#CeritaIbu: Pengalaman Mudik Berdua bersama Bayi

#CeritaIbu: Pengalaman Mudik Berdua bersama Bayi

Salah satu hal yang bikin shock setelah serangkaian rencana mudik dan tiket awal yang sudah dibeli untuk bertiga (saya, suami, dan adik) adalah pengumuman dari adik saya bahwa kemungkinan besar dia nggak bisa bareng pulang kampung karena ternyata libur kuliah baru dimulai tanggal 29 Mei ini. Kenapa shock? Bukan karena jadwal mudik adik saya yang jadi nggak jelas, toh dia mau-mau aja (katanya) Lebaran di Jakarta sendirian. Akan tetapi, karena saya harus mudik berdua aja sama Aqsa.

Oke, jadi cerita awalnya begini. Awalnya, saya dan suami sudah merancang jadwal mudik bersama karena ini berhubungan dengan beli-beli tiket. Saya udah konfirmasi juga sama adik saya jadwal liburnya dan kami sepakat kalau saya, adik saya, dan Aqsa pulang duluan tanggal 26 Mei 2019 sedangkan suami nunggu sampai masuk kerja terakhir 29 Mei 2019. Saya bahkan sudah konfirmasi berkali-kali ke adik saya buat menanyakan jadwal liburnya bener nggak mulai tanggal 25 Mei 2019.

Baca Juga:   Mudik

Eeehh, tapi dasar bocah ble´e bin plin-plan ternyata pas tiket udah dibeli dan rencana mudik udah matang dia bilang masih masuk kuliah sampai tanggal 29 Mei 2019 dan takut bolos karena takut ada kuis. Sementara jadwal kuisnya juga nggak bisa diprediksi. Padahal tadinya kepulangan kloter pertama dengan mengajak adik saya tujuannya adalah biar saya nggak sendiri pegang Aqsa di jalan, jadi ada ´asisten´ kalau tiba-tiba saya pengen ke toilet atau ngapain.

Karena nggak punya pilihan, jadilah mau nggak mau kemungkinan saya pulang berdua aja sama Aqsa semakin besar. Adik saya akhirnya beli tiket kereta tambahan tapi tiket kereta pertamanya belum dibatalkan. Sementara suami sempat khawatir dan mencoba mengalah buat pengen pulang bareng saya aja. Iya, masih sebatas pengen karena tiket belum di tangan.

Baca Juga:   Cara Membatalkan Sebagian Tiket Kereta Api dalam Satu Kode Booking

Suami masih coba nanya ke CS PT KAI ada kemungkinan nggak tiket yang sudah dia pegang ditukar dengan tiket adik saya. Ternyata nggak bisa. Kalau mau dibatalkan, tiket adik saya ya dilempar lagi ke pasaran online dan suami harus nyari lagi di tanggal 26 Mei 2019 untuk kereta yang sama which means ini susah banget karena bayangin aja ribuan tiket kereta aja hanya ludes nggak sampai 10 menit apalagi cuma 1 tiket yang ´dilepas´ udah pasti banyak yang nyamber.

Sudah gitu, suami bisa aja cari terus tiket di tanggal keberangkatan dan kereta yang sama dengan saya karena bisa jadi masih ada tiketnya sebab tanggal keberangkatannya masih jauh dari hari H Lebaran. Tapi ya kemungkinan dapat duduk sebelahan sama saya keciiiillll banget. Percuma juga kalau bisa berangkat bareng tapi tempat duduknya jauh-jauhan. Jadi ya udahlah daripada ribet saya beranikan diri saja buat mencoba pulang mudik berdua sama Aqsa.

Ada sedikit keraguan dari saya dan banyak ketakutan dari suami buat melepas saya mudik berdua saja dengan Aqsa. Pasalnya, di pulang kampung sebelumnya kami nyaris nggak survive di dalam kereta karena Aqsa ngamuk sejadi-jadinya. Takutnya yang begitu terulang lagi dan kali ini cuma ada saya. Kasihan sama saya kata suami kalau Aqsa ngamuk lagi. Tapi saya coba yakinkan suami kalau sekarang Aqsa udah lebih bisa ditenangkan dengan digendong pakai SSC kalau ngamuk. Selain itu, kita mencoba mengerti jam tidurnya Aqsa belajar dari kesalahan sebelumnya yang ´mengganggu´ jam tidurnya saat mau sampai ke stasiun yang mengakibatkan dia nangis kejer.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Pengalaman Pertama Berkereta Api bersama Bayi

Untuk persiapan mudik, saya mencoba seefisien mungkin packingnya. Saya nggak bisa packing simpel dengan membawa sedikit barang karena barang keperluan saya dan Aqsa itu banyak sampai-sampai saya bawa slow cooker buat MPASI. Ini demi kemashlahatan Aqsa makan dan kenyamanan saya bikin makanannya. Setelah di-packing hasilnya 3 bawaan yang bisa dibawa: 1 koper besar berisi baju saya dan Aqsa, 1 tas berisi peralatan ´darurat´ Aqsa kayak diapers dan baju ganti, dan 1 tas isinya peralatan MPASI dia dari slow cooker sampai EVOO. Koper dan tas MPASI masuk ke bagasi kabin, sementara tas peralatan darurat ditaruh di bawah aja biar nggak ribet kalau mau ambil sesuatu.

Ribet amat yak bawanya? Iya emang apalagi yang peralatan MPASI. Pengennya sih saya yang ringkas beli peralatan MPASI kayak EVOO, unsalted butter, atau keju cub di rumah aja gitu kalau ada tetapi kan nggak ada. Purworejo, ehm Kecamatan Kutoarjo khususnya tempat tinggal saya masih susah beli yang begituan. Jadi ya mau nggak mau harus bawa.

Baca Juga:   5 Hal yang Dirindukan dari Kampung Halaman Tercinta, Purworejo

Selain itu, saya juga melarang suami buat membatalkan tiket adik saya yang nggak jadi berangkat bareng. Jadi saya tetap punya 2 bangku buat saya dan Aqsa biar luas dan Aqsa bisa leluasa bobok atau duduk. Kebayang soalnya kalau tiketnya dijual lagi dan saya cuma kebagian 1 bangku (infant kayak Aqsa belum dapat jatah bangku) bersebelahan sama orang pasti nggak nyaman apalagi kalau Aqsa rewel. Nggak nyaman di saya dan orang lainnya karena dulu saya sering mengalami duduk bersebelahan atau depan-depanan sama orang yang bawa anak kecil rewel itu ganggu banget. Iya kalau dia toleransi, nhaaa kalau nggak?

Jadilah ketika hari H mudik itu tiba, saya juga lumayan deg-degan. Starting point-nya udah bagus nih. Jadi pas jam sahur saya siap-siap dari mandi dan siapin makanan buat Aqsa, Aqsa saya biarin aja bobok dulu. Setelah semuanya selesai pas jam subuh baru Aqsa saya bangunkan dan alhamdulillah dia nggak rewel. Saya lap-lap aja badannya dan ganti baju. Sampai di sini dia masih banyak senyum.

Dengan diantar suami saya berangkat sekitar jam 05.30 dari rumah. Kereta saya jam 08.15. Untung hari itu Hari Minggu jadi nggak macet. Macet hanya pas sampai dekat underpass Pasar Senen karena banyaknya kendaraan yang mau masuk ke stasiun. Kami hanya butuh waktu sekitar 45 menit buat sampai di stasiun. Sampai sini Aqsa masih aman karena di mobil dia menikmati melihat jalanan dan bobok sebentar. Pas udah sampai ruang tunggu pun dia  anteng.

Buat mudik ini saya sih maunya yang praktis-praktis aja. Di stasiun keberangkatan pakai kuli, turun dari kereta di stasiun tujuan juga pakai kuli. Jadi saya bebas bebawaan barang dan fokus gendong Aqsa saja. Akhirnya pas di Stasiun Pasar Senen saya pakai kuli dengan tarif 40.000 (biasanya standar harga kuli 25.000-30.000) sedikit lebih mahal dari hari-hari biasa. Sementara di Kutoarjo, ibu saya sudah telepon buat nyiapin kuli yang jemput. Sementara makan (saya nggak puasa) saya milih beli di stasiun aja sebelum masuk boarding. Oh ya, buat kalian yang mudik bawa anak dan bawa banyak barang mending pakai kuli atau porter deh. Apalagi kalau di Stasiun Pasar Senen ada kemungkinan kereta berada di jalur 3 yang berarti kita harus naik turun tangga buat ke peronnya. Dan benar saja, kereta saya ada di jalur 3.

Baca Juga:   Tips Mudik Lebaran Menggunakan Kereta Api

Suami mengantar saya sampai saya masuk pintu boarding. Saya check in pakai aplikasi KAI Access jadi nggak ribet harus print out boarding pass. Pas sudah masuk gate boarding itulah tantangan yang sesungguhnya dimulai. Sebelum masuk, Aqsa sempat rada nggak nyaman karena pengen nenen. Tadinya saya mikir mau nenen aja di ruang menyusui tapi ternyata kereta saya di jalur 3 jadi susah ke ruang menyusui yang ada di peron jalur 1. Jadilah nenennya saya tahan sampai masuk ke dalam kereta. Untungnya, saya nggak nunggu lama di peron. Nggak sampai 5 menit kereta sudah langsir di jalurnya dan penumpang boleh masuk.

Saya dan Aqsa duduk di bangku dekat pintu. Saya makin deg-degan nih takut Aqsa berubah mood jadi ngamuk pas kereta berangkat walaupun dari gelagatnya sih baik-baik aja. Saya juga khawatir kalau saya tiba-tiba sakit perut atau pengen ke toilet apalagi malamnya saya makan capcay yang pedas. Belum lagi kekhawatiran saya kalau Aqsa BAB dan harus gantiin sendirian di toilet, huhuhu. Tapi itu baru kekhawatiran ya karena pada kenyataannya…

Aqsa happy sekali. Pas baru naik, dia lupa buat nenen. Dia yang lagi senang berdiri langsung berdiri-berdiri di dekat jendela buat melihat pemandangan. Nggak tahu deh dia udah tahu kereta dan pemandangan lain apa belum tapi yang pasti dia happy sekali. Saya juga sempat foto-foto sama dia pakai timer kamera trus kasih tau dia kalau ada kereta, pohon, rumah, tiang listrik di sepanjang jalan ketika kereta baru berangkat. Pas beberapa menit setelah kereta berangkat baru deh saya nenenin Aqsa.

Aqsa juga baik banget karena mau makan di kereta. Makannya pun nggak pakai drama padahal akhir-akhir ini kalau di rumah suka rada susah makannya, harus pakai buka tutup kulkas biar mau makan. Hanya saja makannya emang nggak habis karena saya nggak mau maksa buat ngabisin. Well, saya emang bawa porsinya lebih banyak sih dan kalau dipaksa takut malah Aqsa muntah di kereta karena akhir-akhir ini dia lagi sering banget muntah entah kenapa. Kalau muntah di kereta ber-AC kan bisa bikin penumpang lain nggak nyaman sama baunya. Lagipula pas udah tinggal sedikit makanannya, Aqsa udah muka ngantuk. Beberapa menit setelah saya akhiri makan, saya boboin aja dan beneran donk merem.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Happy Menapaki Tahapan MPASI bersama Nuby

Sementara saya nggak bisa tidur. Padahal mata sepet udah ngantuk banget. Untung perut nggak bergejolak. Tapi saya sedikit kewalahan pas Aqsa udah bangun tidur karena aktif banget. Ibaratnya sudah di-charge bobok, makan, dan nenen, nih anak maunya berdiri-berdiri mulu di jendela. Udah gitu, apa-apa pengennya dimasukkin ke mulut karena lagi mouthing. Ampun dijeeehh, untung ini anak bisa ditenangin sama nenen (lagi) dan nyanyi lagu Nursery Rhymes.

Lepas Stasiun Kroya, Aqsa agak rewel karena tidurnya terganggu sama teriakan anak penumpang lain. Jadi dia kaget dan nangis kejer. Segera saja saya peluk dan untungnya jadi tenang. Trus saya gendong aja pakai SSC karena lama-lama kok dia jadi rengikan lagi. Saya goyang-goyang, eeehhh dia merem lagi. Saya juga sempat tidur sebentar sih dan tahu-tahu udah lepas Stasiun Butuh aja. Itu artinya udah mau sampai tujuan, Stasiun Kutoarjo.

Pas udah sampai stasiun tujuan, saya masih stay cool nggak nurunin barang-barang dari bagasi kabin karena berat, bok! Dan benar aja nggak berapa lama ada porter yang teriak nyebut nama saya, itu pasti porter utusan ibuk. Udah deh, tinggal saya kasih tahu barangnya apa saja dan melenggang turun dengan menggendong Aqsa. Yups, mission accomplished. Saya dan Aqsa berhasil melakukan perjalanan mudik berdua yang less drama.

Jadi kalau ditanya kunci sukses mudik berdua sama bayi apa tuh? Kalau ala saya kuncinya adalah:

  1. Buat sesimpel mungkin bawaannya
  2. Kenali jam-jam tidurnya
  3. Hadapi semuanya dengan tenang
  4. Yakin bisa melalui semuanya

Udah siap mudik sama bayi-bayi nih? Selamat mudik!

0 Comments
Previous Post
Next Post