´Hidden Gems´ Kuliner Kutoarjo

´Hidden Gems´ Kuliner Kutoarjo

Kalau pulang kampung, satu hal yang sudah masuk dalam wishlist saya adalah wisata kuliner. Alasannya karena saya suka jajan. Keluarga saya juga keluarga penyuka jajan. Nggak heran kalau pulang kampung, begitu sampai rumah otak langsung muter pengen makan apa. Gairah wisata kuliner ini lebih-lebih dari exploring tempat-tempat wisata. Kenapa? Ya karena kalau kulineran gampang didapat. Apalagi sekarang sudah ada Go Food yang siap sedia pesan antar.

Beruntungnya saya yang punya rumah di agak perkotaan. Jadi kalau mau wisata kuliner gampang tinggal cusss naik motor, becak, atau jalan kaki. Kalaupun malas, tinggal Go Food aja walaupun belum semuanya masuk di Go Food sih. Kuliner Kutoarjo ini emang ngangenin karena kadang nggak ada di kota-kota lain. Kalaupun ada kadang rasanya juga beda sih.

Baca Juga:   Tentang Ojek Pangkalan vs Gojek Part Ke Sekian

Oh ya, kalau yang masih bingung sama Kutoarjo dan Purworejo ini saya kasih tahu ya. Barangkali ada yang nanya ¨Kamu orang mana sih, Dew? Sering banget nulis tentang Purworejo tapi bilang kalau tinggak di dekat Stasiun Kutoarjo¨. Jadi sebenarnya Kutoarjo itu adalah salah satu kecamatan di Purworejo. Kotanya tetap Purworejo kok tapi saya tinggal di Kutoarjo. Kutoarjo ini salah satu kecamatan yang besar dan ramai karena di sinilah terdapat stasiun besar yaitu Stasiun Kutoarjo dan dilewati jalan antarkota antarprovinsi. Sudah ngerti kan?

Kalau yang sudah pernah jalan-jalan ke Purworejo, pasti sudah pada tahu kuliner khasnya. Ya apalagi kalau bukan dawet ireng, geblek, dan lainnya. Nah, kalau yang sedang berkunjung ke Kutoarjo, sekadar mampir, lewat, atau transit sejenak mau melanjutkan perjalanan menggunakan kereta, bisa cobain dulu deh beberapa kuliner berikut ini. Buat saya, ini kayak ´hidden gems´ karena selain rasanya enak, harganya juga murah-murah banget.

“Seporsi Bubur Sayur di Pagi Hari”

Kalau di rumah, bubur sayur ini yang saya kangenin karena mengingatkan saya sama zaman-zaman sekolah. Bahkan kalau disuruh milih antara bubur ayam atau bubur sayur, saya milih bubur sayur. Dulu, kalau saya sarapan pakai menu bubur sayur ini. Sayurnya bisa pesan yang pedas atau nggak pedas. Kalau nggak pedas, bisa pakai sayur terik (mirip opor tapi isinya tahu, tempe, dan telur) dan kalau mau pedas pakai sayur-sayur biasa kayak oseng-oseng.

Nah, bubur sayur ini jadi salah satu kuliner favorit saya. Biasanya saya pesan bubur sayur dengan lauk seperti sayur oseng kulit melinjo, oseng tempe, atau oseng daun singkong. Ada juga yang jual udah sepaket isinya telur, sayur labu, gudeg, dan krecek dengan siraman kuah sayur labu yang pedas. Endeus lah.

Bubur sayur yang biasa saya beli penjualnya ada di daerah Air Mancur/Senepo, seberang RM Mbok Susah dan di lesehan Alun-Alun Kutoarjo saat pagi hari. Harganya bervariasi, dari 5-12 ribu tergantung sayur apa saja yang ingin jadi pelengkapnya.

“Bakmi Kangen Pak Edi yang Ngangenin”

Buat saya patokan Bakmi Jawa enak ya Bakmi Kangen Pak Edi ini. Bakmi Jawa yang menggunakan mie dengan tekstur lurus dan pipih (bukan mie kriting), dengan campuran ayam kampung, sedikit kecap, dan tanpa telur. Ini endeus banget lah. Saya nggak nemu Bakmi Jawa seenak Pak Edi di kota lain karena kebanyakan Bakmi Jawa entah mengapa ada campuran telurnya, kayak mie tek-tek malah. Pas saya hamil Aqsa saya sedih banget karena ngidam bakmi ini dan nggak keturutan, huhuhu.

Baca Juga:   Hamil-Melahirkan-Menyusui, Antara Ekspektasi dan Realitas

Saat musim liburan tiba kayak libur Lebaran, jangan datang di atas magrib karena sudah pasti kehabisan. Padahal warungnya baru buka jam 4 sore. Buat saya, kalau pulang wajib hukumnya makan Bakmi Pak Edi ini dulu. Untuk harga satu porsi bakmi baik itu bakmi goreng, godog, atau nyemek dihargai dengan Rp 18.000 (harga terakhir saya beli Lebaran 2019 kemarin) tapi porsinya seabrek, sungguh! Kalau yang penasaran pengen makan Bakmi Kangen yang emang ngangenin ini, bisa langsung saja ke Lor Pasar Kutoarjo (Pasar Kutoarjo bagian Utara) dekat dengan terminal minibus.

“Mencicip Manisnya Aneka Jenang”

Kalau di tempat lain mungkin jenang ini namanya bubur, tapi di Kutoarjo bubur ya yang terbuat dari beras. Nah, ini juga salah satu makanan favorit saya karena selain enak juga murah. Entah mengapa, jenang di Kutoarjo rasanya beda dengan di tempat lain. Saya pernah makan jenang kayak begini juga di Jakarta dan beda banget. Kalau yang biasa saya beli saat pulang kampung, manisnya pas, ada bau-bau daun pisang sebagai bungkusnya, dan kadang harum pandan atau nangka di dalamnya.

Dulu, saya biasa beli jenang di mbah-mbah penjual yang keliling di kampung tapi sekarang sudah nggak ada lagi. Sekarang penjual jenang yang gampang dijumpai adanya yang mangkal. Kalau langganan saya sih penjual yang mangkal di depan Kelurahan Kutoarjo dan depan Toko Pangestu. Dua-duanya enak, tinggal selera aja mau pilih yang mana. Jenang yang dijual pun variatif dari jenang candil, sumsum, krangkang, mutiara, kacang hijau, atau bisa campur juga. Harganya juga murah, mulai dari 3 ribu rupiah. Enaknya lagi, jenang ini sudah bisa dipesan via Go Food. Jadi kalau kepengen, cusss hubungi babang Gojek aja.

“Kue Lompong, Si Hitam Manis Lainnya dari Purworejo”

Kue ini legendaris banget, dari zaman saya kecil sudah ada. Dulu pamor kue lompong kayaknya biasa aja. Sekarang seiring berjalannya waktu dan menjamurnya kuliner khas daerah, kue lompong jadi ngetren kembali. Malah kadang kue ini jadi oleh-oleh incaran orang-orang yang pada pulang kampung.

Kue lompong terbuat dari tepung ketan yang diisi dengan isiian kacang tanah dan gula jawa. Pembungkusnya adalah klaras atau daun pisang kering yang kering alami dan bukan dikeringkan sendiri. Jadi bau klarasnya terasa sekali saat membukanya. Tekstur kue lompong kenyal dan rasanya manis. Warna kue ini hitam yang didapat dari lompong (batang daun talas).

Kue lompong ini bisa didapatkan di penjual jajanan dan snack di Kutoarjo seperti Putri Snack atau penjual-penjual yang pagi hari mangkal di sekitar Air Mancur. Sementara itu, ada juga toko kue lompong yang sudah terkenal di Kutoarjo yaitu Toko Kue Lompong King yang terletak di Jalan Diponegoro, sebelah timur praktik dokter gigi Edhi Sutjipto.

“Warung Girli di Pinggir Kali”

Warung Girli singkatan dari Warung Pinggir Kali karena letaknya memang berada di pinggir kali dan jembatan Semawung Daleman. Warung ini semacam hidden gems karena letaknya bukan di pusat kota atau jalanan umum. Tapi jangan ditanya kalau waktu makan siang tiba karena tempatnya akan penuh dengan para pegawai yang berdatangan makan di sana.

Baca Juga:   Suka Duka Pulang Kampung, dari Wisata Kuliner sampai Repot Beli Pulsa

Warung ini konsepnya bukan rumah makan, tapi rumah yang dijadikan tempat makan. Makanan akan ditata di meja di ruang tamu sebuah rumah atau bisa juga diambil di dapurnya langsung. Dapurnya juga merupakan dapur tradisional yang masih menggunakan tungku untuk memasak. Masakannya pun masakan rumahan khas Jawa dari buntil, mangut lele, berbagai oseng, opor ayam, dan masih banyak lagi. Yang paling saya suka tentulah mangut lele dan buntil daun talas atau pepaya-nya.

Harga makanan di Warung Girli ini juga bersahabat banget dengan kantung kok. Kalau rasa udah lah jangan ditanya deh karena buat saya masakan warung ini ngangenin banget. Kalau mau makan atau beli makanan di bungkus di warung ini usahakan datang sebelum pukul 12.00 siang karena selain ramai jam makan siang, setelah itu nggak ada jaminan lauk-lauknya masih ada alias sudah habis.

“‘The Legend’ Depot Es Dawet Coan”

Kalau ada salah satu kedai es legendaris di Kutoarjo ya Es Dawet Coan ini salah satunya. Tokonya biasa banget, cenderung kuno dan sepi. Tapi menu esnya masih saya suka karena rasanya nggak pernah berubah dari dulu. Es dawet yang disajikan bukan cuma dawet atau cendol tetapi juga diberi tapai beras ketan di dalamnya. Warnanya cantik ada merah, putih, dan hijau. Rasanya sederhana tapi saya suka.

Selain es dawet atau cendol, ada juga aneka es lainnya yaitu dari es buah hingga es kopi. Tapi saya tetap paling suka es dawetnya. Harga 1 buah es dawet adalah Rp 8.000. Sesekali coba minumlah es dawet di tempatnya langsung, buat saya akan berasa bukan di zaman milenial karena dari dulu setting toko ini hampir tak pernah berubah. Dinding-dinding toko bagian atas dipenuhi foto-foto jadul hitam putih beberapa tempat di Jawa Tengah. Di meja-mejanya terdapat cemilan di toples-toples kaca jadul yang dari dulu masih ada seperti kacang bawang atau kacang goreng pedas. Sementara di bagian lain toko ini terdapat alat-alat rumah tangga seperti pisau, sendok sayur, hingga ulekan yang juga dijual.

Itu dia 6 kuliner di Kutoarjo yang bisa coba untuk dicicipi. Jadi sudah nggak bingung lagi kan membedakan Kutoarjo dan Purworejo? Kalau kamu transit di Stasiun Kutoarjo, cobalah keluar sebentar untuk mencicipi aneka kuliner-kuliner enak ini dan nikmati kesahajaan kotanya. Kalau saya sedang pulang kampung, barangkali bisa kontak saja siapa tahu bisa menemanimu jalan-jalan.

Cheers!

 

0 Comments
Previous Post
Next Post