Menumbuhkan dan Memelihara Self Love di Masa Pandemi

Menumbuhkan dan Memelihara Self Love di Masa Pandemi

Tumbuh besar dan dididik oleh orang tua yang keras dan selalu mengharuskan saya jadi nomer satu bikin saya menjelma jadi orang yang perfeksionis. Jalan hidup yang on the track, sesuai dengan rencana-rencana hidup yang disusun, bikin saya jadi orang yang kaku dan mudah patah apabila bertemu dengan situasi yang di luar dugaan.

Dan saat pandemi melanda, si perfeksionis idealis ini jadi kehilangan arah.

Ada masanya saya stres banget karena apa-apa yang sudah saya rencanakan gagal dan di luar dugaan. Ada kalanya saya patah dan merasa jadi ibu yang gagal saat kesalahan serta kegagalan kecil melanda. Saking stres dan tertekannya, saya bahkan jadi sering sakit-sakitan.

Baca Juga:   #CeritaCorona: Berdamai dengan #DiRumahAja

Beruntung, saya punya support system yang baik. Lebih tepatnya sih, saya mencari support system yang bisa membantu saya. Saya punya komunitas dan teman-teman yang mulai aware dengan mental health issue. Saya punya sahabat-sahabat yang tidak ‘asing’ dengan psikolog atau psikiater. Dan ketika lelah sekali dengan semua keadaan, saya pun nggak ragu meminta pertolongan professional buat memulihkan kembali jiwa saya.

Saya yakin, bukan cuma saya yang luluh lantak jiwa dan mentalnya menghadapi pandemi ini. Ada buanyak ibu, perempuan, bahkan orang tanpa mengenal gender yang tersiksa mentalnya karena pandemi. Itulah kenapa ketika di detik ini saya bisa menulis artikel ini dan kalian bisa membaca tulisan saya, berarti kita sudah mampu bertahan sejauh ini, sekuat ini.

Kadang memang kita kejam sama diri sendiri. Tapi pandemi kali ini bikin saya belajar kalau yang bisa menyelamatkan saya ya diri saya sendiri.

Belajar Menumbuhkan dan Memelihara Self Love

Bicara self love adalah bicara soal perjalanan.

Jennyfer, M. Psi, seorang psikolog yang mengisi sesi bincang-bincang di Virtual Bloggers Gathering bersama FWD Insurance menyatakan ada 3 hal yang bisa menumbuhkan self love kita, yaitu:

  • Self forgiveness
    Hubungannya dengan belajar memaafkan diri sendiri. Segala masa lalu kita baik itu yang buruk, baik, berhubungan, atau tidak dengan orang lain harus dimaafkan. Karena jika kita tidak bisa memaafkan diri sendiri, bagaimana kita bisa berdamai dengan diri kita? Nggak mungkin kan kita menumbuhkan kecintaan pada diri sendiri tapi justru menganggap diri sendiri sebagai musuh.
  • Self Compassion
    Kita harus punya kasih sayang untuk bisa mencintai diri sendiri. Masa iya, kita mencoba baik sama orang lain bahkan kadang sampai terjerumus jadi people pleaser tapi kejam pada diri sendiri. Nggak mungkin juga kan bisa tumbuh self love kalau kita terus-menerus kejam sama diri sendiri?
  • Self Actualization
    Kita mulai aware dengan segala hal yang terjadi dalam diri kita. Hal ini bisa dimulai dengan mengubah pola pikir, tujuan, atau passion kita apa. Self actualization ini adalah tahapan belajar mengenal diri sendiri.

Ketika self love sudah mulai tumbuh, ia juga harus dipelihara. Bagian pemeliharaan ini, kata Mbak Jen, adalah bagian yang juga gampang-gampang susah. Apalagi di masa kini di mana kita sangat terpapar dengan social media.

Ada beberapa poin yang bisa dipraktikin buat memelihara self love, antara lain:

  1. Forgive Your Self, belajar buat memaafkan diri sendiri agar kita bisa menyayangi diri kita.
  2. Know Your Self, belajar untuk mengetahui diri sendiri, apa yang dimaui diri kita, dan tidak menjadikan diri kita sebagai stranger atau sesuatu yang asing. Bagaimana kamu memandang dirimu, seperti itulah kamu pikirkan dia. Oleh sebab itu, pandang diri kita secara netral agar perlakuan kita kepada diri sendiri pun baik.
  3. Good Self Care, perhatikan diri kita secara fisik. Kebiasaan apa saja yang bisa menjadikan fisik kita nyaman, sebagai contoh: pampering ourself, istirahat cukup, nonton sesuatu yang menyenangkan, atau me time. Seimbangkan kegiatan fisik dan psikis agar tidak terlalu lelah.
  4. Change Your Self Talk, bicaralah dengan diri kita sendiri. Bicaralah pada diri kita dengan posisi netral. Dengarkanlah sisi positif dan negatif diri, cerna dengan kepala dingin sebelum memutuskan mana yang menjadi dirimu. Dengan begitu, kita bisa melihat diri kita dengan sudut pandang yang lebih bijak khususnya saat terpuruk.
  5. Stop Comparing, berhentilah untuk terus membandingkan diri kita dengan orang lain karena itu semua tidak akan ada habisnya dan justru membuat lelah. Kalau mau membandingkan, bandingkanlah dengan diri sendiri. Bandingkan diri kita yang sekarang dengan diri kita yang dulu. Sudah berapa hal yang bisa dilakukan dan apresiasi itu.
  6. Set Boundaries, atur batasan bukan hanya dengan orang lain tetapi juga dengan diri sendiri. Apalagi kalau kita berada di lingkungan yang toxic. Hidup kita adalah untuk diri kita, bukan untuk orang lain. Pertanyaannya, apakah worth it kita mengorbankan diri kita hanya untuk orang lain?
  7. Practice Mindfulness dengan cara berpikirlah untuk saat ini. Ini juga jadi salah satu cara untuk menghindari kita jadi orang yang overthinking yang malah bisa bikin kita stres sendiri. Sedangkan berpikir mindfulness juga bisa dipraktikin dengan cara duduk tenang dan tarik napas dalam berulang kali selama minimal 5 menit serta fokus pada diri sendiri agar bisa menjadi tenang.
  8. Power of Mind yaitu kekuatan pikiran berdasarkan dari apa yang kita pikir. Oleh karena itu, pikirkanlah hal yang baik-baik dan berhenti untuk menyalahkan diri sendiri karena pada hakikatnya kita tidak bisa mengontrol orang lain, yang bisa kita kontrol ya diri dan pikiran kita sendiri.

So, kalian udah sampai tahap mana belajar mencintai diri sendiri? Yuk, kalau yang belum kita mulai dari sekarang. Belum terlambat kok untuk menjadi baik dari diri sendiri.

Asuransi sebagai Salah Satu Bentuk Self Love

Memiliki asuransi menurut saya merupakan salah satu upaya kita untuk memelihara kecintaan terhadap diri. Asuransi merupakan salah satu bentuk self care yang bukan hanya memberikan perlindungan buat diri sendiri tetapi juga pada orang lain khususnya keluarga.

Baca Juga:   Kemudahan Memproteksi Diri dari Penyakit di Masa Pandemi

Widaningrum Jusuf, Head of Marketing & New Bussiness Model FWD Insurance menyatakan sebagai seorang perempuan  yang memiliki multiperan dalam pandemi kali ini penting sekali untuk memberikan self reward berupa proteksi diri.

Perlindungan diri yang dibutuhkan kita saat ini sebagai perempuan bisa dalam bentuk asuransi kesehatan. FWD Insurance sendiri punya berbagai produk yang bisa mendukung proteksi diri perempuan. Salah satunya adalah asuransi kesehatan dengan produknya adalah Asuransi Bebas Handal yang berbasis syariah. Seluruh produk-produk FWD Insurance ini juga bisa didapatkan melalui aplikasi FWD Max atau www.ifwd.co.id.

Selain itu, di usianya yang baru mencapai 29 tahun bulan kemarin, FWD juga meluncurkan kampanye #ProteksiOn. Melalui program tersebut, nasabah berkesempatan untuk memenangkan lucky draw dengan berbagai hadiah seperti pelatihan bersama Dee Lestari, paket liburan ke Bali, sepeda eksklusif (Brompton) hingga mobil Toyota Raize dengan membeli salah satu atau lebih dari 9 (sembilan) produk asuransi proteksi dari FWD Insurance yang khusus ditawarkan. Nantinya nasabah akan mendapatkan 1 hingga 2 nomor undian per Rp 100.000 (seratus ribu Rupiah) premi/kontribusi yang dibayarkan (berlaku kelipatan), selama periode kegiatan 26 Juli – 31 Desember 2021.

Untuk ikut kampanye ini caranya juga gampang sekali:

  1. Nasabah hanya perlu membeli 1 produk proteksi yang masuk dalam produk #ProteksiOn
  2. Dapatkan nomer undiannya
  3. Tunggu jadwal pengundian dan menangkan hadiahnya

Untuk info lengkap soal kampanye #ProteksiOn ini, kalian bisa lihat di https://www.fwd.co.id/proteksion/.

 

2 Comments
Previous Post
Next Post
Sweet & Sour, Realita Kisah Cinta Kaum Muda di Kota
Rekomendasi

Sweet & Sour, Realita Kisah Cinta Kaum Muda di Kota