2019, Tentang Refleksi dan Resolusi

Holla 2019!

Rasa-rasanya kok telat banget mau nulis tentang momentum tahun baru dan segala pernak-perniknya karena terlalu malas dan menikmati menjadi ibu baru. Tapi ya nggak apa-apalah mumpung Bulan Januarinya juga belum berlalu, paling nggak bau-bau pergantian tahun masih terasa. Daripada nggak sama sekali, kan?

Biasanya saya memang jadi orang yang semangat menulis apa-apa saja yang terjadi di tahun sebelumnya dan yang menjadi resolusi di tahun baru. Tapi setelah punya anak, rasa-rasanya otak disetel untuk jadi lebih selow menanggapi keadaan. Hidup yang sebelumnya penuh target dan ambisi muluk-muluk jadi dituntut untuk lebih selow karena sekarang ada fokus baru yang lebih penting yaitu Aqsa.

Baca Juga:   Menyambut 2017, antara Resolusi dan Realitas

2018, Bukan Tahun Produktif

Tadinya saya akan menjadikan tahun 2018 menjadi tahun yang produktif khususnya dalam hal pekerjaan dan blogging. Starting point-nya bahkan sudah saya mulai sebelumnya. Cita-cita saya pengen lebih banyak traveling ke banyak tempat, produktif bikin vlog, nulis banyak pengalaman traveling, tapi tetap sambil menjalankan program hamil. Saya juga berjanji buat hidup lebih sehat yang mana hidup sehat ini sempat kacau kalau pergi traveling karena godaan makanan di destinasi yang dituju.

Baca Juga:   Mencoba Hidup Sehat Tanpa Tapi...

Selain lebih banyak traveling, saya juga semakin sering pergi ke banyak acara blogger. Ketemu banyak teman, ngobrol dan nongkrong bareng, sampai kadang bikin foto yang lucu-lucu rupanya selain berguna buat mengisi blog dan social media juga berguna sebagai pengalih perhatian saya kala program hamil. Apalagi program hamil saat itu terasa lebih lama dan menyakitkan. Hanya dengan beginilah saya bisa tetap menikmati hidup.

Tapi rupanya apa yang direncanakan tak selalu berjalan sesuai harapan. Yang sudah ditata rapi ternyata harus diubah total. Ibarat cerita novel atau film, ini adalah plot twist. Tepatnya pas saya ketahuan dan dinyatakan resmi hamil oleh dokter. Anugerah yang jelas-jelas nggak pernah saya bayangkan sebelumnya karena di awal tahun 2018 pun saya bahkan nggak berani beresolusi buat hamil dan punya anak karena takut kecewa (lagi). Padahal itu pas pekan lagi sibuk-sibuknya event blogger baik itu yang daftar sendiri, diundang, ataupun dipilih oleh pihak tertentu. Rasanya campur aduk saat itu.

Baca Juga:   Cerita Program Hamil Ketiga: Akhirnya Garis Dua

Karena saya sudah janji untuk rehat dan mengorbankan apapun termasuk karir ngeblog saya ketika hamil, maka janji itu saya wujudkan. Selain juga karena kompromi terhadap kondisi fisik yang nggak bersahabat saat hamil muda terlebih setelah kena bakteri di trimester pertama. Makanya, saya rehat dari dunia blogging. Tapi tak pernah benar-benar rehat karena saya masih bisa tetap menulis.

Saya masih bisa menulis dari rumah walaupun frekuensi di awal-awal kehamilan menjadi menurun drastis karena kondisi fisik. Namun, di bulan-bulan berikutnya saya bisa mengembalikan semangat menulis. Pun dengan campaign dan postingan-postingan berbayar. Fokus utama saya tetap pada kehamilan namun toh saya masih bisa bekerja dari rumah walaupun frekuensi dan pendapatan saya turun drastis. Tapi kebahagiaan saya naik drastis karena ada harapan baru yang sedang saya kandung.

Baca Juga:   Memori 2017: Tentang Blogging, Perjalanan, dan Rencana Perubahan

Soal traveling, lupakan sejenak. Saya bahkan melewatkan 2018 tanpa bepergian ke suatu tempat dan absen naik kereta serta pesawat. Bepergian terjauh saya paling ke Monas itupun karena mau jemput sepupu di Gambir. Selebihnya, saya di rumah saja karena ´destinasi´ saya yang selama ini saya harapkan sudah terlihat ´hilalnya´. Tahun 2018 ini saya memang harus legawa banget.

Tahun 2018 ini juga menjadi tahun penuh anugerah buat saya dan suami karena pertambahan anggota baru di keluarga kami yaitu Aqsa. Aqsa adalah kado terindah buat saya dan suami. Dia adalah fokus utama saya sekarang. Yang saya butuhkan ke depannya hanya perlu sedikit berbesar hati untuk memindahkan fokus pada Aqsa, mengalah pada ambisi untuk kepengen ini itu yang serbatinggi karena ada amanah yang sekarang harus saya jaga.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Jungkir Balik Dunia Ibu Baru

2019, Menjaga Harapan Baru

Tahun 2019 ini saya pun masih nggak berani menjanjikan untuk menjadikan tahun ini jadi tahun yang produktif dalam hal blogging. Hal ini ya karena fokus utama saya sekarang adalah menjaga dan mendidik Aqsa. Ini juga yang termasuk jadi resolusi saya tahun 2018 ini. Jadi ibu yang baik. Kalimat yang sepele tapi implementasinya akan sangat susah karena saya harus berkompromi dengan banyak hal.

Selain menjaga dan mendidik Aqsa dengan baik, resolusi saya di tahun 2019 adalah mengembalikan pola hidup sehat yang 2018 lalu mulai mengendur. Bukannya apa-apa sih tapi pola makan saat hamil masih terbawa hingga sekarang. Saat hamil, saya bebas makan apa saja termasuk makanan-makanan ´guilty pleasure´ kayak martabak manis karena tuntutan harus menaikkan berat badan janin. Sekarang pola makan saat hamil memang sedikit berubah tapi di beberapa hal masih tetap bertahan karena saya masih harus memenuhi kebutuhan kalori sebagai ibu menyusui.

Baca Juga:   Cerita Kehamilan Ketiga: Anyang-Anyangan, Drama di Trimester 2
catatan buat resolusi hidup sehat, akankah terwujud?

Perlahan, saya pengen beralih ke pola makan sebelum saya hamil. Bahkan kalau bisa jauh lebih sehat. Kembali makan banyak sayur buah, menghindari gula, dan perlahan mengganti semua makanan yang berbau ´gorengan´. Bahkan untuk mewujudkan resolusi yang terakhir, saya sudah membeli grilled pan di akhir tahun 2018 lalu.

Selain itu, saya juga pengen kembali olahraga. Yang ringan aja nggak apa-apa yang penting kalori terbakar. Sekarang saya belum sama sekali memulai olahraga karena selain masih repot sama Aqsa juga karena bekas operasi caesar kadang masih berasa nyut-nyutan. Mungkin saya akan pelan-pelan mulai olahraga setelah 3 bulan melahirkan. Dimulai dari yang ringan-ringan aja, home workout yang beberapa videonya sudah saya simpan di instagram. Misi saya yang selanjutnya adalah mengajak suami ikut olahraga dan hidup sehat karena suami mengalami pertambahan berat badan yang berbanding lurus sama saya waktu hamil karena berdalih setia kawan mengikuti pola makan saya saat hamil.

Baca Juga:   Cerita Kehamilan Ketiga: Menghadapi Persalinan Caesar

Akhirnya, di tahun ini ada ego dan ambisi yang harus ditekan. Ada fokus utama yang harus diperhatikan. Ada passion yang harus tetap dihidupkan. Dan ada resolusi-resolusi yang butuh diwujudkan.

Kalau kamu, apa resolusimu tahun ini?

Happy new year. Semoga kita selalu bahagia!

 

0 Comments
Previous Post
Next Post