#CeritaIbu: Membawa Anak Naik Kereta di Malam Hari

#CeritaIbu: Membawa Anak Naik Kereta di Malam Hari

Dulu saat saya belum punya anak dan lagi ngobrol-ngobrol dengan saudara saya yang punya anak balita, saya nanya kalau pulang kampung biasanya naik kereta apa. Dia bilang naik kereta apa aja nggak apa-apa, asalkan siang hari. Soalnya, dia pernah bawa anaknya naik kereta di malam hari dan sepanjang malam sang anak melek, mainan, trus rewel. Dari situ, akhirnya dia kalau pulang kampung memilih naik kereta di malam hari.

Karena obrolan itu, saya jadi terdoktrin dan keingetan terus di kepala saya bahwa nanti kalau saya punya anak dan pulkam, harus naik kereta yang siang atau pagi hari. Ya pokoknya kereta yang selama perjalanan masih ada sinar matahari karena kalau anak nanti rewel, penumpang cukup maklum. Apalagi pulang kampungnya saya kan memakan waktu yang nggak sebentar, hingga 7-8 jam perjalanan. Kalau perjalanan malam dan anak rewel kan bisa mengganggu penumpang lain beristirahat. Kitanya sebagai orang tua jadi serbasalah, penumpang lain yang pengen istirahat pun jadi nggak nyaman.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Pengalaman Pertama Berkereta Api bersama Bayi

Padahal ya, jauh dari lubuk hati yang paling dalam saya paling suka naik kereta di malam hari. Dari dulu, saya lebih suka perjalanan malam. Karena kalau malam di dalam kereta adem (bahkan sebelum kereta kayak sekarang yang semua ber-AC). Trus perjalanan malam itu nggak capek, paling nggak nggak secapek perjalanan siang, karena begitu masuk kereta biasanya hampir sepanjang perjalanan saya tidur. Tahu-tahu udah sampai Stasiun Kutoarjo. Nggak berasa perjalanannya.

Itulah kenapa, dari beberapa kali naik kereta baik itu pulang kampung buat liburan, balik ke Jakarta, perjalanan pendek ke Bandung, atau bahkan mudik, saya selalu naik kereta di siang hari. Saya menghindari perjalanan malam bersama Aqsa karena takut rewel. Tapi sedihindari-dihindarinya, akhirnya toh saya mengalami juga perjalanan malam berkereta bersama Aqsa. Gimana pengalamannya? Deg-degan, tapi so far lancar jaya.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Pengalaman Pertama Membawa Anak Naik Kereta Kelas Ekonomi

Perjalanan Malam yang Pertama

Perjalanan malam berkereta saya pertama kali sama Aqsa ini menurut saya langsung ke level semi-expert, haha. Lho kenapa? Soalnya perjalanannya naik kereta ekonomi alias premium dan tanpa didampingi suami. Untungnya hanya dari Bandung-Jakarta jadi nggak lama-lama amat dan saya berani. Perjalanan malam pertama kalinya ini juga karena terpaksa karena hanya ada tiket kereta di jam itu yang masih tersisa. Kelasnya pun hanya tinggal kelas premium. Jadi mau nggak mau ya dibeli saja.

Baca Juga:   Cara Membatalkan Sebagian Tiket Kereta Api dalam Satu Kode Booking

Perjalanan malam pertama saya dan Aqsa dimulai dari kereta Argo Parahyangan yang berangkat pukul 11.30. Untungnya kereta berangkat pukul segitu, jadi saya terselamatkan oleh Aqsa yang sudah bobok bahkan sejak di dalam mobil menuju stasiun. Walaupun begitu, deg-degannya tetap ada. Doa saya, Aqsa jangan kebangun dulu pas sampai stasiun hingga Gambir. Setelah itu, mau kebangun dan ngamuk pun juga nggak apa-apa. Paling nggak udah bukan di kereta dan ada ayahnya.

Saya sempat deg-degan sih pas mau duduk di kursi penumpang. Aqsa yang ada di gendongan SSC takut bangun, kemudian sadar, dan ngamuk. Mana saya cuma berdua sama adik saya kan. Untungnya ini anak baik banget. Pas ditaruh, dia cuma menggeliat sebentar lalu bobok lagi. Setelah itu dia bobok terus di pangkuan saya sampai Gambir. Padahal ini di kereta premium lho, yang mana jarak antarbangku sempit banget. Buat menyamankannya, saya meminta tolong adik saya buat menyewakan bantal di kereta api. Jadi kepala Aqsa nyaman di tempat yang empuk, saya juga nggak kebas banget-banget.

Perjalanan Malam yang Kedua

Perjalanan malam kedua kami pas pulang kampung akhir Oktober 2019 lalu. Waktu itu, kami beli tiketnya mepet weekend dan ternyata hanya ada tiket eksekutif Kereta Sawunggalih sore yang tersisa. Mau nggak mau karena liburan telah direncanakan, ya kami nekat saja. Modalnya bismillah apalagi ini pertama kali kami membawa Aqsa buat naik kereta di malam hari.

Nggak ada treatment khusus sih buat menghadapi Aqsa yang akan naik kereta malam. Hanya saja, sebelum kereta berangkat saya suapin dia sampai kenyang. Sebelum naik kereta pun, saya biarkan Aqsa main sepuasnya dari naik turun bangku di ruang tunggu sampai mainan di mini playground yang ada di dalam stasiun. Semua itu semata-mata sebagai upaya membuat dia lelah dan mengantuk ketika kereta sudah berangkat.

untung ada playground gratis di stasiun, jadi bisa mainan dulu

Saat kereta mulai berjalan, saya udah agak was-was karena Aqsa belum juga menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Malah sebelum kereta berangkat dia masih sempat gedebukan di lorong dan berdiri-berdiri. Sampai situ saya agak was-was kalau dia bakal kegirangan karena euforia naik kereta di malam hari dan nggak bobok-bobok. Apalagi pas itu, Aqsa sedang di fase dimana dia hampir tiap malam bobok di atas jam 10. Mana waktu itu sayanya juga lapar banget, jadi ya sedikit kurang nyaman.

Baca Juga:   Tips Mudik Lebaran Menggunakan Kereta Api

Untungnya, malam itu kereta eksekutif lengang. Banyak bangku tak terisi. Jadi saat saya dan ayahnya Aqsa gantian buat makan, saya bisa ajak Aqsa jalan-jalan ke bangku lain yang kosong supaya dia lebih leluasa. Aqsa yang lagi di tahap kepo-keponya sama segala hal, sempat pengen pegang apapun di dalam kereta termasuk masuk-masukin jarinya ke colokan. Untunglah bisa saya alihkan sama hal lain.

Satu jam setelah kereta berangkat, Aqsa masih segar bugar. Buat saya ini tanda-tanda bahaya karena takutnya dia akan begadangan. Sementara saya dan ayahnya sudah ngantuk walaupun kalau di rumah, sekitar jam 19.30-an itu masih sore banget buat kami. Tapi entah kenapa kalau pakai kereta malam cepat banget ngantuknya. Akhirnya, saya ambil saja jalan pintas dengan menggendong Aqsa pakai SSC trus diayun-ayun biar cepat tidur. Apalagi AC kereta lumayan dingin. Alhamdulillah, alhasil dalam waktu beberapa menit anaknya sudah tidur.

Karena kereta lowong banget setelah melewati beberapa stasiun, saya dan Aqsa yang masih duduk di kursi yang kosong dan bukan kursi kami memilih tetap stay di situ. Kami pisah sama ayahnya yang duduk di bangku sesuai nomer tiket yang kami beli. Sayanya juga udah mager pindah, takut membangunkan Aqsa. Jadilah saya biarkan Aqsa yang boboknya nyenyak banget itu.

Saya yang nggak jadi ngantuk (akhirnya) malah nggak bisa tidur. Apalagi pas itu ada anak kecil juga yang mungkin sepantaran Aqsa nangis kejer terus-menerus dari gerbong di depan gerbong kami. Saya lihat orang tuanya sampai bolak-balik ke Reska buat menenangkan anaknya dan mungkin juga nggak enak sama penumpang lain karena tangisan anaknya bisa mengganggu. Saya yang lihat jadi dejavu ingat pertama kali bawa Aqsa naik kereta dan dia nangis kejer. Untungnya itu siang, kalau malam mungkin saya dan ayahnya akan panik banget, sepanik pasangan yang saya lihat malam itu.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Mudik Lebaran Pertama bersama Bayi
boboknya nyenyak sekali

Memang sih, bawa anak apalagi masih usia di bawah 2 tahun untuk perjalanan malam yang panjang di dalam kereta itu tricky. Kali itu mungkin saja saya beruntung karena Aqsa mau bobok cepat, lain kali who knows kan? Bisa saja saya yang seperti mereka sampai semalaman nggak menikmati enaknya naik kereta kelas eksekutif dan memilih berdiri di dekat toilet karena panik anak terus-terusan nangis. Tapi ya pas malam itu saya benar-benar kasihan sama pasangan orang tua yang anaknya semalaman nangis di kereta itu, sedih aja ngeliatnya karena orang tuanya juga jadi nggak bisa istirahat. Mungkin saja itu perjalanan pertama anaknya naik kereta. Makanya saya ngerasa sedih karena pernah ada di posisi itu tapi kasusnya di siang hari.

Nah buat yang mau liburan sama bayinya dan melakukan perjalanan malam menggunakan kereta api jarak jauh, saya bagi tips naik kereta api bersama bayi di malam hari ya:

  • Usahakan jangan memilih perjalanan malam jika baru pertama kali naik kereta
  • Pilih jadwal kereta di jam-jam tidur bayi
  • Kenyangkan perut bayi sebelum kereta berangkat
  • Buat lelah bayi dengan bermain atau beraktivitas fisik sebelum kereta berangkat sehingga saat di dalam kereta sudah lelah dan mengantuk
  • Bawa benda atau mainan kesukaannya
  • Pakaikan baju yang nyaman untuk bayi
  • Bawa selimut untuk jaga-jaga sewaktu-waktu bayi kedinginan di dalam kereta
  • Ganti popoknya sebelum dia tidur

Itu dia beberapa tips dari saya saat akan membawa bayi naik kereta api di malam hari. Adakah tambahan tips yang mungkin kurang atau lupa saya cantumkan? Tulis saja di kolom komentar ya.

So, happy holiday. Selamat berlibur naik kereta malam, jugijagijugijagijug.

 

 

0 Comments
Previous Post
Next Post