Terima Kasih 2015 yang Penuh Warna-Warni

Tadinya nggak mau bikin postingan tentang kaleidoskop 2015. Soalnya saya kayaknya nggak punya prestasi atau lompatan besar apa-apa di tahun 2015. Tapi, dipikir-pikir sayang juga kalo nggak bikin, ingatan saya pendek dan saya butuh ‘album’ berupa tulisan untung mengabadikan apa-apa saja yang terjadi di tahun 2015.

Awal tahun 2015 saya masih berduka karena kehilangan Azka, tapi awal tahun 2015 juga saya mulai aktif ngeblog. Ngeblog itu bagian dari self healing saya, bahkan sampai sekarang. Saat galau dan sedih, menulislah. Itu mungkin yang bikin saya kuat sampai sekarang. Kalo nggak menulis atau blogging, mungkin saya sudah stres dan depresi berat.

Tahun 2015, pekerjaan saya udah mulai nggak on fire. Kayaknya stamina dan mood saya udah turun drastis, apalagi pascacuti melahirkan tiga bulan, masuk-masuk udah nggak nafsu kerja. Tapi terus bukan menjadikan saya lantas nggak profesional. Saya masih profesional sebagai reporter tapi udah nggak totalitas.

Tahun 2015, saya mulai program hamil lagi. Tadinya mau ganti dokter, tapi balik lagi ke dr Budi Wiweko akhirnya. Di pertengahan tahun ini juga aya hamil lagi, tapi akhirnya hamilnya nggak selesai lagi. Kali ini saya harus menyerah di minggu ke tujuh kehamilan. Tapi di tahun ini pula akhirnya saya bisa menghabiskan Lebaran bersama keluarga alias pulang kampung karena empat tahun sudah saya selalu absen Lebaran sama keluarga. Bang Toyib juga kalah deh.

mudah-mudahan tahun 2016 nanti bisa bikin adik baru lagi buat Azka dan Adik
mudah-mudahan tahun 2016 nanti bisa bikin adik baru lagi buat Azka dan Adik

(Baca juga: We Lost You, Adik…)

Resign kerja setelah empat tahun jadi reporter tv merah yang selalu dibully sepertinya jadi lompatan terbesar saya di tahun 2015 ini. Saya mantap untuk mengakhiri, yang entah selamanya atau cuma sementara, karir saya di dunia jurnalistik setelah enam tahun berjibaku di dunia ini. Sedih pasti tapi daripada saya stres di tempat kerja yang menurut saya sudah nggak memberikan aura sehat buat saya. Bukan, bukan tempat kerja saya yang terlampau buruk. Tapi banyak kabar gembira dari teman-teman yang setelah nikah terus hamil, dan itu buat saya stres. Iya, stres untuk hal sesepele itu.

(Baca juga: Keputusan Besar)

Tahun 2015 saya mulai sering ngeblog, gabung komunitas, dan punya teman baru dari blogging. Karena ngeblog, saya yakin untuk resign, paling tidak saya punya dunia baru yang akan mendukung self healing saya. Kegiatan blogging saya semakin sering, ketemu teman baru, punya banyak pengetahuan baru tentang dunia digital, kopdar sesama blogger, dan ikut beberapa kegiatan bareng blogger. Pokoknya akhir tahun saya disibukan dengan kegiatan blogging walaupun masih belum apa-apa kalo dibanding blogger-blogger senior.

Tahun 2015 ini pula akhirnya officially saya pindah rumah. Punya rumah baru lebih tepatnya, di daerah Ciledug, Tangerang. Rumah yang dibeli dari rezeki saya dan suami. Tahun ini kami meninggalkan kontrakan kecil yang sudah dua tahun kami tempati di permukiman padat penduduk di Kemayoran, Jakarta Pusat. Tahun ini, kami diberi banyak limpahan materi. Alhamdulillah.

masih bisa seseruan bareng suami itu berkah tak ternilai
masih bisa seseruan bareng suami itu berkah tak ternilai

Dan, seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun 2015 memang warna-warni. Ada senang, sedih, kecewa, galau, dan membanggakan. Sesedih apapun pengalaman yang saya terima di tahun 2015, saya tetap harus berterima kasih karena dengan ujian-ujian hidup itu insyaallah menaikan derajat saya. Sesenang apapun pengalaman yang saya terima di tahun 2015, mudah-mudahan tidak akan membuat saya sombong dan lupa untuk bersyukur.

Terima kasih 2015, saya belajar banyak salah satunya bahwa kalo sedih secukupnya saja 🙂

Saya siap untuk menyambut 2016.

 

ratna dewi

 

 

34 Comments
Previous Post
Next Post
fun-blogging-8