Kampoeng Etnik Kebumen, Wisata Kekinian di Tengah Perumahan

Kampoeng Etnik Kebumen, Wisata Kekinian di Tengah Perumahan

Saat pulang kampung, selain menyempatkan explore ke Purworejo saya juga menyempatkan diri buat mampir-mampir ke tetangga kabupatennya yaitu Kebumen. Dibandingkan Purworejo, Kebumen sudah maju satu langkah khususnya di bidang pariwisatanya. Nggak heran kalau di kabupaten ini ditemukan banyak tempat wisata yang sudah benar-benar terkelola dengan baik, baik itu wisata alam maupun buatannya.

Baca Juga:   Romansa Purworejo Expo 2019, Pameran Kok Sebentar Banget?

Salah satu tempat yang saya kunjungi di Kebumen saat pulkam kemarin adalah Kampoeng Etnik. Alasannya sih sepele sampai akhirnya kami (saya dan keluarga suami) memutuskan ke Kampoeng Etnik, karena ibu mertua saya punya kupon tiketnya yang beberapa waktu lalu beliau beli dari marketingnya saat sebelum Kampoeng Etnik benar-benar dibuka. Yup, jadi si marketing Kampoeng Etnik ini emang jemput bola banget jual tiket bundling ke berbagai sekolah. Salah satunya ya di SD dimana ibu mertua saya mengajar.

Selain itu, Kampoeng Etnik ini tempatnya mudah ditemukan. Dari Kutoarjo, saya hanya menempuh jarak sekitar 1 jam menggunakan mobil. Letak Kampoeng Etnik adalah di Legok, RT 01/06, Desa/Kecamatan Pejagoan, Kebumen. Jaraknya nggak jauh dari Pojok Selatan Alun-Alun Kebumen. Tempatnya memang rada nyempil, di dalam sebuah perumahan atau permukiman di Jalan Pejagoan. Pas pertama masuk ke arah yang ditunjuk di peta, saya sempat skeptis, apa iya ada tempat wisata di dalam perumahan gini? Dan ternyata memang ada.

Baca Juga:   ´Hidden Gems´ Kuliner Kutoarjo

Kami harus parkir di lahan parkir dadakan di depan tempat pembuatan genting. Hari itu Hari Minggu jadi Kampoeng Etnik lumayan ramai oleh para wisatawan keluarga kayak saya dan keluarga ini. Sebenarnya di halaman depan Kampoeng Etnik sendiri sudah disediakan lahan parkir, cuma kayaknya memang nggak muat untuk banyak mobil.

Begitu sampai di depan pintu masuk Kampoeng Etnik, saya disambut dengan lampion yang digantung di atas lahan parkir mobil. Bahkan sebelum masuk saja, saya sudah bisa lihat kayak apa konsep Kampoeng Etnik ini. Yep, wisata kekinian yang bertema dan menampilkan banyak sudut-sudut instagramable. Mirip-mirip sama De Voyage Bogor dan Chinatown Bandung yang pernah saya kunjungi juga sebelumnya. Tapi kali ini mengusung konsep yang lebih nJawani dan lebih variatif pada arena yang ada di dalamnya. Dan yang pasti, tiketnya lebih murce alias murah.

Baca Juga:   China Town Bandung, Wisata Kekinian bagi Penyuka Keindahan Feed Instagram

Nih saya kasih tahu harga tiket Kampoeng Etnik beserta paketannya (per November 2019):

  • Terusan 1 Rp10.000 – tiket masuk, aquarium air tawar dan laut, terapi ikan, arena main anak (kid-fun) dan sepeda-an, spot selfie barang-barang jadul dan bungalow, main sepeda air dan main canno perahu, wisata masjid Ka’bah di atas kolam
  • Terusan 2 Rp 20.000 – tiket masuk, aquarium air tawar dan laut, terapi ikan, arena main anak (kid-fun) dan sepeda-an, spot selfie barang-barang jadul dan bungalow, main sepeda air dan main canno perahu, wisata masjid Ka’bah di atas kolam, wisata manuk kewan (bird animal dome), outbond rambatan/jembatan layang/gantung, gratis souvenir Kampoeng Etnik
  • Terusan 3 Rp25.000 – iket masuk, aquarium air tawar dan laut, terapi ikan, arena main anak (kid-fun) dan sepeda-an, spot selfie barang-barang jadul dan bungalow, main sepeda air dan main canno perahu, wisata masjid Ka’bah di atas kolam, wisata manuk kewan, outbond, waterpark, kolam renang, flying foox/sepeda gantung, gratis souvenir Kampoeng Etnik

Sementara itu jika tidak masuk paket, penambahan wahana dihitung per orang dengan harga (per November 2019):

  • Rp8.000 – sewa baju adat untuk foto sepuasnya, wisata manuk kewan, outbond rambatan, jembatan layang, jembatan gantung, flying fox, sepeda gantung
  • Rp15.000 – waterpark dan kolam renang
  • Rp10.000 – mangan 10 ewu sewarege (makan 10ribu sepuasnya) atau bakso pedas nyrengangass (jam 11.00-17.00)

Selain arena permainan, Kampoeng Etnik juga menyediakan bungalow-bungalow yang bisa disewakan kepada tamu.  Untuk diketahui, apabila tamu yang menginap sudah otomatis mendapatkan gratis fasilitas dari paket 1 atau 2. Adapun fasilitas dari bungalow, antara lain: AC, air panas, wifi, LCD TV, kamar mandi di dalam, dan gratis wisata etnik. Ada beberapa bungalow yang berbeda tipe yang bisa dijadikan pilihan:

  • Asem – Rp 300.000 (Senin-Jumat) atau 325.000 (Sabtu dan hari libur)
  • Brambang – Rp 275.000 (Senin-Jumat) atau 300.000 (Sabtu dan hari libur)
  • Cimplukan – Rp250.000 (Senin-Jumat) atau 275.000 (Sabtu dan hari libur)

Banyak spot yang memanjakan pengunjung khususnya yang menyukai selfie atau foto-foto dengan bertema sesuatu yang etnik di sini. Dimulai dari setelah gerbang masuk saja, ada saung-saung, kursi tinggi yang mirip bar stool dengan backdrop tertentu, hingga kereta kuda (dokar) bekas. Sampai sini saja sudah banyak spot favoritnya. Jangan tanya kalau pas liburan atau Hari Minggu tiba karena untuk berfoto di spot-spot ini saja lumayan mengantre.

Baca Juga:   Mendadak Pelesiran ke de Voyage Bogor

Masuk ke area lebih dalam lagi, di sisi kanan ada area bungalow. Sementara di sebelah kiri ada outlet penyewaan baju tradisional, toko oleh-oleh, dan sebuah bangunan yang dijadikan aquarium air tawar dan laut. Hal yang pertama kali menarik perhatian saya adalah penyewaan baju adat. Saya pengen foto sama suami dan Aqsa pakai baju itu dengan tema ala-ala petani. Akhirnya kesampaian juga setelah mbak-mbaknya ngubek baju adat seukuran Aqsa. Padahal tadinya baju seukuran Aqsa katanya nggak ada dan saya udah pasrah aja Aqsa pakai bajunya dia walaupun nggak matching. Untungnya pas detik-detik terakhir ternyata ada walaupun itu kain bagian bawahnya adalah rok cewek, hahaha.

Setelah pakai baju dan nenteng berbagai properti buat foto kayak caping, akhirnya kita foto di depan sebuah rumah atau ruangan yang beraksen Jawa. Beginilah jadinya.

Selesai foto-foto pakai baju adat yang ternyata panas banget karena siang terik (FYI, di sini tempatnya agak gersang karena minim pepohonan) dan didobel sama baju yang dipakai, kami pun lanjut ke tujuan berikutnya yaitu aquarium air tawar dan laut. Masuk ke bangunan yang di dalamnya terdapat berbagai aquarium  (yang mana sandalnya harus dicopot terlebih dahulu) membuat Aqsa yang sudah agak bosan dan rewel ini jadi senang. Dia bisa melihat aneka macam ikan dari ikan discuss, hiu, lele albino, sampai terubu karang. Selain aquarium, di dalam bangunan ini juga terdapat barang-barang bekas nan antik seperti mesin ketik hingga motor jadul.

Puas melihat aquarium dan barang-barang antik, kami keluar bangunan. Tadinya Aqsa pengen main di waterparknya, sumpah mukanya udah mupeng banget lihat kolam renang. Tapi sayang, waktu itu waterpark-nya ramai banget, suasananya panas terik, dan ternyata nggak ada kolam dangkal buat anak-anak seusia Aqsa. Jadilah kami hanya lihat-lihat orang berenang yang kesiram-siram ember raksasa karena ada wahana ini di waterpark-nya.

Selain itu, Aqsa juga senang banget lihat berbagai macam binatang seperti ayam atau burung yang ada di sana. Di flyer sekaligus tiket yang kami pegang sebenarnya ada tulisan mini zoo tapi entah kenapa saya nggak nemu mini zoo-nya. Binatang-binatang yang ditemui cuma ayam, ikan-ikan, dan burung. Entah saya yang nggak nemu atau memang mini zoo ini belum tersedia karena sebenarnya Kampoeng Etnik ini terhitung tempat wisata baru. Umurnya saja baru beberapa bulan karena baru dibuka September 2019 lalu.

Buat yang suka tantangan, di sini ada beberapa permainan yang bisa dicoba. Dari flying fox hingga naik bersepeda di atas tali di atas perairan. Buat yang pengen lebih santai, main bebek-bebekan berdua dengan pasangan atau keluarga nampaknya bisa jadi pilihan. Atau yang mau lebih lebih lebih santai lagi, bisa coba terapi ikan di dekat waterpark-nya, foto di bus kekinian yang memang dipajang sebagai spot narsis, atau mengagumi keindahan masjid terapung di atas air yang dibangun mirip dengan Ka’bah.

Selain bisa mengeksplor banyak hal, kita juga nggak khawatir kelaparan saat rekreasi di Kampoeng Etnik. Pasalnya, ada banyak penjual makanan dengan berbagai macam kuliner yang ditawarkan. Dari makanan berat macam nasi, lotek, cemilan seperti telur gulung atau cimol, hingga kudapan seperti es krim. Di tempat ini disediakan juga tempat makannya dengan konsep lesehan. Namun, bagi yang suka piknik dengan gaya ‘botram’ atau gelar tikar dengan bawa makanan sendiri jangan harap bisa dilakukan di sini. Soalnya, nggak ada tempat atau lahan kosong nan teduh buat ngebotram. Lebih baik cari tempat lain aja atau nggak usah bekal alias jajan on the spot aja karena makanannya pun nggak begitu mahal untuk saya yang biasanya menyamakan dengan standar harga Jakarta.

Jadi, yang mau wisata di perkotaan dengan suasana baru, Kampoeng Etnik ini bisa jadi pilihan. Lokasinya nggak terlalu besar, di pusat kota, dan mengakomodasi wisatawan lokal zaman now dengan berbagai arena kekinian.

Selamat liburan!!

 

 

0 Comments
Previous Post