#CeritaIbu: Menyapih Aqsa dengan Cinta, Tega, dan Drama

#CeritaIbu: Menyapih Aqsa dengan Cinta, Tega, dan Drama

Pertengahan Oktober 2020 kemarin Aqsa genap berusia 2 tahun. Ini berarti babak baru kehidupannya dimulai, begitu pula pekerjaan rumah untuk membimbingnya di babak baru kehidupan itu dimulai bagi saya dan ayahnya. Hal pertama yang harus mulai kami biasakan saat Aqsa memasuki usianya yang baru adalah berpisah dengan nenen alias menyapihnya.

Kebetulan sekali, saat memasuki usia 2 tahun Aqsa melewatinya di kampung halaman. Jadilah saya dan suami memulai proses menyapihnya di kampung halaman. Sebenarnya, sudah dari jauh-jauh hari kami sounding ke Aqsa soal menyapih ini. Kami bilang ke dia, kalau nanti 2 tahun Aqsa minumnya air putih ya dari gelas. Dia sih iya-iya saja tapi saya yakin belum tahu benar maksudnya.

Baca Juga:   Pengalaman Pulang Kampung Saat Pandemi

Sayangnya, saya memang nggak rutin sounding ke dia. Nggak yang setiap hari atau setiap mau tidur bilang. Cuma pas mendekati 2 tahun aja, intensitas soundingnya semakin banyak.

Selain itu, perlahan frekuensi menyusui Aqsa juga saya kurangi. Yang tadinya sehari bisa 4-5 kali, sekarang hanya 3 kali dan itu pun saat mau bobok. Tapi sayang, bagian yang ini juga kadang saya nggak disiplin. Kalau Aqsa lagi tantrum, iseng, atau saya yang mati gaya, biasanya saya kasih nenen biar dia tenang atau tidur. Pokoknya, nenen itu penyelamat banget buat saya, Aqsa, atau ayahnya di masa pandemi ini. Pikir saya, daripada dia main gadget, mendingan nenen aja, haha.

Baca Juga:   Menjaga Daya Tahan Tubuh saat Melewati Pandemi di Kampung Halaman

Menyapih Penuh Drama

Pulang kampung saat pandemi itu enak banget karena punya support system yang bisa dimintai tolong saat saya repot atau saya bisa mengajak Aqsa keluar rumah dengan sedikit lebih tenang dibandingkan kalau di Jakarta. Tapi menyapih anak saat di kampung halaman justru merepotkan buat saya.

Kenapa merepotkan?

Yang pertama, karena saya tanpa persiapan peralatan. Tadinya, saya ngira sebulan atau beberapa minggu aja di kampung halaman. Tapi ternyata molor jadi 2,5 bulan dan mau nggak mau harus mulai menyapih di sana. Sayangnya, saya nggak bawa ´perlengkapan perang´ mulai dari pompa ASI sampai breastpad. Sempat saya hubungin adik saya yang nungguin rumah buat mengirimkan pompa ASI tapi akhirnya malah nggak jadi.

Yang kedua, karena tidak ada AC di rumah orang tua atau mertua saya. AC adalah kunci Aqsa tidur nyenyak sampai pagi.

Yang ketiga, karena ada banyak orang selain saya, suami, dan Aqsa. Ada banyak kepala berarti ada banyak omongan yang akan masuk dan saya nggak begitu suka. Well, kunci sukses menyusui saya adalah memblok sebanyak mungkin orang untuk ikut campur urusan mengASIhi dan ini terbukti sukses.

Baca Juga:   Tentang Teamwork dalam Proses MengASIhi

Nah, di fase menyapih ini ternyata saya telat mengantisipasi itu. Alhasil banyak saran yang menyuruh saya buat ngasih jamu atau lipstik di payudara lah, ngasih Aqsa dot  lah, dan cara-cara lain yang nggak ´masuk´ di saya.

Kalau lihat banyak kerepotannya, seperti situasinya belum siap buat menyapih ya?

Iya, saya akui memang. Makanya saya bilang saya terkesan agak buru-buru menyapih. Tapi saat itu hati kecil saya bilang, harus saat itu karena paling nggak ada support system lain yang akan membatu saya menyapih. Karena saat balik lagi ke Jakarta dan masih pandemi seperti sekarang, mulai menyapih akan sangat berat karena Aqsa akan terus-terusan nempel sama saya. Tapi ternyata pikiran seperti itu nggak sepenuhnya cocok buat proses menyapih kami.

Perjalanan menyapih saya dimulai beberapa hari sebelum Aqsa ulang tahun. Perlahan, saya mulai kurangi intensitas menyusuinya di siang hari. Karena di kampung halaman masih bisa dibilang aman dari corona, biasanya siang bisa saya alihkan dengan bermain atau keliling bersepeda. Kadang, siangnya juga saya kasih yoghurt atau susu UHT buat pengganti nenen. Nah, kalau malam ini yang kami masih PR karena entah kenapa Aqsa selalu teringat nenen terus.

Berhasil, nggak? Nggak sepenuhnya. Kalau siang sih masih terhitung mulus ya. Tapi kalau malam masih adaaa aja yang bikin saya akhirnya ngasih nenen lagi ke Aqsa. Tapi sampai di sini juga udah lumayan banget karena siang Aqsa sudah mulai bisa bobok sendiri. Sedangkan malam, kami masih harus mencari selanya gimana biar acara bobok malam bisa mulus tanpa nenen.

Berbagai cara saya dan suami lakukan biar Aqsa bisa bobok tanpa nenen di malam hari. Tapi, bobok tanpa nenen aja nggak cukup, karena kalau bangun di tengah malam kadang Aqsa suka minta nenen juga. Ini juga PR banget soalnya kalau nggak dikasih dia bisa nangis kejer.

Sejak mulai disapih ini saya tandai Aqsa kalau tantrum malam parah banget dan lama. Jam 2 malam bisa terbangun dan nangis sejam sampai suaranya habis atau matanya bengkak. Padahal Aqsa bukan anak yang doyan tantrum selama ini. Nangis juga sewajarnya. Saking seringnya nangis di malam hari ini, bahkan saya pernah sampai berantem sama suami karena urusan tantrum dan persapihan ini tengah malam.

Sampai di sini akhirnya saya mikir, apa mungkin ya saya atau Aqsa atau malah kami berdua atau malah kami bertiga bersama ayahnya sebenarnya belum siap untuk memasuki fase ini?

Menyapih Terasa Begitu Berat

Berbeda dengan proses menyusui Aqsa yang bebas drama dan sangat menyenangkan, menyapih buat saya malah terasa begitu berat. Titik balik proses menyapih Aqsa adalah saat malam-malam dia tantrum parah sampai teriak-teriak, saya sudah keukeuh buat nggak mau kasih nenen, suami bentak saya buat ngasih nenen, dan kami berantem gara-gara mau dikasih nenen apa nggak nih.

Di pikiran saya. kalau dikasih nenen dia akan menjadikan tantrumnya alat buat nggak mau lepas nenen. Sebelumnya ada yang bilang ke saya, kalau nangis atau tantrum tetap jangan dikasih karena itu akan jadi alasan dia buat minta nenen lagi dan lagi. Sementara suami orangnya nggak tegaan. Ditambah sebagian orang udah nyuruh cepat-cepat sapih dan harus berhasil. Tanpa memikirkan efek apapun pada kami.

Itu baru soal Aqsa ya. Di saya, menyapih terasa berat karena payudara yang terus-terusan bengkak. Bengkaknya parah banget sampai keras kayak batu. Untungnya saya nggak sampai demam atau mastitis. Saya sempat bingung soal payudara bengkak ini. Akhirnya, saya cari tahu ke banyak sumber bahwa payudara yang bengkak saat proses menyapih nggak boleh dipompa sampai habis. Sampai di situ, saya yang sebelumnya nyuruh adek saya cepat-cepat buat paketin pompa ASI bilang ke dia buat ditahan dulu, jangan dipaketin.

Saya pernah mengalami bengkak parah payudara pas habis melahirkan anak pertama dulu sampai harus diulekin daun lembayung sama ibuk. Di tengah segala tekanan menyapih, saya masih bisa bilang untung karena ibuk beliin kol yang akhirnya saya masukkan ke kulkas buat dikompres ke payudara kalau udah bengkak parah. Selain itu, kalau lagi mandi saya juga pijat payudara di bagian yang keras dan mengeluarkan sedikit demi sedikit isinya biar nggak terasa sakit banget.

Baca Juga:   Mengenal IUFD

Sampai di sini, saya merasa ada yang salah dengan proses menyapih saya. Rasanya kok ya berat dan susah banget.

Menata Ulang Proses Menyapih

Saya ingat beberapa kali pernah ikut semacam kulwap soal WWL (weaning with love) dan sekadar ikut karena mikirnya waktu itu, ´ Ah belum mau menyapih ini, ntar dibaca lagi kalau udah mau nyapih´. Gitu terus sampai akhirnya pas udah mulai nyapih malah nggak kebaca. Ada yang gitu juga nggak? Sini kita toss dulu.

Tobatlah saya, akhirnya mulai saya baca dan cerna satu per satu materi kulwap itu. Dalam salah satu kulwap, ada beberapa ciri anak yang dinilai belum siap disapih, antara lain:

1. Rasa takut pisah dengan ibu yang tidak wajar
2. Menangis, rewel, atau tantrum
3. Lebih sering bangun di malam hari
4. Menggigit (yang tidak pernah dilakukan sebelumnya)
5. Bayi memiliki kedekatan baru dengan mainan, bantal,dll
6. Bayi suka mengisap jari
7. Bayi menolak makan atau sembelit

Dan Aqsa punya 2 dari ciri di atas yaitu no 2 dan 3. Dari situlah saya yang tadinya sudah mantap menyapih jadi sedikit merasa bersalah.

Bersalah kalau selama ini mungkin kami belum siap, tapi saya memaksakan.

Bersalah karena lebih menuruti ego soal keidealan menyapih.

Bersalah karena peer pressure dan menjadikan menyapih sebagai suatu pembuktian.

Bersalah karena nggak mikirin mental Aqsa.

Bersalah karena zalim sama badan sendiri.

Saya pun menata ulang pikiran, hati, dan manajemen menyapih. Pikir saya, oke nggak apa-apa saya pelan-pelan dan progressnya lama pas menyapih, asal saya dan Aqsa happy. Saya juga yang tadinya udah stop sama sekali memberikan nenen ke Aqsa walaupun dia tantrum segimananya, jadi mengalah buat nggak apa-apa sesekali kasih nenen. Semua ego, keinginan pembuktian, peer pressure, omongan orang, saya abaikan semua. Saya ingin memulai menyapih benar-benar dengan cinta dan bahagia.

Hasilnya? Saya lebih santai. Aqsa pun perlahan tantrumnya berkurang. Bagian yang ini saja sudah saya syukuri. Selanjutnya, saya dan suami menata ulang strategi untuk siang dan malam.

Untuk siang hari, kami mulai kebiasaan baru. Aqsa yang biasanya tidur siang 2 kali yaitu pukul 10.00-12.00 dan 14.00-15.30 kami ubah jadwalnya jadi hanya sekali. Di jam-jam 10-an, biasanya saya ajak dia main, naik sepeda, atau nonton TV hingga jam makan siang, jam 12.00. Setelah makan siang, biasanya dia saya biarin gogoleran sendirian di depan TV sampai akhirnya bobok sendiri. Buat jadwal siang ini, relatif mudah kok karena gampang untuk mengalihkan perhatian Aqsa.

Nah, buat jadwal malam ini saya dan suami yang rada kedodoran. Berbagai macam cara kami upayakan dari tidur sambil kelilingan pakai mobil, mengajak Aqsa gedebukan dulu di sore harinya biar pas jam tidur tiba dia capek, Aqsa pisah tidur sama saya dan tidur sama ayahnya, baca cerita, sampai nyanyi sampai 10 album lagu anak-anak sebelum tidur. Untuk tidur malam ini effort-nya besar banget sih.

Kalau ditanya cara mana yang paling manjur? Nggak ada yang benar-benar manjur banget. Jadi semuanya kami terapkan selang-seling karena Aqsa anaknya gampang bosan dan cepat banget mengenali rutinitas. Alhamdulillah sejak ditata ulang manajemen persapihan ini, Aqsa udah mulai anteng dan badan saya juga mulai menyesuaikan. Aqsa masih sesekali tantrum parah tapi udah nggak setiap hari. Omongan orang soal ´Kok dikasih lagi?´, ´Kok masih nenen?´ atau saran-saran pemberian apapun buat mempercepat proses penyapihan saya masukin kuping kanan keluar kuping kiri. Semuanya jadi terasa lebih ringan untuk dijalani hingga akhirnya kami pulang ke Jakarta.

Karena sudah sering nggak nenen (intesitasnya jadi 2-3 hari sekali), pas nenen pun jadinya payudara sakit. Rasanya kayak menyusui bayi baru lahir tapi bedanya ini ada giginya alias bayi piranha, hahaha. Hari-hari menjelang pulang ke Jakarta pun, Aqsa sudah berhasil sekitar 2 atau 3 harian nggak nenen sama sekali. Momen kepulangan ke Jakarta ini kami dijadikan momen buat mempermulus proses menyapih.

Sepanjang perjalanan pulang pun, Aqsa sama sekali nggak minta nenen. Saya kasih dia susu UHT. Pas nyampe di rumah, proses menyapih ini lebih gampang lagi karena kalau malam Aqsa tidur nyenyak banget berkat AC.

Kalau saya bisa bilang, AC adalah pendukung keberhasilan proses menyapih ala saya dan Aqsa.

Karena sejak pulang ke rumah dan tidur dengan AC, Aqsa tidur dengan tenang dan saat memulai tidur pun tanpa drama. Hingga saat ini, Aqsa sudah nggak pernah lagi nenen dan kalaupun ditawari sudah nggak mau. Saya dan suami pun akhirnya dengan bangga bisa mengatakan bahwa sekarang Aqsa sudah sah disapih.

Saat proses menyapih tuh saya sama sekali nggak gloomy atau mellow, kayak yang dibilang orang-orang. Benar-benar saya tega tanpa drama. Saya mellow justru pas Aqsa udah sah nggak nenen lagi. Lihat dia bobok sendiri padahal biasanya nenen dulu. Untungnya sekarang dia kalau mau tidur harus peluk ibuk dulu, jadi saya nggak kehilangan-kehilangan banget momen bersamanya.

Jadi, total waktu yang dibutuhkan buat saya menyapih Aqsa sekitar 1,5 sampai 2 bulanan. Setiap ibu, pasti butuh waktu yang berbeda. Ada yang cepat, ada pula yang lebih lama dari saya. Tidak apa-apa, nikmati saja prosesnya.

Sebagai sesama ibu dan perempuan, saya juga mau berbagi tips menyapih ala saya nih siapa tahu bisa membantu:

  • Cari tahu dan gali banyak informasi soal menyapih jauh-jauh hari sebelum memulai prosesnya. Cari tahu informasi ini bukan cuma untuk ibu ya tetapi ayah yang juga akan berperan penting dalam proses menyapih. Infonya bisa tanya ke sesama ibu, tanya ke ahlinya, ikut kulwap, atau baca banyak artikel soal menyapih.
  • Satukan suara dengan suami atau ayah si kecil yang nanti akan berperan penting dan saling mendukung dengan brainstorming soal apa-apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat proses menyapih.
  • Sounding dari jauh-jauh hari dan SECARA KONSISTEN pada si kecil. Jangan kayak saya yang sounding kalau ingat aja.
  • Pastikan semuanya siap, baik ibu, ayah, atau si kecil. Siap itu pun sebenarnya juga relatif, ada juga yang bilang siap berarti dengan mulai tega. Ya bagaimanapun itu, soal kesiapan kuncinya adalah ikuti kata hati.
  • Buat semacam ´clear area´ untuk orang-orang yang sekiranya toxic atau nggak sesuai dengan prinsip menyapih kalian. Sementara aja, clear area ini jadi comfort zone selama menyapih agar nggak stres-stres amat. Bagaimana bikin clear area? Kalau saya sih memilih minggir dulu dari circle yang sekiranya nggak sesuai prinsip.
  • Abaikan omongan orang yang nggak sesuai dengan prinsip menyapih yang menurut kita benar. Untuk yang satu ini memang kadang susah atau malah bikin baper. Tapi kemampuan kita buat cuek dan bodo amat dituntut banget di sini.
  • Jangan memaksakan diri untuk meneruskan proses menyapih kalau memang di pertengahan si kecil sakit atau menunjukkan tanda-tanda belum siap.
  • Cari kegiatan yang sekiranya bisa mengalihkan si kecil dari ingatan soal nenen. Kegiatannya bisa apa saja mulai dari main bareng, baca buku, nyanyi bersama, dan masih banyak lagi.
  • Last but not least, setiap orang tua punya waktu sendiri soal menyapih. Berapa lamanya menyapih antara satu orang dengan orang lain akan berbeda dan itu tidak apa-apa. Tak apa kalau memang harus lama, yang penting adalah semuanya enjoy dan nggak berakhir dengan trauma di salah satu pihak baik ibu ataupun anak.

Sama halnya dengan menyusui, tiap ibu pasti punya pengalaman personal yang berbeda. Jangan dihakimi, apapun atau bagaimanapun itu caranya karena yang saya tahu setiap ibu pasti akan memberikan yang terbaik untuk buah hatinya.

Selamat menyapih dengan cinta dan bahagia.

 

2 Comments
Previous Post
Next Post
Sweet & Sour, Realita Kisah Cinta Kaum Muda di Kota
Rekomendasi

Sweet & Sour, Realita Kisah Cinta Kaum Muda di Kota