#CeritaIbu: ‘Bala Bantuan’ Kala Pekerjaan Domestik Terasa Melelahkan

#CeritaIbu: ‘Bala Bantuan’ Kala Pekerjaan Domestik Terasa Melelahkan

Buat saya, jadi seseorang yang perfeksionis itu menyenangkan. Ada semacam kepuasan tersendiri kala mengerjakan semuanya sendiri dan mendapatkan hasil yang diinginkan, termasuk dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Itulah kenapa, dari dulu saya selalu menerapkan di otak saya sebagai seorang Wonder Woman di rumah. Saya bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga dari depan sampai belakang semuanya. Tapi semua berubah kala saya punya anak.

Punya anak, bikin hidup 180 derajat berbeda. Tenaga jadi terbagi dua, fokus perhatian juga terbagi dua untuk anak dan rumah. Segini saya sudah nggak kerja kantoran lho dan menomersekiankan pekerjaan saya sebagai freelancer. Fokus pertama saya adalah anak karena dia masih kecil dan butuh perhatian ekstra, fokus selanjutnya adalah suami dan rumah.

Tapi ternyata mengurus anak itu lelahnya banget-banget. Apalagi buat saya seorang perantau yang nggak dibantu sama helper. Ditambah lagi anak yang sedang aktif-aktifnya, meleng sedikit bisa saja ada adegan berbahaya. Itu sebabnya, urusan rumah kadang keteteran karena waktu dan tenaga saya sudah terkuras habis. Kadang saya minta tolong suami dan adik buat membantu beres-beres rumah, tapi ya nggak selalu bisa diandalkan karena mereka juga punya kegiatan dan pekerjaan sendiri.

Semua perempuan, semua istri, semua ibu, punya jadwal kesibukannya masing-masing di rumah. Ada saja yang harus dilakukan. Taruhlah saya, dengan sudut pandang saya sebagai ibu rumah tangga. Semua kegiatan rumah sudah dimulai seusai menunaikan sholat subuh. Setelah itu, saya nggak bisa tidur lagi, ada aja hal yang harus dilakukan. Yang paling pertama adalah memasak nasi buat makan Aqsa. Setelah itu pekerjaan bersambung di dapur, dari memasak, cuci piring, serta beres-beres lainnya.

Ini baru area dapur lho, belum kamar, lalu kamar mandi, lalu ruang tamu, belum lagi kalau Aqsa berantakin mainannya. Pekerjaan rumah seolah jadi ‘never ending task’ alias tiada henti setiap harinya. Kalau sudah begini, nggak usah mikir jauh-jauh buat me time, selonjoran saja susah. Kalau sudah kayak gini juga, saya jadi ingat sama ibu saya (dan juga ibu-ibu yang lain) yang melakukan semuanya seakan tiada hari libur untuk mereka.

Baca Juga:   #CeritaIbu: 6 Kegiatan Me Time Sederhana Rasa Mewah untuk Ibu Baru

Dengan padatnya kegiatan domestik, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga seakan nggak mempunyai ruang kebebasan untuk bereksplorasi dalam mengembangkan diri. Nggak heran kalau para ibu rumah tangga banyak yang mempekerjakan para pembantu rumah tangga untuk mengurusi beragam keperluan membereskan rumah. Selain itu, memiliki helper di rumah juga membantu para ibu tetap ‘waras’ karena semua beban pekerjaan akhirnya tidak ditanggung sendiri. Namun mempekerjakan pembantu rumah tangga bukannya tanpa masalah. Pilih-pilih ART yang cocok dan betah itu justru jadi masalah bukan cuma ibu-ibu zaman now. Dari ibu saya baru melahirkan adik saya saja, drama ART ini udah muncul.

Masalah muncul pertama jika keuangan yang dimiliki oleh keluarga tersebut terbatas. Mungkin kalau setara selebritis, kita bisa mempekerjakan ART dengan gaji besar asal mereka loyal. Tapi gaji besar pun kadang juga bukan solusi. Toh banyak juga ART yang terkadang bermasalah dalam hal perilaku. Hal ini secara nggak langsung membuat sang pemilik rumah kerap was-was mempekerjakan mereka dan meninggalkan mereka saat bekerja di rumah.

Trus ada pilihan lainnya selain ART? Ada banget, kalau mau ya dikerjain sendiri semuanya. Caranya bersihkan rumah saat hari libur. Tapi ya tetap aja capek, bok! Hari libur itu pengennya bangun siang, golar-goler, rebah-rebah, tapi kok ini malah disuruh bersih-bersih rumah? Padahal 5 hari sebelumnya juga sudah capek dengan pekerjaan. Big no no!! Belum lagi, dengan mengurangi waktu istirahat untuk membersihkan rumah, masalah lain pun bisa muncul yaitu
badan yang pegal-pegal dan nyeri.

Baca Juga:   'Me Time' Favorit ala Ibu Rumah Tangga

Untungnya, di era ekonomi digital saat ini apa-apa serba dimudahkan. Layanan aplikasi jasa On-Demand pun marak bermunculan. Masing-masing dari mereka menawarkan solusi nggak cuma buat ibu rumah tangga tetapi juga perempuan bekerja yang kerap tidak sempat mengurusi kebersihan rumah mereka. Salah satu jasa service on demand itu adalah Halo Jasa.

Halo Jasa memiliki empat layanan utama yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini khususnya kaum urban yang sibuk. Salah satunya adalah Halo Clean yaitu layanan pembersih rumah tangga mencakup kost, apartemen, rumah, hingga ruang kantor. Mudahnya, Halo Clean adalah jasa cleaning service untuk rumah yang bisa dipanggil sewaktu-waktu. Harga layanan yang diberikan Halo Jasa sangat sepadan dengan layanan diberikan. Pelayanan yang diberikan antara lain berupa membersihkan dapur, kamar mandi, kamar tidur, hingga balkon.

Mengapa Halo Clean bisa dicoba untuk membantu pekerjaan rumah:

  • Halo Clean memiliki fleksibilitas waktu layanan yaitu layanan dan waktu kerja bisa disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Bisa pesan hari ini yang sama atau pemakaian esokan harinya.
  • Halo Clean memberikan harga berdasarkan kebutuhan dan terjangkau sehingga konsumen dapat mengemat anggaran dengan memilih item layanan kebersihan sesuai dengan apa yang dibutuhkan.
  • Vendor Halo Clean selektif dan terverifikasi. Mereka memiliki ethos kerja jujur dan profesional dalam bekerja untuk memberikan pengalaman terbaik untuk konsumen.
  • Vendor Halo Clean memiliki sertifikasi dan mengikuti program pelatihan dengan dibekali standarisasi peralatan kerja modern dan produk kebersihan ramah lingkungan

So, dengan hadirnya jasa layanan On-demand seperti Halo Clean yang terdapat di Halo Jasa, segala permasalahan kebersihan dan kerapihan rumah dapat teratasi. Ibu, istri, dan perempuan bisa melakukan hal-hal produktif lain atau me time tanpa perlu merasa bersalah karena memikirkan masalah kebersihan rumahnya. Selain memberikan solusi pada masalah kerempongan urusan domestik, dengan memesan layanan jasa On-Demand para ibu rumah tangga secara tidak langsung turut membantu para pekerja informal untuk dapat meningkatkan taraf perekonomian mereka.

 

1 Comment
Previous Post
Next Post