#CeritaIbu: Pengalaman Pertama Berkereta Api bersama Bayi

#CeritaIbu: Pengalaman Pertama Berkereta Api bersama Bayi

Setelah melalui berbagai latihan kecil seperti naik bus Transjakarta ke klinik langganan hingga staycation di hotel buat melatih Aqsa tidur bukan di kamarnya, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun datang juga. Aqsa dan kami pulang kampung ke Purworejo. Kali ini kami memilih moda transportasi kereta api sebagai sarananya dengan alasan rumah saya sangat dekat dengan stasiun. Jadi kalau kami turun kereta, ada yang bantuin menurunkan dan bawain barang-barang karena orang tua saya sehari-hari berjualan di stasiun.

Baca Juga:   Staycation Pertama bersama Aqsa di Hotel Neo Kebayoran

Namun, jauh sebelum akhirnya niatan naik kereta ini benar-benar terlaksana saya sudah mewanti-wanti ke pak suami buat naik kelas eksekutif untuk pengalaman pertama Aqsa berkereta api. Bukannya mau manja atau gimana, pasalnya pilihan kereta sekarang yang menuju Kutoarjo hanya ada 2, eksekutif atau ekonomi. Saya bilang ‘nanti dulu’ deh sama yang ekonomi karena kereta ekonomi sekarang hampir semuanya kelas premium dimana model bangkunya sempit, sandaran bangku depan ketemu dengkul. Persis seperti kursi pesawat kelas ekonomi. Kami khawatirnya Aqsa nggak nyaman karena sempit karena saya sendiri pun yang orang dewasa kadang merasa nggak nyaman.

Kalau mau berangan-angan sih saya senangnya naik kelas bisnis model Sawunggalih Utama yang kursinya memanjang tanpa sandaran tangan di sebelahnya. Jadi Aqsa bisa saya tidurkan di kursi dengan bantal sewaan. Sayangnya, kelas bisnis di Sawunggalih Utama ini sudah dihapus dan digantikan gerbong premium. Jadi ya memang pilihan kami cuma ada 2, ekonomi premium atau eksekutif.

Baca Juga:   Tips Mudik Lebaran Menggunakan Kereta Api

Selain memilih kelas kereta, saya juga mewanti-wanti suami buat pesan tiket kereta yang jadwalnya siang hari. Lagi-lagi demi kenyamanan Aqsa dan kami. Kalau perjalanan malam hari, takutnya Aqsa cranky karena kaget harus tidur di kereta, nangis sepanjang malam sementara kaminya juga ngantuk, susah dibawa jalan-jalan di kereta karena kondisi malam, dan yang paling buruk adalah tangisannya mengganggu penumpang lain yang mau istirahat. Kami nggak mengharapkan itu terjadi, makanya untuk meminimalkan kejadian buruk kami pun bepergian di siang hari.

Tadinya, saya dan suami pengen naik kereta eksekutif yang berangkatnya dari Stasiun Gambir seperti kereta-kereta Argo atau Taksaka. Sayangnya, karena jadwal keberangkatan kami di akhir pekan yang dekat dengan harpitnas liburan Imlek, kereta yang kami mau ternyata tiketnya sudah habis. Jadilah memang tersisa Sawunggalih Utama kelas eksekutif jadwal keberangkatan pagi yang berasal dari Stasiun Pasar Senen. Ya wes lah, daripada nggak jadi pulang kampung akhirnya kami pilih itu saja.

Maka, pas hari H kepulangan tiba juga kami pun sudah bersiap dari malam hari. Saya dan suami sengaja bangun sebelum subuh, bangunin Aqsa, dan lap-lapin badannya karena masih pagi banget. Kami berencana berangkat pukul 05.30, sedangkan jadwal kereta kami jam 08.00. Perjalanan kami perkirakan semacet-macetnya 2 jam karena berbarengan dengan orang berangkat kantor. Selain itu, saya dan suami tipikal orang yang lebih senang datang awal (entah itu ke bandara atau stasiun) dan memilih menunggu di sana daripada kemrungsung terburu-buru di jalan.

Sampai di tahap mandi, masuk mobil taksi online, dan di perjalanan menuju stasiun Aqsa masih stay cool alias tenang karena dia tidur. Tapi setelah itu drama pun dimulai. Lebih tepatnya ketika sudah sampai daerah Kwitang dan dia kebangun, antara pengen nenen dan juga masih ngantuk jadinya nangis. Saya yang merasa ‘nanggung’ karena sebentar lagi sampai memilih menunda Aqsa nenen di mobil dan mikir nanti saja di stasiun biar lebih nyaman. Tapi ternyata Aqsa malah rewel. Dari sinilah semuanya dimulai.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Jungkir Balik Dunia Ibu Baru

Turun dari taksi online, Aqsa udah nangis kejer. Masuk ke ruang tunggu pun nangis kejer. Saya kasih nenen nggak mau ternyata, saya puk-puk suruh bobo juga tambah nangis. Saya ambilin kipas kecil karena takutnya kepanasan, nggak mempan juga. Ampun deh. Mana barang bawaan banyak dan berat, sementara bapaknya belum nemu porter. Jadilah kita keribetan sendiri.

Tangis Aqsa sedikit mereda setelah digendong ayahnya. Karena kami belum nge-print boarding pass, akhirnya saya lah yang gercep buat ke tempat print boarding pass kami berdua (Aqsa masih free tiketnya untuk kereta jarak jauhkarena masih bayi), beli makan buat di kereta karena kami belum sempat sarapan, dan beli Dunkin Donuts buat bawaan oleh-oleh pulang kampung. Seadanya banget lah kami, apalagi Aqsa malah rewel. Dan ternyata, pas saya tinggal Aqsa juga masih rewel sampai suami saya telepon suruh cepat.

Baca Juga:   Cara Membatalkan Sebagian Tiket Kereta Api dalam Satu Kode Booking

Karena Aqsa rewel, kami akhirnya memutuskan buat boarding saja. Untung waktunya sudah bisa masuk dan untung juga kami sudah menemukan porter. Sedikit lega deh sambil mikir kalau di dalam saya dan Aqsa mau ngadem di ruang menyusui sekalian nenenin Aqsa biar nggak rewel.

Sampai ruang menyusui, Aqsa masih juga rewel. Udah diboboin di atas sofa juga masih rewel. Akhirnya, saya ambilin stroller dan diboboin di situ (yups, Aqsa emang paling suka boboan di atas stroller daripada digendong). Sampai sini saya bisa sedikit lega karena akhirnya Aqsa tenang. Tapi dari gelagat-gelagatnya, tenangnya ini nggak tahan lama karena wajahnya kayak masih gelisah pengen nangis.

Setelah kereta tersedia dan kami diperbolehkan masuk, saya dan suami pun masuk. Aqsa yang udah sedikit gelisah akhirnya kami boboin lagi di stroller. Inilah untungnya pergi naik eksekutif karena ruangan depan tempat duduk kami yang luas memungkinkan buat membuka stroller.

wajah tegang sebelum kereta berangkat
lima menit kemudian setelah kereta berangkat

Nggak berapa lama setelah kereta berangkat, Aqsa yang mukanya rada tegang pun tidur juga akhirnya. Kesempatan inilah kami gunakan buat makan dan minum. Hingga akhirnya DRAMA YANG SESUNGGUHNYA PUN BARU DIMULAI.

AQSA NANGIS KEJER MERAUNG-RAUNG!!

Yup, setelah kebangun karena tidur yang tak seberapa lama itu, Aqsa nangis. Itu di tengah-tengah saya lagi giliran makan setelah sebelumnya ayahnya yang makan. Sampai-sampai saya harus sudahi makan saya yang baru setengahnya karena Aqsa kebangun dan nangis jejeritan.

Saya nenenin nggak mau.
Saya puk-puk buat bobo lagi tambah jejeritan.
Saya atau ayahnya ajakin jalan-jalan malah tambah kencang nangisnya.
Saya ajakin nyanyi atau cerita, wes nggak direspon malah nangis.

Saya sampai pergi ke gerbong Reska (Restoran Kereta Api) mau pinjam tempat tidur petugas buat sebentar aja nenenin Aqsa ternyata nggak ada donk (padahal dulu ada karena tiap petugas yang ikut dinas disediakan tempat istirahat di Reska).

Oke, fix saya mulai stress tapi harus tetap tenang. Sampai-sampai ada seorang ibu yang bilangin mungkin Aqsa kedinginan karena AC-nya cukup sejuk dan dia nggak pakai jumpsuit tertutup yang biasanya dipakai buat tidur. Baiklah, saya selimuti dia pakai bedongnya. Yang ada malah tambah nangis karena kepanasan. Maaf ya bu, saranmu sedikit menyesatkan, hahaha.

Tibalah saatnya popoknya penuh dan harus ganti karena udah basah merembes sampai ke baju. Saya dan suami sampai harus ‘gotong royong’ gantiin popok di toilet kereta yang sempit dalam keadaan kereta jalan dan Aqsa yang nangis kejer. Sampai nggak tega saya tuh karena Aqsa jarang, malah hampir nggak pernah, nangis seheboh itu. Matanya sampai kayak bengkak gara-gara nangis dan sampai-sampai saya berpikir apa emang dia nggak nyaman banget naik kereta ya.

Oke, drama belum berakhir ya.

Aqsa masih nangis jejeritan setelah ganti popok. Saya dan ayahnya sampai harus berdiri di dekat bordes (sambungan kereta) dan depan toilet karena takut tangisan Aqsa mengganggu penumpang lain yang mau istirahat. Inget banget saya, itu masih sampai Stasiun Cikampek dan nggak kebayang kalau 6 jam perjalanan lagi harus berjibaku sama Aqsa yang nangis kayak gini, kayaknya saya nggak sanggup pengen turun aja, hahaha. Bahkan buat nenenin dia aja, saya harus pinjam bangku petugas OTC (on trip cleaning) yang ada di depan toilet. Itu pun Aqsa nggak mau dinenenin di situ. Duh stress banget saya.

Akhirnya, saya nekat bawa Aqsa masuk dan duduk lagi di kursi kami. Saya peluk dia. Saya gendong, goyang-goyang, sambil nyanyiin, sebodo amat dulu sama penumpang yang keberisikan karena kalau cara yang ini nggak mempan entah harus gimana lagi. Ajaibnya, nggak berapa lama Aqsa malah bobok donk, lelap lagi.

Saya pindahin lah ke stroller. Dari situ, saya dan ayahnya bisa bernafas lega. Kita bisa ngobrol, ikutan tidur, makan, foto-foto, ambil video, menikmati pemandangan, dan masih banyak lagi selama Aqsa tidur. Aqsa tidur lelap banget bahkan sampai pas digantiin baju pun tetap merem dan baru bangun sampai di Stasiun Karanganyar, itu pun buat nenen karena dibangunin sama kita. Setelah bangun itu, Aqsa pun cerah ceria biasa aja seperti nggak terjadi apa-apa. Padahal sebelumnya, dia udah bikin kami kelimpungan, hahaha.

Masih sempat foto-foto selama di perjalanan
Mumpung anaknya bobok, kitanya foto-foto dulu

Oalaaaahh, dari sepanjang drama itu kami bisa mengambil kesimpulan kalau Aqsa ternyata ngantuk. Dia harus bangun di jam bukan dia biasa bangun (Aqsa biasa bangun jam 08.00) dan ketika mau tidur serba nggak nyaman jadilah cranky. Hingga akhirnya dia menemukan tempat tidur ternyamannya, yaitu pelukan ibu, hahaha.

Dari situlah kami bisa memetik pelajaran besok-besok kalau naik kereta buat memilih jadwal kereta yang berangkatnya bukan di jam tidur Aqsa. Namun, kami masih tetap memilih buat naik eksekutif selama Aqsa masih bayi demi kenyamanannya dan semoga kami juga terus diberi rezeki untuk itu.

Walaupun buat tes naik kereta jarak jauh pertama Aqsa belum begitu lulus dengan baik, tapi 80 persen udah oke lah. Kami hanya tinggal menyesuaikan sama jam tidurnya plus menjaga kenyamanan Aqsa. Untungnya, setelah itu kami sempat mengajak Aqsa naik kereta jarak pendek Prameks (Kutoarjo-Jogja) yang hanya 1 jam perjalanan dengan bentuk kereta seperti KRL namun minus AC dan dia santai aja karena nyaman bisa bobok di gendongan. Semoga nanti pas pulang ke Jakarta atau mudik Lebaran, Aqsa sudah bisa lebih ‘kalem’ kalau naik kereta.

Kuncinya adalah pahami jadwal tidurnya karena pada dasarnya Aqsa akan sangat ngamuk kalau ngantuk.

Itu dia pengalaman saya membawa Aqsa naik kereta dan pulang kampung ke Purworejo. Seru sih walaupun sedikit stress di awal, tapi kan jadi pengalaman.

Kalian ada pengalaman juga nggak membawa bayi naik kereta atau berkendaraan umum? Kalau ada share juga yuk di kolom komentar!

 

 

 

5 Comments
Previous Post
Next Post