#CeritaIbu: Salah Kaprah Soal MPASI

#CeritaIbu: Salah Kaprah Soal MPASI

Setelah jadi ibu, salah satu panutan saya buat masalah anak-anak adalah social media. Buat saya dulu, kalau udah berkiblat sama social media tuh kayaknya keren aja dan seakan udah menerapkan gaya parenting modern serta populer. Tapi ternyata social media nggak semuanya benar, bahkan dari akun-akun berpengikut banyak hingga ratusan ribu sekalipun.

Salah satu yang saya ikuti dulu dari social media adalah soal makan anak. Sejak sebelum MPASI bahkan, saya sudah searching banyak di social media. Tapi ya lagi-lagi, yang di-search hanya soal menu makanannya. Saya bahkan nggak browsing soal feeding rule atau tetek bengeknya yang lain dari sumber yang sahih atau dari akun-akun dokter langsung. Akibatnya, saya jadi terjebak dalam euforia ibu-ibu populer soal MPASI ini tapi nol besar soal pemahaman dasarnya.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Happy Menapaki Tahapan MPASI bersama Nuby

Fokus saya cuma berkutat di menu, menu, dan menu hingga akhirnya saya dihadapkan pada masalah besar yaitu GTM alias gerakan tutup mulut yang imbasnya adalah seretnya kenaikan berat badan anak. Bahkan, sampai sekarang pun saya masih mengalaminya. Kalau boleh memutar waktu, mungkin saya pengen menata ulang pemahaman saya soal MPASI ini biar nggak terjebak sama yang namanya GTM atau BB seret naiknya.

Ini dia beberapa salah kaprah yang sempat saya alami sewaktu memberikan MPASI dulu. Perlahan, kesalahan-kesalahan ini sedang diperbaiki untuk menuju pola makan Aqsa yang baik dan kenaikan BB yang signifikan.

1. MPASI harus pakai bahan-bahan mahal dan organik

Sering lihat foto-foto makanan bayi di akun khusus MPASI yang waahh banget apalagi biasanya disertai dengan keterangan langsung di gambarnya. Unsalted butter merk tertentu, keju block khusus anak, atau EVOO yang memang merknya sudah terkenal sering nampang di dalamnya. Belum lagi biasanya dikasih keterangan berasnya beras organik atau ayamnya harus ayam kampung membuat makanan MPASI kayaknya harus superspesial terbuat dari bahan-bahan mahal.

Padahal ternyata nggak.

Sebagai pengikut garis keras dr Meta Hanindita, SpA (K), spesialis anak konsultan nutrisi yang memang sering banget membagikan ilmu soal MPASI, ternyata MPASI hakikatnya bukanlah menggunakan bahan-bahan mahal. MPASI justru membiasakan anak makan dengan makanan rumahan atau bahan makanan yang ada di rumah. Jadi nggak usah sampai ngoyo beli-beli bahan makanan di toko khusus MPASI hingga ratusan ribu atau jutaan. Cukup manfaatkan apa yang ada di rumah.

Sejak itu, saya biasakan makan dengan nasi yang biasa saya masak buat makan keluarga. Untuk lauk dan sayur juga saya pakai lauk dan sayur yang saya beli di tukang sayur dekat rumah dan bukan organik. Ayam pun ayam broiler biasa. Begitu juga dengan lemak tambahan. Setelah stok EVOO terakhir habis, saya pakai saja minyak goreng baru, margarin, atau keju cheddar yang ada di rumah. Murah dan praktis!

2. MPASI harus pakai superfood

Chiaseed, nutritional yeast, beras merah, atau multigrain masuk dalam bahan-bahan makanan yang bagus untuk dikonsumsi karena dikategorikan dalam superfood. Makanan-makanan ini pula yang dulu sering saya belikan buat campuran MPASI Aqsa. Oke, superfood itu memang bagus dan banyak manfaatnya, tapi untuk siapa? Ya untuk orang dewasa.

dulu chia seed selalu masuk dalam menu makan

Lagi-lagi karena jadi follower garis keras dr Meta Hanindita saya jadi tahu kalau superfood bukan untuk bayi karena bayi bukan orang dewasa berukuran mini. Superfood yang konon banyak seratnya itu justru bisa menghambat kenaikan BB anak. Sementara itu, anak-anak khususnya di bawah usia 2 tahun punya target kenaikan BB tiap periodenya.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Serba-Serbi Menjaga Berat Badan Anak Tetap Stabil

Penggunaan superfood di dalam MPASI ini saya lakukan salah satunya karena ‘kemakan’ social media. Banyak akun-akun MPASI atau bahkan akun selebriti atau selebgram yang memberi makan anaknya saat MPASI menggunakan superfood. Setelah kini tahu ternyata itu nggak benar, saya jadi menyesal banget. Mungkin itulah yang jadi penyebab salah satunya BB Aqsa seret naiknya kemarin-kemarin, mana mahal pulak superfood ini. Sekarang semua superfood ini sudah disingkirkan, yang bisa saya dan suami makan ya kami makan, selebihnya ada yang buat makanan hamster.

3. Saat MPASI harus makan banyak buah dan sayur biar gizinya tinggi

Buah dan sayur yang banyak serat dan dimakan dalam porsi yang banyak memang bagus dikonsumsi, tapi untuk orang dewasa. Anak-anak usia di bawah 2 tahun memang perlu makan buah dan sayur dalam makanan sehari-harinya namun sifatnya hanya untuk pengenalan. Bahkan dalam rekomendasi WHO, anak di bawah setahun saja cukup makan 1,5 sendok wortel per hari lho. Anak-anak nggak perlu serat yang terlalu banyak karena sistem tubuh dan metabolisme mereka masih bagus. Terlalu banyak serat bisa menghambat absorbsi mineral penting seperti: kalsium, zat besi, magnesium, zinc, dll.

Baca Juga:   Kenali Kebutuhan Sosial dan Nutrisi untuk Perempuan saat Hamil dan Menyusui

Kemarin-kemarin saya salah persepsi soal sayur dan buah ini. Yang ada Aqsa kami beri makan sayuran dan cemilan buah yang banyak sementara ibu dan bapaknya nggak. Kan kebalik! Padahal seharusnya anak-anak, apalagi yang sedang mengejar kenaikan BB seminimal mungkin makan buah dan sayur. Cemilan buah atau finger food sayuran justru seharusnya diganti makanan berkalori tinggi seperti mashed potato with cheese, lasagna, atau macaroni schootel. Jadi sekarang pun Aqsa ngemilnya roti atau biskuit saja yang kalorinya lebih banyak daripada sayur atau buah.

4. Beli bubur bayi yang dijual di pinggir jalan nggak apa-apa

Dulu saya termasuk ibu yang sering membeli bubur bayi ‘sehat’ yang ada di pinggir-pinggir jalan. Pasalnya, duluuuu banget saya pernah lihat ada seorang ibu yang berinisiatif membuat bubur bayi dengan kandungan nutrisi yang dibutuhkan dan dijual dengan cup plastik di pinggir-pinggir jalan. Sepupu saya pun dulu suka beli bubur bayi yang begini. Namun ternyata kebiasaan membeli bubur bayi di pinggir jalan ini nggak bagus alias salah.

Kita nggak pernah tahu bagaimana penjual menyimpan makanan. Kita nggak pernah tahu makanan yang dijajakan di pinggir jalan terpapar debu, kuman, virus, atau bakteri apa. Selain itu, makanan untuk anak-anak apalagi bayi di usia di bawah setahun penyimpanannya harus ekstraketat. Makanan untuk bayi hanya bisa bertahan di suhu ruangan maksimal 2 jam. Untuk lebih aman dan steril, makanan bayi direkomendasikan untuk ditaruh di lemari pendingin dengan suhu kurang dari 5 derajat celcius dan boleh dihangatkan dengan microwave apabila hendak dikonsumsi.

5.  MPASI instan itu ‘haram’

Ini masih ada hubungannya dengan poin di atas. Dulu saya sebelum punya anak juga memandang sinis dan sebelah mata ibu-ibu yang suka ngasih anak MPASI instan. Cap malas, nggak kreatif, nggak telaten, maunya yang gampang-gampang aja udah saya berikan buat ibu-ibu yang suka kasih MPASI instan. Dan stereotipe saya itu akhirnya runtuh setelah saya punya anak dan tahu sedikit ilmu tentang per-MPASI-an.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Ekspektasi dan Realita Menghadapi Fase Makan Anak

Kasih MPASI instan atau yang biasa disebut MPASI terfortifikasi alias pabrikan nggak dosa besar kok. Saya kadang memberikan anak saya MPASI pabrikan ini kalau pas bangun kesiangan atau Aqsa mulai bosan dengan MPASI homemade. MPASI pabrikan bahkan menurut saya jauh lebih baik daripada bubur bayi yang katanya ‘sehat’ yang dijual di pinggir jalan. Di MPASI pabrikan takaran nutrisi juga sudah tercantum jelas. Ini malah jadi keunggulan MPASI pabrikan karena kita sebagai orang tua bisa menghitung berapa nutrisi yang masuk. Sementara pada MPASI homemade, kita nggak tahu sama sekali takarannya karena biasanya berdasarkan feeling, asal cemplung, dan nggak tahu apakah dengan takaran segitu sudah cukup memenuhi kebutuhan nutrisi anak.

bubur bukan MPASI
Cream pasta untuk camilan
bubur bayi untuk MPASI

Namun, jangan sembarangan pilih MPASI pabrikan. Saya pernah kena zonk karena kecerobohan sendiri yang nggak pernah mengecek apakah produk ini benar-benar buat MPASI atau hanya direkomendasikan untuk cemilan. Biasanya di dalam kemasan sudah tertulis apakah produknya untuk MPASI, bukan MPASI, atau direkomendasikan untuk camilan. Pastikan juga produknya ada nomer BPOM, kemasan dalam kondisi baik, dan cek tanggal kadaluarsanya ya.

6. No gulgar saat MPASI takut kerja ginjalnya berat

Ada yang bilang, MPASI itu harusnya nggak usah pakai gula dan garam karena memperberat kerja ginjal anak. Makanya produk-produk yang sering disarankan untuk MPASI pasti nggak berasa kayak unsalted butter atau keju block yang rasanya nggak asin sama sekali. Saya bahkan sempat re-purchase produk-produk itu demi menjaga kesehatan ginjal anak, tapi ternyata salah kaprah. Pengen saya bilang, “asem ik! aku tertipu social media dan teknik marketing penjual produk MPASI bayi”.

Padahal ya, jauh-jauh hari DSA Aqsa saja bilang nggak apa-apa dikasih gula atau garam sedikit biar kaya rasa, toh kita nggak ngasih sesendok garam langsung disuapkan ke mulutnya. Tapi sayanya aja yang ndableg. Di instagram dr Apin juga bilang, salah satu ‘obat’ buat anak yang GTM ya kasih menu makanan yang enak. Anak juga pengen kayak kita, pengen makan yang rasanya enak bukan yang hambar. IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) pun memperbolehkan penggunaan gula dan garam ini untuk memperkaya khasanah rasa pada anak-anak.

Baca Juga:   #CeritaIbu: GTM, Drama Panjang Banyak Babak

Nah sejak tahu makanan anak juga boleh diberi campuran gula dan garam, sejak itu pula kalau saya masak untuk Aqsa ya harus enak sesuai selera lidah saya. Bahkan kadang dia makan makanan yang saya masak buat orang rumah juga kalau pas masaknya nggak pedas. Saya juga sudah nggak beli-beli UB lagi. Saya pakai aja keju dan margarin yang ada di rumah, rasanya malah tambah enak, gurih, dan Aqsa suka.

7. Hati-hati MSG kalau beli makan anak di luaran

Dulu saya strict banget sama makanan Aqsa kalau pas lagi jalan-jalan. Kalau jalan-jalan biasanya saya harus bawa bekal sendiri, makanan yang saya olah sendiri yang notabene bebas MSG. Saya takut Aqsa makan makanan yang mengandung micin di luaran. Takut jadi anak micin dan konon katanya kan micin bisa bikin jadi bodo dan memicu kanker. Tapi ternyata anggapan saya ada yang salah kaprah.

MSG boleh kok diberikan pada anak asal sesuai porsinya yaitu untuk menyedapkan. Kalau kebanyakan, rasa MSG konon malah jatuhnya jadi pahit di mulut. Bahkan di IGS dr Meta, MSG saja boleh dikasihkan ke anak asal takarannya sedikit karena di ASI-pun ada kandungan MSG-nya. Namun, untuk MSG saya memang nggak memberikan ke masakan Aqsa karena dari dulu saya sudah nggak pakai MSG. Hanya saja saya lebih longgar untuk memperbolehkan Aqsa makan di luaran atau makanan restoran yang notabene pasti dikasih penyedap rasa.

Jujur, saya akui saya dan suami sedikit telat belajar soal MPASI. Kami boleh bangga bisa lulus ASIX dengan minim drama, tapi untuk urusan MPASI kami sedikit telat belajar yang akhirnya menimbulkan banyak salah kaprah, tenggelam dalam drama makan berkepanjangan, hingga berakibat seretnya kenaikan BB Aqsa. Tapi kami berusaha memperbaikinya.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Tentang MengASIhi dan Dukungan di Baliknya

Sekarang, kami sebanyak mungkin membaca soal per-MPASI-an dari sumber yang terpercaya. Paling nggak, sekarang saya dan suami cari tahu dari instagram dokter-dokter yang memang sudah expert, bukan cuma dari portal berita parenting, selebgram, atau akun-akun MPASI. Kalau ditanya menyesal nggak dengan salah kaprah selama ini? Banget, dan andai bisa mengulang waktu saya pengen merevisi semua tindakan saya. Tapi kan nggak bisa. Yang bisa saya lakukan ya tinggalkan yang salah dan perbaiki ke depannya.

Semoga tulisan ini berguna buat semua orang tua yang akan mendampingi anaknya memasuki masa MPASI. Yuk, masuki masa MPASI dengan happy! Jangan malas membaca dan dapatkan semua sumbernya dari tangan yang terpercaya. Kalau yang mau tahu benda apa saja yang harus disiapkan jelang MPASI, bisa juga baca tulisanku di sini.

 

1 Comment
Previous Post
Next Post
Sweet & Sour, Realita Kisah Cinta Kaum Muda di Kota
Rekomendasi

Sweet & Sour, Realita Kisah Cinta Kaum Muda di Kota