharusnya menjadi perhatian serius. Tersebarnya HIV/AIDS hingga Pulau Belakang Padang merupakan warning tersendiri bagi kita semua bahwa penyakit ini bisa menyerang siapa saja dan dimana saja. Oleh karenanya mari perangi bersama HIV/AIDS bersama. Ingat, perangi penyakitnya bukan penderitanya!

 

ratna dewi

 

17 Comments
Previous Post
anita-carolina-tampubolon
Next Post
semangat-olahraga