Pulang Kampung (Lagi) saat Pandemi

Pulang Kampung (Lagi) saat Pandemi

Lebaran tahun ini saya sekeluarga memang nggak mudik, tapi setelah Lebaran kami memang berencana pulang kampung lama seperti yang sebelumnya. Awalnya kami berencana pulang berbarengan dengan adik ipar saya sekeluarga. Sayangnya, saya sakit dan harus dirawat di RS. Jadi aja, rencana pulang kampung saya sekeluarga mundur sampai kondisi saya fit.

Baca Juga:   Ide Bermain Anak Usia 2 Tahun (Part 2)

Karena sudah mengalami pulang kampung yang sebelumnya, dari sisi persiapan saya lebih santai. Tapi dari sisi mental tetap saja saya masih was-was. Apalagi penyebabnya kalau bukan masih pandemi dan yang kami kunjungi adalah orang-orang sepuh.

Sungguh, setiap mau pulang kampung tuh kami rasanya kayak berjudi. Gambling dan untung-untungan banget. Kami cuma bisa ikhtiar jaga kesehatan sebelum pulang, fit saat hari H pulang kampung, berbekal swab antigen dengan hasil negatif, dan seminimal mungkin mampir serta keluar mobil untuk menjaga bertemu dengan orang lain yang kita sendiri nggak tahu dia bebas virus atau nggak.

Baca Juga:   Pengalaman Pulang Kampung Saat Pandemi

Sementara itu, dari sisi persiapan saya nggak heboh bawa banyak barang karena beberapa barang memang sengaja saya beli baru dan kirim ke rumah orang tua ngepasin dengan 6.6 waktu itu. Jadi ongkir nggak tekor. Hanya saja, saya bawa barang-barang nggak kepakai yang ada di rumah kayak kado-kado Aqsa yang numpuk. Selain itu, saya juga bawa cooler box 12 liter yang isinya dimsum sama ikan dori kesukaan Aqsa. Nah, inilah yang bikin mobil kami lumayan penuh karena barang-barang yang dibawa ukurannya besar-besar.

Karena Aqsa sudah biasa naik mobil jauh dan pernah pulang kampung juga, saya santai aja sama dia. Toh pulkam sebelumnya dia anteng di car seat sampai tujuan. Makanya pulkam yang kedua ini saya santai. Baju ganti pun cuma ada satu di tas tenteng. Sisanya ada di koper yang ditaruh di bagasi belakang.

Ternyata, kita emang nggak boleh menyepelekan dan menyamakan keadaan. Baru juga sampai Cikarang dan naik jalan tol layang-nya, Aqsa sudah muntah banyak banget saat suapan ketiga makan paginya. Mana muntahnya muntah susu yang bau banget. Udah gitu, di jalan tol layang kan nggak ada rest area dan nggak bisa berhenti di pinggir jalan sewaktu-waktu. Jadilah saya rada panik dan anaknya rada shock. Pelan-pelan saya lepas dudukannya di carseat. saya buka bajunya, lap muka dan badannya pakai tisu, lalu gantiin bajunya. Itu semua terjadi saat mobil masih jalan di kecepatan tinggi dan di tengah jok belakang yang ternyata sempit banget karena kebanyakan barang.

Usut punya usut, Aqsa muntah sepertinya karena diam-diam minum susu yang wadahnya saya taruh di wadah botol di carseat-nya. Padahal dia belum makan dan kemasukan apa-apa. Alhasil eneg dan muntah. Pantas saja pas makan pagi mukanya kayak tersiksa nahan sesuatu dan makannya diemut parah alias sama sekali nggak dikunyah. Mungkin karena dia udah eneg banget. Karena Aqsa muntah inilah akhirnya kami berhenti dulu di rest area di daerah Karawang buat bersihin mobil, nuntasin makan Aqsa, dan beli Antimo anak. Habis makan dan minum Antimo, Aqsa langsung bobok nyenyak dan pas melek pun enakan lagi.

Baca Juga:   #CeritaIbu: GTM, Drama Panjang Banyak Babak

Pulang kampung kali ini kami juga ambil jalur yang berbeda dari yang sebelumnya. Kalau sebelumnya saya dan suami memilih untuk keluar tol di Brebes dan lewat Purwokerto serta jalur selatan, kali ini kami mencoba jalur utara alias jalan tol Trans Jawa.

Dibandingkan dengan lewat jalur selatan, jalur utara lebih nyaman dari sisi jalan. Karena dari Jakarta hingga Semarang, kami disuguhi jalanan rata di dalam tol. Berbeda dengan jalur selatan di mana banyak jalanannya yang rusak dan sempit. Hanya saja, lewat jalur utara lebih boros dari sisi tol dan bensin.

Selain itu, lewat jalan tol Trans Jawa juga pemandangannya bagus. Kami bisa lihat pegunungan atau kadang malah dikelilingi bebukitan di kiri kanannya. Yang disayangkan hanya rest area yang masih minim. Sekalinya ada rest area, sederhana banget yang hanya kios-kios kecil tanpa SPBU. Jarak antar-rest area pun jauh. Jadi belum memadai versi kami ya.

Karena rumah kami di Purworejo yang notabene tengah-tengah, waktu tempuh baik itu lewat selatan atau utara sama saja. Karena ketika keluar tol di Semarang pun kami tetap harus menempuh 3-4 jam perjalanan ke Purworejo. Belum lagi pas sampai di Semarang, suami agak keder karena jalanan menanjak dan dia masih kagok di jalanan menanjak. Mobil kami bahkan hampir mati ketika nanjak di tol di Semarang. Agar nggak spaneng, kami pun istirahat sejenak sekaligus mengistirahatkan mobil, salat, dan makan siang di Rest Area KM 429 Semarang.

Baca Juga:   Rekomendasi Wisata Kuliner Semarang Antimainstream

Rest area KM 429 Semarang ini lumayan besar. Masjidnya besar dan ikonik sekali. Tenant-nya juga banyak. Karena letak rest area-nya di dataran tinggi, jangan kaget kalau udaranya lumayan sejuk. Kami sengaja memilih tempat yang agak sepi buat parkir mobil, supaya Aqsa bisa keluar dan main sejenak. Kasihan juga kan dia seharian duduk di mobil terus. Di rest area ini kami cuma berhenti sekitar 30 menitan, setelah itu perjalanan pun dilanjut kembali. Karena perjalanan masih lumayan jauh dengan medan yang naik turun, makanya kita persingkat istirahat agar sampai rumah nggak kemalaman.

Karena sudah keder dan rada trauma saat suami nyetir di tanjakan, saya jadi was-was pas lewat jalanan menuju Purworejo dari Ambarawa. Mana saat itu hujan, jalanan licin, konturnya naik turun, rivalnya sama truk-truk besar, dan kondisi sudah mau malam jadi aja mau nggak mau saya harus melek buat jadi navigator suami. Bahkan saat sampai di daerah Salaman menuju Purworejo, kondisi jalan sangat gelap alias blass nggak ada penerangan sama sekali. Jadi aja kudu ekstramelotot lihat jalan.

Pas pulkam ini juga kebetulan banget Aqsa lagi toilet training. Toilet training-nya lumayan santuy sih, nggak yang strick banget. Nah, pas di jalan dia beberapa kali bilang kebelet pipis dan kooperatif banget. Kalau SPBU masih jauh kami bilang “Nggak apa-apa pipis di diapers dulu”. Tapi dia keukeuh mau pipis di toilet. Alhamdulillah, selama perjalanan dan ganti diapers 3 kali, hampir semua popoknya kering karena dia kebanyakan pipis di toilet umum pas berhenti.

 

buka masker sebentar buat foto pas kondisi lagi sepi

Tepat pukul 19.30 kami sampai di rumah saya. Seperti biasa, ritualnya adalah mandi dan bebersih dulu baru cipika-cipiki. Kami juga melakukan isoman 2 minggu, seperti yang sudah-sudah. Meskipun kali ini isomannya nggak seketat dulu yang mana kadang masih pergi kelilingan pakai mobil atau cari makan di tempat sepi, tapi kami benar-benar menghindari untuk bertemu orang lain terlebih dahulu.

Dan tahu nggak, semingguan setelah pulang kampung ini kasus covid 19 meledak khususnya di ibukota. Entah saya harus bersyukur atau nggak dengan semua ini. Di kampung, paling nggak kami masih punya ruang gerak karena angka covidnya nggak semengerikan Jakarta. Walaupun begitu, kami juga tetap patuh protokol kesehatan karena virus ini yata tetapi tidak terlihat dan sudah banyak korbannya.

Berikut beberapa tips yang bisa saya kasih berdasarkan pengalaman pulang kampung kedua saat pandemi ini:

  • Pastikan badan dalam keadaan sehat dan fit sebelum perjalanan mudik.
  • Tes swab antigen dulu sebelum perjalanan pulang. Tes ini berguna bukan cuma kalau ada pemeriksaan di titik-titik tertentu tetapi juga ikhtiar untuk memastikan apakah kita benar-benar dalam keadaan sehat atau tidak.
  • Bawa masker, hand sanitizer, sabun cuci tangan, desinfektan, dan letakkan di tempat terjangkau di dalam mobil.
  • Jika membawa anak kecil seusia Aqsa, pastikan membawa baju ganti, diapers, sapu tangan/ tisu, tisu basah, obat antimabuk, dan minyak telon/kayu putih yang diletakkan di tempat terjangkau.
  • Minimalkan berhenti dan keluar masuk mobil selama di perjalanan agar tidak banyak berkontak dengan berbagai macam orang.
  • Cari dan catat letak-letak rest area terutama jika melewati Tol Trans Jawa yang notabene masih baru dan minim rest area.
  • Usahakan sarapan dulu sebelum menjalani perjalanan panjang.
  • Bawa alat salat sendiri dan pilihlah tempat salat yang sepi atau pada saat sepi.
  • Mandi, bersih-bersih, dan ganti baju dulu sebelum berkumpul dan bersentuhan dengan anggota keluarga lain di kampung halaman.
  • Kalau sampai kampung halaman ada gejala seperti flu, demam, atau pusing, segera lakukan swab antigen dan isolasikan diri terlebih dahulu.

Butuh kehati-hatian banget buat pulang kampung di masa pandemi apalagi kalau yang dikunjungi orang yang sudah tua atau punya komorbid. So, pikirkan matang-matang ya kalau mau pulang kampung. Jangan sampai menyesal karena menyepelekan sesuatu yang sepele di masa pandemi ini.

 

2 Comments
Previous Post
Next Post
Begin Again, Lika-Liku Panjang Kehidupan Pasangan Nikah Kontrak
Rekomendasi

Begin Again, Lika-Liku Panjang Kehidupan Pasangan Nikah Kontrak