Cara Menekuni Passion dan Tetap Terlindungi di Masa Pandemi

Cara Menekuni Passion dan Tetap Terlindungi di Masa Pandemi

Milikilah habit konstruktif yang lama-lama menjadi skill dan bisa menghasilkan uang-Dee Lestari

Itu adalah ungkapan Dee Lestari yang saya ingat betul saat Virtual Blogger Gathering bersama FWD Insurance beberapa waktu lalu. Dee Lestari bilang kalau ungkapan itu ia dapat belajar dari astronot dan narapidana yang sehari-hari bergelut dengan kejenuhan karena berada di tempat yang itu-itu saja. Relate banget kan dengan kondisi pandemi sekarang ini?

Pandemi apalagi memasuki gelombang 2 covid-19 menyebabkan kita bukan cuma harus membatasi kegiatan di luar rumah tetapi juga dianjurkan untuk tetap di rumah saja selama tidak ada kegiatan yang penting-penting amat. Saking ketatnya, pemerintah sampai memberlakukan program PPKM Darurat yang bikin saya sendiri rasanya ‘terjebak’ dalam tembok besar terbatas bernama rumah.

Baca Juga:   #CeritaCorona: Berdamai dengan #DiRumahAja

Jenuh nggak? Jenuh lah masa nggak. Ini sudah setahun lebih lho dan kita masih harus di rumah aja. Kalau dipikir bosan, saya sudah bosan level akut tapi untungnya selama pandemi saya punya hobi baru yang bukan cuma bisa buat ngisi me time saya tetapi juga energi, yaitu nonton. Nonton apa saja, dari film, drama Korea, drama Cina, drama Jepang, sampai miniseri buatan negeri sendiri.

Baca Juga:   Birthcare Center, Jungkir Balik Dunia Perempuan setelah Melahirkan

Nonton ini juga membantu saya healing. Dan sebelum kebablasan dengan nonton yang bisa saja jadi buang waktu berjam-jam seharian, saya akhirnya menjadikan hobi ini konstruktif dengan membuat blog baru yang berisi khusus tentang review tontonan yang sudah saya tonton. Lumayan bikin healing dan sedikit-sedikit ada hasil materi dari hobi ini. See? Nggak ada yang sia-sia selama ditekuni dan dibawa ke arah yang positif.

Passion Menghasilkan Cuan, Bagaimana Bisa?

Bicara soal passion yang menghasilkan cuan itu menyenangkan banget. Gimana bisa kita menjalani passion atau minat dan hobi kita lalu menjadi sesuatu yang menghasilkan materi. Saya yakin, pasti banyak orang yang pengen kayak gini. Termasuk saya salah satunya, yang sampai saat ini masih berjuang mengumpulkan materi dari passion saya yaitu menulis.

Baca Juga:   Cara Kekinian Menikmati Passion dengan FWD MAX

Mario Iroth adalah salah satu orang yang beruntung buat menekuni passion-nya di dunia otomotif dan bisa menghasilkan materi dari situ. Lha betapa tidak, pemilik akun instagram @wheel_story ini dengan mengendarai motor keliling dunia yang juga jadi cita-citanya, dari sini juga dia dapat cuan.

Cita-citanya keliling dunia pun nggak terjadi begitu saja. Sebelum ia memutuskan menjadi traveler bermotor, ia harus kerja keras menabung saat masih bekerja di industri pariwisata di Bali. Kemudian, ia memberanikan diri untuk keluar dari zona nyaman dengan resign kerja dan berpetualang ke tempat-tempat yang ia inginkan. Berawal dari berpetualang di Bali, ia kemudian meluaskan pengalaman untuk bermotor ke pulau-pulau lain di Indonesia hingga akhirnya sekarang keliling dunia.

Selain Mario Iroth, ada juga Dee Lestari yang menekuni pekerjaan berbasis passion. Yah, siapa sih yang nggak kenal Dee Lestari. Berawal dari kecintaannya di dunia musik sampai akhirnya nyemplung secara total di dunia menulis, Dee Lestari konsisten dengan apa yang dia jalani.

Walaupun pekerjaannya tak seperti pekerjaan kantoran pada umumnya, tapi dia tetap mendisiplinkan diri untuk bekerja setiap harinya dengan menerapkan secara disiplin jam kerja produktif layaknya pekerja kantoran khusus untuk menulis. Hasilnya memang nggak main-main. Selama pandemi bahkan dia bisa menghasilkan beberapa karya termasuk serial dalam setahun. Padahal sebelumnya untuk menelurkan 1 buku Supernova saja butuh bertahun-tahun. Selain menulis karyanya sendiri, Dee Lestari juga masih sempat bikin dan mengajar kursus menulis.

Menurut Dee Lestari, pandemi bisa jadi berkah tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ia yang seorang penulis justru punya banyak waktu dan sedikit distraksi untuk keluar rumah di masa sekarang ini. Keluangan waktu inilah yang menjadi kesempatan emas bagi Dee Lestari untuk terus mengembangkan diri.

Dari obrolan santai dengan para ‘penghasil cuan’ berbasis passion ini, saya bisa ambil beberapa kesimpulan bagaimana bisa menekuni passion yang menghasilkan cuan:

  • Sebelum memutuskan menekuni passion, persiapkan dulu bekal sebelumnya entah itu dari sisi materi atau pengetahuan
  • Berani keluar dari zona nyaman untuk menekuni passion
  • Berani bereksplorasi hal-hal yang lebih menantang agar passion yang awalnya adalah habit bisa menjadi skill dan sumber penghasil uang
  • Fokus pada peningkatan skill di awal terjun menekuni passion, biasanya kemudian cuan mengikuti
  • Konsisten saat menekuni passion, hobi, atau habit yang kita jalani’
  • Disiplin dengan mengatur waktu sehari-hari untuk menekuni dan mengembangkan ilmu baru dari passion yang kita tekuni
  • Fokus dan tetapkan target untuk kemajuan diri

Cara Passion Tetap On dan Hidup Penuh Perlindungan

Ketakutan terbesar yang biasa saya dengar dari orang-orang yang masih maju mundur untuk menekuni passion-nya untuk menjadi mata pencaharian atau sumber penghasilan utama hidupnya adalah ketidakpastian. Banyak teman saya yang lebih memilih untuk tetap bekerja di corporate dengan tuntutan dan beban kerja yang melelahkan dengan alasan setiap bulan masih dapat kepastian gaji walaupun segitu-gitu aja. Makanya buat mereka, passion dan hobi hanya sekadar bagian kecil dari hidup.

Tapi banyak orang juga yang berani keluar dari zona nyaman dan melawan ketidakpastian dengan bekal passion mereka. In the end, mereka malah menghasilkan materi yang berkali lipat jika dibandingkan kalau mereka bekerja setiap hari di corporate. Dan bagusnya lagi, orang-orang yang menekuni passion dan rata-rata bekerja sebagai freelancer ini sudah melek dengan finansial.

Baca Juga:   Tetap Sehat Mental dan Keuangan setelah Setahun Pandemi

Salah satu ketakutan dari orang yang hidup dari passion seperti saya selain ketidakpastian adalah situasi yang tidak bisa terprediksi seperti pandemi saat ini. Berapa banyak orang yang menekuni passion seperti musisi, traveler, olahragawan, atau seniman yang tidak bisa bekerja dan berkarya saat berbagai pengetatan diterapkan oleh pemerintah. Nggak heran kalau pada akhirnya banyak orang yang lagi-lagi berprinsip harus bekerja dengan gaji tetap daripada menekuni passion apalagi di masa pandemi begini.

Melvin Mumpuni, ST., MBA., CFP., QWP menyatakan wajar banyak orang yang khawatir dengan situasi pandemi. Nggak cuma biaya perawatan kalau kita (amit-amit) kena virus ini yang mahal, tapi juga biaya-biaya kalau punya penyakit kritis lain mendadak menjadi mahal. Apalagi sekarang apa-apa kudu swab atau PCR dulu, nambah cost banget kan?

Belum lagi, covid-19 juga menimbulkan ketidakpastian yang lebih besar soal nasib. Kita tuh kayak berjudi banget lah di masa pandemi. Ini virus nggak pandang bulu bisa menyerang siapa saja. Yang sudah tua dan punya komorbid ada yang beruntung sembuh, tapi yang muda segar-bugar dan nggak punya komorbid malah menghembuskan napas terakhir. Nggak heran kalau ada berita soal banyak anak yang mendadak jadi yatim, piatu, atau yatim piatu karena virus ini.

Oleh karena itu penting banget saat pandemi untuk kita punya proteksi yaitu dengan asuransi.

Mas Melvin mengatakan tidak ada prosentase khusus darinya soal berapa banyak uang yang harus kita anggarkan untuk asuransi. Namun, biasanya dia menganggarkan 8-10% penghasilannya untuk asuransi.

Baca Juga:   Bicara Asuransi, Dulu dan Kini

Menurut Mas Melvin, sebelum mengalokasikan uang terlebih dahulu kita harus menguatkan pondasi keuangan kita. Prinsipnya tentu saja penghasilan harus lebih besar daripada pengeluaran. Dalam piramida keuangan yang ia miliki, hal mendasar yang harus dilakukan adalah pengaturan uang yang termasuk di dalamnya adalah cashflow (paling tidak untuk 6 bulan ke depan), dana darurat, utang (bila ada), dan tabungan.

Tingkatan kedua adalah proteksi. Ia menyarankan, apabila masih belum menikah utamakan terlebih dahulu pada asuransi kesehatan dan penyakit kritis. Sementara itu bagi yang sudah berkeluarga wajib punya asuransi jiwa.

Melihat tren masyarakat yang mulai beralih untuk menekuni passion sebagai pekerjaan berpenghasilan, FWD Insurance ingin tetap mewujudkan keinginan orang-orang ini untuk tetap menekuni minatnya namun terlindungi dari ketidakpastian. Salah satu kampanye yang dimiliki FWD untuk mengajak orang-orang untuk tetap menekuni passion tetapi terlindungi dari ketidakpastian adalah #ProteksiOn.

Kampanye #ProteksiOn ini juga diluncurkan dalam rangka hari jadi ke-29 FWD. Kampanye ini mengajak masyarakat Indonesia untuk mengaktifkan perlindungan asuransi mereka dengan FWD Insurance, sehingga mereka dapat menjalani hidup penuh dengan passion yang selalu On, karena memahami bahwa FWD Insurance hadir mendukung mereka.

Menurut Ade Bungsu, Chief Sharia & Product Proposition FWD Life menjelaskan ada banyak produk asuransi yang tersedia di FWD Insurance. Nasabah hanya tinggal memilih sesuai kebutuhan dan bisa meng-apply secara online.

Kampanye #ProteksiOn ini juga meluncurkan kampanye undian berhadiah yang bertajuk #ProteksiOn Lucky Draw. Melalui program tersebut, nasabah berkesempatan untuk memenangkan berbagai hadiah seperti paket liburan ke Bali, sepeda eksklusif (Brompton) hingga mobil Toyota Raize dengan membeli salah satu atau lebih dari 9 (sembilan) produk asuransi proteksi dari FWD Insurance yang khusus ditawarkan. Nantinya nasabah akan mendapatkan 1 hingga 2 nomor undian per Rp 100.000 (seratus ribu Rupiah) premi/kontribusi yang dibayarkan (berlaku kelipatan), selama periode kegiatan 26 Juli – 31 Desember 2021.

Soal kredibilitas, FWD Insurance sudah nggak perlu diragukan lagi kredibilitasnya. Apalagi asuransi ini bukan cuma menyasar mereka yang sudah menikah atau berumur, tetapi juga mendukung kaum muda dan mereka yang berniat menekuni passion-nya. Selain itu, FWD Insurance juga jadi asuransi yang sudah goes digital dengan berbagai inovasi yang dimiliki, salah satunya adalah aplikasi FWD Max.

Ini sejalan dengan apa yang dikatakan Direktur Utama FWD Insurance Anantharaman Sridharan. Menurutnya, Memulai perjalanan menuju 30 tahun melindungi Indonesia, FWD Insurance menegaskan kembali komitmen mereka untuk mengubah cara pandang masyarakat tentang asuransi dengan menjadikan asuransi lebih mudah
dipahami, mudah dibeli, dan mudah dalam klaim.

Rangkaian penawaran proteksi yang FWD Insurance miliki ini juga menunjukkan prioritas mereka yang selalu mengutamakan nasabah dalam segala hal. FWD Insurance berharap kampanye #ProteksiOn Lucky Draw ini dapat menginspirasi masyarakat untuk semakin sadar pentingnya asuransi, meningkatkan tingkat literasi keuangan mereka
sehingga lebih banyak lagi orang dapat terlindungi.

So, sudah berani untuk menekuni passion-mu? Pastikan dirimu selalu terlindungi, ya!

 

 

 

6 Comments
Previous Post
Next Post
Sweet & Sour, Realita Kisah Cinta Kaum Muda di Kota
Rekomendasi

Sweet & Sour, Realita Kisah Cinta Kaum Muda di Kota