Pengalaman Membuat dan Memperpanjang Paspor

Pengalaman Membuat dan Memperpanjang Paspor

Sebelum heboh-heboh corona seperti sekarang ini, beberapa waktu lalu saya sekeluarga akhirnya memperpanjang dan membuat paspor. Memperpanjang buat saya dan suami, sementara membuat paspor baru untuk Aqsa. Kami memangnya mau kemana? Pengennya sih jalan-jalan akhir tahun ini, tapi sepertinya harus ditunda dulu karena wabah corona dimana-mana. Nggak apa-apalah yang penting kami bertiga sudah pegang paspor untuk lima tahun ke depan. Masih banyak waktu dan semoga corona cepat berlalu.

Di tulisan ini, saya cuma mau cerita pengalaman saya pertama kali membuat paspor dengan jalur resmi mengikuti aturan. Emangnya yang sebelumnya nggak? Yups, paspor yang sebelumnya saya buat sewaktu masih kerja di media jadi ada semacam ‘jalur khusus’ karena kenal dengan pejabat yang berwenang. Dulu tinggal duduk nyantai, dipanggil foto, bayar, dan jadi. Nah, sekarang saya harus melalui jalur ‘rakyat jelata’ karena memang sudah nggak punya privilege lagi sejak nggak jadi wartawan.

Baca Juga:   Inilah Saya, Mantan Wartawan yang (Beruntung) Memilih Menjadi Blogger

Awalnya, saya pikir jalur yang biasa itu akan ribet dan ngantri. Apalagi banyak yang bilang kalau aplikasi antrian paspor cepat penuh atau bahkan sulit diakses. Ratingnya saja di AppStore sama PlayStore rendah banget. Saya sudah hopeless aja lah, apalagi dulu di Imigrasi terkenal banyak calonya. Eh tapi ternyata nggak lho. Apa yang saya pikirkan dengan yang di lapangan beda banget nget nget. Saya ceritain aja ya detailnya:

  • Aplikasi Antrian Paspor

Pertama-tama yang dilakukan sebelum perpanjang atau membuat paspor baru, unduh terlebih dahulu aplikasi Antrian Paspor. Antriannya akan dibuka mulai Hari Jumat jam 14.00 hingga Hari Minggu jam 15.00 tiap minggunya. Ekspektasi saya udah rendah banget tadinya soal antrain online ini karena banyak cerita dari teman, kuota cepat habis alias rebutan. Tapi toh nyatanya nggak. Suami saya yang daftar (karena menggunakan akunnya) di Hari Minggu masih ada kuota untuk pembuatan di Kantor Imigrasi Kelas 1 Khusus Non-TPI Jakarta Selatan untuk seminggu ke depan.

Untuk satu akun, bisa mendaftarkan, saya lupa, antara 4-5 orang yang masih ada hubungan keluarga termasuk juga si pemilik akunnya. Nanti ada pilihan jam kedatangan yang bisa dipilih dan kami memilih di pagi hari yaitu jam 08.00-09.00 dengan pertimbangan suami kerja di siang harinya. Kami waktu itu mengantri untuk membuat paspor di Hari Selasa, 18 Februari 2020, ingat sekali saya karena hari itu hari meninggalnya Ashraf Sinclair yang pertama kali saya tahu kabarnya justru di radio saat perjalanan menuju ke Kantor Imigrasi.

  • Bawa Dokumen yang Diperlukan

Dokumen-dokumen seperti KTP, KK, Paspor lama dibawa oleh saya dan suami yang akan memperpanjang paspor lama. Sementara untuk Aqsa yang notabene masih anak-anak dan mau membuat paspor baru, dokumennya lebih banyak dan lebih ribet. Selain KTP asli orangtua dan KK, untuk Aqsa saya bawa juga buku nikah, akta kelahiran, dan KIA buat jaga-jaga.

Baca Juga:   Hati-Hati dengan Kesalahan Penulisan Nama dalam Dokumen di Era Digital

Oh ya, untuk anak nantinya ada juga surat pernyataan yang ditandatangani kedua orang tuanya di atas materai. Surat ini ada atau bisa dibeli di tukang fotocopy-an yang ada di Kantor Imigrasi. Untuk dokumen, semuanya wajib ada salinan fotocopy-nya ya. Kalau bisa sih mending di-fotocopy dari rumah biar nggak ribet dan rata-rata memang (entah mengapa) harga fotocopy di Kantor Imigrasi itu mahal.

  • Di Kantor Imigrasi

Jangan lupa untuk datang tepat waktu, sesuai dengan jam antrian yang dipilih saat ke Kantor Imigrasi. Kebetulan, Kanim yang saya dan suami pilih adalah Kantor Imigrasi Kelas 1 Khusus Non-TPI Jakarta Selatan yang letaknya di Cipete, Fatmawati. Kanim ini sudah yang paling dekat dengan rumah. Kami sampai berangkat jam 07.00 pagi (menurut kami ini pagi banget karena biasanya jam segini kami baru bangun, haha) dengan arah rute Cipete yang berarti siap-siap macet dan berbarengan dengan orang berangkat kantor. Tapi untunglah pagi itu tidak. Tol lancar jaya sehingga kami bisa sampai di Kantor Imigrasi Kelas 1 Khusus Non-TPI Jakarta Selatan jam 08.25.

Kantor Imigrasi Kelas 1 Khusus Non-TPI Jakarta Selatan tempat parkirnya kecil sekali dan saat itu sudah penuh. Jadi kami harus parkir di ruko-ruko seberang Esmod dengan kunci yang dititip di security parkiran Esmod. Yang bagian ini rada horor dan deg-degan sih. Tapi untungnya security-nya jujur. Dia bilang kuncinya ditaruh di kantor dan hanya dipakai buat mundurin mobil kalau ada mobil di depannya yang akan keluar. Esmod ini letaknya di belakang Kantor Imigrasi Kelas 1 Khusus Non-TPI Jakarta Selatan.

Begitu masuk, kami ke petugas di bagian depan untuk konfirmasi nomor antrian. Namun, karena semua dokumen belum di-fotocopy maka petugas menyarankan kami buat meng-copy-nya terlebih dahulu. Oh ya, jangan lupa juga ya kalau ke Kanim buat bawa pulpen karena takut diperlukan untuk mengisi atau tanda tangan sesuatu.

Setelah semua dokumen lengkap beserta fotocopy-nya, kami kembali ke petugas. Petugas memberikan 3 map pada kami. Saya yang bawa bayi dan stroller waktu itu ditawari mau mengantri di lantai 3 di petugas untuk umum atau lantai 1 yang memang ada ruangan dan antrian jalur khusus untuk lansia, balita, ibu hamil, dan difabel. Syaratnya, harus ada 1 orang dewasa saja yang ikut di antrian jalur khusus ini. Maka, saya pun mengalah buat mengantri di antrian jalur khusus sementara suami di lantai 3.

Sayangnya, antrian jalur khusus ini petugasnya tidak banyak. Hanya sekitar 1-2 sehingga memang menumpuk di ruang tunggu. Penumpukannya nggak banyak sih tapi cukup lama buat mengantri bersama anak kecil. Sampai akhirnya suami saya sudah selesai dan cepat banget. Dia nggak sampai 30 menit sudah balik lagi ke bawah. Katanya di atas justru sepi antriannya. Karena takut masih lama, saya minta tolong sama petugas yang memberi dan mengantarkan map kami ke petugas untuk rekam data dan foto di lantai 3 saja. Petugas pun setuju dan mengambil map saya dan Aqsa yang tadi sudah masuk di ruangan untuk antrian jalur khusus ini.

Nyatanya pas saya sampai lantai 3 memang sepi. Sepi banget lebih tepatnya pagi itu. Bahkan, nggak ada orang-orang yang duduk di kursi ruang tunggu. Semuanya datang langsung ke petugas yang bersangkutan. Nama saya kata suami sudah dipanggil tadi saat dia masih di sana. Makanya karena sepi, saya tanya saja ke petugasnya langsung saya harus ke counter sebelah mana dan bilang bahwa tadi saya menemani anak saya di antrian jalur khusus di lantai bawah.

Ternyata, counter yang harus saya tuju pun pas banget nggak ada orang. Langsung deh saya duduk, direkam data, wawancara sebentar, lalu foto. Singkat banget, nggak sampai 10 menit kayaknya. Senang deh pokoknya karena cepat.

Setelah saya selesai, baru saya masukan nomer antrian Aqsa. Hanya menunggu sebentar nggak sampai 10 menit, nomer antrian Aqsa dipanggil. Nah, pas Aqsa ini yang lumayan lama karena nggak tahu kenapa datanya setiap diverivikasi dengan nomer KK selalu nggak cocok. Jadi, kalau ditarik data berdasarkan nomer KK ternyata alamatnya ada di Kepulauan Riau. Pun dengan nama anak, ayah, dan ibunya jadi berbeda. Yang begini sampai 3 kali terjadi dan setiap input harus manual alias mengetik kembali. Untung petugasnya sabar dan Aqsa-nya juga nggak rewel.

Sampai tiba saatnya foto, ini saat yang menegangkan dan menggelikan. Saya takut kalau Aqsa malah nangis apalagi dia suka nggak mau kalau sama orang baru. Nyatanya dia sama sekali nggak nangis tapi malah kebanyakan gerak. Alhasil fotonya blur melulu, haha sampai 5 kali jepretan baru berhasil.

ruang tunggu antrian, di dalam pintu counter buat foto dan wawancara

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Pas saya dan Aqsa keluar dari counter ternyata sudah lumayan banyak yang duduk di ruang antrian lantai 3. Lucky us, kami bertiga dikasih lancar. Petugasnya juga baik dan helpful semua. Oh ya, di Kantor Imigrasi Kelas 1 Khusus Non-TPI Jakarta Selatan lantai 3 ini juga ada nursery room-nya juga. Jadi buat yang bawa bayi bisa agak sedikit lega walaupun harus naik tangga (yap, liftnya sedang rusak saat itu) hingga lantai 3 dulu.

Selanjutnya adalah tinggal bayar-bayar. Per paspor biayanya Rp 350.000 karena kami bikinnya paspor biasa. Kami memilih menggunakan transfer bank buat bayarnya. Lebih praktis. Paspor akan jadi 5 hari kerja setelah pembayaran biaya.

Nah, buat saya yang akhirnya mengalami juga jalur ‘rakyat jelata’ saat bikin paspor anak dan memperpanjang paspor, ada sedikit tips nih yang bisa saya bagikan:

  • Pilih antrian paspor di pagi hari karena masih relatif lebih sedikit pengunjungnya
  • Fotocopy semua dokumen-dokumen yang diperlukan sebelum ke Kanim karena lumayan mahal bok kalau fotocopy di lokasi
  • Bawa materai untuk ditempel di surat pernyataan yang ditandatangani kedua orang tua
  • Bawa pulpen yang masih berfungsi alias nyata, karena kemarin saya bawa sih bawa pulpennya tapi udah nggak nyata alias sama juga bohong, haha
  • Pakai pakaian yang nyaman dan sopan, termasuk untuk anak-anak
  • Dandan yang cantik biar foto paspormu keren

Paspor kami sudah jadi nih, tinggal diisi cap-capnya aja mau kemana. Sayangnya masih musim wabah corona, jadi harus tahan diri. Mari berdoa saja sambil menabung, semoga semuanya lekas berlalu dan kita bisa kembali pergi ke belahan dunia manapun tanpa rasa takut dihantui wabah penyakit menular.

 

 

 

10 Comments
Previous Post
Next Post