#CeritaIbu: Serba-Serbi Pembelajaran Jarak Jauh

#CeritaIbu: Serba-Serbi Pembelajaran Jarak Jauh

¨Fie, lagi apa?¨

¨Bentar ya, Wi. Aku lagi ribet bantuin Lovi kerjain tugas nih. Lama banget, kesel deh.¨

Begitu kira-kira percakapan suatu pagi antara saya dan sepupu yang juga tinggal di Jakarta. Bukan cuma sekali, beberapa kali saya menyapa di pagi hari, ternyata dia memang sedang riweuh melakukan PJJ (pembelajaran jarak jauh) dengan anaknya yang masih kelas 2 SD.

Ketika sedang senggang, biasanya barulah sepupu saya ngobrol panjang lebar sekalian curhat. Katanya, berbulan-bulan ini semenjak PJJ, setiap pagi ia selalu jadi mother monster. Bawaannya emosi terus kalau udah sekolah dari rumah sama anak. Ternyata curhat yang kayak begini juga bukan cuma dari sepupu saya. Beberapa teman blogger yang kadang ngobrol baik itu di chat pribadi maupun grup whatsapp juga banyak yang suka curcol tentang riweuhnya PJJ ini. Mereka yang sudah merasakan PJJ selalu punya kesamaan yaitu merasa lega kalau weekend tiba. Pasalnya, acara marah-marah tiap pagi akhirnya ´istirahat´ untuk 1-2 hari.

Baca Juga:   Tips Ibu Tetap Sehat dan Produktif di Masa Pandemi

Saya yang tadinya bertanya-tanya dalam hati ´Apa iya sesulit itu ngajarin anak?´ akhirnya terjawab setelah merasakan sendiri mengajari cucu tetangga saya yang juga sekolah dari rumah. Pas saya tanya pelajarannya apa, ternyata ia menyodorkan sebuah buku yang katanya adalah Buku Tematik. Pas saya buka, wah ternyata berbeda sekali dengan zaman saya. Buku tematik ini mencakup semua pelajaran, dari matematika sampai olahraga, dengan satu benang merah tema yang sama. Oalaahh, saya juga baru tahu.

Sejak saat itu, saya jadi lebih berempati pada orang tua yang selalu mendampingi anak PJJ. Ternyata sekolah dari rumah itu memang nggak mudah. Butuh konsistensi dan ketelatenan. Kalau mau abai, ya silakan aja tapi memang risikonya paling besar akan jatuh ke anak saat nanti masuk sekolah lagi.

Problematika PJJ

Picture from pexels.com

Dari beberapa curhat teman saya pun, saya jadi tahu kenapa PJJ terasa sangat berat. Menurut saya, ada beberapa faktor yang memengaruhi:

1. Orang tua yang tidak fokus

Saya pernah iseng nanya pada keponakan saya gimana belajarnya di rumah selama ini. Kemudian secara jujur dia menjawab, ¨Bunda marah-marah terus kalau ngajarin. Katanya, Loviiii buruan nulisnya, Bunda mau masak¨. Saya yang dengar antara pengen ketawa karena kepolosan keponakan saya dan juga terenyuh karena ya memang PJJ itu nggak mudah.

Orang tua yang juga memiliki kesibukan lain seperti bekerja dari rumah, mengerjakan pekerjaan rumah, atau berbisnis membuat mereka tidak bisa mencurahkan seluruh waktu dan perhatian untuk PJJ. Apalagi pada anak-anak yang melakukan PJJ dari pagi hingga sore hari atau yang diberikan banyak tugas oleh gurunya. Orang tua pun juga punya kesibukan lain, apalagi buat mereka yang tidak punya helper di rumah atau harus WFH. Alhasil mana yang harus didahulukan malah bikin emosi duluan.

2. Distraksi yang sangat banyak pada anak

Setelah mendengar pengakuan keponakan saya yang polos soal bagaimana sekolahnya dari rumah, sepupu saya pun punya pembelaan. Katanya, ¨Habis anaknya kalau ngerjain satu nomer aja bisa 15 menit sendiri. Belum lagi nanti pas di tengah-tengah ngerjain tugas pengen mainan dulu sama adiknya lah, pengen nonton TV lah, alasan ngantuk, pusiiing deh. Padahal tugasnya banyak dan harus dikumpulin hari itu juga.¨

Tuh, bingung kan. Saya nggak bisa membela pihak manapun.

Tapi memang banyak orang sudah menganggap sekolah adalah tempat paling ideal untuk belajar karena rumah biasanya mereka gunakan untuk bermain, berkumpul bersama keluarga, atau istirahat. Ada banyak hal yang walaupun sepele atau kecil bisa menjadi distraksi dan membuyarkan konsentrasi anak saat melakukan PJJ.

3. Kesenjangan ilmu pengetahuan antara orang tua dan anak

Dulu kita saat sekolah ditanya, ¨Pelajarannya apa?¨. Sementara anak sekarang pertanyannya, ¨Sekarang belajar tematik apa?¨

Picture from pexels.com

Atau dulu saat kelas 1 SD pelajaran hanya sebatas mengenal huruf, angka, mengeja, belajar membaca, atau menulis huruf tegak bersambung di buku halus. Tapi sekarang kelas 1 SD saja sudah ada Bahasa Inggris. Bahkan kelas 1 atau 2 SD saja sudah harus tahu pemahaman atau konsep sesuatu. Tentu saja, di tahap ini untuk anak yang belum bisa membaca atau menulis akan sangat tertinggal untuk mengikutinya.

Baca Juga:   Nostalgia, Yuk! Ini Dia 6 Tipe Buku Paket Sekolah Turun-Temurun yang Sering Ditemui

4. Bosan

Kalau ini sepertinya bukan cuma masalah buat murid ataupun orang tua sebagai pendamping tetapi juga kita semua yang hampir 8 bulan ini harus tetap di rumah saja. Saya mengakui kok, saya aja yang di rumah terus dengan 1 anak balita dan nggak bisa kemana-mana saat hari libur sudah bosan tingkat akut. Bayangkan saja anak-anak yang biasanya ke sekolah, bertemu teman dan guru, serta melakukan banyak kegiatan mengasyikkan di sekolah lalu harus di rumah saja, terperangkap dalam bangunan yang itu-itu saja, dan sangat terbatas untuk keluar rumah. Orang dewasa pun banyak yang sangat bosan. Jadi untuk yang satu ini saya pun maklum semaklum-maklumnya.

5.  Biaya kuota

Biaya untuk pembelian kuota khususnya buat mereka yang melaksanakan PJJ melalui fasilitas gadget dirasa memberatkan sebagian orang tua murid. Apalagi buat mereka yang harus online sepanjang hari menggunakan fasilitas video conference/meeting. Beruntung bagi mereka yang memiliki fasilitas wifi di rumahnya. Namun bagi yang tidak memiliki dan harus mengandalkan kuota dari hape, seharian di depan fasilitas video conference tentulah memakan kuota yang tidak sedikit.

Oleh karena itu, butuh fasilitas belajar di rumah yang paling tidak bisa mengakomodasi beberapa masalah PJJ di atas. Memang sih, masih banyak problem lain yang memengaruhi proses PJJ. Namun, paling tidak 5 problem di atas adalah problem yang sering saya temui atau dengarkan dari curcol orang-orang terdekat saya.

Situs Belajar Online yang Menguntungkan Banyak Pihak

Nah, salah satu fasilitas pendukung yang bisa digunakan sebagai solusi dari masalah-masalah di atas adalah website kelaspintar.di. Kelaspintar.id merupakan situs belajar online dengan metode pintar, personal, dan terintegrasi yang didesain untuk meningkatkan minat belajar dan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran guna mendapatkan nilai akademis yang lebih baik. Kelas Pintar dapat diakses melalui smartphone, tablet, dan komputer (berbasis web & aplikasi) oleh para siswa, guru, dan orang tua.

Metode PINTAR dan PERSONAL yang diusung oleh Kelas Pintar yaitu:

  • Pendekatan PERSONAL melalui metode penyampaian materi yang disesuaikan dengan beragam karakter siswa, baik itu melalui Visual, Audio, maupun Kinesthetic (V.A.K).
  • Kelas Pintar menggunakan metode pembelajaran PINTAR yang menggunakan pendekatan Learn, Practice, dan Test. Hal ini untuk memastikan kurikulum pendidikan di Indonesia bisa diserap oleh siswa.

Learn artinya dalam Kelas Pintar terdapat materi menyeluruh dalam bentuk audio-visual, video animasi dan buku pelajaran elektronik (e-book). Materi ini pun disampaikan dalam berbagai macam metode, antara lain: konsep pelajaran, materi pelajaran, atau animasi untuk semua jenjang. Sementara untuk jenjang SD terdapat tambahan variasi yaitu learning objectives, dan concept adventure.

Sementara Practice mencakup penguatan konsep melalui soal latihan yang bervariasi ragamnya, antara lain: HOTS (Higher Order Thinking Skills), Tanya Jawab, dan VBQ (Value Based Question) untuk semua jenjang. Untuk jenjang SD terdapat tambahan variasi yaitu Play Hub, Get Set Go, dan Work Sheet

Yang terakhir, Test yaitu evaluasi proses pembelajaran melalui soal tes yang bervariasi. Ada beberapa metode ujian di Kelas Pintar, antara lain: MCQ (Soal Pilihan Ganda), tes adaptif, dan essay.

 

Dengan adanya metode belajar tersebut, paling tidak 4 pihak yaitu murid, guru, orang tua, dan sekolah diuntungkan. Untuk murid, mereka bisa melakukan beberapa aktivitas belajar menggunakan konsep yang disesuaikan, mengerjakan soal latihan dan tes dengan metode yang bervariasi, serta mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru atau mentor.

Bagi orang tua, situs belajar online memiliki fitur yang disediakan khusus untuk orang tua agar senantiasa dapat memantau perkembangan belajar anak. Orang tua dapat memantau performa anak dengan kemudahan untuk melihat rapor anak dan jadwal belajar anak melalui sistem yang terintegrasi.

Last but not least, bagi sekolah Kelas Pintar bisa ´menghadirkan´ suasana sekolah pada anak. Dengan fitur Sekolah, guru dapat tetap mengajar, berinteraksi secara virtual, memberikan tugas, PR, project serta melakukan ujian secara online yang dilengkapi dengan fitur monitoring. Suasana sekolah ini akan lebih mirip dan maksimal apabila satu sekolah melalui sistem kolektif baik itu guru dan murid mendaftar menjadi anggota di Kelas Pintar. Ini akan membawa suasana kelas dan sekolah benar-benar dalam proses pembelajaran online. Dengan adanya fitur ini pula nggak heran kalau ratusan sekolah di Indonesia telah menggunakan Kelas Pintar untuk pembelajaran jarak jauh.

Saya yakin, tiap anak itu istimewa dan berbeda-beda dalam proses penyerapan ilmu. Hal ini pulalah yang disadari oleh Kelas Pintar yang juga berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan kondisi belajar yang ideal di tengah situasi yang tidak ideal. Jadi, yuk nggak ada salahnya kita berusaha semaksimal mungkin memberikan suasana belajar yang nyaman untuk anak dan juga orang tua.

 

2 Comments
Previous Post
Next Post