#CeritaIbu: Pengalaman Pertama Membawa Anak Naik Kereta Kelas Ekonomi

#CeritaIbu: Pengalaman Pertama Membawa Anak Naik Kereta Kelas Ekonomi

Yailah, Dew! Perkara naik kereta ekonomi sama bayi aja pake dijadiin postingan. Norak, lu!

Hahahahaha…

Mungkin bakalan ada yang berpikiran seperti ini. Tapi buat saya, ini termasuk milestone. Bukan cuma milestone buat anak tetapi juga buat saya sebagai orang tua yang akhirnya mau, siap, dan bisa membawa anak naik kereta api kelas ekonomi. Yah walaupun kali ini jaraknya nggak jauh-jauh amat, tapi saya berhasil.

Apalagi perjalanan kali ini saya nggak ditemenin suami. Memang sih ada adik, bapak, dan ibu saya. Tapi suami yang notabene orang yang paling lengket dengan Aqsa, kedua setelah saya, nggak ikut itu rada ketar-ketir juga. Takutnya Aqsa tantrum di kereta. Dan boom!!! Bisa-bisa malah mengganggu penumpang lain dan bikin saya panik.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Pengalaman Pertama Berkereta Api bersama Bayi

Tapi sebelum saya ceritakan gimana berperjalanan sama kereta api kelas ekonomi (kalau sekarang disebutnya kelas premium), saya ceritakan dulu latar belakangnya. Jadi, perjalanan ke Bandung sama keluarga saya ini memang sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelum adik saya wisuda. Tujuannya sekaligus piknikin orang tua saya yang sudah lama nggak ke Bandung, ke tempat Pakde saya. Jadilah setelah adik saya wisuda, kami niatkan buat ke Bandung.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Merencanakan Jalan-Jalan ke Bandung bersama Bayi

Namun, jelang hari H keberangkatan kami, saya khususnya, bingung. Saya yang sudah menentukan berangkat hari Kamis (3/10) jadi bimbang akhirnya pilih memajukan jadwal jadi Hari Rabu (2/10) dengan alasan ganjil genap (karena suami nganterin pakai mobil yang berplat genap) dan bisa pulang Hari Jumat-nya jadi suami nggak perlu nyusul karena saya pulang sama adik saya (biar Sabtu-Minggunya bisa istirahat di rumah).

H-1 jelang keberangkatan yaitu Hari Selasa sore bahkan saya belum beli tiket. Padahal saya harus beli untuk 4 orang lho. Ini gara-garanya demo yang berkepanjangan di DPR. Takutnya pas hari H keberangkatan demonya masih berlangsung pakai acara blokir jalan segala, kan saya jadi takut. Dengan bismillah, malamnya saya niatkan beli tiket aja.

Baca Juga:   Cara Membatalkan Sebagian Tiket Kereta Api dalam Satu Kode Booking

Dan benar saja dugaan saya, beli tiket untuk 4 orang mepet jadwal keberangkatan nggak memungkinkan kami untuk dapat kelas eksekutif yang duduknya berdekatan. Sayang juga kan kalau beli udah mahal-mahal, eh end up duduk jauh-jauhan padahal niatnya perjalanan keluarga. Akhirnya pindahlah ke kelas premium, dapat tempat duduk berdekatan walaupun terpisah sama lorong. Kami nggak sebaris karena tempat duduk yang di dekat jendela sudah habis. Jadilah kami berempat dapat tempat duduk yang di dekat lorong dan depan belakangan posisinya. Harapan saya dengan dapatnya tempat duduk begini, teman duduk kami orangnya enak. Apalagi teman duduk saya, bisa ngertiin gitu kalau saya bawa anak kecil.

Pas hari H, kami berangkat dari rumah jam 05.30. Pagi bangeeetttt padahal Kereta Argo Parahyangan yang kami naiki berangkat jam 08.45. Sengaja memang biar nggak kena macet karena kalau telat beberapa menit aja keluar dari rumah saya, udahlah selesai itu di jalan. Makanya lebih baik kami menunggu di stasiun. Kami sempat makan dan saya sempat kasih makan Aqsa sampai habis. Aqsa kenyang tinggal mainan atau bobok aja di jalan.

Saat kereta berangkat, gerbong masih lengang. Aqsa masih bisa berdiri-berdiri di dekat jendela dan dia senang banget. Dia juga masih sempat becandaan sama bapak saya yang duduk di kursi belakang karena masih kosong (bapak saya sebenarnya duduknya di depan saya). Berhenti di Stasiun Jatinegara lanjut Bekasi, gerbong semakin penuh dan tempat duduk di sebelah saya terisi juga akhirnya. Untungnya, sebelah saya dedek-dedek cewek muda yang baik. Dia nggak ngerasa terganggu dengan adanya bayi di sebelahnya.

Sampai di sini Aqsa masih anteng. Paling banter, dia penasaran sama bolongan colokan listrik tapi bisa saya alihkan sama pemandangan di luar kereta. Setelah itu, dia mau nenen trus habis itu bobok karena jam-jam segitu memang jam dia tidur kalau di rumah. Beruntung banget, orang di sebelah ibu saya turun di Stasiun Purwakarta dan setelah beliau turun kursinya kosong. Jadilah saya bisa pindah ke sebelah ibu saya sambil merebahkan Aqsa karena kasihan juga kan kalau dia bobok tapi posisinya duduk dipangku saya. Saya pindahinlah, eh ternyata anaknya malah bangun. Ini bangun yang benar-benar bangun, matanya langsung cerah. Nggak yang pakai kriyep-kriyep ngumpulin nyawa dulu. Padahal sebelumnya tidurnya nyenyak lho.

Setelah bangun itu justru petualangan dimulai. Saat itu sekitaran jam 10.30, itu artinya perjalanan masih 1,5  jam lagi. Satu setengah jam yang terasa lama buat saya karena ternyata anaknya petakilan. Saya juga sempat ganti popoknya dia di bangku sambil boboan karena susah ganti popok di toilet premium yang sempit sementara anaknya belum bisa berdiri tegak sendiri.

Sepanjang perjalanan lepas Stasiun Purwakarta, mulailah Aqsa petakilan. Dia nggak cukup hanya berdiri-berdiri di dekat jendela tapi maunya naik-naik di sandaran tangan, lalu lihat-lihat ke kursi belakang karena masih dikira kakeknya yang ada di situ, dan longok-longok ke kursi depan. Karena jarak antarkursi di kelas premium itu berdekatan, jadinya saya rada nggak enak kalau Aqsa petakilan karena takutnya mengganggu orang lain apalagi yang mau istirahat. Saya juga kadang kalau sama anak kecil yang terlalu petakilan suka keganggu. Apalagi ini Aqsa pas longok-longok ke kursi depannya pakai acara narik-narik rambut penumpang, haha. Untung nggak berkepanjangan karena setelah itu saya arahkan dia buat longok-longok ke kursi adik saya yang duduknya di depan saya trus jambakin rambut dia deh. Udahlah nggak apa-apa adik saya jadi korban dulu.

Apa yang dilakukan Aqsa tuh nggak bertahan lama alias cepat bosan. Duduk cepat bosan, berdiri lihat pemandangan cepat bosan, sampai akhirnya dia mulai cranky alias rewel. Minta turun dan glosoran di lorong kereta. Untung nggak ada petugas lewat jadi nggak ditegur. Dia juga penasaran lagi sama bolongan colokan listrik. Plus sempat duduk di meja kecil tempat menaruh minuman. Semua gaya pokoknya dia lakukan.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Mudik Lebaran Pertama bersama Bayi

Sampai di Stasiun Cimahi dia mulai bosan dan tambah rewel. Akhirnya saya gendong aja pakai SSC trus ke arah pintu keluar kereta sekalian saya menghangatkan diri (AC kereta siang itu dingin banget, padahal premium lho). Dia yang masih rewel, saya alihkan perhatiannya sama pemandangan di luar kereta. Jadinya kadang rengik-rengik, kadang nggak sih. Tapi nggak bisa dibilang benar-benar anteng. Padahal ini udah dekat, dari Cimahi ke Stasiun Bandung tapi kok rasanya lama banget gara-gara Aqsa rewel.

Pas udah sampai Stasiun Bandung, turun, sampai naik mobil jemputan Budhe saya, anaknya anteng-anteng aja. Berarti memang bosan di kereta dia. Sampai di sini, saya jadi mikir lagi buat naik kereta premium pas balik ke Jakarta apalagi mengingat pas balik cuma saya dan adik saya aja, bapak ibu saya bablas Kutoarjo. Berarti bala bantuan tinggal adik saya, bisa-bisa saya stress kalau Aqsa ngamuk.

Baca Juga:   Nostalgia Bandung di Akhir Tahun 2017

Tapi ndilalah ya, pas mau balik Jakarta yang tersisa hanya tiket premium (lagi dan lagi). Ini juga di keberangkatan terakhir jam 22.30, padahal sayanya ngincer yang keberangkatan jam 21.00. Bismillah aja, nekat saya beli daripada ribet lagi kalau pulang besok paginya. Guess what??? Pas pulangnya enak banget, muluuusss sekali. Sebelum naik kereta, Aqsa memang bobok di gendongan dan sempat melek pas saya masuk trus duduk di bangku. Saya sempat khawatir dia akan melek begadang tapi rewel karena pas melek itu matanya cerah ceria. Tapi ternyata nggak donk, abis itu dia tiduuurrr terus dan nyenyak sampai Jakarta. Bahkan sampai di mobil dan nyampe rumah pun dia terlelap banget. Mungkin saking ngantuknya.

Kalau ditanya, akan bepergian lagi naik kereta premium nggak sama Aqsa? Maybe, yes. Tapi dengan syarat, ada ayahnya atau bukan perjalanan jauh atau perjalanan di malam hari. Toh saya juga nggak anti sama kelas ekonomi karena dari dulu sebelum hamil pun saya naiknya bukan kelas eksekutif. Bahkan pas masa kuliah dulu, saya pecinta kereta ekonomi yang gembel banget, nggak dapat tempat duduk dari Bandung-Kutoarjo, dan tiketnya cuma 19.500. Setelah punya anak aja jadi upgrade kelas eksekutif demi kenyamanan anak, apalagi kalau perginya cuma berdua sama Aqsa. Kelas eksekutif itu aman banget. Dan alhamdulillahnya saya dan keluarga punya rezeki buat naik eksekutif.

Baca Juga:   Tips Mudik Lebaran Menggunakan Kereta Api

Mungkin, ini mungkin lho ya, saya akan berani naik premium berdua dengan Aqsa kalau anaknya sudah agak besar. Sekitar 2 tahunan, saat sudah bisa jalan, genggam makan sendiri, ngomong, dan ngerti kalau dikasih tahu. Di usia-usia itu saya mungkin sudah bisa enjoy naik kelas ekonomi sama anak. Tapi sekarang pun oke-oke aja kalau bukan perjalanan jauh. Saya juga sempat tanya di instagram, tips n triknya apa naik kereta ekonomi sama anak. Ini saya kasih beberapa tips yang disarankan teman-teman instagram plus saya tambahin sendiri:

  • Kenyangkan anak dengan makan terlebih dahulu
  • Pilih pakaian yang nyaman buat anak bergerak, nggak bikin gerah tapi juga nggak bikin kedinginan saat terkena AC kereta
  • Bawa mainan atau benda-benda kesukaannya seperti bola-bola kecil, boneka, atau buku cerita
  • Ajak anak main terlebih dahulu sebelum masuk kereta biar dia lelah, jadi di kereta tinggal tidur deh
  • Naik kereta di jam malam, jam-jam dia ngantuk atau jam tidurnya dia
  • Kalau ingin lebih nyaman, beli seat satu lagi khusus untuk anak (di bawah 2 tahun yang belum dapat tempat duduk) agar dia bisa duduk sendiri atau tidur dengan nyaman

Itu dia pengalaman saya naik kereta ekonomi sama Aqsa ke Bandung. Semoga bermanfaat ya buat kalian yang mau bawa anak bepergian naik kereta ekonomi.

 

1 Comment
Previous Post
Next Post