Romansa Purworejo Expo 2019, Pameran Kok Sebentar Banget?

Romansa Purworejo Expo 2019, Pameran Kok Sebentar Banget?

Lagu Umar Moyo seolah menyambut saya kala menjejakkan kaki di Alun-Alun Purworejo, Jumat (1/11) sore itu. Memori saya langsung melalang buana di mana seingat saya, lagu ini biasanya dimainkan di acara kesenian Ndolalak. Dan benar saja, ternyata sore itu saya beruntung. Romansa Purworejo Expo 2019 yang saya datangi sedang menyuguhkan Tarian Ndolalak yang memang khas Purworejo.

Tari Ndolalak selalu mengingatkan saya pada masa kecil. Saat sering diajak bapak saya keliling naik sepeda dari satu desa ke desa lain untuk nonton Ndolalak. Atau saat SD di mana saat itu Tari Ndolalak jadi salah satu pelajaran Mulok (Muatan Lokal) di sekolah dasar. Atau masa-masa pramuka SD dimana ketika acara pesta siaga, kami harus bisa menarikan Tari Ndolalak. Masih banyak memori lain yang begitu tersimpan rapi tentang Tari Ndolalak ini. Dan sore itu, saya beruntung bisa melihat Tarian Ndolalak sekali lagi secara live. Entah kapan saya terakhir nonton Ndolalak secara live, sudah lupa bahkan. Biasanya saya nonton itu lewat CD yang disetel bulik saya buat melatih anak-anak nari jelang 17 Agustusan.

Baca Juga:   Lomba Agustusan, Dulu dan Kini...

 

Tanpa ba-bi-bu, saya langsung berlari buat melihat Tari Ndolalak secara lebih dekat. Nggak lupa, saya siapkan kamera buat merekam dan memotretnya, dengan Aqsa yang masih ada di gendongan saya. Buat yang belum tahu apa itu Ndolalak, Ndolalak adalah tarian khas dari Purworejo yang biasanya ditarikan oleh sekelompok perempuan (laki-laki juga ada tapi jarang banget) dengan kostum yang mengingatkan kita dengan kostum khas tentara Belanda zaman dulu. Konon, kostumnya memang diadaptasi dari baju kumpeni ini tapi tentunya sekarang sudah dimodifikasi dengan banyak sentuhan.

Romansa Purworejo Expo 2019

Saya memang sedang beruntung pas pulang kampung kemarin. Biasanya saya pulang kampung nggak pernah ngepasin ada event di Purworejo, ini justru sebaliknya. Pas datang ke event pas disugihi Ndolalak pula sebagai salah satu kesenian yang tampil hari itu. Beruntungnya saya!

Baca Juga:   5 Hal yang Dirindukan dari Kampung Halaman Tercinta, Purworejo

Saya tahu Romansa Purworejo Expo 2019 secara nggak sengaja. Saat itu saya dan suami habis mengantarkan bapak mertua mengambil plat nomer di Samsat dan pulangnya kami sengaja berkeliling terlebih dahulu ke daerah Alun-Alun Purworejo yang ternyata di sana sedang dibangun tenda-tenda untuk pameran. Penasaran, saya pun cari tahu di berbagai akun di instagram dan ternyata event yang akan diselenggarakan adalah Romansa Purworejo Expo 2019 yang berlangsung dari tanggal 30 Oktober hingga 3 November 2019.

Setelah tahu ada event tentang Purworejo, saya mengajak suami dan teman-teman genk explore Purworejo saya buat datang ke Purworejo Expo. Setelah disepakati, kami akhirnya ke sana Hari Jumat sore tanggal 1 November setelah sebelumnya berencana di Hari Minggu tanggal 3 November. Karena takut ramai dan penuh, rencana kami majukan. Dan saya justru beruntung karena di Hari Jumat itu saya bisa menonton live Tari Ndolalak yang hari itu disuguhkan.

Romansa Purworejo Expo 2019 cukup menarik buat saya. Pameran ini masih jauh lebih baik dari event sebelumnya yaitu Festival Durian 2017 yang berlangsung sangat garing, kalau nggak mau disebut jelek. Saking garingnya, saya yang ke sana buat liputan dengan maksud siapa tahu bisa buat bahan tulisan di blog jadi urung buat menuliskannya karena saking ´hellaawww, ini festival durian cuma begini doank?´. Sumpah garing banget. Padahal expo-expo atau festival-festival di daerah lain banyak yang sudah bagus, terkonsep, dan unik.

Baca Juga:   Sekelumit Cerita dari Festival Tanjung Lesung 2017

Kalau melihat Romansa Purworejo Expo 2019 ini konsepnya sekilas mirip dengan Jakarta Fair. Segala instansi, UKM, dan bidang perdagangan membuka stan di sana. Dari yang kantor-kantor dinas biasa hingga Lembaga Pemasyarakatan dengan karya unik para tahanan. Dari UKM yang memproduksi makanan kecil, produk kerajinan rumah tangga, hingga batik yang harganya hampir setengah juta. Atau stand-stand makanan minuman, dari yang tradisional macam geblek, kopi-kopi kekinian yang sekarang sudah mulai memiliki brand di tiap daerahnya, makanan kekinian macam sate cumi bakso, hingga kerak telor khas Betawi pun ada di sini.

Nggak cuma itu, setiap hari Romansa Purworejo Expo 2019 juga menawarkan sajian hiburan yang berbeda setiap harinya. Seperti halnya saat saya datang, saya dan pengunjung lain disuguhi Tarian Ndolalak. Atau saat tetangga saya datang di hari terakhir, kata beliau hiburan yang sedang dipentaskan adalah band-band yang menyanyikan lagu kekinian. Sekilas memang mirip Jakarta Fair.

Trus yang paling saya suka dari Romansa Purworejo Expo 2019 ini apa? Karena saya bisa melihat, mencicipi, bahkan jajan jajanan khas kecamatan-kecamatan tertentu di Purworejo. FYI, hampir setiap kecamatan buka stand di sini dengan mengusung ciri khas daerahnya.

Pameran yang Menarik, Kok Cuma Sebentar?

Perjalanan saya mengelilingi Romansa Purworejo Expo 2019 diawali dengan menonton Tari Ndolalak. Selanjutnya, langkah kaki saya menuju ke arah tenda yang pertama, yang berisi berbagai produk dan stand baik itu yang dijual atau dipamerkan. Dari produk-produk komersil macam baju atau sepatu hingga stand-stand dinas pemerintahan. Menurut saya, pameran ini ketolong sama adanya stand-stand dinas atau pemerintahan dan UMKM. Kalau nggak ada stand-stand itu, lebih mirip pasar malam.

Lepas dari tenda yang pertama, ada sebuah (yang saya namakan sendiri) persimpangan di mana di situ ada banyak stand. Dari stand penjual makanan atau minuman, stand foto bareng robot dengan biaya sukarela, stand dinas-dinas dan pemerintahan yang salah satunya adalah Lembaga Pemasyarakatan dengan produk kreasi warga binaan, benih tanaman, hingga klinik kecantikan. Yang paling menyita perhatian saya di persimpangan ini adalah adanya beberapa pedagang kerak telor. Yup, kerak telor yang seperti di Jakarta, di Kemayoran saat musim PRJ tiba lebih tepatnya. Ini yang bikin suasana jadi mirip PRJ. Sampai di sini saya belum nemu kekhasan sebuah pamerannya Purworejo kalau saja nggak ´disambut´ dengan Ndolalak tadi.

Dari persimpangan tadi, saya memilih belok ke arah kanan dan masuk ke tenda berikutnya. Tenda yang ini suasananya lebih ´khas´ kalau kata saya karena ternyata produk-produk yang dipamerkan dan diperdagangkan di dalamnya adalah barang-barang yang saya suka yaitu produk-produk UMKM. Ada banyak stand di sini, dari yang scoop lokalnya paling kecil yaitu perusahaan UMKM-nya sendiri, lalu yang lebih besar seperti stand kecamatan, lembaga-lembaga khusus seperti Dekranasda, hingga stand yang mewakili Jawa Tengah. Uniknya, tiap stand menawarkan produk karyanya yang khas. Ini nih yang saya suka!

pewarna alami batik di stand batik

Begitu masuk, saya disuguhi dengan stand-stand yang menawarkan kain batik. Dari stand Dekranasda yang mengusung Batik Purworejo, produk batik mandiri dengan kekhasannya yang menggunakan pewarna alam dari suatu pengrajin, hingga stand-stand makanan khas.

Saya sempat berhenti di stand yang menjual Pelote (peyek lombok pete) dan icip-icip peyeknya. Bukan cuma Pelote saja yang saya icip, tetapi juga peyek lomboknya. Saya bahkan beli satu Pelote karena penasaran dengan rasanya. Ternyata stand ini juga menjual gula aren khas Bruno yang bentuknya pipih dengan diameter yang lebar. Persis seperti gula aren yang pernah saya beli di Pasar Cipedak. Pas penjaganya saya ajak ngobrol, ternyata dia kenal dengan guide saya ketika keliling Bruno dan perlahan tahu bahwa saya adalah orang yang pernah nulis soal wisata Bruno. Purworejo memang sempit ya, hahaha.

Baca Juga:   #ExplorePurworejo (Bagian 1): Menikmati Bruno dari Ketinggian di Curug Gunung Putri
Pelote, peyek lombok pete (peyek cabe petai)

Keluar dari tenda yang memamerkan kerajinan tangan khas daerah, saya masuk ke tenda selanjutnya. Nothing special sebenarnya dengan tenda ini karena barang-barang yang dijual pun ya barang-barang komersil seperti sandang. Tapi di tenda ini, justru saya borong-borong sesuatu. Dari beli parfum ruangan harga Rp5.000,00 per biji hingga celana pendek anak yang murah-meriah Rp35.000,00 saja.

Keluar dari tenda, kami masuk area kuliner. Kali ini cuma saya dan ibu saya karena Aqsa sama ayahnya memilih melipir duduk-duduk di trotoar Alun-Alun Purworejo. Lihat makanan-makanan di sini rasanya pengen saya beli semua. Sayangnya, saat itu saya cuma bawa uang cash sedikit. Kelemahannya memang, di Romansa Purworejo Expo 2019 ini sangat jarang atau mungkin malah belum ada yang menerima pembayaran menggunakan nontunai.

Ada banyak makanan di stand makanan ini. Dari gurita, sate cumi bakso, crepes, boba, sosis bakar, minuman mangga ala Thailand, gongso, kerupuk-kerupuk hasil UMKM, geblek, sampai kopi. Saya sempat mampir di stand Kecamatan Bener buat beli geblek Rp10.000,00 sebanyak seplastik kiloan. Gebleknya rasanya sih biasa aja, tapi sambalnya enak banget. Sambal kecap khas sate kambing tapi yang ini lebih uenak. Pas banget saat dicocol dan dimakan bareng geblek.

Baca Juga:   Icip-Icip Sate Winong Pak Mustofa untuk Pertama Kalinya
geblek

Selain beli geblek di stand Kecamatan Bener, saya juga ditawari untuk minum kopi khas mereka yaitu Kopi Benowo. Kopi ini berasal dari Desa Benowo, Kecamatan Bener. Tadinya saya sempat menolak karena saya bukan pecinta kopi. Tapi ibu saya yang suka ngopi justru pengen icip-icip. Jadilah saya ikut icip-icip walaupun sedikit. Dan ternyata enak. Buat ukuran saya yang bukan pecinta kopi, kopinya light alias nggak pahit banget tapi tetap berasa kopi. Ya kurang lebih gitulah, saya juga bingung bagaimana menggambarkannya karena nggak begitu ngerti soal kopi, haha.

Saking sukanya pada tegukan pertama, saya akhirnya beli Kopi Benowo buat oleh-oleh. Kemasan besarnya yang berisi 200 gram dibanderol dengan harga Rp40.000. Selain itu, penjualnya bahkan berbaik hati buat menerangkan bagaimana cara menyeduh kopinya agar tercipta cita rasa yang maksimal. Caranya ada di dalam vlog saya di bawah ini. Tonton sampai habis ya.

Selain kopi dan geblek, saya juga jajan makanan lain yaitu sate cumi dan bakso. Sebenarnya saya pengen jajan lebih banyak lagi tapi takut cuma khilaf dan nggak kemakan. Selain itu, saya nggak bawa uang tunai yang banyak. Yang bagian terakhir ini sih yang bikin saya agak menyesal ke Romansa Purworejo Expo 2019 karena hampir semua transaksi pembayaran masih pakai uang tunai.

Setelah puas berkeliling, saya memilih mengistirahatkan kaki di pojok Alun-Alun sambil melihat suasana dan menikmati makanan. So far, saya senang berkeliling di Romansa Purworejo Expo 2019 ini karena pamerannya lebih hidup dan cukup diatur dengan baik untuk ukuran sebuah acara di Purworejo. Padahal sebelumnya saya cukup skeptis dengan pamerannya gara-gara trauma Festival Durian. Karena dari awal ekspektasi saya soal Festival Durian ini sudah tinggi, seperti festival-festival durian di banyak kota lain di Indonesia yang unik-unik. Tapi nyatanya malah kayak pasar murah dan tertutupi oleh musik dari organ tunggal. Berasa kondangan, coy!

Sayangnya, kenapa sih event sebagus Romansa Purworejo Expo 2019 hanya sebentar? Kalau nggak salah hanya 4 hari penyelenggaraan, yang bahkan nggak sampai seminggu. Saya rasa orang-orang juga masih banyak yang pengen datang kesana hanya saja waktunya mepet sekali. Belum lagi nggak banyak yang tahu acaranya walaupun itu warga Purworejo sendiri. Ibu saya aja bahkan nggak tahu. Sayang banget padahal.

Baca Juga:   Mempopulerkan Purworejo di On Track Magazine

Harapan saya sih, ke depannya event-event seperti ini bakal terus ada dan dikemas dengan lebih kekinian juga dengan rentang waktu yang lebih lama. Jangan lupa, manfaatkan social media juga buat sosialisasi. Kemudian rangkul lebih banyak UMKM lokal Purworejo. Kalau semakin baik event-nya, semakin terkenal produk-produk lokalnya, kan semakin maju juga daerahnya.

 

 

0 Comments
Previous Post
Next Post