What They Don’t Talk About When They Talk About Marriage

 

Bukan, ini bukan judul sekuel film Mouly Surya, What They Don’t Talk About When They Talk About Love(Apa yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta). Memang judulnya terinspirasi dari film itu, semoga yang empunya film tidak marah 😀 What They Don’t Talk About When They Talk About Marriage (apa yang tidak dibicarakan ketika membicarakan pernikahan) bermula saat kontrol nifas terakhir saya di dokter kandungan dengan kondisi ASI yang masih saja keluar dan dokter kandungan saya, dr Arman bertanya

“Kamu pernah minum pil KB, Wi?”

Saya cuma menggeleng sambil nyengir tapi dalam hati bilang “It sounds ibuk-ibuk banget” atau “Itu kan obat yang sering emak gue minum.”

Terus apa hubungannya pil KB sama pernikahan? Oke, mari kita bicara pernikahan dengan saya, orang yang baru seumur jagung menikah, masih amatiran, bahkan gagal jadi ibu karena tidak becus merawat kehamilan sampai-sampai anak meninggal (iya, saya masih belum bisa berhenti menyalahkan diri sendiri atas kematian Azka). Kalo anak sekarang bilang “Da aku mah apa atuh, cuma seorang perempuan yang gagal jadi ibu”. Tapi tak apalah. Paling tidak tulisan saya tersimpan bertahun-tahun kemudian untuk dibaca anak-anak saya, adik-adiknya Azka.

Dulu di benak saya menikah itu ibarat di film Disney, dapet pangeran and then happily ever after. Membayangkan punya suami, punya rumah sendiri, punya kendaraan sendiri, anak yang lucu-lucu, dan hidup bersama selamanya dengan bahagia. Amin. Tapi ternyata kita tidak pernah menyiapkan rencana untuk skenario terburuk dalam hidup kita. Paling-paling yang dulu saya bayangkan dalam sulitnya menikah adalah gimana bayar kredit rumah dan mobil kalau keuangan morat-marit. Cetek banget.

Saya nggak pernah menyiapkan diri untuk kehilangan anak. Boro-boro untuk kehilangan anak, setelah direnungkan, bahkan saya nggak pernah menyiapkan diri untuk hamil. Menyiapkan budget untuk hamil sih iya, dari periksa dengan dokter terbaik di rumah sakit terbaik sampai tes lab ini itu. Tapi ternyata saya nggak tau dan nggak punya bekal sama sekali tentang hamil. Saya nggak pernah nyatet kapan saya haid dan masa bodo saat saya haid setahun cuma dua kali. Saya jarang sekali atau bahkan nggak pernah baca artikel kesehatan sebelum saya hamil. Ah, andai waktu bisa diputar saya ingin memperbaiki semuanya. Saya merasa bersalah sama Azka 🙁

Lalu pil KB? Bahkan saya nggak tahu tentang pil KB, bentuknya, kandungannya, cuma tahu fungsinya buat menunda kehamilan. Itu saja. Saya kira cuma sayalah perempuan menikah yang tidak tahu. Tapi ternyata tidak. Banyak temen saya yang sudah menikah juga tak tahu tentang pil KB. Iya, pil KB memang selalu luput dibicarakan ketika kita membicarakan tentang pernikahan. Padahal pil ini bisa menjadi penolong saat skenario buruk menimpa hidup kita, pernikahan kita. Bahkan pil ini bisa menjadi penting pada beberapa bagian dalam hidup kita walaupun kita tak mengenal atau tak mau mengenalnya sama sekali.

Dari hal-hal yang sepele, saya mempelajari hal-hal besar. Mencoba menyiapkan untuk kemungkinan terburuk yang terjadi. Terkadang kita selalu ingin anak dalam pernikahan tapi tak pernah menyiapkan mental untuk skenario terburuk jika gagal memiliki anak. Kita selalu ingin punya anak dalam pernikahan, tapi sangat jarang yang mempersiapkan lapangnya kesabaran saat pasangan kita nyatanya sangat sulit untuk memiliki anak.

Orang tua kita memang selalu mendorong dan mengajarkan kita untuk jadi orang sukses, jadi dokter, jadi wartawan, jadi pengusaha, sampai jadi presiden. Tapi sayangnya sangat jarang orang tua yang mengajarkan anaknya untuk jadi ibu, ayah, dan orang tua. Bayangan tentang pernikahan ala gadis muda masa kini adalah kebahagiaan, tapi tanpa pernah sekalipun mempersiapkan jika skenario buruk bahkan terburuk sama sekali menimpa. Dan bagaimana menghadapi titik terendah dalam hidup, bangkit, lalu menata kembali harapan yang telah hancur, itu yang sekarang sedang saya coba.

Happy enjoying marriage…

-jawzq-

*gambar dari sini

0 Comments
Previous Post
Next Post