Bicara Bisnis, Tren, dan Bertahan di Tengah Pandemi di OASIS bersama Ninja Xpress

Bicara Bisnis, Tren, dan Bertahan di Tengah Pandemi  di OASIS bersama Ninja Xpress

Saat saya akhirnya memutuskan untuk berhijab, Juli 2014 lalu, saya mungkin termasuk salah satu orang yang beruntung. Pasalnya di tahun itu, berhijab sudah sangat mudah. Tidak ada pertentangan atau larangan dari kantor saya dulu walaupun saya bekerja sebagai seorang jurnalis. Di tahun itu pula, fasilitas untuk perempuan yang berhijab pun sudah memadai baik itu yang berkaitan dengan fasilitas umum ataupun yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan diri sendiri seperti sandang.

Di tahun 2014 pula, saya sudah nggak usah bingung-bingung mencari model hijab seperti apa ketika pengen memakainya karena banyak orang di social media bisa menjadi contoh atau panutan dalam berhijab. Saya masih ingat mengumpulkan banyak video dari seorang selebgram yang juga Youtuber, Natasha Farani,  untuk dijadikan contoh memakai hijab. Pun dengan keperluan sandang, di tahun itu sudah banyak sekali keperluan sandang untuk hijaber seperti hijab dengan berbagai jenis, atasan, bawahan, hingga luaran (outer) yang bisa dibeli di manapun.

lebih mudah buat padu padan berhijab zaman now

Kalau bisa mengategorikan, bisa jadi saya termasuk orang yang telat berhijab dibanding dengan teman-teman saya. Saya berhijab ketika hijab bukan lagi jadi sebuah hal yang aneh, tetapi justru sangat lumrah di masyarakat. Tapi telatnya saya kali ini justru memudahkan saya di banyak aspek. Saya tidak mengalami yang namanya diskriminasi dalam pekerjaan, saya tidak mengalami susahnya mix n match baju untuk berhijab, saya bisa dengan mudah mendapatkan contoh dan panutan berhijab dari social media, saya bisa bergabung dalam komunitas-komunitas hijaber yang aktif berkegiatan serta menyuarakan kepentingan anggotanya, dan masih banyak hal lain yang memudahkan saya dalam menjalani kehidupan sehari-hari sebagai perempuan berhijab.

Baca Juga:   Tetap Menawan dengan Hijab Instan

Tanpa saya sadari, ternyata di tahun 2014 itu hijab telah sangat berkembang baik itu sebagai industri ataupun tren. Makanya nggak heran, ketika berhijab banyak kemudahan yang saya dapatkan. Berbeda jauh dengan teman-teman saya yang berhijab dari tahun 90-an yang konon masih mendapatkan banyak pengalaman nggak enak saat berhijab. Saat menyadari ini, saya jadi bersyukur bahwa ketelatan saya ternyata membawa saya di zaman yang serba memudahkan untuk para hijaber.

Kemudahan berhijab saat ini ternyata juga diamini oleh Jenahara Nasution atau yang akrab disapa Jehan, seorang fashion designer brand fashion hijab terkenal di Indonesia. Jehan ini juga salah satu hijaber panutan saya yang selalu santun, modis, dan simpel dalam berpakaian. Ciri khasnya adalah membuat warna-warna monokrom yang tampak datar menjadi dicintai dan patut diperhitungkan dalam suatu fashion item.

Baca Juga:   Fashion Item Murah Meriah? Yay or Nay?

Jehan yang telah berhijab dari awal 2000-an ini justru menjadi salah satu penggagas munculnya Hijabers Community, sebuah komunitas untuk perempuan berhijab yang kini anggotanya sudah sangat banyak. Hal ini dikatakan Jehan dalam Obrolan Asik Seputar Bisnis (OASIS) di Channel Youtube Ninja Xpress, 12 Agustus 2020 yang berjudul Menciptakan dan Memanfaatkan Tren untuk Kepentingan Bisnis atau yang bisa dilihat langsung melalui link https://bit.ly/Oasis_12Aug_RD.

Membangun Brand ala Jenahara Nasution

Jehan yang kesuksesannya kini diakui nggak hanya oleh para hijabers di Indonesia tetapi juga masyarakat umum bercerita bahwa untuk menjadi seperti sekarang ini dirinya sudah mempersiapkan membangun brand dari tahun 2006 dan baru terealisasi 5 tahun kemudian yaitu tahun 2011.  Hal ini dikarenakan Jehan menunggu saat yang tepat untuk ´melempar´ produknya ke pasaran. Apalagi di tahun-tahun 2000an, hijab belum menjadi tren layaknya sekarang. Dulu, hijab identik dengan pakaian yang hanya dipakai oleh kaum ibu-ibu yang sudah berumur. Berbeda jauh dengan sekarang yang sudah dipakai di semua kalangan muslimah. Oleh karena itu, di sela-sela waktu membangun brand itulah Jehan juga memprakarsai berdirinya Hijabers Community.

Baca Juga:   7 Hijabers Cantik yang Nggak Bikin Menyesal Kalau Kamu Follow Akun Instagramnya
Jenahara Nasution

Hijabers Community (HC) yang juga komunitas perempuan berhijab terbesar di Indonesia ini bukan hanya sebuah perkumpulan bagi mereka yang berhijab dan menyuarakan kepentingannya. Bagi Jehan, komunitas ini jadi semacam tolak ukur sampai mana tren hijab di Indonesia. Secara tidak langsung, HC juga membangun segmen dan market sendiri untuk orang-orang yang menggunakan hijab bahwa hijab juga dipakai untuk semua usia di kalangan muslimah. Melalui HC, hijab bukan hanya menjadi sebuah tren tetapi juga diposisikan sebagai salah satu item yang dapat memperlancar seorang muslimah untuk mencapai tujuannya. Hijab justru bisa mengantarkan orang-orang khususnya seorang muslimah untuk bisa menggapai dan mencapai tujuan-tujuan yang bagus.

Konsep baju untuk orang-orang berhijab yang dulu hanya bisa dibeli satu paket (atasan dan bawahan) di tempat-tempat tertentu inilah yang ingin diubah oleh Jehan kala itu. Ia menciptakan konsep baju berhijab yang ready to wear, bisa dibeli per item, dan simpel. Jehan juga tampil dengan ciri khas sendiri pada baju rancangannya yang menghadirkan banyak warna-warna gelap seperti hitam dengan potongan yang simpel. Di sinilah, ia menciptakan market dan segmennya sendiri. Oleh karenanya, di kalangan fashion designer hijab Indonesia Jehan dikenal sebagai designer dengan ciri khas monokrom, yang selalu menghadirkan warna-warna dasar seperti hitam, putih, atau abu-abu dalam baju-baju rancangannya. Menurutnya, hal yang seperti dilakukan untuk memberikan market pilihan dalam tren berhijab.

Baca Juga:   Kamu Tim Mana, Hijab Segi Empat atau Pashmina?

Dengan pengalamannya saat sekolah fashion, segudang ilmu yang ia peroleh saat kuliah fashion design, bakat yang ia miliki dari sang ibu, kemauan kerasnya, serta caranya menciptakan market dan segmen melalui perantara HC inilah yang akhirnya membuat Jehan sukses besar dalam industri fashion hijab di Indonesia. Karya-karya awalnya hanya butuh waktu 3 bulan untuk balik modal dan mendapatkan untung besar. Ia mengaku merasa terbantu sekali dengan adanya HC sebagai sebuah komunitas yang mewadahi para hijabers. Melalui HC pula, ia jadi mengerti apa yang saat ini tengah ngetren dan diinginkan para hijabers. Selain itu, Jehan juga sangat terbantu untuk proses pemasaran dengan menggunakan social media khususnya instagram.

Baca Juga:   Nostalgia Social Media

Bertahan di Tengah Pandemi Covid 19

Sukses membangun brand dengan nama dirinya nggak lantas membuat Jenahara tak pernah mengalami kegagalan. Ia pernah jatuh dan merugi hingga milyaran rupiah pada tahun 2015 hingga harus merelakan banyak karyawannya diberhentikan. Namun, belajar dari kegagalan itu akhirnya ia membangun kembali bisnis yang sudah dirintisnya sejak 2011 hingga akhirnya kini bisa survive dan berdiri tegak seperti semula.

relax and survive mode di tengah pandemi

Belajar dari kegagalan inilah, Jenahara kini mampu bertahan di tengah pandemi covid-19 yang dampaknya dirasakan oleh banyak orang. Industri fashion adalah salah satu yang turut ambruk karena sulitnya ekonomi di tengah pandemi. Mau nggak mau, dia banyak mengubah pola berbisnis untuk bisa survive di tengah pandemi ini. Apalagi awalnya brand Jenahara sudah diakuisisi oleh brand retail besar dan tengah mempersiapkan untuk masuk dalam industri retail. Namun, karena pandemi menyerang mau nggak mau ia harus beradaptasi dengan berbagai cara, antara lain:

  • Memberikan banyak diskon
  • Mengubah cara berjualan yang akhirnya beralih ke online semuanya
  • Membidik fashion item yang berkaitan dengan covid-19 dengan membuat masker atau topi face shield bagi hijabers

Beberapa langkah itulah yang kini membuat Jehan survive di tengah pandemi yang entah kapan akan berakhir ini. Baginya, bisnis yang baik adalah yang selalu bisa melihat perubahan tren termasuk saat pandemi ini. Ia melihat bagaimana tren bergerak dan sampai mana berjalan adalah dengan melihat kehidupannya dan kehidupan di sekelilingnya. Karena baginya tren dalam dunia fashion itu memiliki usia dan selalu berubah. Oleh karenanya, sebagai pengusaha dan juga fashion designer ia harus selalu peka dengan keadaan. 

Baca Juga:   4 Fashion Item Penyelamat Saat Hamil

Nggak hanya menggeluti dunia fashion, perempuan 3 anak ini kini juga mencoba peruntungannya di dunia kuliner dengan mendirikan bisnis kuliner pizza bersama dengan seorang temannya. Berawal dari kesukaannya terhadap keju dan pengalaman makan pizza yang tak terlupakan di sebuah tempat, kini ia memiliki sebuah cafe yang menjual pizza. Masuk ke dunia kuliner yang berbeda jauh dengan dunia fashion, membuatnya harus banyak belajar. Apalagi pola industri kuliner sangat berbeda dan lebih susah daripada industri fashion. Bagaimana industri kuliner bertahan di tengah pandemi covid-19 pun berbeda caranya dengan industri fashion. Walaupun begitu, Jehan menyukai ini dan menganggapnya sebagai tantangan baru di hidupnya. 

Kini, sambil membesarkan bisnis-bisnisnya yang tengah berada di fase survival mode di tengah pandemi, Jehan juga terus mempersiapkan banyak hal untuk karya-karya fashionnya di masa mendatang. Cita-citanya adalah ia ingin produk Jenahara lebih dikenal masyarakat umum dan bisa didapatkan dengan mudah di retail-retail besar di mall. 

Dari pengalaman Jenahara ini banyak sekali pelajaran berharga yang bisa kita ambil saat akan membangun bisnis apalagi di tengah pandemi. Pandemi bukan berarti mematikan ide atau membatalkan impian kita untuk memiliki bisnis sendiri tetapi justru pandemi ini membuat kita mau nggak mau harus mau kreatif dan mencari bisnis yang sekiranya tepat untuk diterapkan dengan kebiasaan hidup masyarakat sekarang ini.

Berbisnis di Saat Pandemi

Menurut saya, bisnis yang berbasis online sangat bisa diterapkan di masa pandemi ini. Tinggal bisa-bisanya kita untuk mencari celah apa yang sedang dibutuhkan masyarakat sekarang. Sebagai contoh kita bisa mulai berbisnis makanan atau lauk kering siap saji yang dikirim melalui ekspedisi seperti Ninja Xpress. Itu salah satu contoh ide bisnis di saat banyak orang harus di rumah saja dan tidak bisa bebas berkeliaran ke pasar atau restoran untuk mencari makanan. Atau bisa juga bisnis barang-barang yang berkaitan dengan hobi seperti properti foto bagi mereka yang pengen tetap kreatif selama di rumah aja dengan kegiatan memotret atau onderdil sepeda di tengah maraknya kegiatan bersepeda akhir-akhir ini.

hobi fotografi saat di rumah aja bisa memunculkan bisnis properti foto

Apapun bisnisnya, yang pasti adalah kita harus peka dengan tren. Satu lagi, going online is a must untuk sekarang ini. Karena sistem jual beli online-lah yang paling aman dan mudah dilakukan di masa pandemi ini. Untuk mendukung para pebisnis baru serta UMKM di masa pandemi inilah, Ninja Xpress ikut berperan serta baik itu melalui jasa ekspedisi yang selama ini menjadi layanan utama bisnisnya ataupun melalui edukasi dalam wadah Ninja Academy dan juga OASIS. Yang pasti, Ninja Xpress berkomitmen untuk terus mendukung usaha dan karya lokal Indonesia untuk bangkit dan bertumbuh bersama dalam menghadapi era new normal. Untuk para pebisnis muda yang pengen mendapatkan ilmu dan edukasi lebih lanjut juga bisa kunjungi website www.ninjaacademy.co.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Memilih Baju untuk Anak, Local atau High-End Brand?

Nah, dari OASIS Jenahara Nasution bersama dengan Soleh Solihun ini, ada banyak hal yang bisa dipetik untuk membangun bisnis disertai dengan cara bertahan dengan jatuh bangunnya, antara lain:

  • Eksekusikan ide di waktu yang tepat
  • Untuk mencari waktu yang tepat inilah kita harus peka dan up to date terhadap tren yang ada di kehidupan dan orang-orang di sekitar
  • Going online karena sistem berjualan dan berbelanja online sekarang sudah sangat maju dan mengakomodasi para pembeli dan penjual. Banyak platform yang sudah bisa digunakan untuk berjualan online misalnya social media, e-commerce, marketplace, ataupun website. Pengiriman belanja online pun sudah sangat memadai misalnya menggunakan fasilitas pengiriman Ninja Xpress yang #ObsesinyaCumaDelivery dan sudah dikenal andal di dunia industri ekspedisi
  • Mau beradaptasi dengan keadaan apalagi di masa sekarang ini saat semua keadaan tidak pasti. Bagi pebisnis, adaptasi adalah salah satu kemampuan yang harus dimiliki untuk terus bertahan di tengah industri
  • Efektifkan social media untuk promosi produk karena platform ini adalah platform yang mudah dan murah sebagai media promosi
  • Jika market sudah jenuh, kita bisa membangun tren sendiri yang tentunya sudah dianalisis melalui tren-tren yang bergulir sebelumnya
  • Beri market pilihan dengan sentuhan ciri khas tertentu pada produk yang akan kita keluarkan

Itu dia beberapa tips yang bisa saya bagi setelah sekitar 1 jam penuh menonton OASIS di Channel Youtube Ninja Xpress. Semoga berguna ya buat kalian yang sedang merintis atau ingin membangun sebuah bisnis, apapun itu bisnisnya. Yang penting lagi adalah terus percaya diri dalam berkarya dan tekun, saya yakin suatu saat pasti akan terlihat hasilnya.

 

0 Comments
Previous Post