Cerita Kehamilan Ketiga: USG 4D (Part 2)

Akhirnya setelah ditunggu-tunggu kehamilan ini memasuki usia 24 minggu juga alias 6 bulan, yeaaayyy!!! Sempat sedikit was-was sih karena masih menyimpan sedikit trauma hamil Azka. Iya, karena di minggu-minggu ke 24 itulah dulu Azka tiba-tiba hilang detak jantung dan saya takut kalau tiba-tiba dejavu. Takutnya pakai banget-banget, tiap hari merasa deg-degan. Si baby nggak gerak sebentar aja udah rada kalut.

(Baca juga: Mengenal IUFD)

Tapi berkat ikut kelas hypnobirthing, rasa takut ini sedikit teratasi. Iya, saya dan suami ikut kelas privat hypnobirthing buat menghilangkan rasa trauma. Nah, di masa-masa deg-degan ini saya mengalihkan pikiran ke hal-hal yang baik aja. Soalnya kalau mikir yang nggak-nggak nanti malah kejadian beneran, naudzubillahmindzalik. Soal hypnobirthing ini nanti detailnya akan saya ceritain di postingan terpisah ya. Soalnya panjang ceritanya.

Memasuki usia 24 minggu itu berarti saya harus kembali melakukan USG 4D yang kedua. USG 4D yang kedua ini dilakukan untuk mengetahui lebih detail keadaan organ janin, jenis kelamin, serta kondisi hal-hal yang menunjang kehamilan si ibu misalnya plasenta dan air ketuban. Sama halnya dengan USG 4D yang pertama, USG 4D yang kedua ini masih dilakukan oleh dr Yuditya Purwosunu, Sp.OG (K) FTM yang juga subspesialis fetomaternal atau kehamilan berisiko tinggi.

(Baca juga: Cerita Kehamilan Ketiga: USG 4D (Part 1))

Awalnya, awalnya banget nih ya, USG 4D yang kedua ini dilakukan untuk memotret keadaan bayi seperti halnya foto-foto USG 4D yang biasa diposting orang-orang di media sosial. Itu lho foto-foto yang biasanya memperlihatkan muka bayi di dalam perut, yang secara nggak langsung bisa dilihat sekilas mirip siapa apakah bapak atau ibunya. Eh ternyata saya salah lagi, saudara-saudara. USG 4D lebih dari itu, lebih detail malah kalau dilihat dari aspek kesehatan.

USG 4D Part 2

Seperti halnya USG 4D sebelumnya dengan dr Yudit, USG kali ini tetap dilakukan di Hari Sabtu sore, hari dimana biasanya emang dr Yudit praktik di Sammarie. Sayangnya, hari itu pas begitu sampai di tempat pendaftaran petugasnya langsung bilang kalau dokternya agak telat, sekitar pukul 17.00 baru datang (saya dan suami datang sekitar pukul 16.00 lewat dan jadwal praktik dr Yudit adalah pukul 16.00). Ternyata eh ternyata, setelah ditunggu-tunggu dokternya malah baru datang jam 18.00 kurang. Saya ingat banget itu pas adzan maghrib karena saya dan suami turun lift buat ke musala eh di bawah ketemu dokternya yang baru mau masuk lift. Ampun dijeeehh!!

Tapi ya udahlah ya, demi si baby bulu-bulu kesayangan saya pun sabar menunggu dokter. Untungnya walaupun antriannya lumayan banyak, tiap pasien yang konsultasi ke dr Yudit durasinya cuma sebentar. Mungkin karena kebanyakan adalah pasien yang sudah hamil. Jadi mereka hanya kontrol dan konsul seperlunya saja. Beda dengan pasien yang masih promil di Prof Jacoeb (apalagi kalau kedatangan pertama), 1 nomer pasien saja bisa ada yang sampai 45 menit.

(Baca juga: Cerita Program Hamil Ketiga: Hallo, Prof Jacoeb)

Saya dipanggil pas pasien tinggal beberapa lagi, hitungan jari lah dan saat itu waktu menunjukkan hampir pukul 19.00. Seperti biasa, USG 4D di dr Yudit dilakukan di perut. Beberapa hal yang dilihat dari USG 4D kali ini adalah detak jantung janin, lingkar perut bayi, organ dalam, kondisi plasenta, dan kondisi air ketuban. Alhamdulillah, dari hasil keseluruhan dan sekilas (untuk hasil yang lebih detail biasanya akan dibaca oleh Prof. Jacoeb) semuanya tampak baik. Dr Yudit hanya bilang bayinya agak besar.

Lhaa terus kapan itu foto muka baby-nya? Kan saya juga pengen kayak orang-orang yang muka babynya eksis di media sosial. Ternyata itu hanya semacam pemeriksaan sampingan alias kalau kata saya sih yang nggak penting-penting amat, haha. Yah, itu mah buat semacam pemeriksaan populer buat ibu hamil karena pemeriksaan 4D yang sesungguhnya adalah pada organ-organ bayi dan elemen pendukung kehamilan pada ibunya. Semuanya harus dilakukan dengan detail.

(Baca juga: We Lost You, Adik…)

Dan foto baby di USG 4D itu dilakukan terakhir. Dr Yudit bahkan bilang karena babynya masih lumayan kecil dan letaknya masih di atas, kemungkinan besar belum kelihatan kalau difoto. Saya waktu itu disuruh miring dengan tubuh menghadap ke arah dr Yudit trus perut bagian kiri atas saya digoyang-goyang cukup kencang biar kelihatan si muka baby-nya tapi ternyata ini si baby bulu-bulu masih malu-malu. Akhirnya dr Yudit menyarankan buat kembali lagi beberapa minggu kemudian setelah usia kandungan sudah tua sekitar 3 mingguan lagi dan beliau berjanji nggak akan men-charge biaya foto USG itu. Yeaayy…

Konsultasi Setelah USG 4D

Seperti biasa, dr Yudit hanya akan melakukan USG 4D sementara itu untuk membaca hasil akan diserahkan pada Prof Jacoeb. Setelah Hari Sabtunya saya USG 4D, Seninnya saya langsung bikin janji buat konsultasi ke Prof Jacoeb sambil membawa hasil USG. Oh ya, enaknya kalau habis USG 4D atau tes lab di Sammarie Wijaya kita nggak akan di-USG lagi sama dr Nadir Chan sebelumnya. Lumayan bisa menghemat biaya sekitar Rp 250 ribu, hihihi.

Hari Senin konsultasi di Prof Jacoeb itu enak banget karena pasiennya cuma sedikit. Kalau Hari Jumat sore jangan ditanya deh, membludak karena besoknya libur. Senin itu jarang yang konsultasi ke Prof Jacoeb dan ini berarti saya senang karena antrian nggak panjang. Setelah masuk, Prof Jacoeb membacakan hasil USG 4D saya. Overall hasil USG-nya baik hanya saja baby-nya memang agak gede. Biar tahu lebih detail (yap, Prof Jacoeb kata saya mah detail banget) saya direkomendasikan buat tes gula darah. Takutnya baby-nya besar karena ada potensi diabetes atau gula darahnya tinggi. Selebihnya sih normal.

(Baca juga: Cerita Program Hamil Ketiga: Baca Hasil Lab dan Panen Obat)

Rekomendasi cek gula darah ini diberikan Prof Jacoeb untuk sesegera mungkin dilakukan. Jika hasilnya sudah ada, saya diminta balik lagi ke Sammarie buat membaca hasilnya. Oh ya, soal tes gula darah ini lebih detailnya akan saya jabarkan di postingan tersendiri ya. Tunggu aja terus cerita kehamilan ketiga saya ini.

Foto USG 4D Baby Chubby

Foto buat tahu muka baby seharusnya dilakukan di minggu ke 27, itu berarti 3 minggu setelah jadwal USG 4D Part 2. Namun, karena saya dan suami masih belum mood bolak-balik ke Sammarie, kita menundanya sampai seminggu kemudian alias di usia kehamilan ke 28. Sekalian biar semakin gede baby-nya, jadi katanya biar makin kelihatan wajahnya.

Foto USG kali ini nggak di-charge biaya alias gratis. Namun, pendaftarannya sama seperti biasanya. Ngantrinya pun sama (FYI, antrian di dr Yudit lebih panjang daripada di Prof Jacoeb, tapi untungnya satu pasien durasinya cepat). Karena cuma foto aja, maka saya nggak ditensi dan ukur berat badan sama susternya.

Proses buat foto muka baby di USG 4D ini sama kok dengan kalau kita USG 4D biasa. Hanya saja alat USG-nya lebih diarahkan ke arah muka si baby sambil ditekan yang menurut saya lumayan kencang. Fotonya juga untung-untungan karena bisa jadi pas mau difoto si baby ndusel jadi ketutupan paha atau tangannya. Nah, pas saya kali ini lumayan kelihatan walau nggak kelihatan banget. Yang ketahuan mah, pipi si baby chubby. Hmmm, kayak saya apa bapaknya ya ini?

Di USG kali ini, dr Yudit juga menyinggung soal miom yang ada di rahim saya. Saya sih udah tahu, bahkan dr Nadir Chan yang suka periksa saya juga udah kasih note kalau saya ada miom. Waktu itu ukurannya 2 cm dan nggak berpengaruh apa-apa sih di rahim.

Dari hasil USG 4D sama dr Yudit dan baca hasil USG-nya sama Prof Jacoeb, ini saya kasih rincian biayanya:

– Biaya USG 4D dengan dr Yudit di Sammarie Wijaya: Rp 910.000
– Administrasi pasien: Rp 35.000
– Konsultasi dengan Prof Jacoeb: Rp 550.000
– Administrasi pasien: Rp 35.000

 

1 Comment
Previous Post
Next Post