We Love You, Adik… (Part 2)

Semenjak kehadiran Adik, kami pun tidak lantas mengabarkannya kepada semua orang. Kami gembira, sangat gembira, tapi kegembiraan kami diliputi ketakutan. Kegembiraan kami bercampur stres. Kami takut terjadi apa-apa dengan Adik sebelum waktunya lahir.

Aku sengaja tidak memberitahukan hal ini pada siapapun, termasuk pada teman-teman terdekatku. Padahal mulut ini sudah gatal ingin berbagi kebahagiaan. Tapi suamiku melarangnya.

Aku hanya mengabarkan pada beberapa atasanku tentang kondisiku yang sekarang agar mereka memahami, termasuk karena aku punya riwayat IUFD di kehamilan yang pertama. Mereka menyambut dengan bahagia dan ucapan selamat serta nasihat untuk selalu berhati-hati dan menjaga Adik. Aku pun diberi keringanan untuk tidak liputan dan kalau perlu boleh mengambil cuti tak tertanggung selama tiga bulan selama persyaratannya memenuhi.

Aku pun tak lagi memforsir tubuh. Ketika dokter menyatakan sudah ada Adik, suamiku mengisyaratkan untuk resign saja agar aku bisa lebih menjaga Adik dan terhindar dari paparan stres. Aku pun mengungkapkan itu namun belum semuanya setuju. Aku masih bisa mengambil cuti tak tertanggung kalau mau. Tapi tekadku sudah bulat sebenarnya, aku tidak mau setengah-setengah untuk anak. Ini demi Adik.

Segala persiapan untuk resign dilakukan, dari menghitung jatah cuti hingga berbicara pada atasan. Mengandung Adik kali ini terasa berat, lebih berat daripada hamil Azka. Mual muntah terasa sangat berlebihan. Lemas tak tertahankan. Apalagi aku sempat ditinggal sendiri di rumah oleh suami yang pulang kampung karena ibu mertuaku mengalami kecelakaan. Segalanya serba berat. Aku merasa kehilangan banyak daya, sangat berbeda dibanding hamil Azka dulu. Saat hamil Azka, aku masih lincah kesana kemari walaupun merasa mual muntah juga.

Tak hanya itu, aku bahkan sempat demam beberapa hari karena gejala flu. Rasanya badan tidak ingin berpindah sedikit pun dari tempat tidur. Kepala rasanya pusing tujuh keliling. Tak ada orang di rumah membuat kesusahan meminta tolong. Bahkan aku hanya bisa sekali puasa di awal Ramadhan, karena yang lainnya blaaass gagal.

Aku terpaksa harus menyerah sama mual muntah yang terus menyerang. Sehat Adik..sehat, batinku terus.

Mual muntah serta pusing dan sempat demam ini akhirnya mengharuskanku mengunjungi dokter karena hal ini dirasa sangat mengganggu. Dr Stefani sempat kaget karena kami kembali lebih awal dari yang dijadwalkan. Tapi ketika aku bilang keluhannya mual muntah tak tertahankan, beliau menghela nafas. Aku harus bersyukur karena itu memang gejala alami orang hamil. Walaupun hal itu jelas sangat mengganggu.

Seperti biasa, saya pun kembali di-USG.

Dokter bilang, setelah sembilan hari harusnya ada perkembangan di janinnya. Namun ketika layar USG mulai diperlihatkan, aku tak melihat Adik bergerak. Sedikit pun tidak. Bahkan untuk berkedip menandakan adanya pertanda kehidupan. Yang aku lihat hanya kantung kehamilan, itu saja. Aku cemas. Jangan-jangan ini adalah pertanda buruk. Tapi dokter tidak menyinggung sedikit pun tentang itu. Aku pun tak berani bertanya. Aku takut ini akan menghancurkan harapanku, harapan kami akan Adik.

Saat USG, dokter hanya menyinggung soal miom yang ada di rahimku. Iya, miom ini memang ada dan ditemukan sejak kehamilan Azka dulu. Dr Stefani tampak sedikit bingung, entah karena apa. Hingga akhirnya beliau pun memberikan surat rujukan untuk pemeriksaan fetomaternal di Klinik Anggrek RSCM. Klinik itu adalah pusat rujukan untuk kehamilan spesial dan beresiko tinggi.

Kami mencoba untuk berpikiran positif, bahkan setelah membaca surat rujukan yang tercantum tulisan ‘suspek BO’. Tapi rasa was-was, takut, trauma kehilangan pun masih ada bahkan semakin membesar. Ya Tuhan, jika Adik adalah harapan kami, jagalah dia. Ya Tuhan, semoga Adik menjadi mukjizat dan penerang yang turun untuk keluarga kecil kami.

 

-jawzq-

0 Comments
Previous Post
Next Post