Pengalaman Pertama Orang Jawa Tengah ke Semarang

Pengalaman Pertama Orang Jawa Tengah ke Semarang

Walaupun lahir di Jakarta, saya tumbuh besar dan sekolah dari TK sampai SMA di Jawa Tengah. Di Purworejo lebih tepatnya. Bahkan, Gubernur Jawa Tengah yang sekarang saja, Pak Ganjar, adalah tetangga saya cuma beda RW rumahnya. Sayangnya, selama menghabiskan kehidupan di Provinsi Jawa Tengah tercinta itu, ada fakta menyedihkan dan mungkin juga memalukan buat saya yaitu saya belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di ibukotanya, Semarang.

Baca Juga:   Anti-Mati Gaya Menghabiskan Liburan di Pedesaan Purworejo

Ayo tertawakan saya atau judge me anak kuper, tapi memang itulah faktanya. Pasalnya, selama hidup di Purworejo dulu saya nggak punya kepentingan apa-apa yang mengharuskan saya ke Semarang. Saudara nggak punya, kepentingan ngurus-ngurus surat sampai ke tingkat provinsi yang berarti harus ke Semarang juga nggak pernah. Dari tempat saya, justru lebih dekat buat langsung ke Jogja karena hanya 1 jam perjalanan. Sementara ke Semarang butuh 5 jam perjalanan dan dulu belum ada moda kereta dari Stasiun Kutoarjo, terlalu jauh dan kurang praktis. Itu sebabnya kalau mau belanja, wisata, bahkan mendapatkan fasilitas kesehatan yang lebih lengkap memang lebih dekat ke Jogja.

Baca Juga:   ´Piknik Tipis-Tipis´ Pertama Bertiga ke Yogyakarta

Berbeda sama suami saya. Dia sudah sering wara-wiri ke Semarang dari kecil karena memang banyak saudaranya yang tinggal di sana. Jadi dia sudah nggak asing lagi sama Semarang. Makanya pas ada kesempatan pulang kampung awal 2017 lalu dan milih mau kemana dulu sebelum menjejakkan kaki di Purworejo, saya milih Semarang. Memang saya dan suami sering pulang kampung tapi sebelumnya biasanya kami pergi ke kota lain dulu di Jawa Tengah atau Jogja sebelum akhirnya bablas pulang ke Purworejo. Biar pikniknya sekalian, gitu sih maksudnya.

Sebagai pecinta moda transportasi kereta api, udah pasti ke Semarangnya naik kereta api sekaligus pengen lihat kayak apa perjalanan jalur utara Jawa kalau pakai kereta api di siang hari. Sebetulnya ini bukan perjalanan pertama melewati jalur lintas utara Jawa menggunakan kereta api tetapi perjalanan sebelumnya dilakukan di malam hari. Jadi aja saya nggak bisa lihat pemandangan. Tanpa ba-bi-bu, saya dan suami pun searching jadwal kereta api Semarang yang sreg dengan jadwal kami dan akhirnya kami pun memutuskan untuk naik KA Argo Anggrek dari Stasiun Gambir.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Pengalaman Pertama Berkereta Api bersama Bayi

Saya kira naik kereta ke Semarang dari Jakarta bakal lama dan membosankan. Tapi ternyata menyenangkan banget. Apalagi kereta yang saya naiki juga kelas eksekutif. Pemandangan jalur utara ternyata sangat berbeda dengan jalur selatan Jawa. Kalau di selatan Jawa kita akan disuguhkan sama pemandangan sawah dan gunung, di utara Jawa maka akan terlihat pemandangan laut dari kereta. Sungguh pengalaman yang bikin saya gumun alias heran. Saking excited-nya dengan perjalanan, saya jadi nggak berasa kalau kereta sudah tiba di Stasiun Semarang Tawang. Hanya 6 jam perjalanan, kedengarannya lama tapi ternyata baru juga makan dan merem sebentar udah nyampe aja.

Di Semarang, saya dan suami menyewa motor seperti biasa. Waktu itu, kami masih berdua alias belum ada Aqsa. Walaupun ada saudara suami yang tinggal di Semarang, tapi hari pertama dan kedua, kami memilih menginap di hotel karena takut merepotkan apalagi kalau kami pulang malam hari. Hotel yang kami tinggali dekat sekali sama Simpang Lima dan Lawang Sewu. Dan dari sinilah kisah kami di Semarang dimulai…

Memanjakan Lidah dengan Kuliner Khas Semarang

Sudah ada banyak wishlist yang pengen dikunjungi dan dicoba di Semarang. Yang paling pertama tentulah kulinernya. Pagi, siang, dan malam saya habiskan untuk nyobain satu per satu kuliner Semarang. Tentunya sebelum benar-benar ke Semarang inilah saya riset banyak tempat makan yang direkomendasikan. Alhamdulillah beberapa kesampaian dicicipi walaupun sebagiannya lagi nggak bisa karena waktu di sana sangat terbatas.

Saya sudah merasakan makan Nasi Goreng Babat Pak Karmin di pinggir kali dekat kawasan Kota Lama. Lalu malam-malam makan pecel di kaki lima pinggiran Simpang Lima sambil lihat odong-odong berlampu warna-warni yang dikayuh mengelilingi alun-alun. Nekad mencoba Lumpia Semarang meski saya tahu saya nggak suka banget sama rebung, tapi tetap saya coba dan hasilnya juga tetap nggak bisa tertelan walaupun sudah sambil tahan nafas, huhuhu. Padahal saya selalu ngiler kalau lihat Lumpia Semarang yang gendut-gendut, tapi nggak bisa banget makan rebungnya.  Yah, tapi paling nggak saya sudah mencobanya. Jadi nggak penasaran-penasaran amat.

Nggak lupa juga nyobain kuliner legendaris nan hit yaitu lekker Paimo yang mangkal di depan Kolase Loyola,. Lekker ini kelihatannya sepele tapi antriannya wuiiihh puanjang ya. Sampai kalap makan Soto Bangkong Semarang karena suka banget sama sate-sateannya. Kayaknya pas makan ini banyakan makan sate-sateannya dibandingkan sama sotonya. Ditutup dengan borong Bandeng Presto Juwana yang dibawa pulang ke Purworejo buat oleh-oleh.

Kalau ada yang nawarin saya buat ke Semarang lagi, saya mau banget dan pengen mengulang pengalaman berwisata kuliner di sana sekaligus mencoba kuliner yang belum sempat saya coba sebelumnya. Apalagi sekarang ada ´ratjun-ratjun´ kuliner dari video-video food vlogger yang pada mampir dan kulineran di Semarang. Wishlist saya buat mampir dan hunting makanan enak di sana jadi nambah lagi deh.

Baca Juga:   Cerita Kehamilan Ketiga: 5 Food Vlogger yang Membangkitkan Selera Makan

Mampir ke Tempat-Tempat Ikonik di Semarang

Sebagai ´newbie´ yang baru kali itu menjejakkan kaki di Kota Semarang, tentulah yang pengen saya kunjungi apalagi kalau bukan tempat-tempat populer sekaligus ikonik di Semarang. Kawasan Kota Lama Semarang, Lawang Sewu, Simpang Lima, Sam Poo Kong, sampai Masjid Agung Jawa Tengah masuk di itinerary saya ketika di Semarang. Untungnya, tempat-tempat tersebut beneran kesampaian saya kunjungi.

Kota Lama Semarang jadi destinasi pertama saya. Sore hari pertama saat kami sampai pun, kami sempatkan buat keliling terlebih dahulu di Kawasan Kota Lama sebelum akhirnya keesokan siangnya benar-benar mengeksplore kawasan tersebut. Kawasan Kota Lama ini selalu mengingatkan saya dengan film Soegija karena setting-nya ternyata di sini. Mengingatkan saya pula dengan Kota Tua Jakarta. Bangunan-bangunan lawas, ikonik, bersejarah, dan legendaris ada di sini. Salah satunya adalah GPIB Immanuel atau yang populer dengan sebutan Gereja Blendhuk. Gereja ini memang jadi ikon Kota Lama Semarang.

Selain Gereja Blendhuk, satu spot yang saya suka lagi nggak jauh dari situ yaitu di depan Gedung Marba. Letak gedung ini di depan Taman Srigunting yang letaknya persis di sebelah Gereja Blendhuk. Foto di situ kalau pintar-pintar mengambil sudutnya berasa kayak foto di Eropa karena arsitektur gedungnya pun masih khas bawaan ´kumpeni´ yang juga datang dari Eropa. Dua spot itulah yang saya suka. Sayangnya, di beberapa titik dan sudut Kota Lama masih nggak terurus saat itu, kotor dan kadang bau pesing. Entah sekarang, 2 tahun kemudian setelah saya kesana. Mudah-mudahan sudah berubah menjadi lebih baik.

Kawasan bersejarah dan ikonik lainnya di Semarang adalah Lawang Sewu. Belum lengkap rasanya ke Semarang kalau belum mampir ke Lawang Sewu, bangunan yang punya banyak pintu di dalamnya. Walaupun konon katanya bangunan ini menyeramkan saat malam hari, tapi saat siang hari jauh dari kata seram. Saya terkesan dengan tiket masuk yang murah, bangunan yang rapi dan bersih, serta indra pendengaran yang ditemani musik keroncong dari pengamen jalanan saat menelusuri sudut demi sudut di Lawang Sewu. Nggak heran kalau di tempat ini dijadikan spot favorit buat prewedding atau syuting.

Dari hotel dimana saya menginap ke kawasan Lawang Sewu pasti melewati Simpang Lima. Sebenarnya nggak ada yang istimewa dengan Simpang Lima kalau menurut saya, tapi ini jadi salah satu ikon Kota Semarang juga karena Simpang Lima adalah alun-alun. Alun-alun di daerah Jawa biasanya jadi pusat kegiatan, pun sampai sekarang. Itu juga yang terjadi di Simpang Lima. Saya justru lebih suka Simpang Lima saat malam hari, lebih hidup dan banyak hal yang bisa dieksplor di sana saat malam dibandingkan siang hari.

Semarang juga identik dengan kawasan Pecinan. Nggak heran kalau kota yang satu ini juga punya kelenteng yang nggak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah tetapi juga tempat wisata. Kelenteng Sam Poo Kong nggak dipungkiri juga jadi salah satu ikon Kota Semarang. Masuk di tempat ini seperti masuk di dunia lain yang memberikan suasana serta aura yang berbeda. Saya pernah masuk di beberapa klenteng di Jakarta dan kota lainnya tapi di Sam Poo Kong ini berbeda apalagi saat itu menjelang Imlek. Kemeriahan Imlek dan suasana kelenteng membuat saya seperti terlempar di suatu tempat di Tionghoa, bukan Semarang. Selain itu, masuk ke tempat ini juga membuka mata saya untuk melihat arti toleransi dan menghormati tempat ibadah agama lain.

Baca Juga:   Telisik Unik Imlek, Keliling sambil Belajar Sejarah dan Budaya Tionghoa di Jakarta

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) jadi tempat ikonik terakhir yang saya kunjungi bersama suami. Kehadiran kami di sini sebenarnya nggak terlalu disengaja. Awalnya MAJT tidak masuk di itinerary karena tempatnya yang jauh dari hotel yang kami inapi, rumah saudara, bahkan tempat-tempat ikonik yang kami kunjungi sebelumnya. Tapi beruntunglah saat itu di tengah hari sehabis mencari makan dan berkeliling sebentar di Semarang, kami mau salat dan entah kenapa tercetuslah buat salat di MAJT.

Ditempuh menggunakan sepeda motor untuk ke MAJT ternyata nggak begitu jauh kok. Untungnya kami sempat menginjakkan kaki di tempat ini karena memang masjidnya bagus sekali. Nggak nyesal mampir di MAJT yang megah dan punya kesempatan salat di sana. Sayangnya siang itu, payung-payung di depan area masjid yang mirip dengan payung-payung yang ada di Mekah itu tidak sedang terbuka. Tapi tak apalah, paling nggak saya sudah punya kesempatan untuk salat dan menikmati keindahan arsitekturnya.

Selain tempat-tempat ikonik yang memang diniatkan betul untuk dikunjungi, saya juga menyempatkan keliling Semarang untuk melihat bangunan-bangunan terkenal lainnya seperti Kantor Gubernur Jawa Tengah, Undip, hingga RS Karyadi. Walaupun nggak mampir, paling nggak saya bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Sekarang kalau ditanya, mau ke Semarang lagi nggak walaupun jauh dari Purworejo? Mau banget!! Masih banyak wishlist tempat yang pengen dieksplore dan dikunjungi. Doakan saya ya biar bisa kembali jalan-jalan di Semarang dan kali ini sambil membawa Aqsa.

 

2 Comments
Previous Post
Next Post
Begin Again, Lika-Liku Panjang Kehidupan Pasangan Nikah Kontrak
Rekomendasi

Begin Again, Lika-Liku Panjang Kehidupan Pasangan Nikah Kontrak