Serba-Serbi Vaksinasi, Biar Nggak Salah Informasi Lagi

Serba-Serbi Vaksinasi, Biar Nggak Salah Informasi Lagi

Saat masih kerja sebagai reporter dulu, saya ingat sekali ada salah satu teman driver yang sering sekali bilang dengan bangga kalau anaknya nggak diimunisasi dan sehat-sehat saja. Saya yang saat itu belum jadi ibu, nggak tahu banyak soal imunisasi, dan nggak punya kompetensi buat menjelaskan memilih diam saja. Meskipun yang ia katakan nggak sesuai dengan hati nurani saya dan nggak benar.

Dulu, saya takut orang bilang “Tahu apa kamu? Kan belum jadi ibu” keluar dari mulut orang-orang yang dengan bangga memutuskan buat nggak memvaksin anaknya. Apalagi saya dulu pernah ada di masa-masa mellow kehilangan anak berkali-kali. Dalam hati saya seolah jadi mengiyakan, mungkin memang saya nggak tahu apa-apa makanya belum dikasih rezeki anak.

Baca Juga:   Jangan Katakan Ini Pada Perempuan yang Belum Memiliki Anak

Namun, kini situasinya berbeda. Saya adalah seorang ibu. Saya juga seorang blogger yang punya puluhan ribu pembaca setiap bulannya di blog. Tulisan saya bisa saja selalu dinantikan orang. Opini saya bisa saja selalu jadi patokan. Oleh karena itu, apa yang saya sebarkan haruslah hal-hal yang baik, yang seharusnya disebarkan, berani bilang tidak untuk pernyataan yang tidak sesuai, dan harus punya banyak bekal informasi agar apa yang saya tulis jadi kredibel. Termasuk soal imunisasi.

Kenapa Harus Vaksin?

Dulu saya pikir, vaksin ya hanya sebatas suntik buat mencegah penyakit. Sudah. Selesai. Kemudian pemahaman saya berkembang menjadi, vaksin selain buat mencegah penyakit tertentu juga untuk mengisi kewajiban KMS dan prasyarat masuk sekolah nantinya.

Iya, segitu. Sependek itu. Secupu itu pemahaman saya.

Tapi ternyata vaksin lebih dari itu. Efeknya bisa sangat global karena erat kaitannya dengan HERD IMMUNITY.

Vaksin khususnya vaksin untuk balita bukan cuma melindunginya dari bahaya penyakit tetapi menghindarkan anak menularkan penyakit pada orang lain. Semua itu dilakukan agar tercipta herd immunity (kekebalan kelompok) pada setiap individu sehingga tercipta lingkungan masyarakat yang sehat. Herd immunity ini biasanya sasarannya adalah sebuah populasi. Itulah kenapa secara global vaksinasi juga mencegah sebuah wabah.

Bayangkan kalau ada anak yang tidak divaksin MMR lalu terkena Rubella dan dia menularkannya pada ibu hamil? Efeknya akan sangat buruk. Itu kenapa saya setuju banget sih dengan pernyataan ini. Vaksin tuh bukan untuk menyelamatkan anak kita saja, tapi juga orang lain agar terhindar dari dampak yang lebih buruk. Vaksin juga melindungi kelompok usia lain, bukan hanya diri sendiri.

 

vaksin juga bukan hanya buat anak-anak, ada pula yang untuk orang dewasa

Itulah kenapa vaksinasi disebut melindungi diri sendiri dan juga orang lain. Vaksinasi juga wujud dari ketidakegoisan seseorang atau orang tua.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Pengalaman Memvaksin Anak di Masa Pandemi

Selain itu, manfaat vaksin juga sangat banyak. Anak-anak pun menjadi target utama dan pertama yang harus dilakukan vaksin terlebih dahulu terutama vaksin yang diwajibkan oleh pemerintah.

Dr Atilla Dewanti, Sp.A dalam diskusi World Immunization Week (Pekan Imunisasi Sedunia) Webinar, 101 Vaksinasi Anak #LindungikuLindungimu bersama The Asianparent dan Kenapa Harus Vaksin, menyebutkan alasan kenapa anak-anak HARUS BANGET divaksin, antara lain:

  • Si kecil belum memiliki sistem imun yang sempurna saat baru lahir sehingga harus divaksin agar di kemudian hari mampu melawan kuman yang akan masuk ke dalam tubuhnya
  • Vaksinasi bisa memperkuat sistem imun si kecil
  • Vaksinasi dapat menghindarkan si kecil dari risiko tertular penyakit berbahaya
  • Vaksinasi tidak hanya melindungi si kecil tetapi juga semua orang di sekitarnya
  • Melakukan imunisasi berarti menghemat waktu dan biaya

Karena vaksinasi menjadi suatu keharusan secara umum vaksin pun memiliki beberapa manfaat, antara lain:

  1. Mencegah sekitar 2-3 juta kematian
  2. Mencegah lebih dari 26 penyakit yang di antaranya sangat berbahaya
  3. Membantu mengurangi terjadinya resistensi antibiotik karena dapat mencegah penyakit pada tahap awal
  4. Menyelamatkan lebih dari 1,5 juta orang setiap tahunnya

Alasan-alasan di atas emang relate banget sama kejadian sekarang yaitu pandemi. Vaksin covid 19 juga sedang digalakkan agar tercipta herd immunity di masyarakat.

Baca Juga:   #CeritaCorona: Berdamai dengan #DiRumahAja

101 Imunisasi, Jangan Sampai Salah Informasi

Jadwal vaksinasi setiap berapa periode terjadi perubahan. Bukan perubahan yang besar, hanya saja ada beberapa vaksin yang harus ditambahkan pada anak. Ini juga saya baru tahu, lho. Dan nanti pas kontrol ke DSA langsung mau saya jadwalkan buat tambahan vaksin buat Aqsa. Perubahan pada jadwal vaksin terbaru tahun 2020, antara lain:

  • Vaksin BCG bisa diberikan sejak baru lahir, sementara dulu diberikan 1 bulan sebelum lahir
  • Vaksin JE (Japanese Ensephalities) bisa diberikan pada anak mulai usia 9 bulan dan masuk dalam jadwal vaksinasi
  •  Vaksin hepatitis A bisa diberikan mulai usia anak 1 tahun, sedangkan dulu baru bisa diberikan mulai usia 2 tahun

Buat lebih lengkapnya, berikut jadwal vaksinasi anak terbaru tahun 2020:

jadwal vaksin terbaru 2020

Yang perlu diperhatikan orang tua dari tabel ini adalah periode vaksin dan maknanya, antara lain:

  • Warna biru (vaksin primer) artinya vaksin harus diberikan pada usia saat itu
  • Warna merah (vaksin booster) artinya vaksin yang bersifat penguat yang harus diulang dalam periode tertentu untuk menaikkan kekebalan. Apabila vaksin booster tidak diberikan dikhawatirkan vaksin-vaksin sebelumnya turun kekebalannya atau justru tidak berfungsi
  • Warna kuning (catch up) artinya mengejar imunisasi yang belum diberikan
  • Warna oranye (daerah endemis) yaitu vaksin yang dilakukan di daerah endemis suatu penyakit

Sebagai orang tua, tugas kita selain memberikan vaksinasi pada anak juga aktif bertanya pada dokter dan mencari informasi dari sumber yang terpercaya soal vaksinasi anak. Jangan sampai ada vaksinasi yang tertinggal atau malah lupa.

Saya ngerti banget kok, selama pandemi ini jadwal vaksin bisa jadi amburadul. Fasilitas kesehatan adalah tempat terakhir yang ingin dikunjungi karena sangat infeksius. Saya pun sempat terlambat (atau lebih tepatnya menunda) 1 bulan buat memberikan vaksin DPT 4 pada Aqsa saat usianya 1,5 tahun dulu karena takut ke fasilitas kesehatan. Akhirnya setelah ngobrol sama suami dan mencari fasilitas kesehatan terdekat yang memungkinkan buat melakukan imunisasi. Karena sejauh ini vaksin aman kok. Kalau bisa juga berikan si kecil vaksin tambahan seperti PCV, rotavirus, atau vaksin influenza agar perlindungan tubuhnya semakin lengkap.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Tentang Flu dan Bagaimana Menghadapinya

Jadi, sebenarnya nggak apa-apa kok vaksin saat pandemi ini. Kalaupun terlambat atau sudah terlanjur nggak teratur, beberapa hal yang perlu kita lakukan adalah:

  • Segera lanjutkan imunisasi yang tertunda sesuai jadwal
  • Bila status imunisasi ragu atau lupa, maka anggap saja anak belum pernah imunisasi sehingga vaksinasi tetap harus diberikan. Jika terjadi double vaksin, maka sistem tubuh nantinya pun akan dibuang oleh tubuh.
  • Interval vaksin tetap atau tidak berubah sesuai jadwal
  • Tidak ada bukti pemberian vaksin akan merugikan penerima yang sudah imun

Yang perlu dipahami oleh orang tua juga selain jadwal, ada beberapa kondisi anak yang harus ditunda terlebih dahulu pemberian imunisasinya. Beberapa golongan anak yang boleh menunda pemberian imunisasi, antara lain:

  • Anak dengan keganasan (kanker) atau sedang menjalani kemoterapi
  • Anak yang sedang mengonsumsi obat-obatan immunosupresi (biasanya anak-anak dengan riwayat penyakit lupus)
  • Anak dengan riwayat alergi berat pada pemberian vaksinasi yang sama pada dosis sebelumnya

Sementara itu pada anak-anak yang sakit dengan gejala ringan seperti demam sub febris, batuk, pilek, ataupun diare tetap bisa untuk diberikan imunisasi apabila telah tiba jadwalnya karena hakikatnya imunisasi nggak akan menambah berat penyakit anak. Bahkan, anak yang sedang minum antibiotik pun boleh melakukan vaksinasi.

Saya juga pernah baca di komen suatu postingan Facebook tentang alasan orang-orang nggak mau memvaksin anaknya adalah karena justru mengundang penyakit seperti demam. Beberapa vaksin memang memiliki efek samping seperti demam dalam jangka waktu 24-36 jam setelah pemberian vaksinasi dan ini TIDAK APA-APA alias WAJAR.

siapa yag setuju, vaksin adalah bentuk cinta ibu? vaksin seperti payung yang melindungi si kecil

Demam adalah reaksi normal yang justru menunjukkan vaksin sedang bekerja dalam tubuh untuk membentuk antibodi. Pada anak-anak, cukup sering-sering berikan ASI atau cairan/minum. Kalaupun demamnya belum kunjung turun dalam jangka waktu 48 jam atau lebih, bisa berikan paracetamol atau obat penurun panas yang dijual bebas di pasaran.

Baca Juga:   ASI dari Dua Sisi, Ketika Peran Ayah Begitu Penting dalam Proses Menyusui

Beberapa jenis vaksin yang biasanya memiliki efek samping demam adalah DPT (whole cell) dan campak. Untuk vaksin DPT, selain yang whole cell terdapat juga pilihan yang acellular. DPT acellular ini lebih kecil kemungkinannya  menimbulkan demam. Dan DPT acelluler adalah jalan ninjaku setiap kali jadwal vaksin DPT buat Aqsa tiba.

Btw, saya selalu memilih DPT acelluler buat vaksin Aqsa untuk menghindari ‘drama’ demam yang bisa berefek domino seperti lemas atau nggak mau makan pada Aqsa. Biasanya, DPT acellular ini bisa didapatkan dengan cara memesan terlebih dahulu (tidak langsung tersedia) dan harganya lebih mahal. Sementara DPT whole cell lebih mudah didapat di fasilitas-fasilitas kesehatan dan harganya sangat terjangkau. Tetapi, keduanya memiliki khasiat yang sama kok, hanya efek demam setelah vaksinnya saja yang berbeda.

Sementara itu, untuk orang tua yang memiliki bayi prematur, vaksinasi biasanya menunggu hingga usia 2 bulan atau BB anak 2 kg/2000 gram. Hal ini dilakukan agar vaksin yang diberikan bereaksi optimal pada anak dengan BB yang cukup. Setelah itu, jadwal vaksinasi sesuai dengan jadwal yang diberikan oleh IDAI.

Mengenalkan Imunisasi pada Anak

Salah satu PR saat vaksin adalah anak yang nangis meronta. Saat masih bayi atau di bawah umur 1 tahun, Aqsa sih masih kalem-kalem aja saat divaksin. Bahkan pernah ada suatu masa dia ‘telat nangis’ karena jarum sudah disuntikkan dan dicabut kembali baru deh dia nangis. Setelah dia besar dan bisa jalan vaksinasi jadi lebih menantang. Jangankan melihat jarum suntik, masuk ke ruangan dokter buat timbang BB atau ukur tinggi badan saja udah bikin dia nangis dan mau kabur. Pas mau disuntik, air matanya pun udah meleleh-leleh.

Kalau sudah gini, biasanya hal yang saya atau ayahnya lakukan adalah menggendong dan memeluk dia. Bahkan kalau dia nangis, biasanya saya elus atau tepuk pundaknya agar dia merasa nyaman dan tenang. Memang, pasti drama kok tapi ya mau gimana lagi.

Buat saya mending drama 5-10 menit daripada menyesal seumur hidup kalau anak kena penyakit gara-gara nggak mau imunisasi dengan penyebab remeh yaitu takut anak nangis, rewel, atau histeris. Pun sekarang banyak dokter atau ruangan dokter yang udah menyamankan anak-anak banget. Sambil disuntik, anak-anak bisa dikasih mainan atau diajak ngobrol agar nggak kerasa sakit.

Sekarang pun, saat Aqsa sudah usia lebih dari 2 tahun justru saya makin gampang ngasih dia pemahaman. Jauh hari sebelum vaksin, biasanya sudah saya sounding kalau nanti dia akan divaksin/suntik biar badannya selalu sehat. Buat Aqsa, biasanya saya kasih media belajar lagu terlebih dahulu biar dia nggak takut sama dokter dan vaksin. Selain itu, saya juga kasih tahu dia kalau nanti ke “Tante dokter” maka dia bisa main dan dapat balon karena memang ruangan DSA-nya banyak mainan dan selalu pulang dengan balon. And, it works banget buat dia.

Media belajar Aqsa buat nggak takut sama jarum suntik
Salah satu media belajar Aqsa buat mengenal vaksin

Selain beberapa tips di atas, berikut beberapa tips sebelum membawa si kecil imunisasi:

  • Baca informasi tentang vaksin yang diberikan dokter
  • Catat pertanyaan atau keluhan untuk disampaikan ke dokter
  • Membawa buku vaksinasi anak
  • Bawa mainan atau barang favorit anak untuk menemaninya selama imunisasi
  • Jelaskan pada anak bahwa imunisasi membuatnya sehat

Imunisasi saat Pandemi

Pandemi memang bikin kita berhati-hati untuk pergi ke fasilitas-fasilitas kesehatan. Saya cukup beruntung karena saat pandemi tiba, kewajiban vaksinasi Aqsa sudah masuk dalam rentang periode 3 atau 6 bulan sekali. Jadi, sudah tidak ada lagi jadwal rutin setiap bulan ke klinik untuk vaksinasi.

Meskipun banyak klinik atau rumah sakit yang sudah membedakan jalur atau jadwal untuk vaksinasi dan pemeriksaan anak yang berpenyakit, tapi toh nyatanya tetap saja was-was kalau harus menginjakkan kaki di fasilitas kesehatan. Oleh karena itu, orang tua bisa kok memilih buat memberikan vaksinasi berbarengan pada anak sehingga nggak perlu terlalu sering bolak-balik ke RS atau klinik demi mencegah penularan covid-19.

Saya pernah punya pengalaman imunisasi anak saat pandemi. Ternyata nggak semengerikan yang dibayangkan, kok. Saya aja yang udah duluan parno buat takut menjejakkan kaki ke fasilitas kesehatan saat itu. Nyatanya, asalkan kita selalu waspada, taat prokes, dan rajin mencari informasi tentang vaksinasi saat pandemi insyaallah kita sudah punya bekal untuk pencegahan covid-19. Bahkan di beberapa tempat atau klinik, vaksinasi ada yang sudah drive thru dan juga menyediakan layanan vaksinasi panggilan ke rumah.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Kegiatan bersama Balita di Rumah saat Pandemi
setahun yang lalu saat mengantar Aqsa vaksinasi

Kalaupun memang harus banget imunisasi di layanan kesehatan yang sekiranya ramai atau dikunjungi banyak orang dan berpotensi bisa menjadi tempat penyebaran covid-19, berikut ada beberapa tips dari dr Atilla saat harus memvaksin anak di masa pandemi:

  1. Pastikan anak dalam kondisi yang sehat sebelum kunjungan vaksinasi
  2. Batasi jumlah pendamping saat kunjungan vaksinasi anak di fasilitas kesehatan
  3. Selalu kenakan masker dan perhatikan etika batuk & bersin
  4. Utamakan kunjungan vaksinasi ke fasilitas layanan kesehatan yang memisahkan antara pasien sakit & sehat
  5. Saat menunggu giliran, perhatikan jarak aman di ruang tunggu. Jika ruang tunggu terlihat penuh, tunggu di mobil hingga tiba giliran vaksinasi
  6. Selalu cuci tangan dengan benar selama dan setelah selesai keperluan di fasilitas kesehatan
  7. Setelah vaksinasi dilakukan, jangan keburu pulang. Tunggulah 30 menit untuk memantau reaksi yang mungkin terjadi

Waspada dan taat prokes saat vaksinasi pun nggak berhenti saat kita sudah selesai vaksinasi. Setelah pulang dan sampai rumah, masih ada beberapa hal yang harus dilakukan, antara lain:

  1. Ganti baju anak dan pendamping
  2. Sebisa mungkin anak dan pendamping dewasa mandi setelah pulang dari fasilitas kesehatan
  3. Rendam & cuci pakaian pendamping dan anak yang digunakan saat berkunjung ke fasilitas kesehatan

Karena pandemi masih nggak tahu kapan ujung pangkalnya, ada solusi buat nggak sering-sering ke fasilitas kesehatan untuk imunisasi. So, buat mengejar cakupan imunisasi, ada beberapa jenis imunisasi yang bisa dilakukan, antara lain:

  • Imunisasi ganda (multiple injection) adalah pemberian lebih dari satu jenis imunisasi dalam sekali kunjungan. Cara ini meningkatkan efisiensi agar orangtua dan anak nggak perlu terlalu sering bolak-balik berkunjung ke fasilitas kesehatan. Imunisasi ganda ini juga terbukti aman, efektif, tidak meningkatkan risiko efek samping pada anak, dan sudah direkomendasikan oleh Kementrian Kesehatan untuk dilakukan dalam pelayanan imunisasi. Sementara itu efek ketidaknyamanan suntikan hanya dirasakan sebentar saja kok.
  • Catch up immuzation atau imunisasi kejar yaitu updaya melanjutkan imunisasi yang tertunda pada individu yang memenuhi syarat (sesuai anjuran usia pada jadwal imunisasi). Imunisasi kejar ini sudah direkomendasikan oleh WHO.
  • Vaksin kombinasi yaitu gabungan beberapa komponen vaksin ke dalam satu vaksin untuk mencegah lebih dari 1 penyakit. Bahkan dalam 1 vaksin kombinasi bisa mencakup 6 vaksin di antaranya DPT, hepatitis B, HiB, hingga polio. Manfaat vaksinasi kombinasi ini pun berpotensi meningkatkan cakupan vaksinasi, mengurangi biaya, dan frekuensi kunjungan ke fasilitas kesehatan.
salah satu vaksin kombinasi yang pernah dilakukan Aqsa

So, pandemi masih berlangsung entah sampai kapan. Waspada boleh, tapi jangan sampai lupa atau malah lalai terhadap vaksinasi. Sekarang saja sudah sangat berat, jangan sampai beban pandemi ditambah dengan wabah penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi. Buat yang mau dapat informasi lengkap soal imunisasi, bisa follow juga akun @kenapaharusvaksin.

Tidak ada lagi alasan untuk takut atau menolak vaksinasi kalau sudah dikasih informasi selengkap ini. Yuk, lengkapi vaksin khususnya vaksin balita dan anak-anak agar mereka terhindar dari penyakit-penyakit berbahaya.

 

 

 

 

0 Comments
Previous Post
Next Post
Sweet & Sour, Realita Kisah Cinta Kaum Muda di Kota
Rekomendasi

Sweet & Sour, Realita Kisah Cinta Kaum Muda di Kota