Cerita Kehamilan Ketiga: Terserang Flu dan Bakteri

Cerita Kehamilan Ketiga: Terserang Flu dan Bakteri

Awal kehamilan ketiga ini entah mengapa badan terasa ringkih. Ada saja yang jadi keluhan dan memang masih tersisa trauma serta keparnoan kalau ada sedikit saja keluhan dari badan. Satu hal yang paling nggak bisa saya lupakan adalah saat ketularan flu di minggu-minggu ke 10 lalu disambung dengan terkena bakteri yang mengakibatkan susah ngapa-ngapain.

Awalnya semuanya biasa saja, sehat-sehat saja sampai akhirnya suami saya terkena flu. Selain flu, dia demam juga. Kami berkontak di rumah tanpa masker. Tidur masih seranjang dan berdekatan. Minum pun masih satu gelas bersama. Pokoknya hal-hal yang membuat virus flu tertular itu dilakukan. Alhasil, setelah suami saya sedikit mereda flunya berimbas sama saya yang tertular flu.

Tadinya badan berasa biasa saja, cuma bersin-bersin. Tapi lama-lama kok hidung kayak meler terus disambung gatel. Nggak berapa lama lagi badan berasa pegal dan linu-linu. Ini semua kejadiannya di Hari Senin (suami sakit hari Sabtu-Minggu sebelumnya). Fix, saya pun kena flu ini. Badan udah malas dan loyo buat diajak ngapa-ngapain. Daripada memaksakan diri dan malah takut jadi demam, saya memutuskan buat istirahat saja.

Salah dan jeleknya saya adalah kalau udah sakit apalagi flu begini langsung deh malas mandi. Padahal masa itu, saya masih setiap hari terjadwal memasukkan obat Cygest (penguat kandungan) ke vagina setiap hari. Efek dari obat itu adalah vagina setiap pagi berminyak karena obat yang meleleh dan keluar dengan sendirinya. Buat membersihkannya, biasanya saya mandi, biar kata cuma sehari sekali tapi paling nggak kan jadi bersih.

(Baca juga: Cerita Program Hamil Ketiga: Akhirnya Garis Dua)

Nah pas flu ini saya nggak mandi. Paling cuma ganti celana dalam dan baju. Badan nggak ´bau air´. Cebok juga cuma kupyuk-kupyuk, ibaratnya udah kena air ya udah. Padahal saya bolak-balik pipis ke kamar mandi karena sejak hamil memang sering banget pipis. Puncaknya, Hari Selasa siang vagina berasa gatal. Semakin lama gatalnya semakin menjadi. Nggak saya garuk sih tapi setiap saya bergerak kan otomatis kegesek-gesek celana dalam. Lama-kelamaan kok jadi berasa perih. Belum selesai flu, eh ini nambah satu lagi sakitnya.

Flu Penyebab Segalanya

Kalau flu dan nggak minum obat saya udah biasa banget, sejak kuliah memang jarang minum obat kalau flu. Kuncinya kan cuma istirahat, minum air putih hangat, dan makan teratur. Saya sabar-sabarin flu-nya ini buat nggak dikasih obat biar kata hidung meler dan kalau buat tidur nggak enak banget. Tapi yang jadi masalah adalah gatal di vagina makin menjadi. Apalagi kalau kena pipis (apalagi pipis pas waktu flu jadi panas air kencingnya) malah makin perih gatalnya. Saya pun jadi ketakutan sendiri. Takutnya malah jangan-jangan saya kena herpes.

Hari Rabu-nya saya udah nggak tahan lagi pengen ke dokter. Saya pun bilang ke suami pengen ke dokter walaupun sempat dilema ke dokter siapa karena jadwal Prof Jacoeb masih nanti Hari Jumat. Nah, nggak enaknya sama Prof Jacoeb ini adalah nggak bisa dihubungi secara personal seperti dokter kandungan saya yang sudah-sudah buat sekadar tanya atau konsul via whatsapp atau sms. Walaupun Prof Jacoeb selalu bilang kalau ada apa-apa langsung telepon aja ke Sammarie, tapi tetap aja kalau bisa tanya dulu kan hati ini ayem.

(Baca juga: Cerita Program Hamil Ketiga: Hallo, Prof Jacoeb)

Rabu siang setelah suami ke kantor, saya menyerah dan menelepon ke Sammarie. Saya ´speak´ nanya jadwal Prof Jacoeb, eh ndilalah keberuntungan saya Prof Jacoeb praktik hari itu karena Senin nggak praktik dan esok Jumat-nya tanggal merah. Ya Allah, saya bersyukur banget telepon di saat yang tepat. Coba kalau dinanti-nanti atau dibesokin, saya mungkin harus menahan sakit dan perih yang semakin menjadi-jadi. Tanpa ba bi bu, saya pun langsung reservasi buat konsultasi hari itu, transfer biaya pendaftaran, dan bilang ke suami kalau nanti sore ke Sammarie.

Baca Juga:   Pertanyaan

Sementara itu, di rumah gatal saya semakin menjadi-jadi. Perih banget rasanya dan kalau dibawa buat jalan susah. Kalau jalan, saya jadi kayak orang habis sunatan yang ngangkang-ngangkang. Salat pun nggak sanggup buat berdiri, saya pasarah salat di kursi kerja aja. Pokoknya kalau dibuat bergerak jadi sakit banget. Apalagi kalau sampai kegesek celana dalam, sakit ngilunya sampai ke ubun-ubun. Belum lagi pas pipis terakhir sebelum ke rumah sakit, saya sempat mendapati seperti keputihan tapi berwarna coklat. Duh, jangan-jangan ini flek atau apa? Huhuhu.

(Baca juga: [SP] Menderitanya saat Terkena Infeksi pada Area Kewanitaan)

Sore yang ditunggu pun datang. Dengan naik Gocar, saya menuju Sammarie. Untung antrian ke Prof Jacoeb sore itu nggak terlalu banyak, kayaknya sih karena banyak pasien yang nggak tahu kalau Prof Jacoeb praktik hari itu. Sore itu jyga saya deg-degan berat, takut pas di-USG kenapa-kenapa. Kalau positif herpes gimana? Kalau janinnya kenapa-kenapa gimana? Kalau virus atau bakterinya ternyata berbahaya gimana? Duh ati rasane semribit, mana suami sore itu nggak datang-datang sampai saya akhirnya dipanggil buat USG.

Beruntung, sore itu dokter yang kebagian buat USG adalah dr Bonti, SpOG yang mana adalah dokter perempuan. Kebayang kalau dokternya adalah dr Nadir Chan, yang mana laki-laki, trus saya ´diobok-obok´ bagian bawahnya, kan tengsin juga. Dr Bonti sempat nanya sama saya apa keluhannya. Saya ceritakan saja kalau miss V saya gatal dan perih, apalagi kalau buat pipis. Dokter sempat mengira saya ISK (Infeksi Saluran Kencing) karena pipis yang panas tapi saya bilang kemungkinan pipis jadi panas disebabkan saya yang sedang flu dan menunjukkan gejala akan demam.

Terserang Bakteri yang Sempat Dikira Herpes

Tibalah saatnya saya disuruh berbaring di tempat tidur dan diperiksa ada apa di bagian vagina oleh dr Bonti. Dr Bonti sempat bertanya-tanya sebelumnya pas melihat kondisi vagina saya yang katanya ada semacam bintil-bintil kecil berisi air tapi dokter belum bisa memastikan ini apa. Dokter juga sempat mendapati cairan seperti keputihan tapi berwarna coklat. Hmmm, pas diperiksa jangan ditanya sakitnya kayak apa, saya udah aduh-aduh aja terus karena perih banget.

Untungnya, dr Bonti teliti banget memeriksanya. Awalnya, dr Bonti sempat bilang secara lisan kalau dia curiga itu adalah herpes. Tapi saya selalu bilang ¨Kalau dipegang sakit banget dok, perih tapi kalau kena air nggak begitu¨. Dokter masih bingung itu apa sampai vagina saya diguyur semacam cairan dingin dan rasanya nggak perih. Cuma kalau dipegang dan diseka kapas, jangan ditanya deh saya bisa teriak. Oh ya, pas sampai tahap itu suami belum juga sampai di RS, duh!

Setelah mengecek gejala apa yang ada di vagina saya, dokter pun membersihkan bagian itu kemudian melakukan tindakan swab alkohol untuk kemudian diperiksa di bagian laboratorium rumah sakit. Hasilnya nanti diserahkan ke Prof Jacoeb pas giliran nomer antrian konsultasi saya.

Setelah selesai dengan urusan vagina yang gatal dan perih, tibalah saatnya buat USG. Saya udah pasrah sepasrah-pasrahnya sama hasil USG. Kalau pun hasilnya buruk atau terburuk sekalipun saya ya harus siap, palingan nangis sesenggukan di ruangan dokter. Atau nggak berhenti menyalahkan diri sendiri. Rasanya takut banget pas mau di-USG. Setiap mau USG saya emang takut dan parno, tapi yang kali ini takutnya berlipat ganda. Udah gitu, suami belum juga sampai di RS. Kalaupun hasilnya buruk, mungkin saya akan menghadapinya sendirian dulu di ruangan itu.

USG kali itu masih pakai USG transvaginal, yang mana berarti ada alat lagi yang masuk melalui vagina. Jangan ditanya lagi deh sakitnya, walaupun alat USG sudah dilumuri gel pelumas. Saya sempat berteriak kecil pas alat USG masuk.

Baca Juga:   Mengenal Si Silent Killer yang Mulai Terasa di Stadium 3

Sambil terus melihat televisi di bagian atas yang telah tersambung dengan USG, dalam hati saya terus berkata ¨La hawla walla quatta illa billah”.

¨Ya Allah kuatkan hati saya kalau ini adalah bagian yang terburuk (lagi) dari fase kehamilan ini,¨ batin saya terus menerus.

(Baca juga: Mengenal IUFD)

Beberapa detik setelah alat USG masuk, belum tampak gambar apapun di layar. Sampai akhirnya nggak berapa lama muncul gambar janin kecil. Ya Allah, rasanya plong hati saya pas melihatnya. Hilang satu keparnoan saya, tapi masih ada keparnoan yang lain.

Janinnya bergerak-gerak lambat tapi nggak kelihatan denyut jantungnya seperti pas pertama kali di-USG dr Nadir Chan. Saat itu terlihat jelas denyut jantungnya, tapi kok ini nggak. Sambil tegang dan terus-menerus melihat layar monitor, dalam hati saya terus berkata ¨La hawla walla quatta illa billah, kuatkan…kuatkan…”.

¨Denyut jantungnya nggak kelihatan ya,¨ujar dr Bonti.

Deg.

Rasanya jantung mau copot.

Tapi untungnya tahapan USG di Sammarie biasanya diperdengarkan bunyi denyut jantungnya di akhir-akhir dan terlihat bagaimana gelombang grafiknya. Pas dr Bonti sampai tahapan itu, saya deg-degan. Tapi beberapa detik kemudian terdengar bunyi ¨Dredeg…deg…deg…¨ bunyi khas denyut jantung bayi saat USG.

¨Denyut jantungnya bagus, bayinya sehat,¨ ujar dr Bonti.

Maka sore itu, legalah saya dan dalam hati tak henti-hentinya bersyukur. Ya Allah, rasanya pengen nangis haru saat itu tapi kok malu ya. Nggak berapa lama setelah dr Bonti menyelesaikan tahapan USG, suami pun masuk ruangan alias baru sampai. Duh, berasa kayak polisi yang datang di film-film nih, datangnya telat pas tokoh utamanya udah menang, haha.

¨Bayinya sehat, Pak,¨ ujar dr Bonti sama suami saya.

Sambil duduk di depan meja dokter, saya melihat dr Bonti mencatat semua hal yang tadi diperiksa. Ia mengatakan kalau bayinya sehat dan perkembangannya bagus, sesuai usia kandungan.

Setelah dr Bonti selesai memeriksa dan mencatat, saya pun keluar ruangan dan menunggu giliran dipanggil konsultasi ke Prof Jacoeb. Masih ada satu PR lagi yang belum bikin hati saya sepenuhnya lega yaitu tentang penyebab gatal dan perih yang menyerang vagina saya. Kemungkinan terburuknya adalah herpes. Sementara, kalau herpes menyerang ibu hamil kan akibatnya bisa fatal.

Setelah tak berapa lama menunggu, saya pun dipanggil. Prof Jacoeb sudah memegang kertas berisikan hasil swab vagina dari laboratorium. Setelah bertanya keluhan apa ke saya dan saya jawab semuanya, Prof Jacoeb lalu bertanya lagi:

¨Sebelumnya ada darimana? Jalan-jalan atau makan di luar?¨ tanya Prof Jacoeb.

¨Nggak, Prof. Sejak hamil saya nggak pernah kemana-mana,¨ujar saya.

¨Tapi dulu sering buang air kecil di toilet umum sebelum hamil?¨

¨Iya sering, apalagi kerjanya di luar.¨

Lalu Prof Jacoeb bilang kalau saya terkena bakteri yang bernama Trikomonas. Selain bakteri, ada juga jamur yang menyerang. Biasanya bakteri ini ada di toilet-toilet umum yang digunakan bersama dan airnya nggak bersih. Hmmm, saya jadi berpikir apa kemungkinan dari air di kamar mandi saya ya? Karena kadang kalau lagi musim hujan airnya nggak jadi keruh. Tapi kata suami, kalau kami bilang kemungkinannya dari air di rumah berarti sama aja bunuh diri. Bisa-bisa Prof Jacoeb menyarankan pindah rumah, hahaha.

Kata Prof Jacoeb, bakteri Trikomonas itu bisa jadi sudah menyerang sebelum saya hamil. Bakteri itu bisa bersembunyi di sela-sela lipatan vagina dan ´bangun´ saat daya tahan tubuh saya nggak bagus. Jelas, kali ini daya tahan tubuh saya lagi nggak bagus, combo malah karena lagi hamil plus kena flu. Dobel lemah pertahanan tubuhnya. Bakteri ini nggak membahayakan janin tapi tetap harus diobati karena bikin rasa nggak nyaman kayak gatal dan perih di vagina. Gatal dan perihnya pun nggak boleh digaruk karena kalau luka atau bernanah, penanganannya bisa lebih repot lagi.

Baca Juga:   Mengapa Harus Membawa Bekal?

Untuk penanganannya, saya dikasih obat minum dan obat untuk dimasukkan ke vagina. Selain itu, saya diharuskan memakai disposable pants atau celana sekali pakai karena bakteri ini bisa terus hidup di serat kain walau celana sudah dicuci dan disetrika. Selain itu, celana sekali pakai juga harus langsung dibuang dan jangan dimasukkan ke tempat cucian kotor bercampur dengan cucian kotor lain karena bakteri bisa menyebar ke celana dalam lain termasuk juga ke celana dalam suami atau adik saya yang serumah sama saya. Iya, bakteri ini bisa menginfeksi perempuan ataupun laki-laki. Saya juga dianjurkan nggak buang air di toilet umum, kalaupun terpaksa saya harus bawa air bersih buat cebok sendiri dari rumah. Kata Prof Jacoeb

Setelah selesai sesi konsultasi saya diberi obat buat 5 hari ke depan. Setelah 5 hari, saya dianjurkan buat datang lagi dan mengecek apakah bakterinya masih ada atau nggak.

Pascakonsultasi dengan Prof Jacoeb

Nah, saya boleh berlega hati karena ternyata infeksinya nggak separah yang saya bayangkan. Tapi keadaan saya justru yang makin parah. Sehari setelah ke dokter, vagina rasanya makin perih sampai-sampai saya susah gerak. Kalau bergerak sedikit saja, perih banget. Kerjaan saya cuma tiduran di kamar sampai pegal, huhuhu. Makan diambilin, minum diambilin. Geraknya cuma kalau mau buang air dan salat. Cebok pun pakai air galon. Ya nasib! Saya ingat betul, Hari Kamis-nya saya mati kutu di rumah. Suami kerja, sedangkan adik kuliah. Saya hanya sempat minta tolong beliin makan sama adik sebelum ia berangkat kuliah.

Sedih banget lah pokoknya hari itu. Mana suami pas berangkat cepat karena ada meeting (biasanya berangkat habis zuhur). Trus sayanya nggak bisa ngapa-ngapain. Rasanya pengen nangis sepanjang hari tapi nggak boleh. Saya tahan dan ajak janin saya buat ngobrol aja. Semacam memberikan afirmasi positif lah kalau kita akan sehat bersama. Saya kadang nyanyiin shalawatan biar berasa nggak kesepian. Pokoknya saya tahan banget sakitnya walaupun pas dengar suami katanya mau pulang malam akhirnya mewek juga, haha.

Untung suami nggak jadi pulang malam. Pulang-pulang dia malah nawarin saya buat opname di RS yang jelas saya tolak. Sakit sih emang tapi saya cuma butuh teman ngobrol biar sakitnya nggak kerasa. Hari pertama kedua masukin obat Provagin ke vagina sih rasanya masih perih. Tapi alhamdulillah hari-hari berikutnya udah nggak dan berangsur-angsur membaik. Jalan saya udah normal, salat pun udah bisa sambil berdiri. Oh ya, selama dimasukin Provagin itu, obat yang Cygest (penguat kandungan) tetap dikasih ke saya, jadi si Provagin masuk ke vagina , Cygest-nya ke dubur. Rasanya jangan ditanya, ditahan-tahanin aja lah ya demi kebaikan.

Hari Senin minggu berikutnya saya datang lagi ke Prof Jacoeb. Sebelum masuk ke ruangan Prof Jacoeb, saya di-swab vagina dulu sama dr Nadir Chan dan ternyata hasilnya masih ada bakteri Trikomonas cuma sudah nggak ada jamur. Rasa gatal masih ada hanya dikiiittt banget. Saya juga masih pakai disposable pants dan cebok dengan air galon. Pokoknya selama masih ada rasa gatal, saya ´baik-baikin´ dulu deh nih. Pulangnya, saya masih dikasih obat Provagin tapi sudah nggak dikasih obat oral lagi. Yeayyyy…

Ini dia rincian obat beserta biaya akibat flu dan kena bakteri di kehamilan ketiga ini:

  • Laboratorium: Rp 60.000
  • Konsultasi dengan Prof Jacoeb: Rp 550.000
  • Vagina swab: Rp 60.000
  • USG hamil dengan dr Rino Bonti, SpOG: Rp 300.000
  • Obat apotek: Rp 122.500 (5 ovula Provagin, 10 tablet Trichodazol, 5 tablet Nalgestan)

Buat teman-teman yang sedang hamil, jaga kesehatan ya. Percayalah, sakit apalagi pas hamil itu nggak enak dan mahal, huhuhu.

 

 

 

 

1 Comment
Previous Post
Next Post