Bali dan Banyak Hal Seru yang Belum Terlunasi

“Sudah di atas 12 minggu, sudah boleh terbang kok, Wi. Perlu surat dokter nggak?” tanya dr Arman di jadwal pemeriksaan kehamilan yang entah ke berapa saya lupa.

“Nggak usah, Dok,” sahutku sambil menggeleng.

“Oke selamat liburan ya. Tapi tidak boleh snorkling, diving, bungee jumping, banana boat, parasailing, pokoknya olahraga ekstrem” tutur dr Arman sambil memberikan buku periksa kehamilan pada saya.

Lalu saya dan suami berpamitan dan mengakhiri sesi konsultasi hari itu. Kami akan menyambut babymoon di Bali tapi dengan segudang larangan dokter. Ya mau nggak mau harus saya turuti. Habis mau gimana lagi tiket sudah terlanjur dibeli pagi harinya, kala kemudian pada sore hari saya dinyatakan hamil. Tiket pesawat tidak bisa dibatalkan lagi walaupun penginapan masih bisa dikondisikan karena kami diberi kesempatan menginap di penginapan teman.

kenangan babymoon di Pantai Kuta, Bali

Tiket yang tadinya mau kami jadikan tiket untuk bikin anak “made in Bali” berubah menjadi tiket babymoon.

“Nggak apa-apa nggak made in Bali, tapi kan assembling in Bali,” ujar dr Arman mencoba menghibur kami dan kata-kata itu masih saya ingat sampai sekarang.

Kenangan Babymoon Tahun 2014

Lalu kami berangkat seperti biasa. Perjalanan sangat lancar walau harus naik pesawat. Walaupun segudang larangan kegiatan telah diberlakukan dr Arman tapi saya masih optimis babymoon ini akan berjalan lancar. Toh aktivitas lain seperti jalan-jalan, menikmati ombak, menunggu sunset, hingga melihat pagelaran Tari Kecak masih bisa kita lakukan.

Tapi ternyata semuanya di luar prediksi alias zonk.

Jalan-jalan buat bumil usia 13 minggu ternyata mulai bikin gampang capek dan lapar. Ditambah lagi saya, entah kenapa, jadi penakut sekali saat di Bali. Takut mandi sendiri di kamar mandi villa, takut tidur di kamar luas, takut lewat jalanan sepi malam hari yang mana masih jam 20.00-an, takut lewat jalanan sepi di pedesaan Gianyar, bahkan nonton Tari Kecak di kegelapan malam saja saya dag dig dug seeerrr padahal saya biasanya bukan penakut kecuali sama kecoa. Mungkin juga karena bawaan orok. Rasanya senewen mulu.

Perjalanan dengan membawa perut gendut dan koper besar yang berisi pakaian kami sungguh nggak nyaman buat saya yang sedang hamil 3,5 bulan. Apalagi tatkala harus pindahan dari Kuta ke Ubud menggunakan motor. Sepanjang jalan rasanya sama sekali nggak enjoy karena perut engap tertekan koper. Pokoknya, babymoon saat itu terasa lebih melelahkan. Mungkin karena memang waktunya yang kurang tepat. Namun tiket sudah terlanjur di tangan jadi mau gimana lagi. Dari situlah rasanya ingin mengulang perjalanan ke Bali namun saat nggak hamil.

sempat takut nonton Tari Kecak di sebuah pura di Ubud
jalan-jalan ke Monumen Ground Zero Legian
bumil maunya jalan-jalan di tempat makan, ini di sebuah tempat makan di Ubud
dikasih penginapan yang ada private pool-nya pun nggak dibolehin buat berenang T__T

Belum lagi tuntutan perut yang setiap berapa jam harus dikasih makan. Sementara terkadang mencari makan yang sreg di Bali buat bumil yang picky eater kayak saya sedikit susah. Di situ saya merasa “Harus mengulang ke Bali lagi dalam keadaan yang normal”. Kenapa? Supaya bisa menikmati Bali sepenuhnya, ya alam, budaya, kuliner, atau kegiatan-kegiatan serunya.

Itulah cuplikan kenangan babymoon pada Oktober 2014 lalu yang masih saya kenang. Saya masih punya hutang ke Bali untuk melunasi rasa penasaran saya terhadap banyak hal yang belum dicoba di Bali. Hingga akhirnya awal September 2017 lalu pesawat yang saya naiki mendarat di Bandara Ngurah Rai. Tapi sedihnya, saya cuma beberapa jam di Bali. Hitungan jari malah karena cuma transit untuk menuju Gili Trawangan. Hiks, sama juga bohong. Rasa penasaran saya sama Bali belum lunas dan tuntas.

Segudang Wishlist yang Belum Terlunasi

Kenapa Bali yang masih sangat mengganjal? Karena Bali adalah paket komplit pariwisata. Hampir semuanya ada dari gunung, laut, danau, budaya, hingga kegiatan-kegiatan serunya. Karena saya pun sudah terlanjur menginjakkan kaki di Bali sebelumnya, maka belum lengkap rasanya kalau ke Bali tapi mencoba hal lain selain jalan-jalan di sekitar Pantai Kuta. Apalagi Cenie, sahabat saya baru-baru ini melakukan solo traveling di Bali dengan destinasi-destinasi yang anti-mainstream yang bikin saya merasa “Harus ke Bali lagi dan mencoba semuanya!”. Akhirnya cerita-cerita Cenie itu saya masukkan ke dalam wishlist.

Iya, seperti halnya saat menyimpan wishlist untuk ke Lombok, Bali sekarang seperti memiliki ruang tersendiri di deretan wishlist saya. Siapa tahu nanti suatu saat wishlist itu benar-benar bisa diwujudkan. Saya masih mau jalan-jalan ke tempat yang anti-mainstream, menikmati pantai dari atas batu karang, snorkling dan penasaran dengan keindahan bawah laut Bali, serta menikmati matahari terbit dari balik gunung. Ibaratnya, mau naik-naik dan manjat-manjat hayok aja selama saya belum hamil. Pasilah amboi rasanya melihat keindahan alam setelah bersusah-susah treking atau jalan kaki. Hal-hal itulah yang belum bisa saya nikmati saat babymoon dulu karena segudang larangan dokter dan ketakutan saya sendiri.

Mau tahu wishlist apa saja yang saya pengen kalau ke Bali nanti? Ini saya kasih sedikit bocorannya.

Snorkling asyik di Nusa Lembongan-Nusa Ceningan-Nusa Penida

“Ke Bali jangan cuma di Kuta aja!” begitu kata Cenie yang akhir-akhir ini entah kenapa suka bolak-balik ke Bali.

Crystal Bay jadi salah satu spot favorit snorkling 

Bali begitu luas untuk dieksplor. Kuta dan Ubud memang 2 tempat mainstream yang harus didatangi apabila ke Bali untuk pertama kali. Hmmm, tapi kan saya sudah pernah makanya pengen menjajal Nusa Trip ke Nusa Lembongan-Nusa Ceningan, dan Nusa Penida yang konon pemandangannya bagus sekali. Bukan cuma pemandangan pantai dan alamnya yang bagus, tetapi juga konon pemandangan bawah airnya tak kalah menakjubkan.

Hal itulah yang menjadikan saya pengen menjajal snorkling di spot-spot indah di Nusa Lembongan, Nusa Ceningan, ataupun Nusa Penida. Apalagi konon saat snorkling di sana kita bisa melihat indahnya karang-karang di bawah laut dan ikan-ikan besarnya. Penasaran banget deh jadinya. Sekalian itung-itung buat menebus larangan snorkling waktu babymoon dulu. Ceningan Wall, Mangrove Point, dan Crystal Bay jadi destinasi impian buat saya snorkling di tempat ini.

Menyusuri hutan bakau di Nusa Lembongan

wisata yang bikin deg-degan apalagi kalau ketemu ular atau biawak 

Saya selalu suka wisata susur mangrove, apalagi kalau sampai masuk-masuk ke sela-sela pepohonan mangrove. Rasanya seperti lagi menyusuri hutan-hutan di Amazon, hahaha. Pohon mangrove dengan akar-akarnya yang saling berkaitan dan membentuk sebuah lorong menjulang ibarat-tirai-tirai indah buatan alam. Nah, makanya nggak heran jika salah satu wishlist saya kalau ke Bali lagi ya pengen susur hutan mangrove di Nusa Lembongan yang konon sangat menantang. Apalagi perahu yang dipakai untuk susur mangrove bukan perahu motor alias perahu dayung manual dengan alasan untuk menjaga kelestarian lingkungan hutan mangrove. Rasanya saya jadi pengen juga merasakan gimana menantangnya mendayung perahu di tengah-tengah hutan bakau.

Menikmati Blue Lagoon di Nusa Ceningan

Blue Lagoon tampaknya menjadi tempat bagi beberapa orang penggila adrenaline buat melakukan lompatan ke dasar air. Pas melihat tempat ini dan orang-orang yang sedang melakukan atraksi lonpatan ke dalam air, komentar saya cuma “Waw, ngeri-ngeri sedap! Tapi keren banget!!” Trus saya mau ikutan jumping gitu? Kalau ini sih harus mikir dulu seribu kali, hahaha. Pasalnya kadang saya rada cemen kalau udah lihat langsung tempatnya.

mikir beribu kali kalau buat loncat tapi kalau lihat orang-orang loncatnya saya sih mau, hahaha (source: www.journeyera.com)

Tapi tetap saya pengen ke Blue Lagoon, naik ke tebing-tebing besar, melihat spot cliff jumping tertinggi, dan merasakan adrenalin saat melihat ke bawah ketika berada di spot jumping. Kesempatan ini tentu nggak akan saya dapatkan izinnya kalau ke Bali pas lagi kondisi hamil. Hmmm, bisa-bisa diulek-ulek dokter sama suami saya. Makanya pas lagi sehat dan kondisi normal saya pengen ke tempat yang anti-mainstream satu ini dan mengabadikan pemandangan indah Blue Lagoon dari atas titik cliff jumping.

Menikmati Angel’s Billabong dan Broken Beach di Nusa Penida

indahnya Angel’s Billabong

Walaupun saya perenang amatir alias nggak ahli-ahli banget renang, rasanya penasaran banget untuk melihat Angel’s Billabong dan berenang di dalamnya ketika air surut. Apalagi konon saat air surut, warnanya akan berubah sangat indah yaitu berwarna bening namun jika dilihat dari kejauhan justru berwarna hijau toska. Warna ini kontras dengan warna air laut yang biru walaupun letaknya berdekatan. Nggak cuma itu, naik ke atas tebing yang cukup curam juga nampaknya jadi tantangan yang harus ditaklukan. Selain bisa menikmati pemandangan Angel’s Billabong secara keseluruhan, kita juga bisa melihat lautan luas. Kalau ada di tempat ini saya pasti nggak akan lupa mengabadikannya lewat jepretan foto.

Broken Beach bagaikan jembatan 

Selain Angel’s Billabong ada juga Broken Beach atau Pantai Pasir Uug yang jadi salah satu wishlist destination kalau ke Bali. Broken Beach ini kalau saya lihat di foto-foto indah sekali yaitu berupa pantai dengan tebing tinggi sekitar  50-200 meter yang berlubang di bagian tengahnya. Sekilas tampak seperti gua yang dialiri air laut. Nah, air laut yang terperangkap di tengah-tengah tebing ini membuat Pantai Pasih Uug mirip sebuah kolam raksasa. Tebing yang bolong juga terlihat unik karena bolongan pada tebing ini terlihat seperti jembatan. Menyepi sambil mendengarkan deburan ombak dan angin sepoi tampaknya jadi cara yang asyik buat menikmati Broken Beach.

Menanti sunrise di Gunung Batur

menikmati sunrise bagai di negeri atas awan 

Sunrise dan sunset adalah dua hal yang sering banget saya buru kalau lagi traveling. Sunrise, khususnya, yang paling sering saya buru sambil menikmati segarnya udara pagi. Nggak cuma saat traveling, bahkan ketika sedang pulang kampung saya sering bela-belain mencari sunrise di sawah bersama suami. Makanya, saya memendam hasrat juga pengen melihat sunrise kalau ke Bali lagi. Soalnya saya sudah pernah menikmati indahnya sunset di beberapa tempat di Bali. Nah, kalau menikmati sunrise akan jadi pengalaman baru lagi buat saya.

Salah satu tempat yang direkomendasikan buat melihat indahnya sunrise adalah Gunung Batur. Untuk menebus indahnya matahari terbit, kita harus melakukan pendakian terlebih dahulu hingga akhirnya sampai di puncak Gunung Batur. Konon, sunrise yang terlihat dari atas Gunung Batur ini momentumnya singkat namun sangat indah. Benar-benar menebus lelah setelah sekitar 2-3 jam perjalanan pendakian. Selain sunrise, di puncak gunung kita juga bisa melihat Gunung Rinjani di kejauhan. Duh, jadi tambah mupeng banget rasanya buat menikmati matahari terbit di Bali dari puncak Batur. Suatu hari kalau ke Bali saya harus wujudkan wishlist ini.

Sebenarnya wishlist itu baru sedikit dari beberapa wishlist yang pengen saya lakukan di Bali. Iya, wishlist saya masih banyak karena jujur saja pengen rasanya menikmati Bali secara keseluruhan, dari ujung ke ujung, dari sekadar menikmati pantai sampai petualangan menantang menggunakan alat atau kendaraan. Belum lagi banyak pantainya yang masih sepi dan indah yang pengen banget saya datangi. Namun 5 wishlist itu yang benar-benar bikin saya penasaran. Kalau ada kesempatan ke Bali lagi pengen rasanya mewujudkan 5 wishlist itu.

Semoga suatu hari saya bisa ke Bali lagi dengan orang-orang terkasih dan melunasi banyak hal seru yang tidak sempat saya coba saat babymoon tahun 2014 lalu. Doakan!

 

7 Comments
Previous Post
Next Post