Perlindungan Ekstra di Masa Pandemi dengan Mouthwash Berteknologi CPC

Perlindungan Ekstra di Masa Pandemi dengan Mouthwash Berteknologi CPC

Sejak pandemi, saya orang yang sebisa mungkin menghindarkan diri datang ke fasilitas kesehatan dalam bentuk apapun, mulai dari rumah sakit sampai klinik. Hanya 1 kali saya terpaksa ke fasilitas kesehatan karena harus memvaksin Aqsa, itu pun pakai protokol kesehatan yang ketat. Makanya, sebisa mungkin saya dan keluarga menjaga kesehatan agar nggak perlu berhubungan dengan faskes saat ini.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Pengalaman Memvaksin Anak di Masa Pandemi

Satu fasilitas kesehatan yang juga saya hindari adalah klinik gigi. Padahal saya pengen banget ke dokter gigi buat periksa keadaan tambalan-tambalan di gigi geraham saya. Saya juga pengen ngajakin dan mengenalkan Aqsa ke dokter gigi karena dia sudah mulai tumbuh giginya. Tapi sayang, pandemi menyerang dan klinik dokter gigi merupakan salah satu tempat yang sangat berpotensi sebagai tempat penyebaran covid-19.

Baca Juga:   Cerita Kehamilan Ketiga: Drama Perawatan Gigi saat Hamil

Dr Kuntjoro Adi Purjanto, M.Kes, Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) dalam talkshow bertajuk “New CPC Technology, Terbukti In Vitro Lawan Virus Corona” menyatakan bahwa rumah sakit adalah tempat yang paling berisiko untuk penularan covid-19, disusul dengan tempat kerja bidang konstruksi dan manufaktur. Di rumah sakit, khususnya, ada banyak sekali risiko tertular covid-19 terutama untuk tenaga kerja, pasien, dan juga lingkungannya.

Satu bidang yang paling terdampak dan berisiko penularan covid-19 adalah kedokteran gigi. Bayangkan saja, dokter gigi langsung bersentuhan dengan bagian yang bisa jadi sumber covid yaitu mulut dan liur. Oleh karena itu, dokter, bukan hanya dokter gigi, di masa sekarang berhak untuk membatasi pasien. Pun jika lelah, dokter harus jujur karena daya tahan tubuh yang melemah bisa memudahkan penularan virus corona. Perilaku seorang dokter pun harus berubah, tentunya harus patuh dan disiplin dengan protokol kesehatan.

Ke Dokter Gigi di Masa Pandemi

Kita, saya khususnya, nggak tahu kapan pandemi dan situasi yang seperti sekarang ini akan berakhir. Bisa jadi kita masih harus bersabar 1-2 tahun, tetapi ada juga yang bahkan nggak bisa meramalkan ujung pangkalnya pandemi. Dengan keadaan yang serbatidak pasti ini, nggak mungkin juga donk saya terus-terusan menahan diri buat nggak ke dokter gigi. Apa kabar kesehatan gigi saya? tetap ada masanya saya harus ke dokter gigi. Pun dengan Aqsa yang gigi susunya sudah mulai penuh, tentu harus rajin ke dokter gigi setiap periode tertentu.

Baca Juga:   Tentang Menjaga Kesehatan Gigi Keluarga

Bahkan drg. Tritarayati, SH, MHKes. selaku Ketua Komite Kesehatan Gigi dan Mulut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pun menuturkan di tengah ketidakpastian mengenai kapan virus ini akan terkendali, ternyata masih banyak masyarakat yang salah paham mengenai risiko penularan covid-19. Selain di saluran pernafasan, banyak riset menunjukkan bahwa virus SARS-CoV-2 juga terdapat di rongga mulut orang yang terinfeksi, terutama di air liur.

Virus yang ada di air liur inilah yang justru harus diwaspadai karena di dalam 1 ml air liur terdapat lebih dari 1 juta partikel virus. Sementara, data terbaru dari CDC menunjukkan bahwa lebih dari 50% penyebaran virus SARS-CoV-2 berasal dari kasus konfirmasi tanpa gejala (OTG) yang berada di sekitar kita. Faktanya, virus penyebab covid-19 menyebar terutama melalui tetesan air liur atau keluarnya cairan dari hidung, yang telah terdeteksi sebelum, selama, dan setelah fase akut penyakit, begitu juga dalam kasus tanpa gejala. OTG inilah yang paling berbahaya menurut saya karena banyak orang di sekitar saya yang jadi OTG atau tertular dari OTG.

Itulah sebabnya, ke dokter gigi sekarang nggak mudah. Dokter gigi nggak tahu keadaan kita seperti apa, pun sebaliknya. Dr. drg. Armelia Sari Widyarman, M. Kes atau yang biasa dipanggil drg. Sari, dokter gigi dan juga peneliti, menyatakan ada 3 partikel yang biasanya keluar dari mulut yang saat ini harus diwaspadai:

  • Splatter: partikel paling besar ukurannya yang keluar dari mulut misalnya saat menyanyi atau berbicara, berupa muncratan dengan jangkauan 1 meter
  • Droplet: partikel yang lebih kecil ukurannya, keluar dari bersin atau batuk, kecepatannya 10 meter per detik, dan jangkauannya 1,5 meter
  • Aerosol: keluar saat bersin, kecepatannya mencapai 50 meter per detik, biasanya keluar saat bersin, daya jangkaunya 6m, dan bertahan di udara 3 jam

Padahal menurut CDC, covid-19 bisa menular lewat virus yang bertahan di udara. Dalam unggahan di situs resminya, CDC menuliskan ada bukti penularan covid-19 pada jarak 6 kaki atau 1,8 meter yang terjadi di ruangan tertutup dan ventilasi udara buruk. Oleh karena itu, dokter gigi berisiko tinggi tertular virus corona. Jika dokter gigi kurang memperhatikan protokol kesehatan, virus itu bisa tertular ke pasien atau perawatnya juga, begitu seterusnya. Kemudian yang terjadi adalah terbentuklah klaster penularan baru. Hiiii nggak kebayang, kan?

Oleh karena itu, drg Sari memberikan beberapa tips bagi dokter gigi dan pasien sebelum melakukan perawatan gigi bersama, antara lain:

PASIEN

  • Tanyakan ke dokter gigi terlebih dahulu apakah menggunakan protokol new normal (menggunakan apd, dll)
  • Perhatikan di ruangan pemeriksaan dokter apakah ada exhaust fan, sirkulasi udara, dll
  • Lebih baik membuat appointment terlebih dahulu, sebutkan keluhannya, tujuannya apa, agar pasien tidak menumpuk
  • Jangan ke dokter gigi saat sedang sakit, setelah traveling, atau setelah terpapar dengan pasien covid-19
  • Pasien diminta untuk jujur dan tahu diri

DOKTER

  • Hati-hati saat melakukan pengerjaan area gigi karena beberapa alat seperti scaller ultrasonik atau bor bisa menyebabkan aerosol ke segala arah
  • Di dalam ruangan hanya boleh ada pasien, dokter gigi, dan perawat
  • Dokter gigi harus memakai APD level 3 menurut standar PDGI
  • Setiap pergantian pasien, dokter gigi dan perawatnya harus disinfeksi dan mensterilkan semua alat serta ruangannya
  • Ruangan harus ada ventilasi udara atau exhaust fan
  • Ruangan disteril menggunakan hepafilter/UV

Selain patuh protokol kesehatan, menjalankan beberapa tips di atas, pasien dan dokter gigi juga direkomendasikan untuk melakukan pencegahan tambahan dengan berkumur menggunakan mouthwash yang mengandung CPC.

Mouthwash Ber-CPC, Tambahan Perlindungan dari Covid-19

CPC atau Cetylpyridinium chloride bukan merupakan hal baru di dunia kedokteran. Drg Sari mengatakan, CPC sudah digunakan sejak lama untuk pasta gigi, obat kumur, bahkan spray hidung atau tenggorokan. Karena disebut sebagai antiseptik, CPC efektif disebut sebagai bahan antimikroba yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Bahkan dulu, CPC dalam dosis besar berfungsi sebagai desinfektan yang kuat.

Bahkan semakin bertambah tahun, penelitian CPC ini semakin banyak beragam dan menyebut bahwa penggunaan CPC dalam dosis kecil saja sudah sangat efektif untuk membunuh kuman tanpa merusak jaringan tubuh manusia. Bahkan, drg Sari menambahkan hasil studi ini didukung oleh sebuah uji klinis dari sekelompok peneliti independen di Singapura yang melibatkan sejumlah penderita covid-19. Uji klinis tersebut memperlihatkan bahwa berkumur dengan mouthwash yang mengandung CPC dapat mengurangi jumlah virus SARS-CoV-2 secara signifkan setelah berkumur selama 30 detik, dan efeknya bertahan selama 6 jam.

Karena teknologi CPC yang cukup efektif untuk antiseptik inilah, Unilever sebagai salah satu brand besar yang juga menaungi produk pasta gigi yang umum dipakai masyarakat, Pepsodent, melirik potensi CPC sebagai salah satu hal yang bisa mencegah penyebaran covid-19.

Drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc. selaku Head of Sustainable Living Beauty & Personal Care and Home Care Unilever Indonesia Foundation menyebutkan jika mengurangi jumlah virus di mulut dipercaya dapat membantu mengurangi penularan covid-19. Berbagai temuan pun menunjukkan bahwa mouthwash berpotensi menjadi tambahan penting untuk tindakan perlindungan sehari-hari lainnya, seperti mencuci tangan, menjaga jarak secara fisik, dan memakai masker. Drg Mirah mengibaratkan semua perlindungan ini ibarat lapisan keju yang berlubang. Semakin banyak lapisan untuk pencegahan, semakin baik.

Penelitian soal efektivitas mouthwash ber-CPC sebagai pencegah penularan covid-19 pun dilakukan dilakukan banyak pihak. Sebagai brand global, Unilever juga ikut berpartisipasi dalam diskusi komunitas medis dan ilmiah global seputar potensi penggunaan mouthwash untuk melawan virus SARS-CoV-2. Unilever bahkan menginisiasi studi ilmiah awal bersama Laboratorium Microbac, laboratorium virologi di Amerika Serikat yang terpercaya dan diakui secara internasional, untuk mengukur efektivitas mouthwash yang mengandung teknologi CPC. Salah satu produk mouthwash Unilever yang juga mengandung CPC, Pepsodent Active Defense pun ikut dilibatkan dalam penelitian ini.

Hasil dari penelitian tersebut memperlihatkan Pepsodent Active Defense Mouthwash yang mengandung 0,07% CPC bekerja efektif mengurangi jumlah virus SARS-CoV-2 hingga 99,9% dengan menargetkan dan menghancurkan selubung lipid dari virus tersebut. Dalam studi yang membandingkan produk ini dengan produk mouthwash yang mengandung etanol, campuran enzim, dan zinc sulfat ini, hanya teknologi CPC yang hingga saat ini menunjukkan hasil yang konsisten dan positif.

Atas dasar penelitian inilah, Pepsodent terinspirasi untuk mendonasikan 50.000 produk Pepsodent Active Defense guna memberikan perlindungan tambahan kepada para tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan penanganan covid-19. Donasi ini akan diberikan ke Rumah Sakit rujukan di wilayah Jabodetabek dan Wisma Atlet Kemayoran.

Sementara itu bagi kita masyarakat umum sudah bisa menambah perlindungan diri menggunakan Pepsodent Active Defense karena produk ini telah dijual bebas dan bisa dipakai oleh semua kalangan mulai dari usia 12 tahun. Untuk mendapatkan hasil yang efektif, disarankan untuk berkumur menggunakan Pepsodent Active Defense sebanyak 20ml selama 30 detik setiap hari.

Jadi, mari kita tambah perlindungan tambahan dari covid 19 dan berharap agar pandemi segera berlalu.

 

8 Comments
Previous Post
Next Post