#CeritaIbu: Tentang Bermain dengan Anak (-Anak)

#CeritaIbu: Tentang Bermain dengan Anak (-Anak)

Satu hal baru yang saya dapat setelah punya anak adalah rumah yang dipenuhi dengan mainan dan anak-anak tetangga yang mulai sering berdatangan di rumah. Yup, sejak punya Aqsa yang sekarang alhamdulillah sudah beranjak semakin besar satu hal yang berubah dari rumah adalah mulai dipenuhi oleh mainan anak-anak.

Di antara saya dan ayahnya, memang ayah Aqsa-lah yang frekuensinya paling sering buat membelikan mainan buat anaknya dari mobil-mobilan, mainan yang ada musiknya, bola, sampai balon-balonan. Sementara saya paling sering membelikan baju, sepatu, dan perlengkapan lainnya. Semakin bertambah usianya, Aqsa memang jadinya semakin tahu dengan main-mainan. Manfaat lain juga didapat dengan adanya mainan ini yaitu merangsang pertumbuhan motorik baik kasar atau halus serta bisa jadi sarana sosialisasi.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Ungkapkan Sentuhan Cinta Ibu Melalui Pijat Bayi

Kenapa sarana sosialisasi? Soalnya gara-gara Aqsa punya banyak mainan, jadi ada anak-anak tetangga yang akhirnya ikut main bareng. Ditunjang dengan Aqsa yang sudah responsif diajak mainan juga sih. Tapi buat saya jadi menyenangkan aja karena suasana rumah jadi beda. Rumah saya yang tadinya sepi sepanjang hari kini di jam-jam tertentu ramai oleh suara anak-anak bermain.

Untungnya, saya tinggal di cluster yang rumahnya hanya sedikit. Jadi memang cuma sedikit anak yang ada di sini. Yang sering bermain dengan Aqsa juga paling hanya 1 atau 2 orang, itu pun cuma pada pagi dan sore hari karena saat siang beberapa ada yang sekolah, les, atau dititipkan. Iya, kebanyakan memang Aqsa bermain sama anak-anak yang lebih tua karena dia sendiri yang paling muda.

Saya yang biasanya suka kewalahan, capek, atau kurang ide saat bermain sama Aqsa jadi sedikit terbantu saat ada anak-anak tetangga yang bermain dengan Aqsa. Mereka biasanya juga mengajak Aqsa ngobrol, bermain, atau malah saling meminjamkan mainan. Tugas saya adalah mengawasinya. Memang tetap harus diawasi karena takutnya mereka yang masih anak-anak belum tahu mana yang berbahaya atau nggak apalagi yang dikasih atau dimainkan buat Aqsa.

Dari kegiatan sekecil dan sesederhana ini, ternyata ada lho banyak pelajaran dan hikmah yang bisa saya petik. Iya, bermain dengan anak-anak memang kadang menyisakan rumah yang jadi berantakan karena banyak mainan yang tersebar udah kayak kapal pecah. Tapi kembali lagi ke apa yang tadi saya tulis di atas, untung yang main sama Aqsa cuma 1 atau 2 orang anak. Jadi, seberantakan-berantakannya masih bisa ditolerir.

Baca Juga:   Hamil-Melahirkan-Menyusui, Antara Ekspektasi dan Realitas

Enaknya lagi, karena yang main sama Aqsa sudah usia lebih dewasa jadi bisa dikasih tahu. Biar nggak berantakan-berantakan amat, saya biasanya bilangin buat diberesin mainannya setelah bermain. Juga meminta mereka buat meletakkan barang-barang yang diambil ke tempat semula.

Trus dipatuhi semuanya? Nggak, tentu nggak!

pemandangan rumah sehari-hari

Tapi setidaknya masih dipatuhi sedikit dengan ancaman ´punishment´ kalau nggak diberesin nanti nggak dibolehin main lagi. Yup, saya nggak sanggup kalau harus beresin kekacauan mainan anak-anak sendiri terus menerus tapi nggak mau juga  membatasi Aqsa main sama teman-temannya. Jalan tengahnya akhirnya kompromi sama mereka sekaligus mengajarkan tanggung jawab dan ngajarin Aqsa juga nantinya buat beresin mainan setelah bermain.

Kegiatan main bareng sama teman-teman yang lain juga buat mengajarkan Aqsa biar nggak nemplok muluk sama saya. Akhir-akhir ini memang dia pengennya nemplok muluk sama saya dan selalu nangis saat ditinggal walaupun cuma kepisah beberapa meter. Solusinya adalah sering bawa Aqsa ke tempat umum atau event dimana banyak orang sehingga dia nggak ´jago kandang´. Selain itu, dengan main sama teman-teman yang notabene tetangganya juga jadi cara saya membiasakan dirinya sedikit demi sedikit nyaman dengan orang lain selain saya. Yang ini masih belum bekerja secara optimal sih, tapi sudah lebih baik untuk nggak nangis saat saya tinggal misalnya ke kamar atau kamar mandi saat ada temannya.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Jungkir Balik Dunia Ibu Baru

Main bareng juga bermanfaat buat mengajarkannya sharing sejak dini. Shaingnya tentu saja sharing mainan. Biasanya teman Aqsa akan pinjam mainannya kayak bola atau playbook, sedangkan Aqsa biasanya dipinjami mainan mereka seperti mobil-mobilan. Kadang juga, mereka bisa bermain bersama dalam satu permainan. Buat saya, ini berguna banget agar nantinya Aqsa bisa belajar bekerja sama dengan orang lain.

Kakak Harum, salah satu teman main Aqsa

Main bareng dengan anak-anak memang penuh warna. Tapi kadang juga penuh dengan kejutan. Nggak dipungkiri kok kalau bermain dengan anak-anak sewaktu-waktu bisa terjadi insiden yang menyebabkan luka. Ya jatuh lah, kebeset mainan lah, ketusuk sesuatu lah, dan masih banyak lagi. Makanya harus benar-benar diawasi. Namun hal-hal itu sudah terjadi, mau nggak mau ya memang sayanya harus sigap memberikan pertolongan pertama.

Seperti beberapa hari yang lalu saat Aqsa main dengan temannya. Trus tanpa sepengetahuan saya, temannya mengambil kaca pembesar properti foto saya yang sudah rusak hingga kacanya terjatuh dan pecah. Saya sudah suruh sapuin pecahan kacanya, tapi ya namanya anak-anak adaaa aja tingkahnya. Rupanya pecahan kaca itu ada yang masuk di dalam kardus wadah mainan dan si anak loncat-loncat di dalam kardus mainannya sampai akhirnya mengaduh.

Saya kira dia drama aja pas bilang ¨Duh, sakit Tan! Berdarah ini¨ karena memang biasanya banyak drama buat menarik perhatian. Tapi ternyata si teman Aqsa beneran kesakitan, padahal udah saya ketawain duluan, hahaha. Pas saya lihat kakinya memang berdarah, kayak luka kebeset gitu yang kecil tapi berdarah.

Namanya juga anak-anak, luka segitu bilangnya udah perih banget sampai mau nangis. Mau saya kasih obat merah atau cairan iodine gitu udah teriak duluan ¨Nggak mau, periiiihh!!¨. Akhirnya saya suruh cuci kaki yang bersih trus saya bilang punya semprotan ajaib. Saya semprot deh itu kaki pakai Hansaplast Cairan Antiseptik. Setelah itu si anak cuma bilang ¨Kok nggak perih, Tan?¨, saya tanya balik deh ¨Maunya yang perih atau nggak?¨. Saya cuma dikasih senyum dan dia balik ceria trus main lagi.

Nah, besoknya diulangi lagi donk ternyata. Tapi kali ini TKP-nya di carport yang mana masih ada bekas pecahan kaca. Teman Aqsa ini ceritanya main bola sama suami saya dan kecocok pecahan kacanya karena lari-lari nggak pakai sendal. Saya suruh cuci kaki aja yang bersih. Belum juga mau saya tawari diobatin, dia sudah bilang ¨Disemprot-semprot aja, Tan sama yang kemarin itu biar nggak perih¨. Akhirnya saya semprot aja lagi deh, setelah itu anaknya ceria  dan main lagi.

Jadi saya sekarang sedia Hansaplast Spray Antiseptik aja deh buat pertolongan pertama pada luka, khususnya buat anak-anak yang pada nggak tahan perih. Caranya pun gampang banget, tinggal cuci bersih lukanya lalu semprotkan Hansaplast Spray Antiseptik yang nggak perih dari jarak 10cm di seluruh bagian luka buat pertolongan pertama. Semprotan bisa diulangi apabila dibutuhkan kemudian keringkan area di sekitar luka secara perlahan.

Yang saya suka dari Hansaplast Spray Antiseptik ini selain gak pake perih juga cairannya nggak berbau dan berwarna. Jadi kalau menempel di baju nggak meninggalkan noda. Tahu sendiri kan anak-anak kalau cairannya belum kering sudah dibawa gedebukan lagi. Kalau yang berwarna, ujung-ujungnya meninggalkan noda di baju atau lantai kalau menetes.

Ternyata eh ternyata, Hansaplast Spray Antiseptik ini memang inovasi dari banyaknya obat-obat pertolongan pertama pada luka yang sudah beredar di pasaran. Hansaplast Spray Antiseptik ini mengandung Polyhexanide (PHMB), zat antiseptik yang banyak digunakan oleh para dokter karena tidak perih, tidak meninggalkan noda,dan dan tidak berbau. Zat PHMB ini sendiri juga dikenal sebagai  pembersih luka yang selama ini digunakan di klinik dan rumah sakit serta tidak dijual bebas. Akan tetapi kini Hansaplast sudah memformulasikan zat antiseptik tersebut agar tersedia dalam bentuk produk OTC / Over The Counter atau produk yang djual bebas tanpa resep dokter.

Cairan bening yang dihasilkan oleh Hansaplast Spray Antiseptik ini juga membuat keadaan luka yang sebenarnya bisa terlihat. Pasalnya, kadang cairan-cairan pembersih luka yang lain yang berwarna justru menutupi luka dengan warna yang bukan warna asli luka tersebut sehingga keadaan luka yang sebenarnya tidak bisa terlihat.

Bentuk Hansaplast Spray Antiseptik yang kecil ini juga memudahkan saya untuk membawanya kemana-mana. Tinggal masukkan Hansaplast Spray Antiseptik ke dalam pouch atau masukkan langsung ke dalam tas, aman deh. Saya jadi punya obat pertolongan pertama pada luka di dalam tas. Tutupnya juga aman dan nggak gampang kebuka. Pun bentuk botolnya yang dilengkapi spray di atasnya membuat cairan nggak mudah tumpah. Sepertinya Hansaplast Spray Antiseptik ini akan saya bawa kemana-mana saat nanti saya mulai aktif traveling lagi. Bisa langsung mengobati kalau-kalau ada tragedi misalnya kebeset karang atau kecelakaan kecil lain saat traveling.

Jadi sekarang pintu rumah saya terbuka lebar-lebar buat teman-teman Aqsa bermain. Yang penting nggak gaduh, bertanggung jawab sama mainannya, dan nggak nakalin Aqsa. Buat jaga-jaga, saya sedia Hansaplast Spray Antiseptik siapa tahu ada yang kena insiden. Buat saya, nggak apa-apa deh rumah berantakan dan ramai karena banyak yang main yang penting suasananya hidup.

Buat kamu yang pengen tahu lebih banyak tentang Hansaplast Spray Antiseptik bisa kunjungi www.hansaplast.co.id dan melalui akun Instagram resmi Hansaplast @Hansaplast_ID dan Facebook Fanpage @HansaplastID.

0 Comments
Previous Post
Next Post