Piknik saat Pandemi ke Agrowisata Tanwiedjie

Piknik saat Pandemi ke Agrowisata Tanwiedjie

Hampir 2 bulan di kampung halaman rupanya bosan juga kalau nggak kemana-mana. Kalau dipikir-pikir, kami sekeluarga nyaris nggak ke tempat-tempat wisata sama sekali. Padahal biasanya kalau lagi pulang kampung, walaupun hanya sekali pasti kami sempatkan jalan-jalan ke tempat wisata seperti ke pantai bersama keluarga. Tapi karena pandemi dan masih takut untuk ke tempat umum dengan membawa anak kecil, maka kami putuskan menghabiskan waktu di rumah aja.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Pengalaman Pertama Membawa Anak ke Pantai

Saat mulai bosan sekadar bersepeda menelusuri persawahan atau main sekolah TK di desa suami saya, biasanya kami sekeluarga berkeliling naik mobil. Tempat-tempat yang dituju ya itu lagi-itu lagi, kalau nggak ke Alun-Alun Kutoarjo, beli dawet ireng di dekat Jembatan Butuh, atau nggak ya mutar-mutar di sekitar Purworejo. Kulineran pun biasanya masih kami take away dan makan di rumah. Karena rumah adalah pusat kegiatan, akhirnya kami mencapai titik bosan juga. Pengennya piknik kemana yang nggak banyak orang tapi tetap menyenangkan.

Baca Juga:   ´Hidden Gems´ Kuliner Kutoarjo
kegiatan di kampung halaman seringnya adalah bersepeda

Hingga suatu hari saya melihat sebuah liputan televisi yang ada di feed instagram sebuah akun tentang wisata kala pandemi di kebun jambu kristal petik sendiri. Penasaran, saya pun menelusuri di mana tempat wisata itu sampai saya googling. Dan ternyata masih di Purworejo, kampung halaman tercinta. Saya pun memasukkan tempat ini dalam wishlist tempat yang ingin dikunjungi sebelum akhirnya pulang kembali ke ibukota.

Nggak menunggu lama, akhirnya di suatu akhir pekan saya bersama suami, Aqsa, dan ibu saya pun berkunjung ke tempat wisata tersebut. Tempat wisata yang kami tuju adalah Agrowisata Tanwiedjie, wisata petik jambu sendiri.

Petik Jambu Sepuasnya

Agrowisata Tanwiedjie terletak di Desa Munggangsari, Grabag, Purworejo. Lebih tepatnya adalah berada di rest area Jalan Daendels, Purworejo. Jalan Daendels berada di pesisir jalur selatan Jawa. Patokan tempat ini adalah rest area yang berseberangan dengan Masjid At Taqwa. Sebelum dan setelah menuju rest area, biasanya akan banyak penjual serta kebun yang ditanami jambu kristal di kanan kirinya.

Awalnya, saya dan suami sempat bingung dimanakah letak agrowisatanya. Saya nggak berekspektasi tinggi kayak di Malang atau Lembang, tapi paling tidak ada petunjuk atau spanduk yang menunjukkan lokasi agrowisata. Tapi ternyata perkiraan kami salah. Tak ada petunjuk sama sekali, bahkan saya sampai kebablasan dan balik lagi. Akhirnya setelah berinisiatif bertanya pada salah seorang pedagang yang ada di sekitar Masjid At Taqwa, kami pun baru diberi petunjuk.

Pengelola wisata Agrowisata Tanwidjie berada di rest area Jalan Daendels, lebih tepatnya di Warung Zaky atau Rizky. Di dua warung tersebut biasanya terdapat pengelola dan juga pengurus agrowisata berada dan akan mengarahkan kita menuju lokasi. Better, sebelum ke agrowisata kita bisa juga menghubungi pengelola terlebih dahulu melalui DM instagram atau whatsapp yang nomernya nanti saya cantumkan di tulisan bagian bawah.

Baca Juga:   Suka Duka Pulang Kampung, dari Wisata Kuliner sampai Repot Beli Pulsa

Karena kami sudah menurunkan ekspektasi, maka kami nggak kaget kalau ternyata letak kebunnya tidak di pinggir jalan. Kami masih harus masuk ke dalam melalui jalan setapak yang lumayan sempit buat mobil. Nggak cuma sampai di situ, kami harus melewati tengah-tengah kuburan dan belok di antara jalan sempit lagi untuk menuju ke lokasi agrowisata. Yup, lokasi agrowisatanya ada di belakang kuburan desa. Jangan bayangkan agrowisata yang sudah dikelola dengan berbagai fasilitas seperti hotel, resort, atau restoran, agrowisata di sini hanya ditandai dengan sebuah gazebo yang juga sebagai pintu masuk ke kebun. Sungguh, ini pengalaman pertama saya ke lokasi agrowisata seperti ini. But, it´s okay karena saya tahu tempat ini baru banget merintis. Sampai di sini saja saya sudah salut.

Untuk masuk ke Agrowisata Tanwiedjie, kita hanya harus membayar tiket seharga Rp 10.000. Setelah itu, pengunjung dipersilakan berkeliling dan makan jambu sepuasnya selama di kebun. Pengunjung akan dibekali dengan gunting, pisau, dan plastik. Jika pengunjung ingin membawa pulang jambu kristal, hanya tinggal bayar per kilonya. Kebetulan saat saya kesana, harga per kilo jambu Rp 12.000. Jadi mau bawa berapa kilo saat pulang, tinggal kalikan saja.

Pak Suyanto, pemilik sekaligus pengelola Agrowisata Tanwiedjie yang saat itu kebetulan ada di lokasi turut mengantarkan kami berkeliling sambil menjelaskan banyak hal. Jambu kristal di sini sudah dimulai tanam pada tahun 2017. Jambu kristal berbuah hampir sepanjang tahun dengan puncaknya biasanya pada Bulan Desember. Beliau juga menjelaskan bagaimana ciri jambu kristal yang sudah layak petik. Cirinya adalah sudah berwarna hijau kekuningan namun masih keras. Apabila jambu sudah empuk, biasanya justru sudah hampir busuk dan berulat di dalamnya.

Saya pun mencoba mencicip jambu kristal yang sudah matang dan saya petik sendiri. Rasanya manis. renyah, dan segar banget. Apalagi ini matang di pohon. Berbeda dengan jambu kristal yang biasa saya beli di toko buah modern atau supermarket yang mungkin sudah dipetik beberapa hari sebelumnya. Biasanya jambu kristal yang biasa saya beli itu rasanya agak sepat dengan daging buah yang sedikit kasar. Sedangkan daging buah jambu kristal Tanwiedjie halus dan sedikit licin.

Wisata Tanwiedjie saat Pandemi

Agrowisata Tanwiedjie ini pas sekali buat dijadikan tempat wisata saat pandemi gini. Karena masih baru, jadi memang belum banyak orang yang tahu. Keuntungannya adalah memungkinkan pengunjung nggak bergerombol dalam keramaian. Selain itu, tempatnya pun luas di luar ruangan. Kalaupun ada pengunjung lain, kita masih bisa jaga jarak.

bisa pepotoan sepuasnya karena sepi

Pengunjung juga memungkinkan untuk membawa anak kecil ke tempat ini. Selain karena tempatnya luas, setiap pohon sudah diberi jarak tertentu sehingga bisa difungsikan sebagai jalan bahkan untuk stroller atau kursi roda pun bisa, serta anak-anak juga bisa mengenal pohon jambu kristal saat wisata petik. Aqsa saja senang banget berada di kebun jambunya, dia bahkan sempat mencicipi jambu kristal yang kami petik sendiri.

Baca Juga:   Pengalaman Pulang Kampung Saat Pandemi

Namun, karena masih baru dan merintis nggak dipungkiri kalau masih banyak kekurangan di sana sini seperti belum ada plang atau papan nama yang menunjukkan lokasi wisata ini. Padahal agrowisata ini sudah memiliki terobosan yang cukup bagus untuk ukuran wisata di desa yaitu menggunakan social media untuk promosi.

Baca Juga:   Nostalgia Social Media

Kekurangan lainnya adalah masih minimnya fasilitas air di lokasi. Apalagi saat pandemi gini pasti orang banyak yang sedikit-sedikit ingin cuci tangan setelah dari luar ruangan atau berinteraksi dengan orang lain. Belum lagi untuk beberapa orang yang nggak bisa makan buah langsung dari pohonnya alias harus dicuci dulu akan sedikit kesulitan kalau berkunjung ke tempat ini.

Pengelola pun mengakui masih banyak kekurangan di sana-sini. Oleh karena itu, ke depannya mereka ingin membangun fasilitas-fasilitas yang diperuntukkan bagi pengunjung secara bertahap seperti gazebo dan sumber-sumber air. Saya tentunya mendukung sekali dengan itikad baik pengelola ini. Semoga ke depannya agrowisata ini semakin baik dan mengakomodasi para wisatawan yang ingin melancong khususnya di masa pandemi.

Nah, buat kalian yang penasaran dan ingin berkunjung ke Agrowisata Tanwiedjie, berikut beberapa tips yang bisa dilakukan sebelum atau saat mengunjungi agrowisata ini:

  • Datang pada pagi atau sore hari lebih direkomendasikan karena di saat-saat itulah cuaca masih sejuk dan belum begitu panas
  • Pakai sendal atau sepatu yang nyaman karena nantinya kita akan berkeliling di kebun jambu yang beralaskan tanah
  • Pakai pakaian yang nyaman dan menyerap keringat karena berkeliling kebun jambu kristal yang luas mau nggak mau akan membuat kita keringatan, ditambah lagi posisi kebun yang dekat dengan pesisir pantai membuat udara menjadi sangat panas
  • Pakai sunblock atau sunscreen untuk melindungi kulit
  • Jangan lupa bawa topi dan atau kacamata untuk melindungi diri dari panas
  • Better menghubungi terlebih dahulu pengelola melalui DM instagram atau nomer whatsapp pengelola siapa tahu nanti bisa diantar bahkan sampai diterangkan tentang tempat ini
  • Untuk mobil berukuran besar seperti elf atau bus akan susah masuk ke dalam lokasi agrowisata pengunjung bisa memarkirkan di rest area Jalan Daendels
  • Bawa air minum, hand sanitizer, dan tisu basah untuk menjaga kebersihan

Buat yang masih penasaran dan bingung pengen wisata kemana saat pandemi seperti ini, bisa langsung ke Agrowisata Tanwiedjie. Untuk info lebih lanjut silakan cek:

Instagram: @tanwiedjie
Whatsapp Pengelola Agrowisata Tanwiedjie: 085228829339

Selamat berwisata dan makan jambu sepuasnya!

 

2 Comments
Previous Post
Next Post