#CeritaIbu: Melewati Ramadan dan Lebaran Sebelum dan Sesudah Ada Anak

#CeritaIbu: Melewati Ramadan dan Lebaran Sebelum dan Sesudah Ada Anak

Kalau ditanya Lebaran yang paling dinanti itu kapan, mungkin jawabannya adalah Lebaran tahun ini. Kenapa? Karena dari jauh-jauh hari sudah kelihatan akan berbeda. Ada personil baru yang sedang digandrungi banyak orang yaitu Aqsa. Bukan cuma Lebaran sih, bahkan Ramadan pun. Itulah kenapa saya cukup excited buat menjalani Ramadan dan Lebaran kali ini.

Namun ternyata melewatkan Ramadan dan Lebaran setelah ada anak itu kadang nggak seperti apa yang dibayangkan. Seperti biasa kalau buat saya pasti ada perbedaan antara ekspektasi dan kenyataan. Maklum aja, kadang sayanya juga berekspektasi yang terlalu tinggi saat menjalaninya. Makanya ada beberapa hal yang akhirnya harus saya legowo-kan setelah ada anak.

Baca Juga:   Hamil-Melahirkan-Menyusui, Antara Ekspektasi dan Realitas

Melewatkan Ramadan dan Lebaran dengan personil baru yang masih bayi itu ternyata lumayan seru. Kenapa seru? Ya karena ada hal-hal yang buat saya menantang dan berpacu dengan waktu. Walaupun kadang hal-hal yang seperti itu juga bikin capek. Tapi akhirnya toh diambil hikmahnya saja karena ini momen yang ditunggu-tunggu dan bisa saya serta suami capai di Lebaran ketujuh kami. So, ini dia perbedaan melewatkan Ramadan dan Lebaran sebelum dan setelah ada anak:

Rela Nggak Maksimal Mempersiapkan Hidangan Sahur dan Buka

Kalau mengalah karena kondisi kesehatan atau keadaan dan terpaksa harus nggak puasa Ramadan buat saya itu udah jadi hal yang lumayan biasa. Ramadan tahun 2014 dan 2015 lalu saya nggak puasa nyaris 1 bulan karena hamil pertama dan habis keguguran. Pun dengan Ramadan tahun 2018 lalu dimana saya nggak puasa sebulan full karena sedang hamil. Saya udah terbiasa banget yang akhirnya membuat saya menggantikan puasa dan membayarnya dengan fidyah.

Tapi toh di antara keadaan nggak bisa puasa itu saya masih bisa tarawih sesekali dan menyiapkan makanan buat sahur dan buka dengan maksimal. Makanan buka khususnya, saya masih bisa memasak 4-5 macam makanan dalam sehari yaitu takjil (kolak atau es), gorengan, sayur, lauk, dan nasi.

Baca Juga:   Pilah-Pilih Acara Buka Puasa Bersama di Bulan Ramadan

Nah, Ramadan kali ini berbeda. Saya blass nggak bisa tarawih di masjid karena Aqsa nggak bisa ditinggal dan nggak bisa dibawa plus dia sedang aktif-aktifnya mengeksplorasi lingkungannya. Itulah kenapa, saya juga jadi nggak maksimal buat masak. Akhirnya toh kembali ke prinsip ´semampunya aja´ daripada capek banget dan stress. Untuk memasak, 1 atau 2 menu mendingan beli. Biasanya sih takjil yang sudah pasti beli. Sementara lauk, kalau pas Aqsa bisa ditinggal ya saya masak yang simpel-simpel aja buat memastikan anggota keluarga makan masakan yang ´benar´ dan nggak melulu jajan di luar. Kalau nggak memungkinkan dan sempat ya beli aja. Praktis lah.

Berkejaran Juz dan Hari Membaca Al Quran

Walaupun tiap Ramadan cuma bisa khatam Al Quran 1 kali, tapi biasanya saya bisa menyelesaikannya di awal-awal hari ke-20 Ramadan. Kuncinya adalah baca Al Quran dengan durasi cukup lama setelah Subuh lalu baca 1 atau 2 lembar buat nyicil setelah tiap salat fardu. Tapi Ramadan kali ini beda. Saya harus berkejaran dengan waktu. Sempat memperkirakan sebelum mudik akan selesai, ternyata meleset. Sempat memperkirakan juga sebelum ´pindah´ mudik ke rumah suami saya akan selesai, eh meleset juga. Saya udah desperate nggak bakalan selesai, akhirnya alhamdulillah selesai juga meski di detik-detik terakhir Ramadan.

Baca Juga:   Mudik

Lha gimana lagi, perkara curi-curi waktu buat baca Quran ini susah banget jadinya. Saya tadinya udah berharap akan menghabiskan banyak waktu buat baca Al Quran pas sahur dan waktu subuh, eh ternyata Aqsa bangun donk hampir tiap sahur. Strategi lain adalah baca Quran dibanyakin lembarannya setelah salat fardu, eh salat fardu dengan khusyuk aja saya jadi ragu karena kadang pas di tengah-tengah salat Aqsa bangun (saya biasanya salat pas dia tidur) dan malah mau melewati bantal guling pembatas di tempat tidurnya buat ke pinggiran kasur. Saya udah ngeri aja dia menggelundung lagi. Kadang saya coba aja baca Quran setelah salat pas dia lagi anteng, eh lembaran Al Qurannya suka dikruwesin sama dia. Ampun dijeh!

kalau sahur kondisinya segar bugar begini, gimana mau ditinggal baca Quran?

Belum lagi, Ramadan tahun ini saya ´ketabrak´ sama haid karena haid saya udah teratur. Makin sempit aja waktu baca Qurannya. Saya emang pengen memaksimalkan aja baca Quran pas Ramadan ini karena memang biasanya gitu tiap Ramadan, semakin sempit dan susah waktu saya buat baca Quran di hari-hari biasa, dan ini jadi ibadah saya yang targetnya paling maksimal di saat ibadah-ibadah lain susah buat digapai. Untunglah, dengan ambisi saya akhirnya bisa selesai juga. Saya kebut banget pas hari-hari terakhir Ramadan.

Mudik yang Simpel

Dulu mudik Lebaran buat saya berarti bawa banyak oleh-oleh. Oleh-oleh yang saya bawa biasanya kue-kue Lebaran baik itu kue kalengan yang beli, kue Lebaran beli di orang, atau kue Lebaran yang saya buat sendiri. Selain oleh-oleh, saya juga biasa bawa baju-baju baru Lebaran buat anggota keluarga. Biar berasa aja mudik dan Lebarannya sekaligus bagi-bagi rezeki.

Baca Juga:   Tips Mudik Lebaran Menggunakan Kereta Api

Tapi mudik kali ini beda. Saya nggak beli-beli kue Lebaran buat di rumah. Buat sendiri juga nggak. Saya cuma beliin orang rumah baju Lebaran. Selain itu, packing mudik juga saya usahakan sesimpel mungkin karena untuk mudik saya cuma berdua sama Aqsa. Barang-barang yang sekiranya nggak perlu atau bisa dibeli di rumah ya nggak usah dibawa. Bahkan saya nggak bawa stroller buat di kampung padahal Aqsa suka banget di stroller dan saya juga gampang capek kalau gendong dia.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Pengalaman Mudik Berdua bersama Bayi

Akhirnya dengan keteguhan hati saya pun bawa barang-barang sesimpel mungkin. Pas di rumah, saya baru sadar bahwa saya bawa baju cuma sedikit karena setengah lebih isi koper diisi sama baju Aqsa dan juga baju baru. Nggak apa-apa lah, untung baju-baju buat bepergiannya aman. Paling cuma baju di rumah yang akhirnya jadi cuci-kering-pakai.

Jadi ngerti kan kenapa pas foto saya sama Aqsa pakai baju itu-itu aja?

Lebaran Bebas Pertanyaan

Lebaran yang lalu-lalu saya udah akrab sampai eneg dengan pertanyaan ¨Udah isi belum?¨. Dari yang dijawab benar-benar pakai jawaban sampai yang disenyumin aja. Pertanyaan-pertanyaan ´horor´ begini yang kadang juga jadi bikin Lebaran nggak asyik. Mudik jadi semacam punya beban. Nah, Lebaran kali ini akhirnya bebas pertanyaan juga. Nggak lagi ada pertanyaan ¨Udah isi belum?¨ atau pertanyaan lain yang menyertainya seperti ¨Kapan Aqsa mau dikasih adek?¨. Ya kali, jahitan SC masih suka sakit dan tagihan RS bikin engap, hahaha.

Baca Juga:   Jangan Katakan Ini Pada Perempuan yang Belum Memiliki Anak

Untunglah Lebaran tahun ini spotlight-nya ada di Aqsa. Alhasil dia jadi primadona deh dan emak bapaknya kalah. Nggak apa-apa lah asalkan semuanya bahagia. Jadi tahun ini saya dan suami juga nggak perlu berpusing mau jawabin pertanyaan dan komentar orang.

Kompromi Sama Jadwal Silaturahmi

Dulu zaman masih berdua saja sama suami, jadwal silaturahmi sudah padat dan dibuat sedemikian rupa karena mudahnya kami buat mobile. Selain silaturahmi keluarga, biasanya juga ada silaturahmi dengan teman sekolah atau reuni kecil-kecilan. Dari yang cuma di tempat makan sampai yang explore suatu tempat bareng-bareng. Tapi Lebaran kali ini beda, nggak bisa jadwalnya se-strict itu karena ada bayi.

Janji-janji sama teman sebelum Lebaran semua memang dioke-in tapi di bagian bawah selalu dikasih notes ¨Tapi aku juga lihat sikon bayi ya, tahu sendiri mood dan kondisinya lah ya¨. Bukannya bayi dijadikan sebagai alasan, tapi kondisi yang mengharuskan saya selalu bawa dia kemana-mana (karena Aqsa masih direct breastfeeding dan lagi dalam masa pengen nempel bapak ibunya terus). Jadi semua jadwal silaturahmi memang menyesuaikan jadwal Aqsa bobok, makan, mandi, dan disesuaikan sama kondisi kesehatan tubuhnya. Beda sama dulu yang kalau diajakin silaturahmi sambil ke curug hayuk aja. Sekarang pasti yang didahulukan adalah pertimbangan ´gimana Aqsa?´.

Baca Juga:   #ExplorePurworejo (Bagian 1): Menikmati Bruno dari Ketinggian di Curug Gunung Putri

Dapat Angpau Anak Pertama Kali

Ini bukan soal jumlahnya atau berapa banyak yang memberikan angpau, tapi ini adalah soal ´akhirnya aku nerima angpau buat anakku´. Sungguh, saya nggak mengharap Aqsa dapat angpau, salam tempel, tanggokan, atau apalah itu karena toh dia juga belum tahu dan uangnya masuk ke kantung emaknya juga. Tapi ini tentang saya yang menerima angpau buat anak saya. Rasanya beda aja gitu karena biasanya saya yang selalu bagi-bagi salam tempel dan nggak pernah terima sama sekali untuk anak karena belum punya anak.

Ya begitulah, rasanya amazing dan rada terharu aja. Akhirnya Lebaran kali ini keluarga kecil dan keluarga besar kami semarak. Apalagi Aqsa yang sedang aktif dan lucu-lucunya memang mencuri perhatian banget. Nggak apa-apalah saya dan suami harus berkompromi dengan banyak hal bahkan mungkin mengalah untuk nggak bisa melakukan satu dua hal dulu karena ada Aqsa yang masih bayi jika akhirnya pengorbanan kami ditebus dengan senyum-senyum bahagia keluarga.

Baca Juga:   7 Hal yang Membuat Mudik Lebaran 2016 Tak Terlupakan

Itu cerita Ramadan dan Lebaran saya, kalau kalian gimana?

 

0 Comments
Previous Post
Next Post