#CeritaIbu: Mengajak Anak ke Luar Rumah di Masa Pandemi

#CeritaIbu: Mengajak Anak ke Luar Rumah di Masa Pandemi

Ada nggak sih ibu yang punya anak balita atau batita trus sama sekali nggak keluar rumah alias di rumah aja saat pandemi ini? Kalau benar-benar ada, salut banget sih saya. Pengen berguru malah sekalian minta tipsnya. Apalagi kalau dia tinggal di tanah rantau dengan kondisi rumah yang nggak gede-gede amat luasnya di sebuah kompleks atau cluster.

Awal pandemi, saat semua orang disuruh di rumah aja dan WFH, saya melarang banget Aqsa keluar rumah. Walaupun hanya di sekitar rumah atau kawasan cluster karena saking takutnya.  Saya muter otak cari kegiatan selama di rumah aja agar dia nggak bosan dan nggak lari ke gadget melulu.

Baca Juga:   Ide Bermain Anak Usia 2 Tahun (Part 1)

Karena WFH ternyata diperpanjang dan statusnya diganti jadi PSBB, saya jadi rada melonggarkan aturan ke Aqsa. Dia saya perbolehkan untuk keluar rumah dan hanya di sekitar cluster. Lari-lari, main, duduk, atau nongkrong sampai akhirnya dia punya teman anak-anak kecil di sekitar rumah alias tetangganya. Padahal kalau di situasi normal, para anak tetangga ini pada nggak ada di rumah. Seringnya mereka dititipkan ke daycare atau rumah neneknya karena para ibu bekerja. Kayaknya cuma saya yang IRT di komplek.

Dikurung di rumah aja, yang namanya anak-anak udah pasti bosan banget. Perlahan, dia mulai gaul sama satu per satu anak tetangga sampai akhirnya mereka akrab banget satu sama lain. Saya waktu itu masih belum membiasakan Aqsa buat pakai masker dan segala macamnya kalau keluar karena ya masih jarang yang kena.

Hingga suatu hari salah seorang tetangga kami ada yang terkonfirmasi covid-19 dan isolasi mandiri di rumah membuat anak-anak kecil yang biasanya berlarian di sekitar cluster jadi sepi. Hampir semuanya di dalam rumah karena pagar dikunci. Mau gimana lagi, daripada kena virusnya. Tapi saat si tetangga udah sembuh, ya anak-anak ini keluar lagi, lari-larian lagi, dan main bareng lagi.

Baca Juga:   Serunya Bermain dan Menyelami Dunia Bawah Laut bersama Paddle Pop

Walaupun begitu, saya masih jaga banget Aqsa untuk tidak berkeliaran di tempat-tempat umum. Kayak belanja bulanan dia dan ayahnya selalu ikut tapi hanya saya yang keluar mobil dan belanja. Atau kalau mau ke tempat umum pun, kami cuma kelilingan dan lihat pemandangan dari dalam mobil. Ke tempat saudara juga benar-benar dibatasi. Yang biasanya tiap bulan atau 2 bulan sekali jadi setahun cuma 1-2 kali. Dan sampai waktu ini, Aqsa kalau keluar nggak pernah sama sekali pakai masker. Selain waktu itu belum usia 2 tahun, belum ada ukuran masker yang pas, dan masih susah bilangin dia buat disiplin pakai masker.

Kami juga sama sekali nggak pernah dine-in atau makan di restoran. Sama sekali. Kalaupun mau makan makanan resto, pilihannya cuma 3: saya masakin masakan yang sama, Go/Grab Food, atau beli di restonya tapi dibawa pulang. Jadi Aqsa sama sekali nggak pernah terpapar untuk keluar di tempat umum.

Kalau di fasilitas kesehatan pun, waktunya menunggu kami memilih menunggu di mobil daripada bersama dengan orang lain. Baru saat udah dekat atau malah pas dipanggil, kami turun dari mobil.

Setelah new normal pun saya nggak pernah melonggarkan aturan keluar buat Aqsa. Dia tetap hanya boleh main di sekitar kompleks dan nggak keluar di tempat umum. Ke tempat saudara pun dibatasi. Nah, saya justru melonggarkan dia saat pulang kampung pertama.

Aqsa saat pulkam pertama masih belum pakai masker

Pulkam pertama kali, kami sering mengajak Aqsa keluar rumah. Di 14 hari pertama pulkam, kami emang disiplin banget tapi setelah itu ya agak kendor. Saya sering ajak Aqsa main perosotan di TK, alun-alun, dan sepedaan di sekitar rumah TANPA MASKER. Itu semua juga karena masih minimnya angka penularan covid-19 khususnya di kampung halaman suami saya. Saat itu angkanya 0 dan saya pede aja mengajak Aqsa keluar rumah tanpa masker. Toh aman ini.

Baca Juga:   Pengalaman Pulang Kampung Saat Pandemi

Bahkan, saat pulkam pertama kali saya sering mengajak dia dine-in. Makan di resto atau kaki lima dan masih tanpa masker karena saat itu virusnya belum begitu menyebar seperti saat gelombang 2 dan Aqsa masih belum 2 tahun. Tapiiii…saya juga perhatikan betul situasi tempat kami makan. Yang pasti nggak boleh pas jam ramai dan bukan resto yang lalu lalang didatangi orang dari luar kota.

Saat kami kembali dari kampung akhir tahun 2020 kemarin, dia pun tetap bermain di sekitar rumah tanpa masker. Setelah berusia 2 tahun, saya mulai cari-cari dan beli masker anak buat dia. Sebelum punya masker sendiri, biasanya Aqsa pakai masker kain punya saya yang ukuran kecil dan itupun ditali-tali belakangnya. Pas pulang kampung, dia dibeliin masker sama Mbah Utinya dan masih kegedean. Alhasil, setelah pulkam ini saya belikan masker anak yang benar-benar pas buat dia.

Sejak punya masker sendiri, Aqsa kalau keluar rumah selalu pakai masker. Kalau di mobil sih nggak, tapi kalau naik motor kami haruskan pakai masker. Pun kalau naik mobil dan harus keluar sebentar. Tapi di titik ini, saya sama sekali belum mengizinkan dia buat dine in, lebih tepatnya mengizinkan keluarga kami buat dine in di restoran. Palingan sebatas beli makanan di resto dan dia ikutan keluar sebentar.

Karena covid-19 mulai mereda dan orang-orang mulai keluar rumah, saya dan keluarga pun coba-coba pelesiran tipis-tipis ke tempat yang dekat rumah. Saat itu, kami ajak Aqsa ke Scientia Square Park yang ada permainan anak dan beberapa hewan yang bisa dilihat dari dekat. Aqsa senangnya bukan main sampai nggak mau pulang. Pas keluar rumah kali ini, kami sengaja nggak mandi dulu.

Baca Juga:   #CeritaIbu: (Akhirnya) Jalan-Jalan ke Scientia Square Park

Beberapa persiapan dan protokol kesehatan ketat yang saya terapkan buat Aqsa pas piknik tipis-tipis ini, antara lain:

  • Berangkat pagi-pagi sekali dan di hari kerja dengan harapan venue-nya sepi, padahal pas sampai sana ya rame-rame juga
  • Nggak usah mandi saat berangkat, tapi pas pulang langsung mandi dan bersih-bersih semuanya
  • Pakai masker dan bawa beberapa masker lain buat cadangan
  • Selalu cuci tangan dan pakai handsanitizer terutama kalau habis memegang sesuatu di tempat umum
  • Kalaupun mau makan atau minum dan terpaksa banget buka masker, memilih tempat yang sepi dan nggak ada orang
  •  Di kesempatan ini kami juga pertama kali ngajak Aqsa dine-in di tempat makan. Sebelum makan, kami pastikan tempat makannya sepi dan kalau nggak ikut makan, Aqsa nggak boleh lepas masker. Trus selalu gunakan handsanitizer.

Sejak keluar ke Scientia Square Park yang agak casual, memang saya jadi agak kendor prokes. Apalagi waktu itu angka covid-19 masih stabil, nggak meledak dan belum ada status PPKM or whatever lah.

Saya juga beberapa kali sempat ajak Aqsa ke tempat umum lagi kayak ke Living Mall, Gramedia, bahkan Broadway di The Bliss Alam Sutera walaupun memang selama keluar itu pakai prokes ketat dan pergi saat pagi-pagi dan di beberapa tempat kami memilih kesana di hari kerja karena lebih sepi. Dan selama keluar rumah itu, saya selalu pakaikan masker ke Aqsa.Hingga saatnya kami pulang kampung untuk yang kedua kalinya. Saya pikir waktu itu, kami akan sedikit ‘lega’ dengan situasi di kampung halaman. Salahnya saya, menyamakan keadaan di pulkam pertama dan kedua ini. Ternyata saya salah perkiraan.

Baca Juga:   Pulang Kampung (Lagi) saat Pandemi

Di pulkam kedua, kemana-mana (keluar rumah) saya selalu pakaikan Aqsa masker. Ini beda banget dari pulkam pertama di mana Aqsa pakai maskernya masih bolong-bolong dan mayoritas nggak pernah pakai masker. Tujuannya sih biar mengajarkan dia nggak standar ganda sama keadaan. Saya nggak mau dia mikir “Ibu kok pas di Jakarta aku pakai masker, di kampung nggak?”.

Di kampung halaman pun awalnya saya masih pede buat ajak dia berenang di kolam renang umum dan ajak dia makan dine in di tempat makan umum. Pas pulang kampung ini pula, saya selalu izinkan dia ikutan berbelanja di minimarket kalau saya pas beli sesuatu. Ini sesuatu yang jarang (dan mungkin nggak akan pernah) saya lakukan ketika masih pandemi.
Baru deh setelah lambat laun angka covid-19 naik sampai akhirnya meledak di akhir Juni 2021 kemarin, saya mulai strict lagi sama Aqsa. Apalagi pas udah mulai PPKM Darurat, dah lah itu kami di rumah aja terus.

Lha gimana, di kampung juga situasinya sama saja. Yang covid juga banyak apalagi di kanan kiri rumah ibu saya, nggak tanggung-tanggung kalau ada yang covid biasanya meninggal. Belum lagi keluarga adik dan kakak suami saya kena covid semua.

Pas PPKM Darurat, rute saya di kampung ya cuma rumah ibu dan mertua. Mau ke tempat saudara pun nggak jadi karena sedang sakit. Sejak saat itu, benar-benar di rumah terus. Kalaupun keluar hanya keliling pakai mobil.

Baca Juga:   Rebahan Produktif saat PPKM Darurat

Pas lagi ganas-ganasnya corona, kalau di tempat ibu saya dia sama sekali nggak saya bolehkan keluar karena jarak antarrumah berdekatan dan kala itu banyak orang tiba-tiba meriang. Sementara di rumah mertua saya, boleh keluar rumah tapi harus dengan masker dan ke tempat yang sedikit atau nggak ada orang kayak sawah.

Entah untung apa nggak, pas PPKM Darurat setiap malam lampu jalanan di Purworejo dan sekitarnya dimatikan. Jalanan jadi gelap sekali. Ini juga yang bikin kami malas keluar pas PPKM Darurat. Jadi, walaupun di kampung atau kota kecil yang kayaknya aman dari corona, saya tetap disiplin buat di rumah aja karena emang takut. Di sini virusnya juga banyak tapi kebanyakan orang menganggap enteng virus ini.

Pas PPKM Darurat udah berubah jadi PPKM berlevel, saya mulai ‘merenggangkan otot’ dengan kembali mengajak Aqsa keluar rumah tentunya dengan prokes ketat. Saya ajak dia belanja di supermarket, dine in makan di resto yang sepi, atau nonton 17-an di kampung suami saya. Alhamdulillah anaknya senang dan saya juga bisa mengurangi kebosanan.

Alhamdulillah, sekarang di kampung halaman saya udah mulai agak fleksibel buat bawa Aqsa keluar rumah. Sesekali dia saya perbolehkan buat ikut belanja di supermarket, nonton kereta di pinggir rel, atau naik sepeda di sekeliling permukiman ibu saya. Trus kalau ditanya, tipsnya apa membawa anak keluar rumah saat pandemi? Jawaban saya, LEBIH BAIK DI RUMAH SAJA. Keluar rumah kalau terpaksa banget dan yang paling penting adalah PROKES HARGA MATI!!

Jadi, tetaplah berjuang buat di rumah aja selama vaksin buat anak-anak di bawah usia 12 tahun belum ada. Karena kita punya pilihan untuk sehat walaupun bosannya setengah mati. Well, kalian nggak sendiri, kok.

 

 

2 Comments
Previous Post
Next Post
Sweet & Sour, Realita Kisah Cinta Kaum Muda di Kota
Rekomendasi

Sweet & Sour, Realita Kisah Cinta Kaum Muda di Kota