Pengalaman Sakit saat Pandemi

Pengalaman Sakit saat Pandemi

Ada satu hal yang sangat saya hindari dan jaga banget sewaktu pandemi ini yaitu agar jangan sampai sakit, apalagi sampai masuk rumah sakit. Duh, rasanya kok ya sedih banget. Dan akhirnya setelah setahun lebih pandemi, saya memang bisa menjaga keluarga tetap sehat. Sayangnya, yang sakit justru malah saya. Bonusnya, sakit kali ini sampai masuk rumah sakit.

Baca Juga:   Tips Ibu Tetap Sehat dan Produktif di Masa Pandemi

Memang dari awal pandemi saya beberapa kali sakit, tapi ya sakit yang ringan kayak demam atau flu aja. Selain itu, sudah berbulan-bulan lamanya saya nggak sakit dan merasa sangat sehat. Barulah habis Lebaran 2021 ini, tubuh saya yang udah capek banget akhirnya tumbang juga.

Sebenarnya, bulan puasa kemarin saya sudah merasa capeeekkk banget dengan semua kegiatan di rumah. Apalagi kalau udah jam 16.00, kegiatan saya mulai dari persiapan, masak banyak makanan, sampai cuci piring yang never ending. Udah gitu saya kurang tidur karena harus sahur yang kadang sebelumnya masak makanan sahurnya dulu. Kalau bisa dibilang, Ramadan kemarin saya betul-betul nggak enjoy karena yang dirasa hanya capek, capek, dan capek. Untungnya, saya masih sempat khatam Quran 30 juz.

Kenapa kok nggak minta bantuan atau beli makanan jadi aja biar nggak capek?

Sebenarnya, suami saya udah bantu buat pegang Aqsa selagi saya mengerjakan kerjaan rumah. Tapi entah kenapa saya ngerasanya pekerjaan rumah kayak nggak ada habisnya. Adaaa aja kerjaan yang harus diselesaikan dan saya tipikal orang yang apa-apa maunya sekalian beres, biar sekalian capeknya. Nggak nyangka ternyata emang capeknya sekalian, capek buangeeett. Dan itu terjadi setiap hari.

Capek yang mulai kerasa sama saya itu ketika Aqsa lagi program kenaikan berat badan dan hampir setiap makan muntah. Jadi saya harus kerja ekstra buat bersihkan muntahan, mengepel lantai, nyuci keset, dan gantiin baju Aqsa. Semakin ke sini, capeknya mulai kerasa banget apalagi Aqsa juga sempat batuk dan susah tidur kalau malam. Trus saya juga mulai susah tidur di malam hari, alergi saya mulai kambuh parah, akibatnya kalau pagi hari saya selalu bersin dan lemas banget. Combo banget pokoknya minggu-minggu terakhir bulan puasa tuh.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Jatuh Bangun Meningkatkan Berat Badan Anak

Masuk Lebaran, sebenarnya jadwal sudah mulai ringan. Jadwal tidur juga mulai teratur. Tapi ternyata jadwal halal-bihalal sudah menunggu. Ada tante saya, tantenya suami, dan pakde budhe yang harus dikunjungi. Di sela-sela halal-bihalal sudah pasti ada acara jajan-nya karena sekalian merayakan bisa makan-makan lagi setelah bulan puasa. Di sini mungkin saya kalap dan nggak jaga makanan padahal saya udah merasa badan nggak se-fit biasanya.

Sampai pada suatu hari, setelah makan bakso (yang menurut saya nggak pedas sama sekali) saya panas tinggi. Demamnya bahkan sampai lebih dari 38 derajat. Saat itu, saya mikirnya ini demam biasa dan akan sembuh dengan saya minum paracetamol. Nyatanya sampai 3 hari, demamnya nggak stabil turun. Hanya sesekali turun dan kemudian naik lagi.

Saya akhirnya menyerah dan meminta buat dibawa ke IGD karena badan sudah nggak enak banget.

Awalnya, saya sempat takut kena covid karena habis bertemu banyak orang tapi saya optimis karena nggak anosmia dan hanya demam. Untungnya bukan covid 19 yang menyerang saya, tetapi tipes dan DBD. Trombosit saya turun sampai puluhan dari idealnya 150, makanya saya lemas. Trus kata dokter, di perut saya banyak bakterinya makanya mual dan pengen muntah terus kalau terisi makanan.

Saya pun direkomendasikan buat rawat inap di RS. Saya pun langsung setuju karena biar cepat sembuh dan saya bisa istirahat dengan tenang. Sementara di rumah, saya susah beristirahat karena kalaupun saya pengen tidur terpisah dari Aqsa, anaknya tetap maunya bobok bareng saya terus. Jadi aja, saya susah buat istirahat yang benar-benar istirahat.

Setelah masuk RS, emang benar 1-2 hari pertama saya benar-benar bisa istirahat. Tapi hari-hari setelah itu yang ada saya banyak gelisahnya. Yang paling kerasa adalah saya kangeeenn banget sama Aqsa dan hanya bisa video call sama dia. Ya mau gimana lagi, di zaman pandemi gini orang sakit nggak boleh dijenguk. Kalaupun mau nekad, saya juga nggak akan mengizinkan Aqsa buat dibawa ke RS karena tempat ini infeksius sekali. Saya takut kalau Aqsa kenapa-kenapa. Cukup saya aja yang sakit.

cuma video call jadi obat kangen saya

Selama di RS saya nggak enak makan, nggak enak tidur, nggak enak melek. Selain karena sakit dan efek beberapa obat yang kadang bikin nyerinya nggak tertahankan, ini adalah kali pertama saya sakit dan dirawat menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Meskipun ditempatkan di kamar perawatan kelas 1, tetap saja rasanya nggak enak. Soalnya sakit dan perkara melahirkan sebelum-sebelumnya, biasanya saya menempati kamar VIP.

Baca Juga:   Cerita Kehamilan Ketiga: Menghadapi Persalinan Caesar

Nah yang kali ini, udah mah kamar kelas 1, nggak ada yang nungguin, saya kurang sreg sama air di kamar mandi RS, makanannya juga nggak berasa karena vibe-nya beda dengan melahirkan (rawat inap saya terakhir) yang menyenangkan, bikin saya benar-benar tersiksa selama di RS. Hiburan saya saat itu ya cuma tidur, tidur, dan tidur. Saya puas-puasin aja tidur mumpung nggak ada Aqsa. Daripada kalau melek saya kangen sama dia terus.

Setelah melewati 4 hari perawatan, berbungkus-bungkus infus dan obat, berkali-kali pengambilan darah, bosan yang nggak tertahan, sampai kangen yang butuh diluapkan, akhirnya saya keluar RS juga. Asli, sakit kali ini rasanya nggak betaaahh banget di RS. Selain makanannya nggak enak dan air kamar mandi RS-nya yang nggak cocok sama saya, hati saya berat sekali ke Aqsa.

makanan di RS yang nggak ada enak-enaknya blassss

Alhamdulillah-nya adalah selama saya dirawat, Aqsa nggak rewel. Hanya di hari-hari terakhir saya dirawat dia udah mulai kangen dan sering minta telepon ibu. Memang, sejak awal masuk IGD, suami saya juga sudah berulang kali kasih tahu dia kalau ibu lagi sakit di RS jadi nggak bisa pulang dulu. Untungnya, selama saya di RS, dia pengertian.

Duh Aqsa, jadi bikin mellow kan…

Itu dia pengalaman sakit saya yang terjadi selama pandemi kemarin. Pesan saya adalah jangan sampai sakit saat pandemi karena sediihhhh banget rasanya. Apalagi buat pasangan yang dua-duanya adalah perantau kayak saya dan suami. Udah mah sakit, nggak ada yang nungguin, harus struggle menyembuhkan diri, makanan anak & suami nggak tahu gimana, dan kepikiran banyak hal. Huhu….

Last but not least, semoga kalian yang baca tulisan saya ini sehat selalu ya dan jangan pernah sakit saat pandemi karena menyedihkan. Semoga kita pun selalu diberi kekuatan buat melewati pandemi yang entah kapan akan berakhir ini.

 

0 Comments
Previous Post
Next Post
Sweet & Sour, Realita Kisah Cinta Kaum Muda di Kota
Rekomendasi

Sweet & Sour, Realita Kisah Cinta Kaum Muda di Kota