Cerita Program Hamil Ketiga: Bertahan Promil 2 Tahun

Waktu 2 tahun lebih buat program hamil bagi saya termasuk waktu yang panjang. Pasalnya, ini adalah program hamil terlama dan terpanjang yang pernah saya jalani. Beberapa program hamil sebelumnya saya jalani paling hanya 3-6 bulan habis itu berhasil hamil walaupun nggak sampai melahirkan dengan selamat. Pas udah berhasil hamil dan melahirkan, barulah saya amazed karena bisa bertahan selama itu di program hamil yang menguras hati, pikiran, waktu, dan tenaga.

Buat saya, program hamil ketiga ini capeknya berkali-kali lipat. Pun dengan sakitnya. Ratusan obat saya telan dan masukkan di badan. Puluhan kali jarum suntik pun keluar masuk tubuh. Saya yang tadinya anti banget sama obat jadi pengonsumsi obat selama bertahun-tahun. Saya yang tadinya trauma sama jarum suntik jadi biasa banget sama sakitnya ketika ditancapkan ke kulit. Sungguh, program hamil kali ini kayaknya bikin saya jadi manusia kuat *brb nyanyi Manusia Kuat-Tulus sebagai backsound, haha*.

Dua tahun juga bukan waktu yang sebentar lho. Kalau diibaratkan pacaran, udah mulai bosan dan minta pengen dinikah #eh. Trus gimana caranya saya tetap istiqamah? Gimana caranya saya tetap mau mematuhi semua anjuran dokter? Gimana caranya saya tetap mau minum obat yang seabrek-abrek itu? Coba ya ini saya jabarkan setelah melalui kontemplasi panjang, cailah!

Komunikasi dengan Pasangan

Komunikasi dan komitmen dengan pasangan saat program hamil itu penting. Dua-duanya harus saling kuat dan menguatkan. Kalau ada salah satu yang lelah atau putus asa, yang lain jangan jadi ikut-ikutan tetapi justru harus membangkitkan. Itulah yang saya lakukan sama suami.

Dalam hal ini, saya sih yang lebih sering putus asa. Pasalnya, banyak ketidakberesan yang berasal dari diri saya. Ya prolaktin tinggi lah, bermasalah sama TORCH lah, antibodi tinggi lah, perlengketan rahim lah, dan masalah-masalah kecil lainnya. Jadi, saya lah yang sering kena treatment. Dari suntik-suntik sampai obat dan itu dilakukan selama 2 tahun. Kadang terasa menyakitkan di fisik tapi lebih berasa lagi kalau fisik udah sakit tapi malah nggak ada progress. Biasanya saya langsung down deh. Apalagi saya orangnya drama banget. Sampai-sampai pengen berhenti promil.

Baca Juga:   Cerita Program Hamil Ketiga: Menetapkan Hati saat Program Hamil

Untungnya suami saya selalu support. Nggak kebayang kalau saya atau kami nekat berhenti saat sudah di tengah jalan atau bahkan udah hampir berhasil. Malah bisa-bisa mengulang lagi dari awal buat program hamil. Di sinilah pentingnya komunikasi dan komitmen dengan pasangan. Suami saya selalu kasih support dengan memberi contoh orang-orang yang sama-sama sedang berjuang malah lebih berat kondisinya daripada saya. Cara itu biasanya berhasil bikin saya bangkit lagi.

Lakukan Sesuatu yang Membahagiakan

Ketika program hamil menjadi fokus utama, nggak lantas membuat hidup saya jadi nggak fokus dengan hal-hal yang lain. Saya masih punya kerjaan yang bisa ditekuni. Saya juga masih punya hobi yang bisa dilakukan. Oleh karenanya di sela-sela program hamil saya malah ambil beberapa job dan event blogger yang menyenangkan. Entah kenapa buat saya ketemu sama teman-teman blogger, foto-foto, dan ngobrol sama mereka selalu menyenangkan.

Baca Juga:   Menjelaskan Posisi Blogger di Mata Orang Lain dan Keluarga
ketemu teman-teman blogger memang selalu menyenangkan

Selain melakukan hal-hal yang menyenangkan sama teman-teman blogger (oh ya, saya berarti wajib berterima kasih sama kerjaan yang sekarang –blogger– karena sangat menyenangkan), saya juga melakukan hal-hal yang menyenangkan sama suami. Dari nonton konser yang saya senangi, jalan-jalan, makan, sampai nonton film di bioskop. Pokoknya melakukan hal-hal yang mendistraksi kami sebentar dari program hamil karena kalau melulu dipikirkan, program hamil malah bikin nambah stress. Kalau udah stress juga malah lebih susah lagi hamilnya.

Di periode 2 tahun promil saya masih sempat senang-senang nonton gigs lho

Selain itu, saya juga sempat traveling ke beberapa tempat yang menyenangkan entah itu dalam rangka dapat sponsor sama blogger lain, traveling dengan biaya sendiri, jalan-jalan sama keluarga, atau karena memenangkan kompetisi. Jalan-jalan bikin pikiran saya jadi fresh dan ketemu orang-orang baru yang menyenangkan. Walaupun kadang waktu jalan-jalan harus diatur dan mepet-mepet sama jadwal ke lab (saya pernah turun dari pesawat langsung ke lab buat ambil darah soalnya).

Baca Juga:   Cerita Program Hamil Ketiga: Menghadapi Berbagai Tes Laboratorium

Hindari Toxic People

Ketemu atau berteman dengan toxic people saat masih program hamil itu menyiksa banget. Toxic people di sini adalah orang yang selalu nanya-nanya udah hamil atau belum alias kepo kemudian berakhir dengan judging atau menjatuhkan. Sungguh, bisa bikin dongkol hati, kepikiran muluk, atau bahkan menangis semalam. Oleh karenanya kata saya mah mending dijauhi dulu orang-orang seperti ini baik di dunia nyata atau maya.

Baca Juga:   Jangan Katakan Ini Pada Perempuan yang Belum Memiliki Anak

Kalau di dunia nyata, biasanya mending saya nggak ketemu dengan orang-orang yang saya labeli toxic people ini. Toxic people ini bisa dari mana saja lho, saudara, teman, tetangga, atau bahkan orang yang baru kenal. Makanya saya mending nggak datang ke acara-acara tertentu biar nggak ketemu orang-orang yang saya labeli sebagai toxic people ini daripada malah dongkol.

Sementara kalau di dunia maya saya mending block atau unfriend dulu. Emang ada toxic people di dunia maya? Ada banget lho. Yang kalau ngechat atau komen bukannya nanyain kabar, sehat atau nggak, eh ini yang ditanyain ‘udah isi atau belum?’. Mungkin bagi dia itu bentuk perhatian tapi plis atuhlah pahami kami-kami yang sedang program hamil. Karena nanya begitu berulang-ulang itu menyakitkan. Toh, kalaupun nanti udah hamil atau melahirkan juga pasti diumumkan.

berkumpulah dengan orang-orang yang mendukungmu

Makanya saya mending bergaul dan kumpul sama teman-teman yang bikin saya semangat. Syukur-syukur menjadikan saya pribadi yang jauh lebih baik dan termotivasi. Makanya saya mampu bertahan di 2 tahun program hamil ini juga karena mereka-mereka yang memiliki pribadi baik yang tentunya menghargai saya.

Hidup Sehat

Program hamil ketiga ini menuntut saya minum ratusan obat selama setahun lebih. Bayangkan, dalam sehari saja saya bisa minum 10 kali obat, kalau nggak diimbangi sama hidup sehat bisa ambyar lah saya. Hal paling konkret dari hidup sehat yang saya lakukan selama program hamil adalah minum banyak air putih biar ginjal saya tetap sehat dan normal. Bayangin aja dalam sehari ginjal saya dipaksa bersahabat sama obat hingga puluhan. Kalau nggak banyak-banyak minum air putih ya dalam setahun aja udah kayak apa kondisinya.

Baca Juga:   Cerita Program Hamil Ketiga: Baca Hasil Lab dan Panen Obat

Selain banyak minum air putih, saya juga menerapkan pola hidup sehat terutama pada makanan. Walaupun saya bukan penganut clean eating, tapi saya berusaha menghindari makanan-makanan yang tinggi gula, nggak minum kopi, mengurangi karbo, meminimalkan makan junk food, dan perbanyak sayur buah. Makan sehat, entah berpengaruh banyak terhadap program hamil ataupun tidak, yang pasti tetap saja berguna bagi kesehatan tubuh.

Selain itu saya mau nggak mau juga memaksakan diri buat olahraga. Saya belum tahu pasti olahraga berpengaruh langsung atau nggak buat yang punya permasalahan hiperprolaktin kayak saya. Tapi lagi-lagi sama halnya dengan makan sehat, toh olahraga punya banyak manfaat bagi tubuh saat ataupun tidak dalam keadaan program hamil.

Baca Juga:   Yuk, Tiru Konsistensi Olahraga dan Gaya Hidup Sehat 6 Selebritis Cewek Ini!

Tiga combo hidup sehat di atas lah yang bikin saya bertahan menjalani program hamil ketiga selama 2 tahun. Hidup sehat memang susah tapi toh kalau udah diterapkan sangat membantu tubuh buat tetap fit selama 2 tahun dihantam segala hal berbau unsur kimia dari produk-produk medis. Tubuh saya pun nyatanya insyaallah tetap fit.

Fokus pada Pengobatan Medis

Kalau ditanya selama 2 tahun, bahkan selama 5 tahun pernikahan, saya menjalani program hamil nonmedis nggak sebagai ikhtiar menuju hamil? Jawabannya NGGAK. Selama 5 tahun itulah saya hanya bolak-balik berobat ke dokter dan rumah sakit buat program hamil. Kalaupun ada ‘sampingannya’ palingan diimbangi sama gaya hidup sehat aja.

Baca Juga:   Mencoba Hidup Sehat Tanpa Tapi...

Saya pernah tertarik sedikit dengan pengobatan China alias shinsei tapi nggak pernah mencoba buat berobat. Hanya sebatas tertarik. Saya juga sempat tertarik buat mengkonsumsi berbagai jus sehat mentah, tapi ya hanya sebatas wacana. Sedangkan banyak orang di sekitar saya yang menyarankan banyak hal dari pijat yang katanya benerin posisi rahim, minum obat herbal, sampai yang berbau nggak logis seperti buang nasi yang diisi jarum ke kali. Untung saya nggak pernah terdistraksi buat mencoba hal-hal lain di luar medis. Hmmm, nggak tahu kenapa ya. Saya malah takutnya nggak fokus dan tumpang tindih sama pengobatan yang sedang saya jalani. Makanya saya milih pakai kacamata kuda aja pada pengobatan medis.

Cermat Mengatur Uang

Kalau cara yang ini dipakai untuk bertahan dari sisi materi. Sungguh, 2 tahun program hamil itu menghabiskan banyak uang. Kalau dikumpulin, bisa buat beli mobil bekas kayaknya. Makanya saya dan suami harus cermat dan pandai-pandai atur uang. Caranya gimana?

Saya minimalisir banget nongkrong-nongkrong di cafe. Selain karena nggak suka ngopi atau makanan-makanan sweet treat, perhitungan saya kalau kebanyakan nongkrong di cafe juga menghabiskan uang dan waktu. Lagian saya juga nggak ada teman yang selalu available buat diajakin nongkrong. Paling banter ya nongkrong di warung bakso, hahaha. Selain itu saya juga nggak beli barang-barang branded yang notabene bisa menguras uang karena pada dasarnya saya juga nggak suka. Lalu banyak acara traveling saya juga bukan biaya sendiri, biasanya kalau nggak karena endorse, menang lomba, ya diajakin.

salah satu acara jalan-jalan saya dalam rangka menang lomba

Jadi, karena beberapa hal di atas, saya dan suami bisa bertahan 2 tahun untuk program hamil dari sisi materi. Selain menghemat dan cermat pengeluaran, saya dan suami juga sudah punya tabungan yang memang kami niatkan untuk program hamil.

Itu dia beberapa hal yang bikin saya bertahan bisa promil selama 2 tahun. Alhamdulillah berkat doa dan usaha saya dan suami serta dukungan banyak pihak akhirnya impian kami memiliki momongan pun tercapai di akhir 2018 ini. Kalau saya bisa, insyaallah kalian juga pasti bisa asalkan mau berusaha.

Semangat!!!!

 

1 Comment
Previous Post
Next Post