Terima Kasih 2020 untuk…

Terima Kasih 2020 untuk…

Kalau saya bilang tahun 2020 adalah tahun yang berat, mungkin hampir setiap orang yang mendengarkan akan setuju dengan pernyataan saya ini. Menulis tulisan ini di awal tahun 2021 ini adalah satu hal yang saya syukuri karena ini berarti saya masih sanggup dan kuat buat menghadapi tahun 2020 yang katanya berat itu. Namun, walaupun berat toh nyatanya saya tetap harus berterima kasih dengan tahun 2020 karena banyak pencapaian yang bisa saya dapatkan bahkan di tahun yang katanya berat banget ini.

Well, tahun 2020 buat saya saja dibuka dengan bencana yang saya sendiri juga kena imbasnya: BANJIR. Rumah saya yang biasa hanya terkena genangan dan cepat surutnya, pagi itu berbeda cerita. Suami saya sudah bangunin buat salat subuh dan saya dengar hujan turun deras banget di luar. Kata suami, air sudah mulai masuk carport dan sudah menggenangi area ban mobil. Sedangkan hujan di luar masih terdengar deras dan belum ada tanda-tanda reda.

Baca Juga:   Warna-Warni Perjalanan ke Belitung (Part 1): Terjebak Banjir Menuju Belitung Timur

Pagi itu, yang biasanya genangan hanya sampai teras tapi ternyata semua di luar perkiraan. Air dari kamar mandi masuk ke dalam rumah sedangkan dari depan rumah, air juga mulai masuk. Ini adalah hujan terparah yang pernah melanda permukiman kami selama saya tinggal di situ. Biasanya kalau hujan, air memang sering menggenang tapi nggak pernah sampai masuk rumah. Kali itu, air sampai menggenangi rumah. Walaupun nggak tinggi dan cepat surut, tapi tetap saja membuat kami kalang kabut. Karena lapar dan hujan pula, saat itu ayam yang seharusnya dipakai untuk bakaran pesta tahun baru saya masak dan makan sendiri. Sungguh, sampai di sini saya bahkan nggak ada firasat buruk soal tahun 2020.

Selanjutnya, hari-hari di minggu dan bulan awal tahun 2020 dipenuhi dengan saya yang sering sakit. Sakit mata, gatal-gatal, sampai beberapa kali demam hingga akhirnya saya memutuskan ´cuti´ sejenak dari aktivitas ngeblog dan baru aktif kembali sekitar akhir Februari 2020. Namun, baru sebentar aktif ngeblog dan ber-social media, pandemi pun menyerang kita semua.

Baca Juga:   Tips Ibu Tetap Sehat dan Produktif di Masa Pandemi

Belajar Ikhlas dari Pandemi

Tahun 2020 saya punya banyak cita-cita dan angan-angan. Mulai dari pengen sekolah lagi, short course, belajar bahasa, sampai dengan mengambil kelas penulisan skenario yang mana jadi passion saya banget sejak kuliah. Tapi semuanya harus di-pending dan akhirnya justru gagal terlaksana karena pandemi yang berkepanjangan. Padahal semua rencana sudah saya share sama suami dan disetujui. Tahun 2020 pun sebelumnya sudah saya nobatkan jadi tahun upgrade diri.

Ada pameo bilang, manusia hanya berencana dan Tuhan-lah yang menentukan. Dan ini benar-benar kejadian di tahun 2020 kemarin. Semua rencana yang muluk-muluk dibuat akhirnya harus ditata ulang, dikompromikan, dan bahkan dikubur dalam-dalam karena pandemi. Semua berubah menjadi adaptasi, adaptasi, dan adaptasi karena pandemi membuat setiap hari berbeda. Yup, dari pandemi saya belajar bahwa rencana bisa batal bahkan di detik-detik terakhir.

Saya dan keluarga yang tadinya berencana pengen jalan-jalan ke luar negeri dan udah niat banget bikin paspor bertiga, gagal terlaksana dan harus menunggu entah sampai kapan bisa jalan-jalan ke luar negeri.

Baca Juga:   Pengalaman Membuat dan Memperpanjang Paspor

Saya dan keluarga yang tadinya berniat pulang kampung sekaligus jalan-jalan ke Semarang di akhir Maret 2020, batal terlaksana karena corona.

Saya dan keluarga yang tadinya berencana mudik Lebaran pertama kali pakai mobil, gagal total karena pemerintah melarang buat mudik saat Lebaran 2020 kemarin.

Lebaran pertama dengan konsep dilaturahmi virtual

Saya yang berencana memasukkan Aqsa ke sekolah balita yang adanya cuma Sabtu Minggu, nggak jadi sama sekali karena bahkan sampai saat ini anak-anak yang bersekolah formal pun nggak tahu sampai kapan harus melalui pembelajaran jarak jauh.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Serba-Serbi Pembelajaran Jarak Jauh

Belum lagi penyesuaian yang masih terus berlangsung sampai saat ini karena virus belum juga reda dan semua orang rumah masih harus WFH.

Ini baru teknis yang terlihat kasat mata. Saat pandemi ini pula saya harus berjibaku dengan kesehatan mental saya dan keluarga. Bayangin saja, saya dan keluarga yang tadinya seminggu sekali refreshing di luar rumah jadi harus di dalam rumah terus. Teman setia kami cuma internet. Meanwhile, seusia Aqsa nggak boleh terlalu lama (atau malah nggak boleh sama sekali) terpapar gadget. Ujung-ujungnya mau nggak mau Aqsa jadi kenal dan terpapar gadget karena semua orang rumah bekerja mengandalkan gawai.

Ini baru soal gadget yang akhirnya bikin Aqsa suka agresif. Belum lagi soal makannya yang kadang susah. Atau tantrumnya yang lagi ´hangat-hangatnya´ di usia jelang 2 tahun. Atau manajemen emosinya yang dibangun. Semua terjadi saat pandemi. Saat saya khususnya sebagai ibunya sedang berkompromi juga dengan berbagai emosi yang muncul dalam diri.

Baca Juga:   Berkompromi dengan Kebiasaan Buruk Pasangan, Bisa Nggak Sih?

Itulah kenapa, ketika semuanya terlalui di penghujung tahun 2020 dan saya bisa menuliskan tulisan ini di awal 2021 rasanya terlalu amazing. Karena toh nyatanya saya bisa bertahan. Kalian sendiri bagaimana?

Mensyukuri Hal-Hal yang Ada, Bukan Menyesali yang Tidak Ada

Pengen rasanya setiap hari mengeluh saat pandemi, tapi kan capek juga yhaaa. Padahal mah kalau saya lagi capek atau kesal banget ya akan mengeluh juga. Namun, tahun 2020 mengajarkan banget buat saya untuk selalu bersyukur, sekecil apapun hal itu.

Yang tampak di depan mata dan biasanya biasa saja, bisa jadi luar biasa saat pandemi. Lihat Aqsa makannya lahap, muter-muter pakai mobil di akhir pekan hanya buat drive thru McD, atau dengar kabar orang tua sehat walafiat di kampung halaman saja rasanya sudah sangat menggembirakan. Itulah kenapa tahun 2020 mengajari saya untuk menghargai hal-hal yang ada dan tercapai saat itu bukan menyesali yang batal, tertunda, atau hilang.

Baca Juga:   Pengalaman Pulang Kampung Saat Pandemi

Berkat tahun 2020 yang semua serba-dipindahkan dari rumah dan online, saya pun bisa mengambil banyak job. Yang penting koneksi internet baik. Coba bayangkan kalau di situasi normal, pastilah saya nggak bisa mobile kemana-mana di hari biasa karena nggak bisa buat meninggalkan Aqsa begitu saja. Harus tunggu sampai weekend baru bisa.

Berkat pandemi di 2020 juga saya bisa membangun sebuah komunitas meskipun awalnya karena disponsori suatu platform. Tapi hei hellooo, ibu rebahan macam saya yang pengennya cuma golar-goler aja ternyata bisa lho bikin dan merawat komunitas. Bahkan meng-upgrade diri buat menjajal sesuatu yang baru seperti mendesain content buat instagram komunitas atau sekadar jadi host untuk acara live instagram. Buat saya itu sudah cukup menyenangkan.

Berkat tahun 2020 pula saya bisa pulang kampung lama hingga 2,5 bulan. Kalau tidak pandemi dan bukan karena WFH, mana mungkin suami saya bisa bepergian lama-lama. Paling juga seminggu bisanya dan itu terjadi tiap 3-4 bulan sekali. Tapi berkat pandemi kemarin, kami bisa ´pindahan sejenak´ di kampung halaman dan menemani orang tua sampai 2,5 bulan itu rasanya priceless walaupun dengan banyak penyesuaian tentunya.

Baca Juga:   Menjaga Daya Tahan Tubuh saat Melewati Pandemi di Kampung Halaman

Di tahun 2020 juga saya punya banyak waktu untuk diskusi dengan komunitas, ngobrol dengan teman, nonton lebih lama, baca lebih banyak buku dan artikel, menghabiskan waktu dengan keluarga 24/7, mencari ide-ide baru yang mau nggak mau memaksa otak saya buat bekerja.

Tahun 2020 juga saya mulai membiasakan kembali kebiasaan-kebiasaan baik untuk tubuh saya. Mulai dari merawat kulit pakai skincare, masak makanan sehat, sampai home workout setiap hari. Harapannya pas pandemi sudah berakhir, paling nggak badan saya fit dan muka saya terawat. Syukur-syukur kalau kayak artis Korea, haha.

Di tahun 2020 juga saya melakukan hal-hal yang selama ini paling saya hindari buat dilakukan yaitu nonton drakor.

Well, 2020 memang mengubah semuanya. Banyak hal yang akhirnya dilakukan atau dihilangkan hanya untuk mempertahankan diri. Tahun 2020 juga semacam survival year buat saya atau bahkan kita semua. Namun, mampu tegak berdiri hingga saat ini adalah satu hal yang luar biasa buat saya. Kalau saya bisa berkarya atau punya sesuatu yang baru yang dibangun tahun 2020, itu adalah bonusnya.

Tahun 2021 saya prediksi nggak akan beda jauh dengan 2020 kondisinya. Namun, kita sudah belajar dari 2020 yang insyaallah 2021 adaptasinya lebih selow. Doa kita bersama yang paling utama dan harus diaminin paling serius tentu saja pandemi segera berakhir dan corona musnah dari muka bumi ini. Kalaupun tidak, semoga kita selalu lebih dikuatkan untuk menghadapi semua yang terjadi saat ini dan esok hari.

Happy new year!!

 

0 Comments
Previous Post
Next Post